Bang Duda

Bang Duda
171. Gadis Judes



"Sepertinya tidak mungkin, dulu aja dia susah banget jatuh cinta. Apalagi sekarang, dia sudah mengalami sakit hati," imbuh Ayanda.


"Kita fokus saja ke masa depan putri kita. Kita berikan yang terbaik untuk Echa dan selalu buat dia bahagia," balas Gio.


Radit POV.


Dulu, aku mencintai seorang gadis yang usianya sama persis dengan Echa. Apapun akan aku beri untuk dia, meskipun Papih ku selalu marah kepadaku karena tagihan kartu kredit yang tidak terhingga. Tapi, aku tak peduli. Ketika aku mencintai gadis itu, apapun yang dia minta akan selalu aku turuti.


Sering sekali aku mengatakan I love you kepada gadis itu, nama gadis itu Rere. Namun, Rere hanya menjawab dengan senyuman manis yang membuatku semakin jatuh cinta kepadanya. Benar kata orang, cinta itu buta dan membuat kita bodoh. Itulah yang aku alami.


Berkali-kali aku mendengar kabar tentang Rere yang bergonta-ganti pasangan, tapi selalu aku anggap angin lalu. Karena aku tidak percaya. Hingga suatu ketika, aku pergi ke satu mall untuk bertemu temanku. Dan di situlah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Rere sedang menggandeng mesra lengan seorang laki-laki yang seumuran dengannya. Ingin rasanya aku marah tapi, masih bisa aku tahan.


Hingga akhirnya, aku menunggu Rere di rumahnya. Sudah cukup lama aku di sana, hampir dua jam. Dan setelah Rere datang aku langsung menanyakannya.


"Kenapa kamu ngatur-ngatur aku? Kamu siapanya aku?" Perkataan Rere membuat aku terdiam sesaat.


"Aku hanya menganggap kamu sebagai teman jalan tidak lebih dari itu." Seperti ditusuk ribuan belati panjang hati ini.


Sebenarnya, aku ingin menangis. Tapi, entah kenapa bibirku malah melengkungkan senyum yang sangat manis. Mungkin itu senyuman terakhir yang aku berikan untuk Rere sebagai tanda perpisahan. Dan sekarang, aku tahu ternyata cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.


Beberapa hari, aku seperti manusia yang tidak memiliki gairah untuk hidup. Berdiam diri di kamar dengan wajah yang sangat kusut. Sore harinya, aku berniat untuk pergi mencari angin. Dengan tidak sengaja aku hampir menabrak siswi sekolah.


Aku merasa lucu jika mengingat pertemuan dengannya, motorku yang rusak tapi aku yang harus bertanggung jawab atas dirinya. Padahal dia terjatuh karena dia kaget, dan motorku tidak menyentuh dia sedikit pun.


Apalagi melihat dia merintih kesakitan, terdengar sangat lucu di telingaku. Tapi, ketika Papanya datang dan tangisnya pun pecah, hatiku ingin sekali terus mendampinginya. Dan akhirnya aku beralasan untuk bertanggung jawab sepenuhnya hingga dia sembuh. Sebenarnya, bukan itu alasannya.


Echa mampu membuat hatiku menghangat. Dan melihat sikapnya yang selalu ingin terlihat baik-baik saja membuat ku yakin, jika dia adalah gadis yang sangat baik. Ya, aku tertarik padanya.


Setelah beberapa hari aku bersama Echa tanpa aku sadari aku mampu melupakan Rere dalam ingatanku. Pernah kita bertemu, namun hatiku seakan membeku.


Terlebih, sekarang ini orangtua Echa mengetahui siapa aku sebenarnya. Apalagi Papa sambung Echa adalah putra tunggal dari sahabat Papih ku. Dan aku dipercaya untuk memulihkan psikisnya yang memang sedang terguncang.


Tanpa diminta pun aku akan terus mendampingi Echa hingga dia benar-benar pulih dari segala sakitnya. Bersama dengan dia ada getaran-getaran aneh yang aku rasakan. Berbeda dengan Rere. Apa aku telah jatuh cinta pada si gadis judes?


POV end.


****


Yang belum rate tolong bantu rate bintang 5 ya ...


Makasih


Happy reading ..