Bang Duda

Bang Duda
279. Jangan Tinggalkan Kami



"Mommy!" teriak Beeya.


Sedangkan di rumah sakit di Bandung, Echa tak sengaja menjatuhkan gelas yang sedang dia pegang, Hatinya tiba-tiba menjadi resah dan gelisah.


"Mamah."


Satu kata yang terucap secara spontan dari mulut Echa. Radit yang baru saja masuk ke ruangan Echa segera menghampiri Echa karena melihat serpihan gelas yang berserakan.


"Kamu kenapa?" tanya Radit.


"Hati aku gak enak, aku keinget Mamah."


Radit mengusap rambut kekasihnya. Dan mengecup puncak kepala Echa. "Sembuh dulu, ya. Nanti kita akan bertemu dengan Mamah kamu," ujar Radit.


Sedangkan di depan gudang, semua orang yang berada di belakang Beeya pun langsung menoleh ke arah Beeya. Dan mereka melihat Ayanda sudah terkapar lemah tak berdaya dengan pisau yang menancap di perut bagian kanannya.


"Mommy!" Gio berteriak sambil berlari menghampiri Ayanda. Kala itu, Ayanda masih tersadar. Dan masih tersenyum ke arah Gio.


Suara tembakan pun terdengar, ternyata Ronald berhasil melumpuhkan orang yang dengan sengaja melukai istri dari bosnya ini. Wanita itu pun tersungkur, karena timah panas yang Ronald layangkan tepat mengenai punggungnya. Anak buah Ronald langsung meringkus wanita itu.


Sedangkan Rion sudah memangku kepala Ayanda karena Gio akan mencabut pisau yang menancap di perut istrinya.


"Mommy tarik napas ya, perlahan Daddy akan tarik pisaunya." Ayanda pun mengangguk lemah.


Sebelum mencabut pisau Gio meyakinkan hatinya dulu. Dia menatap manik istrinya yang tengah menahan sakit.


"Tarik napas." Perlahan Gio mencabut pisau yang menancap di perut istrinya. Dan darah pun mengalir deras.


Tanpa berpikir panjang, Gio membuka kemejanya untuk menahan darah yang terus keluar dari perut istrinya.


Gio membawa tubuh istrinya ke dalam mobil dan Rion yang mengemudi ditemani Amanda yang berada di kursi penumpang depan. Gio terus menekan luka di perut Ayanda agar istrinya tak kehilangan banyak darah.


"Bertahan ya, Mommy," ucapnya seraya terus mengecup puncak kepala istrinya.


"Dad, jaga anak-anak," kata Ayanda dengan nada yang sudah melemah.


"Kita jaga anak kita sama-sama," sahut Gio.


"Cepetan!" seru Gio kepada Rion.


Gio sudah melihat Ayanda yang sudah ingin memejamkan matanya. "Lihat Daddy, Mom. Jangan tidur," ucapnya dengan sedikit lirih.


"Sebentar lagi kita sampe, tetap terjaga dan jangan pernah memejamkan mata," imbuh Gio dengan nada yang terdengar sangat panik.


Profesinya sebagai dokter membuatnya tahu akan hal seperti ini. Dia tahu bagaimana pertolongan pertama dan juga penanganan yang tepat untuk istrinya yang terluka seperti ini.


Kabar tertusuk nya Ayanda sesudah sampai di telinga Genta. Genta sudah menyiapkan dokter terbaik di rumah sakit yang akan Gio tuju. Dan dia sendiri yang akan mengeksekusi wanita yang telah menusuk menantu kesayanagnnya dengan kejam.


"Bawa dia ke pulau terpencil," titah Genta.


"Biarkan saja dia seperti itu," lanjutnya.


Tibanya di rumah sakit, Gio tak memperdulikan bajunya yang penuh dengan darah segar. Dia terus membawa tubuh Ayanda hingga Ayanda masuk ruang IGD,


"Tenang Tuan, dokter di dalam adalah dokter terbaik pilihan Tuan Genta."


Gio sedikitnya lega dengan apa yang didengarnya. Tidak mungkin jika Ronald akan diam dan tidak memberitahukan berita ini kepada ayahnya. Namun, tetap saja kepanikan serta kekhawatiran terlihat jelas di raut wajah Gio.


"Yanda pasti kuat," ucap Rion.


Gio hanya menatap Rion sekilas lalu terduduk di kursi tunggu dengan tangan yang menutupi wajahnya. Beby dan Arya yang baru saja tiba pun langsung menghampiri Gio, Rion serta Amanda.


"Daddy, Mommy ," ucap Beeya yang sudah terisak.


Melihat wajah Beeya yang menangis membuat hati Gio rapuh dan remuk. Seakan dia melihat wajah putri tercintanya yang pastinya akan sedih seperti Beeya seperti ini. Gio menggendong tubuh Beeya dan memangkunya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia hanya memeluk Beeya dengan eratnya.


"Daddy, Bee sayang Mommy. Bee tidak ingin terjadi apa-apa dengan Mommy," ucap Beeya dengah terisak.


"Mommy tidak apa-apa, Beeya sayang. Mommy wanita kuat dan hebat," ujar Beby yang sedang mengusap lembut rambut sang putri comelnya.


Beby sangat merasakan kesedihan yang Gio alami. Meskipun Gio hanya diam, tapi Beby dapat mengetahui bagaimana perasaan Kakak sepupunya saat ini.


"Kak Ay, pasti selamat," ucap Beby seraya mengusap punggung Gio.


Satu jam sudah mereka menunggu kondisi tentang Ayanda. Tidak sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Gio. Beby dan Kano sudah berkali-kali menyuruh Gio untuk makan dan minum, Gio hanya diam seribu bahasa.


Hingga ponselnya berdering, dan Radit lah yang menghubungi Gio. Dengan ragu Gio menjawab panggilan Radit.


"Papa, Mamah gak kenapa-kenapa, kan? Perasaaan Echa gak enak, Echa selalu ingat Mamah."


Panggilan yang sengaja Gio loudspeaker-kan pun membuat semua orang terdiam. Dan Gio menunduk sangat dalam dan hampir-hampir menjatuhkan ponselnya. Di sinilah kerapuhannya, suara putrinya yang membuat dia rapuh. Dua wanita yang Gio sayangi tapi, tidak bisa Gio jaga dengan baik.


Rion langsung mengambil alih ponsel yang dipegang oleh Gio.


"Mamah baik-baik aja kok, Dek."


"Kenapa Ayah yang jawab telpon Papa?"


"Papa sedang di kamar mandi. Kebetulan Ayah dan Papa serta Om Arya dan Kak Kano sedang berkumpul."


"Syukurlah, tapi Ayah gak bohong kan. Mamah baik-baik aja. Jangan pernah ada yang Ayah sembunyiin dari Echa tentang Mamah dan semuanya. Karena Echa pun berhak tahu kabar kalian."


"Iya, Dek. Besok Ayah dan Bunda yang akan jaga di sana ya. Karena Papa ada pekerjaan mendadak."


"Iya, Echa tunggu ya kedatangan Ayah dan Bunda."


Sambungan telepon pun berakhir. Rion menatap Gio dengan tatapan penuh rasa iba. Sungguh cobaan yang tiada henti menimpanya. Teror perusahaan, anak-anaknya yang menjadi korban dan sekarang istrinya.


Tak lama, dokter pun keluar dengan ekspresi yang sulit diartikan. Gio dan yang lainnya segera mendekat. "Pasien kritis dan memerlukan banyak darah."


Tubuh Gio seakan tak bertulang, hatinya sakit mendengarnya. Dan air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah juga.


"Golongan darah pasien cukup langka, AB negatif," lanjut dokter yang menangani Ayanda.


Semua orang yang terdiam, karena mereka tidak ada yang memilkki golongan darah seperti Ayanda.


"Kita memerlukan 7 kantong darah, sedangkan di sini hanya tersedia 3 kantong darah. Dan kami sudah menghubungi bank darah tapi belum ada jawaban dari sana," jelas dokter lagi.


Gio langsung menghubungi Remon untuk mencari darah golongan AB negatif. Dan Remon pun segera menjalankan perintah dari bosnya. Setelah dokter menjelaskan keadaan istrinya, dia dibawa oleh dokter ke ruang ICU di mana istrinya terbaring lemah dengan segala alat medis yang tertempel di tubuhnya.


Air matanya luruh kembali, sejujurnya Gio sangat trauma dengan ruangan ICU. Ruang di mana Giandra menghembuskan nafas terakhir. Ruangan di mana ibunya menatap Gio dan mengatakan, "jaga Ayah dan adikku, Gi. Kamu akan jadi pria hebat dan bertanggungjawab."


Gio menggenggam tangan istrinya dan dia pun mengeluarkan seluruh kesedihannya. "Mommy harus kuat, kita besarkan anak-anak kita sama-sama. Hingga mereka menikah dan kita dipanggil Oma dan Opa oleh cucu-cucu kita."


Genta yang ternyata sudah berada di dalam ruangan Ayanda merasakan sesak di dadanya mendengar ucapan dari putranya. Dia melihat Gio adalah cerminan dari dirinya. Genta pun mengatakan hal seperti itu ketika mendiang istrinya tengah kritis. Dan dia tak kuasa menahan tangis sepertI yang Gio lakukan.


"Sabar Gi, Ayah yakin Ayanda pasti bisa melewati masa-masa kritisnya," imbuh Genta sambil mengusap pundak putranya.


Mendengar ucapan ayahnya membuat tangis Gio pecah kembali. Dia menangis sambil meletakkan tangan istrinya di pipinya.


"Gi takut, Yah. Gi takut jika ruangan ini akan mengambil Ayank dari Gi. Seperti Ibu dan juga Gia," lirihnya.


Sungguh sakit dan sedih Genta mendengarnya. Ternyata kepergian ibu dan adik Gio meninggalkan luka yang sangat berbekas di hati putra kebanggaannya ini. Meskipun kejadian itu sudah cukup lama, tapi masih melekat di otak Gio sampai sekarang ini.


"Hilangkan ketakutan mu dan berdoalah kepada Tuhan meminta agar istrimu diberikan kesembuhan," ujar Genta.


Genta pun tak kuat berlama-lama berdiam di rumah Ayanda., Sekelebat bayangan tentang kepergian istri dan putrinya berputar di kepalanya. Setelah Genta keluar, Genta menyuruh Beby dan Arya untuk kembali ke Jakarta untuk mengurus si kembar yang masih berada di rumah sakit. Sedangkan Rion serta Amanda bertugas pergi ke Bandung untuk merawat Echa di rumah sakit.


Dan Kano serta Sheza ditugaskan untuk menemani Gio di Bogor. Genta tahu, hanya kepada Kano Gio mampu terbuka. Dan Kano pun sedikit banyak mengetahui tentang Gio. Beruntungnya Gio karena ketika Gio terkena musibah seperti ini, para sahabat Gio tidak meninggalkan Gio. Mereka bahu membahu untuk membantu Gio.


****


Samar-samar Echa mendengar suara sang ayah. Echa pun membuka mata dan dilihatnya Radit sebuah tidak ada di sofa. Perlahan Echa turun dari ranjang sambil membawa botol infus di tangannya. Echa tersenyum, ternyata dugaannya benar, itu ayahnya. Dan dia sedang mengobrol serius dengan Radit.


Echa ingin menghampiri kedua laki-laki kesayangannya ini. Namun, langkahnya terhenti ketika kandung kemihnya tidak bisa diajak kompromi. Echa pun menuju kamar mandi terlebih dahulu sebelum menghampiri Rion dan juga Radit.


Setelah semuanya dirasa sudah dikeluarkan, Echa akan menuju pintu luar di mana ayah dan kekasihnya berbincang. Namun, kedua orang yang ingin Echa temui malah tidak ada di tempat itu.


Echa menyusuri lorong rumah sakit dengan selang infus di tangannya, Karena sebenarnya kondisi Echa sudah sedikit membaik. Echa terus berjalan dan langkahnya terhenti ketika dia melihat Ronald, pengawalnya.


Mata Echa menajam ketika Ronald ternyata tidak sendiri, tapi dengan beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam. Diantara orang-orang itu, Echa melihat sosok Radit serta Ayah dan Bundanya. Namun, mereka terlihat bersedih.


Dengan langkah cepat, Echa mengahampiri mereka semua.


"Ada apa?"


Pertanyaan Echa sontak membuat semua orang yang sedang berkumpul di lorong rumah sakit itu pun menoleh kearah Echa. Echa melihat bundanya sedang menangis, begitu juga ayahnya yang wajahnya sangat terlihat sedih. Dan Radit, ekspresi wajahnya sangat sulit dibaca.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini? Kenapa Bunda nangis?"


Pertanyaan yang bertubi-tubi dari mulut Echa membuat mulut mereka semua terbungkam. Mereka hanya menunduk dalam.


"Ronald, katakan padaku ada apa ini?" sentak Echa.


"Maaf Non, ibu Non ...."


"Kenapa dengan Mamahku?" potong Echa.


"I-ibu Non telah meninggal."


Selang infus yang dipegang oleh Echa pun terjatuh. Air matanya luruh tanpa aba-aba.


"Jangan bicara omong kosong!" bentak Echa.


"Dek, Mamah memang sudah tiada karena kemarin kondisi Mamah kritis karena ada yang menusuk Mamah. Dan hari ini Mamah meninggalkan kita semua," jelas Rion.


"Nggak ... nggak mungkin Mamah ninggalin Echa secepat ini. Gak mungkin," teriak histeris Echa.


Radit ini memeluk tubuh Echa yang sudah jika terlambat Echa akan tersungkur ke lantai.


"Katakan Bhal, ini semua bohong kan. Kalian nge-prank aku kan," ucap ECha dengan suara yang sangat bergetar.


"Tidak Sayang, Mamah kamu memang sudah tiada. Meninggalkan kita untuk selama-lamanya," sahut Radit.


Tangis Echa pun pecah, Isak tangis itu terdengar sangat memilukan.


"Mamah ... jangan tinggalin Echa. Echa masih membutuhkan Mamah," lirihnya.


Rion dan Amanda pun tak kuasa menahan tangis. Mereka berdua memeluk tubuh ringkih Echa. "Yang sabar Kak, masih ada Bunda dan Ayah," ucap Amanda.


Sedangkan di rumah sakit yang berbeda, Aksa dan Aska merasakan firasat yang tidak mengenakkan. Hati mereka selalu teringat akan sang Mommy. Dipikiran mereka hanya ada bayang-bayang Mommy-nya.


Beby dan Arya serta Beeya masuk ke ruang perawatan si kembar dengan menangis tersedu. Si kembar hanya bisa saling pandang. Dia tidak mengerti apa yang telah terjadi.


"Mamah kenapa?" tanya Aksa.


Arya kini memeluk tubuh Akssa dan Beby memeluk tubuh Aska dengan berlinang air mata.


"Yang sabar ya, Bang," ucap lirih Arya.


"Ada apa ini Pah? Abang tidak mengerti," sahut Aksa.


"Iya ada apa Mah? Kenapa Mamah dan Papah menangis? Di mana Mommy?" timpal Aska.


"Mommy sudah di surga Kak," sahut Beeya.


"Surga? Maksudnya?" tanya Aksa tak mengerti.


"Mommy kalian sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya," jelas Arya dengan suara yang sangat berat.


Aksa dan Aska pun terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Arya. "Jangan bercanda Pah. Ini gak lucu," ucap Aksa seraya tersenyum kecut.


"Kami tidak bercanda Bang, Mommy kalian telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Kemarin ada yang menusuk perut Mommy kalian hingga Mommy kalian kritis. Dan sekarang, Mommy kalian sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi," ucap Beby dengan berurai air mata.


"Nggak, gak mungkin. Mommy Kakak masih hidup," jawab Aska searah menangis.


"Mommy gak akan tega meninggalkan Abang, Adek dan juga Kakak. Mamah dan Papah bohong," seru Aksa.


"Mamah dan Papah tidak bohong. Inilah kenyataannya, Mommy sudah meninggalkan kita semua."


Arya dan Beby pun memeluk tubuh Aksa dan Aska yang sudah menangis keras dan memanggil-manggil Mommy mereka.


"Mommy jangan pergi," teriak Aska.


"Abang gak bisa hidup tanpa Mommy," lirih Aksa.


"Jangan tinggalkan kami dan Kakak, Mom. Abang mohon," pinta Aksa dengan berderai air mata ketika dia melihat video detik-detik kain putih menutupi wajah Ayanda.


"Mommy!" teriak si kembar.


****


Kalo kalian suka sama cerita ini, jangan ditimbun-timbun dong ceritanya. Itu mempengaruhi level karya aku loh, sedih Masya Allah ..😭