
Kemalaman banget ya ...
Mohon maaf, akunya abis di kop dulu.
...****************...
Ada rasa penasaran yang mendalam di hati Riana. Setelah kepergian bundanya yang mengatakan ada urusan penting. Diam-diam Riana menyembunyikan ponsel milik Nisa yang tertinggal di sofa kamar perawatan Iyan. Hatinya bertanya-tanya, video apa yang dimaksud oleh sang Tante. Hingga semua orang murka kepada bundanya.
Apalagi, ucapan Iyan yang masih terngiang-ngiang di telinga. Apa Kakak tidak penasaran? Itulah yang Iyan ucapkan.
"Berarti Iyan sudah tahu video ini," batinnya sambil menatap ke arah Iyan yang sudah mulai terlelap. Riana menatap ponsel Nisa yang kini sudah ada digenggamannya. Sebelah hatinya mengatakan bukalah. Namun, sebelah hatinya mengatakan jangan. Mana yang harus dia ikuti.
Riana memejamkan matanya sejenak lalu, menarik napas dalam. "Ya, aku harus tau video apa yang Tante Nisa maksud."
Jari Riana pun mulai mengutak-atik ponsel Nisa. Mencari video yang berdurasi tiga menit dua puluh detik. Dengan sedikit ragu, Nisa menekan tombol play dan memutar video tersebut. Dia bernapas lega. "Ini kan rekaman CCTV di ru ...."
Belum selesai ucapannya, mata Riana melebar ketika dia melihat adegan yang tidak senonoh. Apalagi dia sangat mengenal siapa pemerannya. Ponsel Nisa pun terjatuh seiring dengan air mata yang sudah terjun bebas di wajah Riana.
"I-itu ...."
"Itu memang Bunda." Ternyata Iyan tidak benar-benar tidur. Mendengar suara benda terjatuh mengagetkannya dan membuatnya membuka mata. Ketika dia melihat ke arah samping, sang kakak sudah menitikan air mata.
"Ibu kandung kita tega mengkhianati Ayah," lanjut Iyan dengan suara lirih.
Riana tidak bisa menjawab ucapan Iyan. Dia benar-benar syok dengan apa yang dilihatnya.
"Video itu bohong, kan." Riana mencoba membuka suara.
Iyan menatap Riana seraya tersenyum. "Itu asli, Kak. Memang seperti itu kenyataannya. Iyan melihat sendiri."
Sungguh kejutan yang luar biasa. Tangis Riana semakin pecah mendengar penuturan Iyan. Anak seusia Iyan harus mengetahui hal ini. Sungguh miris.
"Iyan sudah mengatakan hal itu kepada Ayah, tapi Ayah tidak percaya. Ya sudah, Iyan diam."
Hanya air mata yang menjadi jawaban atas segala perkataan polos Iyan. Bagaimana hati Iyan sekarang? Bagaimana keadaan psikisnya? Itulah yang sedang berkecamuk di otak Riana.
"Maafkan Iyan, Kak. Video itu Iyan yang kirim ke Tante," sesal Iyan. Mata Riana membola mendengarnya.
"Iyan sudah tidak sanggup lagi mendengar tangisan Ayah setiap malam di ruang kerja. Iyan sedih, ketika Ayah memanggil nama kita berdua dengan sangat lirih. Iyan kasihan kepada Ayah, Kak," terang Iyan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bunda selalu asyik sendiri. Suka kelayaban ketika Ayah pergi bekerja. Suka telpon-telponan manja ketika Ayah tidak ada. Harusnya Bunda hargai Ayah, jangan asyik dengan dunianya sendiri," tutur Iyan dengan air mata yang sudah terjatuh.
Riana berhambur memeluk tubuh adiknya. Bukan hanya dia yang sedih, tapi Iyan lebih sedih dari dirinya.
"Kakak tahu, pernah sekali Iyan diajak Mamah Beby jalan-jalan ke mall sepulang sekolah. Ketika Iyan masuk ke dalam restoran, Iyan melihat Bunda. Tetapi, memakai pakaian yang Iyan saja malu melihatnya. Karena Iyan tidak ingin Mamah Beby melihat Bunda, Iyan pura-pura pusing dan meminta untuk pulang. Iyan hanya tidak ingin, orang lain melihat kejelakan Bunda."
Sungguh tersentil hati Riana mendengar penuturan adiknya ini. Ibu kandungnya lain di luar dan lain di dalam rumah.
"Kenapa Iyan gak bilang sama Kakak?"
"Kakak gak akan percaya dengan ucapan Iyan. Karena otak Kakak sudah dicocoki sugesti-sugesti kebenaran versi Bunda," sahutnya.
"Hingga Kakak memiliki sikap iri dengki kepada Kak Echa. Dan selalu menganggap Kak Echa adalah biang dari segala permasalahan yang ada," lanjut Iyan lagi.
"Dengan Kakak melihat video ini, Iyan harap Kakak sadar. Siapa di sini yang salah. Siapa di sini yang tersakiti. Dan siapa yang sudah mengkhianati? Buka lebar-lebar mata Kakak, siapa yang akan Kakak bela? Ayah atau Bunda."
Riana hanya terdiam. Dia menyesali segala tingkah lakunya kepada Echa. Kakak yang sangat baik kepadanya. Dan rela berkorban untuknya selama ini. Karena ulah sang bunda lah, Riana membenci Echa. Bundanya mengatakan, jika semua harta yang dimiliki oleh sang ayah akan dikuasai oleh Echa.
"Kakak," lirih Riana.
Iyan menoleh ke arah Riana dan mengusap tangannya. "Temui Kakak Echa. Minta maaflah." Riana pun mengangguk dan mencari tahu kamar perawatan Echa kepada pihak pendaftaran.
Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat sang kakak ipar sedang membawa kakaknya dengan kursi roda keluar area rumah sakit dengan didampingi seorang dokter. Ketika dokter kembali ke dalam rumah sakit, Riana menghampiri dokter tersebut dan menanyakan perihal kakaknya.
"Pasien bernama Nona Elthasya sedang ada keperluan di luar sebentar. Nanti akan balik lagi, kok." Dokter itu pun meninggalkan Riana yang sedang termenung. Hingga terbesit ide, dia membuka ponsel Nisa dan mencari aplikasi Whatsapp.
Matanya memicing ketika dia membaca pesan yang dikirimkan sang nenek ke nomor ponsel Nisa.
"Kita disuruh ke rumah Pak Addhitama malam ini jam tujuh. Ada pertemuan Akbar katanya."
"Ke rumah Om Addhitama," gumamnya. Dia kembali ke kamar perawatan Iyan dan ternyata Iyan sudah tidak sendiri. Sudah ada sang om yang menemani Iyan.
Ya, dia Juna yang baru beberapa bulan ini keluar dari penjara. Sebenarnya Genta ingin menghukum Juna seumur hidup. Melihat perubahan Juna yang semakin baik, niat Genta pun dibuang jauh-jauh.
"Om, tolong jaga Iyan dulu, ya. Ri, mau ke luar sebentar," ucapnya dengan terengah-engah.
"Kakak mau ke mana?"
"Ke rumah Om Addhitama," jawabnya.
"Iyan ikut," sahut Iyan.
"Tapi ...."
"Om, tolong minta ijin ke dokter. Iyan ingin bertemu Kakak Echa," rengek Iyan. Juna pun tak kuasa menahan rengekan sang keponakan kesayangan. Dia pun menemui dokter yang menangani Iyan. Dan dokter mengijinkan, tapi hanya dua jam saja.
Riana yang menjadi petunjuk jalan menuju rumah Addhitama. Dia masih ingat, ketika sang kakak seiring mengajaknya main ke rumah itu karena sudah pasti dia akan bercengkrama dengan Rifal. Kakak kedua dari Raditya.
"Itu, Om." Riana menunjuk rumah mewah yang sepertinya sedang kedatangan banyak tamu. Buktinya, banyak mobil yang terparkir di sana. Juna menggandeng tangan Riana dan Iyan kiri-kanan. Hingga dia berpapasan dengan seorang dokter cantik yang ternyata memarkirkan mobilnya di luar pagar rumah Addhitama. Sama halnya dengan mobil Juna.
Dengan senyum yang mengembang, Iyan memasuki rumah besar nan mewah milik mertua dari kakak pertamanya.
Namun, langkah mereka terhenti ketika sang Tante menangis di dalam pelukan sang ayah. Dan mengatakan hal yang menyedihkan. Yang membuat kedua anak itu melotot adalah ketika sang ayah menyebutkan kata perceraian. Serta nama mereka berdua disebut dengan nada yang terdengar sangat lirih. Apalagi, ketika ayahnya mengatakan tentang anak yang ada di kandungan sang bunda memerlukan pengakuan. Yañg lebih membuat dua kakak beradik itu menitikan air mata, ketika sang ayah mengatakan jika dia telah mentalak satu sang bunda. Air mata Riana mengalir deras begitu juga Iyan. Dan Juna, tangannya sudah mengepal sangat keras. Apalagi
"Besok, aku akan mengembalikanmu kepada Kakakmu," ujar Rion.
"Tidak perlu!" sahut Juna yang sedang berada di samping Riana dan juga Iyan.
Mata Amanda melebar ketika melihat tiga orang yang berada di ambang pintu.
"Bercerai lah Ayah. Ri, tidak apa-apa," imbuhnya dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Iyan juga gak apa-apa, Ayah. Kita masih bisa bahagia meski tanpa Bunda."
...****************...
Komen banyak besok pagi up lagi ... kalo dikit Senin aku baru UP lagi. 😁