Bang Duda

Bang Duda
157. Kasih Sayang



Dengan wajah penuh dengan kekesalan Gio keluar kamarnya dan membuka pintu.


"Ngapain sih lu ... Ma-mah."


"Kamu kenapa? Muka kok ditekuk kayak gitu," tanya Bu Dina.


"Aku kira Rion, soalnya tadi dia ke sini."


"Mamah juga ketemu dia di bawah. Kata si aa si kembar sedang bersama kalian. Makanya Mamah gak ikut pulang sama si aa karena pengen ketemu sama si kembar."


Kampret nih orang, beraninya ngerjain gua.


Di dalam mobil Rion tertawa terbahak-bahak. Sudah dipastikan Gio dan Ayanda tidak akan selesai menuju surga dunia. Sudah dipastikan wajah Gio akan ditekuk dan bola matanya memancarkan api kemarahan.


"Si kembar dibawa Sheza sama Azka katanya mau diajak nginep di rumah mereka."


"Anak kurang ajar beraninya bohongin Mamah," sungut Bu Dina.


"Duduk dulu, Mah."


"Echa di mana Gi?" tanya Bu Dina.


"Dia lagi jalan sama sahabat-sahabatnya," jawab Gio sambil membawakan teh hangat.


"Sama pacarnya juga?"


"Iya. Tenang aja, Mah. Echa dan pacarnya selalu aku awasi kok. Dan Echa juga tau konsekuensinya apa kalo ngelanggar aturan yang udah aku dan Yanda bikin."


"Makasih, Gi, sudah menjadi Papa yang baik dan tegas untuk cucu Mamah. Walaupun Echa bukan darah daging kamu tapi, Mamah melihat kamu sangat menyayangi Echa," ujar Bu Dina.


"Sebelum aku jatuh cinta sama mamahnya, aku terlebih dahulu jatuh cinta sama Echa kecil yang sangat cantik namun, bernasib malang," ungkap Gio.


"Aku berusaha menjadi Papa yang baik untuk Echa dak aku bersyukur banget Echa juga merasa nyaman dan sayang sama aku. Meskipun dia sudah bersama ayah kandungnya, tapi Echa tetaplah Echa kecil ku, Mah. Yang selalu manja sama Papanya," terangnya lagi.


"Nek." Suara si gadis cantik nan malang terdengar. Membuat Bu Dina melengkungkan senyuman.


"Dari mana?"


"Pacaran lah, Nek," candanya.


Gio hanya tertawa sedangkan Bu Dina memicingkan mata dengan tajam ke arah Echa.


"Biasa aja sih, Nek. Papa juga santai aja kok. Iya, kan Pa?" Echa pun memeluk tubuh Gio.


"Hem. Tapi kamu tau kan, mata Papa banyak?"


"Ya, Echa sangat tau, Pa. Jadi, jangan khawatir," ucap Echa.


"Kalo kamu nakal, Nenek kutuk jadi kutu rambut kamu," sungut Bu Dina.


"Lah kamu kan dilahirkan dari ayah yang kaya dan juga dibesarkan dari Papa yang super duper kaya. Mau apa lagi?" tanya Bu Dina.


"Echa pengen kaya dari hasil usaha Echa sendiri, Nek. Setelah lulus SMA inginnya sih kuliah di luar negeri. Tapi, Ayah dan Mamah gak setuju," keluhnya.


Gio hanya bisa membelai rambut putrinya dengan seulas senyum di bibirnya. "Ikutin apa kata kedua orangtua kamu, mereka tau yang terbaik untukmu, Sayang."


"Echa ingin mencari hal yang baru, Pa. Gak apa-apa di Singapur juga," ucapnya.


"Itu bukan wewenang Papa, Sayang. Ayah dan Mamah lebih berhak atas keputusanmu."


Melihat sikap Gio kepada Echa yang penuh dengan kasih sayang membuat Bu Dina melengkungkan senyum bahagia. Hatinya sangat lega karena cucunya dirawat dengan sangat baik oleh papa sambungnya. Meskipun sudah memiliki anak buah cintanya dengan Ayanda, Gio tak lantas melupakan Echa yang notabene adalah anak tirinya. Kasih sayang yang Gio berikan kepada ketiga anaknya sama rata. Terkadang, kasih sayang Gio lebih besar terhadap putrinya karena sekarang ini Echa membutuhkan perhatian lebih.


Echa sudah remaja, keingin tahuannya akan hal-hal baru sangatlah besar. Peran Gio sekarang ini adalah sebagai teman sekaligus guru untuk Echa. Karena kedua orangtua kandung Echa sangatlah protektif jadi, Gio harus lebih santai menghadapi Echa. Agar putrinya ini tidak merasa terkekang.


"Ya sudah, Mamah pulang ya, Gi. Salam untuk si Teteh. Insya Allah besok Mamah ke sini lagi," pamit Bu Dina.


"Biar supir aku yang nganter Mamah ke rumah Rion." Gio mengubungi sopir pribadinya.


Setelah Bu Dina pergi, Gio dan Echa masih asyik bercengkrama dan berbagi cerita. Gio terus mendengarkan curhatan putrinya ini. Karena sekarang Ayanda sibuk dengan si kembar jadi, waktu untuk Echa berkurang.


"Pa, makasih udah jadi penghibur dan juga penguat untuk Echa ketika Mamah dan Ayah bersikap keras terhadap Echa," katanya.


"Kamu gak perlu berbicara seperti itu, sudah kewajiban Papa. Yang terpenting, kamu harus bisa membanggakan kedua orangtua kamu dan buatlah mereka bahagia."


"Echa sayang Papa."


Mendengar ucapan seperti itu membuat hati Gio terenyuh. Ini bukan kali pertama Echa mengucapakan ini. Echa masih lah putri kecilnya. Sedewasa apapun Echa di mata Gio Echa adalah putri kecilnya yang cantik.


Echa pun masuk ke kamarnya begitu pun Gio. Ketika masuk ke dalam kamar, dilihatnya sang istri sudah terpejam. Gio hanya menghela napas kasar. Melihat wajah damai Ayanda ketika tidur membuatnya tidak tega untuk membangunkannya. Meskipun, hasratnya sudah di ubun-ubun.


"Mungkin hari ini kamu harus puasa dulu," gumamnya sambil melihat ke arah bawah yang sudah menegang.


"Mimpi indah, Sayang. Good Night." Gio mengecup kening Ayanda sangat dalam dan mematikan lampu. Tersisa hanya lampu tidur yang temaram.


Gio memeluk istrinya dari belakang dan dengan sengaja menggesek-gesekkan yang sudah menegang ke bokong sang istri. Hingga lenguhan terdengar.


"Daddy, Mommy ngantuk."


****


Maap, up-nya telat pake banget. Niat hati ingin up tadi pagi/siang ternyata otakku gak mau. Pas liat favorit malah turun dan akhirnya aku maksa up.


Komen dong biar semangat lagi nih, efek lelah jadinya gak semangat aku tuh.


Happy reading...