Bang Duda

Bang Duda
324. Bercengkrama (Musim Kedua)



Echa sedang membereskan barang-barang yang akan dibawanya. Sedangkan Radit terus memeluk tubuh Echa dari belakang. Mengikuti ke manapun Echa pergi.


"Ba, engap tau," ujar Echa.


Radit mengendurkan pelukannya dan malah menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya.


"Lebih baik bawa barang seperlunya aja. Di sana kita beli lagi semua kebutuhan kamu dan aku," ucap Radit sambil mengecup kening Echa.


"Mending kita tidur," goda Radit yang sudah menaik turunkan kedua alisnya. Membuat Echa geli melihatnya.


"Masih siang, Ba," tolak Echa.


"Baba ingin melihat anak-anak kita bermain bola, Bubu," rengeknya.


Echa pun mengalah dan mengikuti kemauan suaminya. Tibanya di tempat tidur, Radit segera membuka kancing piyama yang Echa gunakan. Memperlihatkan perut buncit Echa yang sedang bergerak-gerak. Senyum mengembang di wajah tampan calon ayah muda itu.


"Bubu, apa perut Bubu gak sakit ketika mereka bergerak-gerak seperti ini?" Radit mendongakkan kepalanya menatap Echa.


"Kalo gerakannya lagi aktif banget, pasti sakit, Ba."


"Kenapa Bubu gak bilang ke Baba?" Echa hanya tersenyum ke arah Radit sambil mengusap rambut Radit.


"Sudah kodratnya seorang wanita seperti ini, Ba. Bubu harus menikmati setiap prosesnya. Bubu ikhlas dan bahagia menjalani semuanya, Ba." Ada rasa haru yang menjalar di hati Radit ketika mendengar ucapan istrinya.


"Makasih, ya, Bubu," ucap Radit tulus. Lalu mengecup bibir Echa dengan penuh kelembutan. Kecupan hangat berubah menjadi pagutan liar.


"Aw!" Ringisan Echa menyudahi pagutan bibir mereka berdua.


Radit segera mengusap lembut perut sang istri. Kemudian, menciumnya. "Jangan nakal dong kalian. Kasihan Bubunya, biarkan Baba bermesraan dengan Bubu dulu, ya. Kalo kalian sudah lahir, sudah dipastikan Bubu tidak akan pernah punya banyak waktu untuk Baba," ocehnya pada calon anak-anaknya yang masih berada di dalam perut.


"Anak-anak kita kan mau diasuh sama Kakek-kakeknya. Jadi, aku masih milikmu sepenuhnya Ba," ujar Echa seraya tertawa.


"Abis mereka lahir, kita honeymoon lagi. Kita bikin adik buat si kembar. Mereka kan made in London. Kita bikin lagi made in Holland." Ucapan Radit mampu membuat mata Echa melebar dengan sempurna. Dan Radit pun tertawa bahagia melihat kemarahan istrinya.


"Kamu kira aku kucing, abis lahiran bisa lari ke sana ke sini. Ingat loh, aku ini gak bisa lahiran normal." Radit mengusap lembut rambut Echa lalu mencium keningnya.


"Apa setelah anak-anak kita lahir mau stop produksi bayi?" tanya Radit.


"Kamu bapaknya masih sanggup bikinnya gak?" tantang Echa. Radit berdecak kesal mendengarnya.


"Ya masih sanggup lah, bikin tiap hari Ampe pagi aja aku sanggup," balas Radit sombong.


"Ingat gak, malam pertama kita. Kamu sampe masuk rumah sakit." Echa memutar bola matanya jengah.


Setelah banyak drama kehidupan, akhirnya Radit dan Echa bisa melakukan malam pertama juga. Tiga hari, Echa tidak bisa istirahat karena Radit yang selalu meminta lagi dan lagi. Menolak hukumnya dosa, padahal badannya sudah tak tahu rasa. Echa hanya bisa berpasrah. Di hari ketiga, badan Echa benar-benar lemah dan dia demam tinggi. Membuat Radit panik sendiri. Ketika dibawa ke rumah sakit, Addhitama menatap Radit dengan tatapan membunuh.


"Kamu apakan menantu, Papih?" Pertanyaan yang terdengar menyeramkan.


"Ya biasalah pengantin baru," sahut Radit.


Geplakan di bahu membuat Radit mengeluh. "Menantu Papih kelelahan. Ada luka lecet di selangkangannya. Ya, kalo mau ngegarap juga tahu waktu lah. Liat kondisi istri kamu kayak gimana," omel Addhitama.


Echa bergidik ngeri mengingat kejadian itu. Sedangkan Radit hanya tertawa. Setelah bercengkrama bersama anak-anak dan istrinya. Radit kini tengah memeluk tubuh Echa sangat erat. "Bu, kamu gak akan ngasih tahu kepulangan kamu ke keluarga kamu?" Echa pun menggeleng.


"Biar surprise, Ba."


"Di Indonesia kamu mau tinggal di mana?" tanya Radit yang tak hentinya melayangkan kecupan di puncak kepala Echa.


"Aku ingin tinggal bersama Mamah," jawabnya.


"Kenapa gak tinggal di rumah pemberian Ayah kamu saja." Echa hanya tersenyum tipis.


"Kamu mau, Bunda musuhin aku lagi? Kamu kan tahu watak Bunda seperti apa. Selalu cemburu jika aku dikasih sesuatu sama Ayah. Dan bilangnya, Ayah selalu pilih kasih ke aku dan Riana."


"Masih aja, ya." Radit pun menggeleng heran.


"Perubahan sikap yang manis jika tanpa keikhlasan akan berujung kembali ke sikap aslinya. Aku lelah berdebat, aku ingin tenang," tukas Echa.


"Nanti aku tanya Papa, ya. Tentang rumah di sekitaran tempat tinggal Papa dan Mamah." Echa menatap Radit bingung. Sedangkan Radit dengan gampangnya berbicara, "kita akan beli rumah yang ada di sana."


Sungguh keputusan yang membuat Echa sport jantung. Rumah kisaran di tempat tinggal sang Papa lebih dari 20 Milyar. Seperti membeli kacang goreng saja, begitulah pikir Echa.


"Di sana terlalu besar, Ba. Aku ingin rumah yang minimalis tapi memiliki halaman depan dan belakang yang luas. Supaya ada tempat bermain untuk anak-anak kita." Radit mengangguk mengerti. Setelah tiba di Indonesia, Radit akan mencari rumah yang diinginkan oleh istrinya.


Apapun akan Radit lakukan untuk Echa dan ketiga calon anaknya. Masalah materi, tidak akan pernah kekurangan. Hanya saja, Radit bermasalah dengan waktu. Dia tidak akan memiliki banyak waktu untuk anak dan istrinya nanti.


"Bubu, gak apa-apa kan nanti Baba tinggal lagi selama satu bulan? Sekalian ngurus resign di sini." Echa menatap nanar ke arah Radit membuat Radit tidak tega melihatnya.


"Baba janji, setelah itu kita akan menetap di Indonesia. Lagi pula, satu rumah sakit Papih sudah diserahkan pada Baba."


Tidak ada jawaban dari Echa, dia malah menelusupkan wajahnya ke dada bidang suaminya dan menangis sesenggukan.


"Bu ...."


"Kenapa gak tinggal di sini dulu aja selama satu bulan sambil mengurus resign kamu, Ba. Aku gak mau jauh dari kamu lagi. Sudah cukup dulu ...."


"Ssstt! Baba gak akan pernah tinggalin kamu, Sayang. Gak akan." Kecupan demi kecupan Radit berikan ke puncak kepala Echa. Tubuh istrinya masih bergetar, menandakan dia masih menangis.


Satu jam sudah, Echa memeluk dan menangis di dada Radit. Hingga dengkuran halus pun terdengar. Menandakan istrinya terlelap. Radit menghela napas kasar. Dengan pelan, dia membaringkan tubuh Echa. Wajah Echa yang basah membuat hati Radit teriris.


Radit segera menghubungi Papihnya untuk meminta bantuan mengurus resign di rumah sakit besar tempatnya bekerja di London. Dan Addhitama akan membantu putra kebanggaannya itu. Ada rasa lega di hati Radit. Jujur, dia tidak ingin terpisah lagi dengan istri dan ibu dari anak-anaknya ini.


"Good night, Bubu." Radit mengecup kening istrinya. Lalu, beralih ke perut sang istri. "Good night anak-anak, Baba."


...----------------...


Pada nungguin aku Up gak?


Maaf, badan aku lagi drop.