Bang Duda

Bang Duda
42. Mengalah



Di restoran hati Beby ketar-ketir karena ulah anak sambung dari kakak sepupunya. Siapa lagi kalo bukan Echa. Si bocah bangor yang disulap menjadi wanita cantik. Dialah wanita yang bersama Azka dan berhasil membuat Sheza cemburu.


Tak lama setelah kepergian Azka untuk mencari Sheza, Rion datang ke restoran berniat untuk menemui Sheza. Bukannya Sheza yang dia temui malah putrinya sendiri yang di rombak menjadi wanita sempurna.


"Ayah nyari Tante Sheza?" Hanya anggukan kepala yang Rion berikan.


"Udah pulang dan lagi dikejar sama Abang Kano," jelas Echa.


Dengan cepat Rion meninggalkan restoran dan melajukan mobilnya. Ingin sekali Beby mencekik leher Echa namun hanya wajah santai yang Echa tunjukkan.


"Di sinilah cinta Tante Sheza diuji. Mau pilih siapa diantara mereka?" ujar Echa.


Beby pun menganggukkan kepalanya seolah mengerti maksud dan tujuan Echa. Karena Beby tahu, Echa anaknya netral tidak memihak kepada siapapun. Meskipun itu ayahnya sendiri.


Suara berat sangat terdengar di telinga Azka meskipun di tengah gemuruhnya hujan. Sepasang tangan yang sangat dingin melingkar di pinggang Azka. Perlahan tangan itu mengendur membuat Azka dengan cepat membalikkan tubuhnya. Dengan sigap Azka meraih tubuh Sheza yang hendak jatuh. Seulas senyum terangkat dari bibir Sheza yang mulai membiru sebelum matanya terpejam.


Tiba sudah Azka di rumah sakit dengan membawa tubuh lemas Sheza. Tak dihiraukan bajunya yang sudah lepek. Dia terus membopong tubuh Sheza hingga masuk IGD dan ditangani oleh tim medis.


"Ganti baju dulu," ucap seseorang yang baru saja datang.


Azka hanya mengangkat kepalanya, lalu menunduk kembali.


"Kamu bisa kena hipotermia kayak Sheza," lanjutnya.


Azka mendongakkan kepalanya, menatap wajah Gio dalam. Hanya seulas senyum yang Gio berikan. Dia seperti melihat cerminan dirinya sendiri. Cinta dan bodoh itu beda tipis.


"Sheza tidak apa-apa. Paling juga kena hipotermia karena kedinginan," jelas Gio. Maklum saja Gio adalah mantan dokter. Sedikit banyak dia tahu tentang masalah kesehatan.


"Ganti bajumu! Aku yakin orang yang pertama kali ingin Sheza lihat adalah kamu," ujar Gio dengan senyuman hangat.


Azka mengikuti perintah Gio. Azka dan Beby adalah anak dari adik Genta Wiguna. Mereka berdua kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya sibuk dengan bisnisnya. Sedangkan mereka berdua harus bisa hidup mandiri sedini mungkin. Dan hasil dari didikan keras kedua orangtuanya menciptakan dua anak yang sudah sukses dalam usia muda.


Azka dan Beby sangat dekat dengan Gio, sebelum pada akhirnya Gio memutuskan untuk ke Australia meneruskan usaha ayahnya. Jadi, apa yang dikatakan oleh Gio seperti titah yang tidak boleh disanggah. Gio adalah tempat mereka mengadu. Gio adalah pelindung mereka.


Tak lama berselang, Azka sudah dengan pakaian yang tadi Gio bawakan. Pakaian yang sangat santai membuat Azka terlihat semakin tampan.


Azka duduk di samping Gio, menyandarkan kepalanya di dinding dan memejamkan matanya.


"Tidak ada perjuangan yang sia-sia," ucap Gio seraya menepuk pundak Azka.


Aku mencintaimu.


Kata-kata itu yang Azka ingat, tapi apakah itu benar adanya? Azka semakin bergelut dengan pikirannya sendiri. Hingga dokter keluar dari ruang IGD dan mengatakan jika Sheza harus dirawat untuk beberapa hari ke depan. Bertujuan untuk memulihkan keadaannya.


Dengan cepat Azka menyetujui dan meminta ruang VVIP untuk Sheza. Supaya tidak sembarangan orang masuk ke ruang rawat Sheza.


Hanya raut yang tidak terbaca yang Azka pancarkan. Matanya tak henti memandang wajah damai Sheza yang sedang tertidur.


"Jika kamu benar-benar tulus mencintainya, jaga dia dan bahagiakan dia. Lelaki sejati tidak akan pernah menyakiti." Pesan Gio untuk Azka. Tak lama Gio pamit karena hari sudah larut.


Wanita yang Azka cari selama sepuluh tahun kini terbaring tak berdaya. Mencintai dalam diam membuat Azka sakit sendiri. Mata yang datar dan menyiratkan banyak makna kini perlahan menutup.


Sheza mengerjapkan matanya, dia melihat sekeliling ruangan yang sangat asing baginya. Dilihatnya Azka sedang tertidur damai seraya menggenggam tangannnya. Bibir Sheza terangkat sempurna.


Pagi pun tiba, Sheza masih tetap memandang wajah Azka yang masih tertidur pulas. Hingga Azka bergerak karena merasakan sentuhan lembut di kepalanya. Senyuman Sheza yang kini mengawali pagi Azka.


"Masih lemas?" tanya Azka. Sheza hanya menganggukkan kepala.


"Terimakasih," ucap Sheza.


Hanya seulas senyum yang Azka pancarkan. Mereka saling menatap, manik mata mereka seolah menyimpan rindu yang sangat dalam.


Suara pintu terbuka membuat mereka memutuskan pandangan. Rasa sesak di hati Azka melihat seseorang yang datang dengan rasa rindu dan cintanya.


Ucapan semalam mungkin halusinasi ku saja, batin Azka.


Azka beringsut mundur ketika pria itu mendekat ke arah Sheza, namun dengan cepat Sheza menahan tangan Azka. Sheza menatap Azka dengan tatapan memohon. Dengan sadar Sheza menggenggam erat tangan Azka sehingga Azka melihat ke arah tangan mereka yang saling terpaut.


"Aku minta maaf, aku bisa menjelaskan semuanya," kata Rion.


"Maaf Pak, hati saya sudah terlanjur kecewa. Dan saya baru menyadari ternyata yang saya cintai bukan Bapak tapi Azka," ungkap Sheza yang semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Hati Rion remuk seketika. Apa ini akhir dari perjuangannya mengejar Sheza? Sedangkan Azka masih membeku dan menatap ke arah Sheza penuh tanya. Apa ini hanya sekedar pura-pura di hadapan Rion.


"Baiklah, semoga kami bahagia," ucap Rion.


"Semoga Bapak dapat wanita yang lebih baik dari saya," balas Sheza dengan seulas senyum.


Dengan langkah gontai Rion keluar dari ruang perawatan Sheza. Ini saatnya Rion mengalah, mungkin Sheza bukan jodohnya.


Di dalam ruangan, Azka hanya menatap Sheza yang masih menggenggam tangannya.


"Aku lebih memilihmu dibanding dia," kata Sheza.


Azka hanya tersenyum getir. "Tapi hatimu masih untuknya, kan?" ujar Azka.


Sheza hanya menggelengkan kepalanya. Tatapannya nanar. "Hati aku sakit kehilangan sosok Azka yang hangat. Hati aku sakit ketika melihat kamu bermesraan dengan wanita lain," lirihnya.


Azka hanya terdiam. Dia membiarkan Sheza mengungkapkan semuanya. Jika dugaannya benar, dia harus rela meninggalkan Sheza.


"Kamu tau, setiap aku bertemu denganmu tapi seolah kamu tidak melihatku. Hati aku sakit dan aku menangis seorang diri. Kamu sudah berhasil menempati ruang kosong yang ada di hati ini," jelas Sheza dengan air mata yang sudah menganak.


"Bukankah itu yang dinamakan cinta? Aku mencintaimu Azka," ungkap Sheza dengan air mata yang sudah jatuh di pipinya.


Azka hanya mematung mendengar semua yang Sheza ucapkan. Karena hatinya belum merasa yakin akan ungkapan hati Sheza. Azka takut jika Sheza hanya iba kepadanya.


"Aku tau, aku tidak lebih pantas dari wanita yang berada di sampingmu semalam. Tapi setidaknya aku sudah mengungkapkan isi hatiku sebenarnya," ucap Sheza yang menyeka air matanya.


"Maaf jika aku datang di waktu yang salah dan membuatmu jadi serba salah." Sheza melepaskan genggamannya namun Azka menarik tubuh Sheza masuk ke dalam dekapannya.


"Aku sangat mencintaimu, Sheza."


***


Jangan lupa banyakin jempol dan komennya dan tambah lagi votenya 😁