Bang Duda

Bang Duda
68. Kunci Keharmonisan



Gio membiarkan Dinda bebas dulu untuk satu hari ini. Dinda masih berkabung, tenggelam dalam lautan kesedihan. Pengawalan ketat tetap Gio lakukan. Kesalahan Dinda tidak bisa hanya sekedar untuk dimaafkan tapi, harus diberikan pelajaran. Agar ada efek jera. Meskipun Gio tahu, Dinda itu seperti belut. Licin dan sulit untuk ditangkap.


Di rumah pribadi Erlan, Dinda hanya duduk di kursi plastik di samping tempat tidur. Masih lengkap peralatan medis di kamar itu. Air matanya seolah membeku. Hatinya kosong, nyawanya pun ikut hilang. Wajah Dinda terlihat sangat sayu dan pandangannya pun kosong. Dinda berjalan ke arah meja di samping tempat tidur. Dia meraih satu figura uang berisikan fotonya dan juga Erlan ketika mereka sedang berlibur. Kondisi Erlan masih sehat.


"Sekarang aku sendiri," gumamnya.


Diambil lagi satu figura dengan foto bocah berkupluk dengan wajah yang pucat namun, terlihat ceria bermain bersama Erlan.


"Ibu kangen kamu," lirihnya.


Sekarang, Dinda hanya bisa menatap dua foto lelaki kesayangannya ini. Tanpa pernah bisa bertemu apalagi menyentuhnya.


Dipeluknya dua figura itu, Dinda pun menunduk dalam merasakan kepedihan yang sangat dalam. Gagal memenangkan hati Rion dan sekarang ditinggalkan oleh suaminya untuk selama-lamanya.


Di apartment.


Gio sedang merengek seperti anak kecil. Dia terus membuntuti kemana pun istrinya pergi.


"Mom," rengeknya.


"Dad, Mommy sudah engap. Lihat perut Mommy," ujar Ayanda.


"Daddy akan melakukannya pelan malah sangat pelan Mom. Daddy juga gak akan mencelakakan si kembar," sahutnya.


Ayanda hanya menghela nafas panjang.


"Katanya mau lahiran normal, jadi harus sering Daddy tengokin biar membuka jalan untuk si kembar," jelas Gio dengan terus menciumi tengkuk leher Ayanda.


"Ya udah, tapi pelan ya Dad." Ayanda pun akhirnya menyerah.


Gio melucuti baju istrinya satu per satu. Sangat terlihat jelas tubuh Ayanda yang sedikit berisi. Dan juga mata Gio tak berkedip ketika melihat dua gundukan yang dua kali lipat dari biasanya.


"Mom, kok ini bisa gede begini sih," bisiknya seraya menciumi leher istrinya dan tangannya meremas lembut dada istrinya.


"Dad." Suara Ayanda suda mulai parau.


Dia menikmati setiap sentuhan lembut suaminya. Sudah lebih dari dua Minggu dia merindukan ini. Selama kehamilan, hormonnya semakin tinggi. Setiap malam Ayanda selalu ingin disentuh oleh suaminya.


Tangan Gio mulai turun ke arah bawah. Dia terus menciumi setiap inchi tubuh istrinya. Ketika melihat gerakan dari si kembar lengkungan senyum bahagia terukir dari bibir Gio.


"Kalian pasti kangen kan sama Daddy. Daddy akan nengokin kalian sebentar lagi," ucapnya seraya mencium perut buncit Ayanda.


"Dad ...."


"Iya Mom."


"Masukin," ucap Ayanda dengan suara parau.


Gio pun langsung memasukkan adik kecilnya ke lubang kenikmatan Ayanda. Dia melakukannya sangat pelan membuat istrinya merasakan kenikmatan yang luar biasa.


"Dad ...."


"Keluarkan aja, Sayang," sahut Gio yang terus mendorong adik kecilnya dengan pelan.


Hingga desahan panjang keluar dari mulut Ayanda, menandakan dia sudah mencapai klimaks. Gio pun mencabut adik kecilnya dan membiarkan istrinya istirahat sejenak.


Gio mencium bibir ranum Ayanda dengan sangat lembut. His*p*n dan lum*t*n yang Gio lakukan membuat Ayanda terangsang kembali. Gio menarik tangan istrinya agar menyentuh adik kecilnya yang sudah menegang. Dengan lembut Ayanda mengocok adik kecil suaminya dengan bibir mereka yang masih saling berpagut.


"Ahh ...."


Mendengar des*h*n suaminya, Ayanda langsung naik ke atas tubuh Gio. Perlahan dia memasukkan adik kecil suaminya dan des*h*n lagi yang lolos dari mulut Gio. Ayanda menggerakkan pinggulnya pelan membuat Gio semakin mend*s*h kencang. Adik kecilnya tak mampu untuk menahan goyangan lubang kenikmatan istrinya, hingga laharnya pun menyembur.


Ayanda akhirnya terkapar dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Gio tersenyum bahagia ke arah istrinya lalu mengecup kening Ayanda sangat lama.


"Makasih, Sayang," ucapnya dan kini mencium mesra bibir Ayanda.


Inilah salah satu kunci keharmonisan dan kemesraan rumah tangga Ayanda dan juga Gio. Mereka saling memuaskan satu sama lain di atas ranjang. Dan juga Gio selalu memanjakan istrinya, memprioritaskan keinginan istrinya dibandingkan dia.


Ayanda sudah terlelap dalam dekapan Gio. Baru saja Gio hendak memejamkan matanya, ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Gio menyelimuti tubuh istrinya yang polos lalu meninggalkannya menuju tempat yang jauh agar tidak mengganggu istrinya.


📲 "Dinda Boss," ucap panik salah seorang anak buah Gio.


📱 "Kenapa?"


📲 "Dia tidak sadarkan diri Boss, dengan tangan yang bersimbah darah."


****


Happy reading ....