Bang Duda

Bang Duda
29. Manusia Egois



Mood Rion berantakan sekarang mendengar ultimatum dari sheza. Rion memang salah karena hatinya mudah goyah jika Dinda datang kepadanya. Hanya sekedar rasa iba atau memang masih ada cinta. Rion pun tak mengerti. Iba dan cinta itu perbedaannya sangat tipis seperti kulit ari.


Sebenarnya Rion yakin akan cintanya kepada Sheza, namun jika Dinda datang tubuhnya seolah tidak menolak dengan perlakuan Dinda. Dan masih ada desiran aneh jika melihatnya.


"Bagaimana caranya untuk meyakinkanmu lagi?" gumam Rion.


Arya yang baru saja masuk ke ruangan Bossnya hanya menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti dengan hati dan pikiran sahabat sekaligus Bossnya.


"Mau lu apa sih?" tanya Arya.


"Gua sayang sama Sheza tapi gua gak tega sama Dinda," ungkapnya.


"Lagu lama," geram Arya.


"Ingat, belajar dari masa lalu. Lu udah kehilangan Ayanda karena si manusia tembok itu, apa sekarang lu mau kehilangan Ceca?" tukas Arya.


Rion hanya terdiam mendengar ucapan Arya. Padahal Dinda telah menghancurkan rumah tangganya, tapi masih ada kata iba untuknya. Rion merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia diciptakan menjadi pria bodoh seperti ini.


Jam makan siang pun tiba, Sheza sudah memesan ayam cepat saji sehingga dia tidak perlu repot-repot mencari makan di luar. Rion keluar dari ruangannya, dilihatnya Sheza sedang fokus dengan ponselnya.


"Makan siang bareng," ajak Rion.


"Saya sudah pesan makan, Pak," balas Sheza dengan wajah datar. Hati Rion sedikit sakit melihat perubahan sikap Sheza padanya.


"Mbak Sheza, ada kurir makanan di bawah," ucap security yang baru saja sampai lantai atas.


"Makasih, Pak."


Sheza berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan Rion yang sedang mematung di tempatnya.


Setelah di lantai bawah, Sheza menemui sang kurir. Sang kurir tersenyum ramah kepada Sheza begitu juga Sheza.


"Ini, Mas." Sheza menyerahkan beberapa lembar uang kepada sang kurir.


Lama Sheza memandangi wajah kurir itu, sedangkan sang kurir hanya tersenyum.


"Azka!" panggil Sheza dengan wajah gembira.


"Hai," sapa Azka dengan lengkungan senyum yang gembira.


Azka adalah teman semasa SMP Sheza, mereka sangat dekat seperti sahabat yang tidak bisa dipisahkan.


"Kamu kemana aja?" tanya Azka.


Sheza hanya menjawab dengan senyuman pahit. Azka yang mengerti tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Aku mencarimu," ujar Azka.


Mata Sheza nanar mendengar ucapan tulus dari Azka. Dari dulu hingga sekarang Azka masih sama, menjadi orang yang selalu peduli terhadap dirinya.


"Gak usah nangis, aku benci melihat air matamu," imbuhnya.


Sheza menyeka ujung matanya lalu tersenyum ke arah Azka. Mereka asyik bernostalgia mengenang zaman-zaman SMP. Hanya gelak tawa yang ada pada dua wajah dua manusia ini.


Dari kejauhan, Rion melihat kedekatan Sheza dengan seorang pria membuatnya marah. Tangannya sudah terkepal keras seolah ingin menghantam wajah pria itu.


Hingga Azka beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada Sheza karena masih ada pesanan yang harus dia antar. Dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya, Sheza naik ke lantai atas.


"Siapa dia?" tanya garang Rion.


Sheza yang hendak mendudukkan dirinya di kursinya pun menoleh ke asal suara, namun tak dia gubris.


"Siapa dia?" teriak Rion.


Sheza memandang Rion dengan tatapan sinis. "Bapak tidak perlu tahu siapa dia." Begitulah katanya.


Sheza hanya tersenyum tipis. "Bapak tidak suka saya dekat dengan lelaki lain, apa Bapak pikir saya juga suka melihat Bapak memeluk wanita lain di hadapan saya?" tukasnya.


Mulut Rion terkunci mendengar ucapan Sheza. Kali ini dia tidak bisa menjawab apa-apa.


"Bapak tidak usah mencampuri kehidupan saya, dan saya pun tidak akan mencampuri kehidupan Bapak," jelas Sheza.


Rion benar-benar mati kutu dibuatnya. Dia hanya seperti patung sekarang, hanya bisa berdiri dan terdiam.


Di lain tempat, Azka memandangi wajah cantik Sheza. Lengkungan bibirnya terangkat sempurna.


"Aku tidak peduli dengan statusmu. Kamu tetap Shezaku yang dari dulu hingga sekarang aku kagumi," gumamnya.


Waktu terus berputar, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Sheza sedang membereskan barangnya namun tangan seseorang dengan sangat kasar menarik tangannya.


"Sakit, Pak," pekiknya.


Rion tidak menggubrisnya. "Pulang dengan saya," paksanya.


Ingin sekali Sheza memberontak namun tenaganya kalah kuat dari tenaga Rion. Ketika mereka sampai di pintu keluar, panggilan dari seseorang membuat Sheza tersenyum gembira. Ya, Azka datang menjemputnya.


"Pulang bareng," ucapnya sambil menunjuk motor matic keluaran lama.


Tuhan seperti menjawab permohonan Sheza, Azka kini menyelamatkannya dari jeratan gila Bossnya. Dengan kasar Sheza mengibaskan tangannya hingga tangan Rion terlepas. Sheza sedikit berlari menghampiri Azka, Azka memberikan helm kepada Sheza. Mereka pun meninggalkan kantor.


Wajah Rion terlihat sangat murka melihat wanita yang dia cintai berboncengan dengan lelaki lain. Bagaimana perasaan Sheza ketika melihatnya memeluk wanita lain di hadapannya? Rion tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Dia tetap menjadi manusia egois yang hanya mementingkan perasaannya.


Azka menghentikan motornya di sebuah warung bakso. Sheza menatap Azka tak percaya karena warung bakso yang mereka kunjungi adalah warung bakso tempat Sheza bekerja sampingan.


"Aku lapar, bakso di sini enak," ucap Azka lalu menarik tangan Sheza memasuki warung bakso tersebut.


"Eh Mas ganteng," sapa Bu Rosdah si pemilik warung bakso. Bu Rosdah sedikit terkejut karena penampilan Mas ganteng beda dari biasanya dan dia mengenali wanita yang dibawa Mas ganteng itu.


Azka hanya tersenyum lalu memesan dua mangkuk bakso untuknya dan juga Sheza.


"Mas ganteng seperti biasa kan baksonya sama Sheza juga sama kayak biasanya, kan," ucap Bu Rosdah.


Azka dan Sheza hanya menganggukkan kepala.


"Ko si ibu tau nama kamu?" tanya Azka sembari meminum es teh manis.


"Aku pernah bantu-bantu di sini, nyari tambahan," jawabnya.


Azka hanya ber-oh ria, karena dia tahu Sheza adalah wanita yang pekerja keras.


Mereka pun menikmati bakso sembari berbincang dan bercanda ria. Bu Rosdah yang melihat tawa lepas Sheza hanya bisa mengucapkan syukur. Banyak sedikit dia tahu tentang Sheza dan baru kali ini Sheza bisa tertawa seperti itu.


Rion mengendarai mobilnya dengan penuh amarah, dia melajukan mobilnya bukan ke rumahnya melainkan ke apartment mantan istrinya. Sesampainya di sana hanya wajah sinis Ayanda yang dapat dia lihat. Sedangkan Gio hanya mengangkat bahunya.


"Jika Mas tidak sungguh-sungguh dengan Sheza tinggalkan dia. Dia wanita baik tidak pantas untuk disakiti," ucap Ayanda penuh emosi.


"Aku sayang sama dia, Dek," jawab Rion.


"Jika Mas sayang, kenapa Mas masih mau menerima wanita lain ketika Mas sedang berduaan dengan Sheza? Apa masih ada rasa sayang untuk wanita itu?" geram Ayanda.


Gio yang melihat istrinya yang sedang terbawa emosi hanya bisa menggenggam tangan Ayanda dan mengusap lembut punggung tangannya.


"Yakinkan hati lu akan berlabuh untuk siapa, jangan jadi manusia serakah ingin memiliki keduanya," jelas Gio.


Ucapan Gio menampar keras ulu hati Rion. Dia menyayangi Sheza tapi Dinda? Dia bingung dengan perasaannya sendiri kepada Dinda. Wanita di masa lalu yang selalu hadir menambah rasa sakit dan pahit dalam kehidupan cintanya.


***


Happy reading ...