Bang Duda

Bang Duda
70. Ungkapan



Sebelum baca kelanjutan Bang Duda, aku mau nanya dulu ke kalian semua para readersku tersayang. Baik reader yang suka ngasih jempol, suka komen dan juga silent reader yang ngasih vote banyak-banyak terus.


Seandainya, aku pindah lapak/platform kalian akan terus ngikutin kemana aku pergi atau tetap stay di sini? Tolong tulis jawaban kalian di kolom komentar ya ....


...****************...


Rion hanya bisa memandangi taksi yang membawa istrinya. Sedangkan Amanda mengarahkan taksi menuju sebuah hunian kecil di sekitaran Malioboro.


Setelah turun dari taksi, matanya nanar melihat rumah yang sederhana. Tempat di mana dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orangtuanya. Sebelum ayahnya dipindah tugaskan ke ibukota. Lalu, ke Bandung.


Senyuman hangat terukir dari wanita paruh baya yang sedang bersantai di teras depan.


"Mbak," panggil Mbok Min.


Amanda pun berhambur memeluk tubuh renta Mbok Min. Pelukan hangat si Mbok seperti pelukan ibundanya. Amanda sedikit meringis ketika Mbok Min memeluknya terlalu erat.


"Kenapa Mbak?" tanya Mbok Min.


"Perut aku baru saja terluka," ujarnya.


Mbok Min langsung membawa masuk Amanda dan membawanya ke kamar Amanda sewaktu kecil. Dia memandang setiap sudut ruangan dan semuanya tidak ada yang berubah. Lengkungan senyum pun terukir indah di wajahnya.


"Mbok siapkan makanan dulu ya, Mbak," ucap Mbok Min.


Amanda duduk di tepian ranjang, memikirkan suaminya yang tengah terbang menuju Jakarta. Hatinya sesak, ternyata wanita itu masih memiliki tempat khusus di hati Rion. Jika, Ayanda yang menempati ruang khusus di hati suaminya, dia tidak akan mempermasalahkannya.


Amanda merasa lelah dengan tubuh dan hatinya. Dengan pelan dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tak lama matanya terpejam.


Di rumah sakit sudah berkumpul Arya dan juga Sita. Melihat keadaan Dinda yang mengenaskan membuat Arya dan Sita sedikit iba. Ketika Gio memberikan secarik kertas kepada mereka, sikap iba mereka berubah jadi murka.


"Menjelang koit aja nih orang masih bisa-bisanya nulis beginian," geram Arya.


"Ciri-ciri golongan yang akan masuk ke neraka jahanam," sambung Sita.


"Bagaimana dengan Rion?" tanya Arya.


"Dia sudah dijemput, mungkin sebentar lagi sampai," jawab Gio.


Mereka menunggu kedatangan Rion untuk melakukan pemakaman Dinda. Gio sudah menyiapkan liang lahat yang berdampingan dengan makam Erlan. Gio mendapatkan kabar jika Rion sudah menuju landasan. Diperkirakan satu jam lagi Rion sampai di Jakarta.


Satu jam berselang namun Rion tak kunjung juga datang. Gio pun akhirnya meminta pihak rumah sakit untuk segera membersihkan jenazah Dinda.


Gio masih menghubungi salah seorang kru pesawat. Ternyata pesawat pribadi yang dikirimkan Gio belum lepas landas sedari tadi. Pihak Rion pun belum datang ke landasan.


***


Dalam tidurnya, Amanda seperti bermimpi di kecup hangat oleh suaminya dan tangannya digenggam erat oleh Rion. Seakan tidak ingin berpisah dengannya. Sungguh indah mimpi itu, hingga perut Amanda terasa sakit kembali. Membuat dia meringis kecil.


"Abang," gumamnya dengan tangan yang memegang perut dan mata yang masih terpejam.


"Abang di sini, Sayang," sahut Rion.


Suara Rion samar-samar terdengar di telinga Amanda. Perlahan Amanda membuka matanya, suaminya sudah berada di sampingnya dan memegang erat tangannya.


"Abang bukannya ...."


"Abang lebih memilih mencari kamu dari pada harus terbang ke Jakarta tanpa kamu. Istri Abang lebih penting. Maaf tadi Abang membentak kamu," sesal Rion.


Rasa sakit yang Amanda rasakan kini hilang sudah mendengar penjelasan dari suaminya.


"Maafkan Abang," lirihnya seraya mencium tangan Amanda.


"Jika Abang mau pergi, pergilah Bang. Manda tidak apa-apa."


"Tidak, Sayang. Kamu lebih penting dari apapun. Abang tidak mau kehilangan orang yang Abang sayangi untuk kedua kalinya. Cukup Abang bodoh di masa lalu, sekarang Abang tidak akan melepaskan kamu. Abang sangat mencintai kamu," ungkapnya.


Mata Amanda berkaca-kaca mendengar ungkapan hati Rion. Sungguh diluar dugaannya. Ponsel Rion berdering panggilan video dari Arya. Baru saja Rion menjawab Arya sudah mengumpat dengan segala umpatan kasarnya. Hingga Rion mengarahkan ponselnya ke wajah Amanda.


"Eh," ucap Arya.


"Gua gak bisa kembali ke Jakarta, gua harus nemenin istri gua. Kalian urus aja jenazahnya. Nanti kalo Amanda udah sembuh, gua sama istri gua akan ziarah ke makamnya," jelas Rion panjang lebar.


Sambungan video pun diputuskan sepihak oleh Rion. Dia tidak ingin momen baikannya diganggu makhluk tak guna macam Arya.


"Nanti kalo kita udah kembali ke Jakarta, kita ziarah ke makam Dinda, ya," ajak Rion.


Amanda pun mengangguk pelan dan tersenyum hangat ke arah Rion. Dibalik pintu kamar Mbok Mun menitikan air mata bahagia karena sekarang Amanda sudah memiliki pendamping yang sangat menyayanginya.


****


Happy reading ...