
BONUS PART.
Semoga kalian suka.
*****
Selama mengudara Echa hanya menyandarkan kepalanya di bahu Radit. Dengan tangan Radit yang terus menggenggam erat tangan Echa.
Echa teringat akan pesan yang dikirimkan oleh ayahnya ketika pagi hari.
Dek, Ayah sayang kamu. Ayah ingin selalu berada dekat dengan kamu. Kali ini, boleh kan jika Ayah egois. Ayah tidak ingin kamu pergi. Ayah masih ingin menebus kesalahan demi kesalahan yang pernah Ayah lakukan kepada kamu. Memberikan kasih sayang yang berlimpah yang ketika kamu kecil kamu tidak merasakannya.
Ayah ingin menghabiskan sisa umur Ayah bersama anak-anak Ayah. Ayah ingin melimpahkan kasih sayang Ayah kepada kalian. Ayah ingin kita terus bersama-sama. Ayah tidak ingin kamu pergi.
Ayah sayang kamu, Dek.
Echa memejamkan matanya sejenak, hatinya sangat berat tapi inilah yang harus dia lakukan. Apalagi ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika sang Mamah menangis ketika memasakkan makanan untuknya.
Masakan yang sangat spesial yang dibuat dengan tetesan air mata. Ingin rasanya Echa memeluk tubuh mamahnya. Ingin rasanya Echa menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama sang Mamah.
Radit mengusap lembut kepala Echa. Dan Echa mendongakkan kepalanya. Radit mengecup kedua mata Echa bergantian. Mengusap ujung mata Echa yang sudah basah.
"Fokus kepada kesembuhan kamu. Dan kapan saja kamu boleh pulang ke Indonesia untuk bertemu semua orang yang menyayangi kamu." Echa pun tersenyum dan memeluk erat pinggang Radit.
Sedangkan di kediaman Ayanda, suasana rumah tampak sedih. Terlebih Gatthan yang tak hentinya menangis. Dia terus menangis di kamar Kakaknya sambil memeluk bantal bergambarkan Echa.
"Dek inin Tata, inin Tata." Sungguh sakit, hati Ayanda mendwngar rengekan putra bungsunya. Dan tidak pernah Gatthan menangis seperti ini.
"Adek, 30 hari lagi Adek akan bertemu dengan Kakak. Kita akan naik pesawat pergi ke sana. Dan Adek bisa memeluk tubuh Kakak sampai puas," ujar Gio.
"No, tetalang inin tatanya tetalang," teriak Gatthan. dengan wajah yang sembab dan hidung sudah merah seperti tomat cherry.
Berbeda dengan Gatthan, Ghassan asyik mengurung diri di kamarnya. Dia hanya mencoret-coret kertas dengan crayon lalu dia melipatnya menjadi perahu. Seni melipat itulah yang Echa ajarkan kepada Ghassan.
"Tata, ban, ade, Mommy, Daddy, om Iyek." Ghassan menunjuk satu per satu gambar orang-orangan sawah yang dia buat.
Lalu dia melipatnya menjadi perahu kemudian dia meletakkan di kardus kecil yang dia ambil dari kamar kakaknya.
Ghassan lebih bisa mengontrol kesedihannya dibandingkan Gatthan. Berbeda dengan adiknya, terlalu sayangnya dia kepada Echa membuat dia selalu menangis diam-diam jika melihat Echa menangis sendiri di dalam kamar.
"Abang bikin apa?" Ayanda menghampiri Ghassan setelah berhasil membujuk Gatthan yang kini sudah terlelap.
"Pelahu."
"Itu Tata, ini ban ini Ade." Hati Ayanda kembali sesak mendengar ucapan Ghassan.
"Abang sayang Kakak?" Ghassan mengangguk.
"Abang sedih ditinggal Kakak?" Ghassan menatap mata sang Mommy. Matanya mulai berkaca-kaca, dan tangisnya pun pecah.
Ayanda memeluk erat tubuh putra sulungnya ini. Dia sangat merasakan kasih sayang Ghassan dan juga Ghattan amatlah tulus kepada Echa.
"Nanti kita akan telepon Kakak. Dan nanti kita akan pergi ke tempat Kakak, oke?" Ghassan pun mengangguk.
Bukan hanya si kembar yang menangis, tangisan Riana tak pernah berhenti. "Li inin tata," pintanya.
Amanda dan Rion tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka juga sedang dilanda kesedihan yang mendalam. Melihat putri kecilnya seperti ini membuat hati mereka semakin pilu.
"Demput tata, Yah. Demput tata, Bunta."
Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain membujuk Riana dengan mainan dan jalan-jalan. Namun, Riana menolak semuanya.
"Li mau tata. Tata." Tangis Riana semakin keras membuat hati Rion semakin hancur.
Rion mengajak Riana ke rumah barunya meskipun Riana terus menolak. Di sana ada video tentang Echa dari dia kecil hingga sekarang.
"Riana ingin melihat Kakak?" tanya Rion.
Riana pun mengangguk dengan mata yang merah dan hidungnya pun merah. Rion memutar video Echa sewaktu kecil dan Riana duduk manis di depan televisi berlayar besar itu.
"Tata?" Rion mengangguk.
Tangis Riana mulai mereda, dia menonton dengan seksama. Sedangkan Rion, hanya bisa terus menahan sesak di dada. Kini, dia tidak bisa memeluk tubuh putrinya lagi. Dia tidak akan mendengar rengekan putrinya lagi, dan dia tidak akan pernah mendengar permintaan aneh yang putrinya inginkan.
Tak lama, Riana tertidur di karpet itu dengan memeluk bantal bergambar kakaknya. Rion menatap sendu wajah Riana. Bukan hanya dia yang merasakan sedih ditinggal Echa ke luar negeri. Anak sekecil Riana pun merasakannya.
"Ayah sayang kamu dan juga Kakak kamu. Apapun akan Ayah berikan untuk kalian berdua." Rion pun mengecup kening Riana.
Dan dia membaringkan tubuhnya di samping Riana dengan video yang masih diputar. Rion merasakan seperti sedang tertidur bersama kedua putrinya. Dua buah hati yang sangat dia sayangi dan cintai.
****
UP langsung baca dan jangan timbun-timbun bab. Dan jangan pernah bosen sama Up-an Bang Duda ya. oiya, kalo kalian bosen langsung bilang ya ..
Happy reading ...