Bang Duda

Bang Duda
119. CEO Kejam



Hay ...


Mon maap ya komen kalian jarang aku balas satu-satu. Oh iya, aku mau menjawab salah satu komen reader tersayang.


Q : Ini kan cerita Bang Duda kenapa selalu Gio dan Ayanda yang diceritakan?


A : Begini ya, ini cerita sekuel atau kelanjutan dari cerita Air Mata Ayanda. Meskipun judul baru tapi, pemeran masih tetap sama dan pasti ada beberapa karakter baru. Tidak akan ada Bang Duda jika tanpa Ayanda dan juga Giondra. Hampir 70% cerita ini menceritakan tentang Bang Duda tapi, aku juga tidak lupa mensisipkan cerita Ayanda dan juga Echa supaya ceritanya gak monoton. Karena banyak request Ayanda dan Gio, makanya cerita ini seperti cerita random.


Makasih atas komen-komen kalian yang bikin aku makin semangat nulisnya. Mon maap, kalo ceritanya tidak sesuai ekspektasi kalian.🙏


...****************...


Beberapa jam sebelumnya ....


"Bos, gak ngasih kabar ke istri bos?" tanya Remon ketika di pesawat.


"Surprise."


Remon bergidik ngeri melihat senyum tipis yang terukir dari bibir atasannya. Bukan senyuman biasa, senyuman sarat akan makna. Begitulah yang Remon tangkap.


Surprise? Untuk siapa? batin Remon.


Di salah satu kantor sedang terjadi kesibukan. Pertemuan dadakan dengan investor besar membuat semua karyawan mempersiapkan segala sesuatu dengan sempurna. Investor ini lah yang akan menjadi penentuan sukses atau gagalnya perusahaan ini.


"Shera, apa semuanya sudah beres?" tanya direktur utama.


"Sudah, Pak."


"Bagus, siapkan semuanya. Kita harus terlihat sempurna di mata investor besar ini."


Tak lama kemudian, investor besar datang dengan wajah yang sangat-sangat tampan. Membuat semua karyawan terpana melihatnya. Tubuh tinggi Atletis, kulit putih dan wajah kebule-bulean membuat para wanita berteriak histeris di dalam hati.


"Gak salah ini CEO WGN grup? Masih muda banget, babang tamvan," ujar salah seorang karyawan wanita di sana.


Dari ruangan rapat sudah terdengar derap langkah kaki. Mereka yang ada di sana sudah memastikan jika itu adalah investor besar yang sedang mereka tunggu.


Pintu terbuka dan semua orang yang berada di sana berdiri menyambut kedatangan orang penting untuk perusahaan mereka. Direktur utama mematung di tempatnya, sedangkan investor itu hanya menatapnya dingin.


"Ini investor kita? Bukannya Pak Wiguna," bisik Juna.


Ya, direktur utama itu adalah Juna. Dan investor besar itu adalah Giondra. Kesempatan yang tidak akan Gio sia-siakan untuk sedikit menjahili perusahaan seorang rubah jantan.


"Pak Giondra adalah CEO dari WGN grup, dan beliaulah penerus tunggal WGN grup."


Duarr!


Otak Juna terasa hendak pecah. Kali ini dia benar-benar tidak bisa berpikir. Badannya lemas seketika dan kepercayaan dirinya pun hilang begitu saja. Seperti pecundang, begitulah Juna sekarang.


Mereka silih berganti menjelaskan tentang kerjasama ini. Gio dan Remon hanya mendengarkan dan Gio benar-benar tidak tertarik. Bukan karena Juna si rubah jantan tapi, pembagian keuntungannya sungguh tidak adil.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Giondra. Remon sangat tahu watak bosnya ini seperti apa. Diamnya Giondra adalah ketidak tertarikannya.


Setelah semuanya di sampaikan dan tidak ada tanggapan dari Gio, Juna sudah memastikan jika Giondra tidak akan bekerja sama dengan perusahannya.


Ternyata benar, dengan tegasnya Gio menolak kerja sama dengan perusahaan Juna. Dengan alasan jika, dia menginvestasikan sahamnya ke perusahaan Juna, sahamnya tidak akan naik hanya stuck di situ. Ada sedikit kelicikan yang Gio cium.


Giondra adalah pebisnis bertangan dingin. Ayahnya hanya mengembangkan retail Wigumart saja tapi, semenjak Gio bergabung ke perusahaan ayahnya semua aspek bisa Gio kuasai. Hingga terbentuklah WGN grup.


Kini, hanya tinggal Giondra, Remon, Juna dan sekretarisnya Shera di ruangan rapat. Giondra bangkit dari duduknya diikuti Remon.


"Jangan pernah sangkut pautkan urusan pribadi dengan pekerjaan," ucap Juna.


Langkah kaki Giondra terhenti mendengar ucapan Juna. Dia membalikkan badan dan menatap Juna tajam.


"Masalah pribadi? Memangnya Anda punya masalah pribadi apa dengan saya?"


Juna salah tingkah sendiri, ternyata Gio tidak mengetahuinya. Begitulah batin Juna, sedangkan Gio hanya pura-pura tidak tahu dengan semuanya. Agar si rubah jantan masuk ke dalam perangkapnya sendiri.


Juna dan Shera tercengang mendengarnya. Ternyata rumor tentang CEO WGN grup kejam benar adanya. Giondra tak memperdulikan dua manusia yang mematung di tempatnya. Dia menuju di mana tempat istrinya berada sekarang.


****


Rion dan juga Amanda sudah datang ke salah satu rumah sakit. Mereka disambut oleh Shera yang tadi menghubungi Amanda.


"Kenapa bisa begini?" tanya Amanda.


"Semua investor membatalkan kerja sama dengan perusahaan Pak Juna, Mbak."


Amanda hanya menghela napas kasar. Dia memandang wajah pucat Juna yang sedang terbaring di kasur pesakitan. Ya, Juna memiliki riwayat penyakit mag akut. Terlalu stres akan membuat asam lambungnya meningkat.


"Kak Jun."


Juna mulai mengerjapkan matanya, dia menatap Amanda dan juga Rion dengan tatapan sendu.


"Perusahaan ku," lirihnya.


"Sabar, Kak. Ini ujian untuk Kak Jun," ucap Amanda.


"Ini semua gara-gara Giondra," geramnya.


Rion dan Amanda melebarkan matanya tak percaya mendengar ucapan dari Juna.


"Maksudnya apa, ya?" tanya Rion.


"Dia telah menolak bekerja sama dengan perusahaan ku sehingga investor yang lain ikut mencabut saham mereka."


"Dia terlalu mencampur adukkan masalah pribadi dengan perusahaan," geram Juna lagi.


"Hahaha, kan udah aku bilang Ayanda punya herder. Masih aja sih nekat," sahut Rion yang masih tertawa.


"Sudah lah Kak, Nda kan sudah peringatkan Kak Jun, jangan terlalu terobsesi kepada Mbak Ayanda. Dia sudah memiliki suami yang sangat sempurna," ujar Amanda.


"Mantan istriku bukanlah wanita gampangan yang hanya tergoda dengan ketampanan dan juga kemapanan. Ya, kalo dilihat ketampanan Kak Jun ... dibawah Gio. Dan kemapanan pun ... hanya seujung kuku dari Giondra. Ingatlah Kak Jun, Gio bisa lebih sadis dari ini apalagi menyangkut keluarganya. Dia bisa menjadi seorang pembunuh loh."


Amanda dan Juna sedikit syok mendengar ucapan Rion. Benarkah apa yang dikatakan Rion atau Rion hanya membual. Akan tetapi, Juna merasakan sendiri tidak sampai dua jam perusahannya diambang kehancuran.


"Ayanda adalah Ameera ku," lirih Juna.


Amanda hanya menghela napas berat dan menggenggam tangan Juna.


"Kak Jun, Kak Meera sudah bahagia di surga bersama anak Kak Jun. Melihat Kak Jun seperti pebinor seperti ini pasti Kak Meera akan sangat marah. Jangan menganggap Mbak Ayanda adalah Kak Meera," terang Amanda.


"Kak Meera tidak ada duplikatnya. Kak Meera hanya milik Kak Jun. Begitu juga Mbak Ayanda, hanya milik Pak Gio."


Juna memejamkan matanya setelah mendengar ucapan dari Amanda. Bayang wajah mendiang istrinya sedang memutari kepalanya. Wajah Meera yang menyiratkan akan kemarahan atas tindakan bodohnya. Tak terasa ujung matanya mengeluarkan bulir bening.


"Aku akan minta maaf kepada Gio," ucap Juna dengan mata terpejam.


"Dan aku akan kembali ke Aceh," sambung Juna.


"Kak ...."


Juna membuka matanya lalu menatap Amanda yang terlihat sedih.


"Kak Jun hanya di Aceh. Nda bisa kapan saja ke sana bersama suami Nda. Kak Jun tidak mau rasa yang salah ini semakin dalam."


"Benar kata Nda, istri Kak Jun sangat marah. Dan Kak Jun tidak pernah melihat wajah murkanya ketika dia hadir di dalam pikiran Kak Jun."


Rion menghela napas lega. Akhirnya, kakak iparnya sadar juga. Dia juga sangat tidak rela jika rumah tangga mantan istrinya di rusak oleh orang lain. Rion akan memasang badan untuk keutuhan rumah tangga Ayanda dan Giondra. Cukuplah rumah tangganya dengan Ayanda yang hancur. Dia tidak ingin hal seperti itu terjadi untuk rumah tangganya dan juga rumah tangga mantan istrinya.


****


Happy reading ....