Bang Duda

Bang Duda
204. Ibu Tiri



"Makasih, Bang," ucap seorang perempuan kepada seorang kurir.


"Sama-sama, Mbak."


Perempuan itu tersenyum dan berharap Amanda mau menemui putrinya. Jika, mereka berdua bertemu hatinya sangat amat lega.


Setelah membaca surat itu, Amanda bergegas mengambil tasnya dan langsung meminta Pak Mat untuk mengantarkannya menuju ke alamat yang tertera di surat itu. Setelah sampai di sana, mata Amanda nanar melihat putrinya sedang bermain di halaman depan bersama pengasuhnya.


Dia bergerak turun dengan air mata yang sudah terjatuh. "Riana," panggil Amanda kepada putrinya.


Riana pun menoleh dan tersenyum ke arah sang Bunda. Sedangkan sang pengasuhnya hanya mematung di tempatnya. Dia takut, jika majikan prianya akan memarahinya.


"I-ibu tau alamat ini dari siapa?" tanya Mbak Ira pengasuh Riana dengan wajah cemas.


"Ada yang memberikan saya alamat ini," sahutnya sambil memberikan secarik kertas kepada Mbak Ira.


Tak hentinya Amanda menciumi wajah gembul putrinya. Dia melihat putrinya sangat terawat. Benar kata Arya, Rion akan menjaga dan membesarkan Riana dengan baik.


"Bu, lebih baik kita masuk. Saya takut jika nanti ada yang laporan ke Bapak," imbuhnya.


Mata Amanda melebar ketika dia melihat isi rumah ini. Terpajang foto-foto Echa sedari kecil hingga dia dewasa. Foto yang belum Amanda lihat pun terpajang di rumah ini. Amanda mengambil satu figura yang berisi foto Rion sedang mengusap lembut air mata Echa.


"Ibu tenang saja, Bapak sangat memperhatikan Riana. Dari segala kebutuhan dan makannya selalu Bapak perhatikan. Dan Riana pun senang berada di sini," kata Mbak Ira.


"Riana senang di sini?"


"Ada tata dan Aban," jawabnya seraya memamerkan gigi susunya.


"Echa?" Mbak Ira mengangguk. "Setiap pulang sekolah Neng Echa selalu ke sini untuk menemani Riana main bersama si Abang. Riana sangat bahagia dan selalu meminta neng Echa untuk menemaninya tidur."


Hati Amanda sangat terenyuh mendengarnya. Anaknya saja bisa sedekat itu dengan Echa sedangkan dia telah tega menghasut Riana untuk menjauhi Echa.


"Ibu tahu, kemarin saya sempat mendengar Neng Echa meminta kepada Bapak untuk kembali ke rumah. Neng Echa sangat peduli kepada Riana, dia bilang jika dia tidak ingin Riana bernasib sama dengannya."


Bulir bening pun membasahi pipinya. Meskipun dia telah menyakiti Echa, dan Echa bersikap ketus juga dingin kepadanya, tapi Echa masih bisa peduli dengan adiknya dan juga dirinya.


"Tapi sayangnya, Bapak menolak. Bapak bersikukuh ingin tinggal di sini bersama Riana."


"Jam berapa Echa akan datang ke sini?"


"Mungkin sebentar lagi dia akan ke sini Bu. Selama seminggu ini Neng Echa tidak pernah absen untuk mengasuh Riana. Terkadang juga Riana diajak main keluar bersama kekasihnya Neng Echa."


"Maafkan Bunda," lirihnya.


Hati Amanda sangatlah bahagia bisa melihat putrinya sehat dan baik-baik saja. Dia masih berada di kediaman Rion, masih menunggu Echa. Dia ingin meminta maaf kepada putrinya itu.


Satu jam.


Dua jam.


Tiga jam.


Echa tak kunjung datang, Riana sedari tadi berdiri di depan pintu karena ingin bertemu dengan sang kakak. Tapi, kini dia harus kecewa.


"Tata," ucapnya dengan air mata yang sudah menganak.


"Kakak masih sekolah, nanti kalo sudah pulang sekolah Riana bisa main lagi bersama Kakak. Atau ke rumah Kakak bareng Ayah," imbuh Mbak Ira.


Wajah Riana pun kembali ceria. "Bu, maaf. Sebentar lagi Bapak pulang. Saya takut jika Ibu masih di sini, Bapak akan memarahi saya. Dan sudah pasti Ibu akan dilarang ke sini lagi oleh Bapak."


Amanda pun mengerti, dan dia pamit kepada Riana dan juga pengasuhnya. "Bunda pulang ya, Sayang. Besok Bunda ke sini lagi," ucapnya sambil mencium kening Riana.


Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Riana. Meskipun Riana tidak terlalu dekat dengannya, tapi dengan melihat Riana baik-baik saja sudah cukup bagi Amanda.


Tak lama Amanda pergi, Echa dan Radit bersama si Abang baru sampai rumah Rion. Riana sangat girang melihat Kakaknya datang.


Riana langsung menarik tangan Echa dan mengajaknya bermain. Seperti biasa main boneka. Sedangkan tugas si Abang adalah menjadi pengacau dan pada akhirnya Riana akan menangis lalu tertidur.


"Neng, tadi Ibu ke sini," ucap Mbak Ira setelah menaruh minuman di meja untuk Echa dan juga Radit.


"Oh ya?"


"Riana tadi ketemu Bunda?" Riana pun mengangguk.


"Li, piyuk bunta kek ini." Dia mempraktekan pelukannya kepada tubuh Echa. Echa pun tersenyum dan mengusap lembut rambut Adik perempuannya ini.


"Kalo aku peluk Kakak Echa boleh gak?" goda Radit yang sudah ingin memeluk Echa.


"No," pekik Riana dan Ghassan.


Mereka menjauhkan tangan Radit dan mereka pun memukul-mukul tangan Radit. Ghassan pun menggigit tangan Radit hingga Radit meringis kesakitan.


"Abang gak boleh dong," imbuh Echa.


"Ban yang Daddy," ancamnya sambil melihat sinis ke arah Radit.


"Li pun, biyang yayah," ucap Riana.


Echa hanya tertawa sambil mengobati tangan Radit bekas gigitan dari Ghassan. "Kita kalo punya anak dua begini rame kali, ya," kata Radit.


"Sekolah aku aja belum lulus, udah mikirin anak," sahut Echa.


"Emang kamu gak mau punya anak dari aku?" tanya Radit mengehentikan pergerakan tangan Echa yang sedang mengobati bekas gigitan Ghassan.


Echa menatap Radit seraya tersenyum. "Emang kamu jodoh aku?"


Radit hanya bisa diam tidak bisa menjawab ucapan dari Echa. Sedangkan Echa tersenyum melihat wajah Radit ditekuk seperti itu.


Seperti ini lah kegiatan mereka jika bermain ke rumah Rion. Echa adalah sosok kakak yang baik. Dia tidak pernah marah kepada adik-adiknya. Dia hanya menegur dengan bahasa yang lembut.


"Kamu sekarang sudah lega?" tanya Radit ketika sudah sampai di rumah Gio. Echa hanya menganggukkan kepalanya dan bersandar di bahu Radit.


"Apa kamu masih marah?"


"Ucapannya masih terngiang-ngiang di kepala," sahut Echa.


Radit menutup mulutnya, dan menggenggam erat tangan Echa. Dia tidak akan kembali ke Canberra sebelum kondisi Echa membaik.


Di rumah Amanda, Amanda masih terus memperhatikan surat yang dikirimkan kepadanya.


"Siapa yang mengirimkan surat ini?" tanyanya pada diri sendiri.


Sudah seminggu ini Amanda selalu ke rumah Rion yang baru untuk menemui putrinya. Dia selalu membawakan makanan-makanan kesukaan Riana sehingga sedikit demi sedikit Riana mau bersamanya.


Namun, yang membuat Amanda merasa aneh kenapa dia tidak pernah bisa untuk menemui Echa. Padahal dengan sengaja dia menunggu Echa. Dia ingin meminta maaf kepada putri sambungnya itu.


Hari ini Amanda datang dengan membawa semua Snack yang disukai putrinya. Dia selalu bahagia ketika hendak menemui Riana. Tapi, setelah pulang ke rumahnya dia kembali murung.


Kedatangan Amanda membuat Riana teramat senang. Dan bocah kecil itu langsung memeluk tubuh bundanya. Dengan telaten Amanda menyuapi Riana dan Riana pun sekarang sudah terbiasa bermain dengan dirinya.


Riana merengek ingin dibuatkan jus. Dengan senang hati Amanda membuatkannya. Sedangkan Rion sedang berada di jalan pulang karena semua urusannya sudah selesai. Dia ingin mengajak putrinya bermain.


Namun, ketika Rion sampai depan rumah matanya memicing dengan tajam melihat mobil yang berhenti di depan rumahnya. Dan dia sangat hafal dengan plat nomor mobil itu.


Rion menghampiri mobil itu dan mengetuk kaca mobil. Wajah cemas sangat kentara di muka Pak Mat.


"Sedang apa, Pak?" tanya Rion.


"A-anu Pak, sa-saya nganter Ibu." Mata Rion pun melebar dengan sempurna. Dia langsung berlari menuju rumahnya. Terdengar suara bising di dapur, dia langsung menuju ke arah dapur.


Tangannya mengepal keras ketika melihat Amanda sedang menggunakan dapurnya. "Sedang apa kamu?" Suara yang terdengar penuh penekanan di telinga Amanda. Seketika tubuhnya tak berkutik. Ada sedikit ketakutan di hatinya.


"Sedang apa kamu?" sentak Rion. Riana yang mendengar suara ayahnya langsung berlari ke arah ayahnya.


"Ya-yah," panggil Riana.


Wajah Rion pun seketika berubah ramah kepada putrinya. "Li, ain ma bunta. Li inin dus." Rion mengusap kepala Riana dan tersenyum. "Kalo Riana ingin jus, nanti kita beli ya bareng Kakak dan juga Abang." Riana pun bersorak gembira. Rion menyuruh pengasuh Riana untuk membawa Riana bermain.


Setelah Riana dan pengasuhnya pergi, wajah Rion mulai kembali sangar.


"Dari mana kamu tau rumah ini?" tanya Rion.


"A-ada yang mengirimkan alamat ini ke rumah," jawab Amanda.


"Bang, aku mohon maafkan aku. Aku tidak bisa hidup jauh dari putriku. Aku sungguh tidak bisa," ujarnya dengan berlinang air mata.


"Semudah itu kamu ucapan kata maaf. Sedangkan kesakitan yang kamu buat masih terasa," balasnya.


Amanda menghampiri Rion dan berlutut di kaki Rion. Air matanya sudah membasahi celana Rion. Sudah Rion gibaskan kakinya tapi Amanda memeluknya dengan sangat erat.


"Bang aku mohon, kembalikan Riana. Aku tidak butuh hartamu, Bang," imbuh Amanda.


"Bangun," sentak Rion. Namun Amanda tetap bersimpuh di kaki Rion. Dia tidak bergeming dengan sentakan Rion.


"Bangun!" Kini suara Rion lebih tinggi dan tangannya pun bersiap untuk mendorong tubuh Amanda.


"Hentikan Ayah," ucap Echa yang baru saja datang.


"Jangan berbuat kasar kepada wanita, Yah. Echa juga wanita, apa Ayah mau Echa dikasarin oleh laki-laki?" Rion hanya terdiam. Dan Amanda pun perlahan bangkit. Amanda menatap Echa dengan penuh penyesalan.


Dia mendekat ke arah Echa, namun Echa pun memundurkan langkahnya ke belakang.


"Maafkan Bunda, Cha," ucap Amanda dengan penuh penyesalan.


Amanda hanya tersenyum lalu merapatkan tangannya di depan dadanya. "Mohon maaf, saya belum bisa memaafkan Anda," jawab tegas Echa.


Amanda tersentak begitu pun Rion. "Mungkin hati saya yang terlalu lembek seperti tape ketika mendengar ucapan Anda. Karena Saya tidak pernah diperlakukan kasar oleh Papa sambung saya," ujarnya.


Amanda tidak bisa berkata apa-apa mendengar jawaban dari Echa. Hatinya sungguh sakit.


"Ayah, maafkan Echa. Echa yang telah memberitahu alamat ini kepada istri Ayah." Mata Rion melebar mendengar penuturan dari Echa. Tak terkecuali Amanda, dia sedikit tidak percaya.


"Banyak sedikit Riana itu memiliki sifat yang sama seperti Echa. Dibalik senyum dan kegembiraan Riana tersimpan rasa rindu untuk ibunya. Hanya saja, Riana takut mengatakannya. Riana takut Ayah sedih."


"Echa tidak ingin Riana mengalami masa kecil seperti Echa. Jauh dari salah satu orangtua. Selagi Ayah masih bisa bersatu dengan istri Ayah, bersatulah. Kasihan Riana, Yah," tuturnya.


"Biarlah hanya Echa yang bernasib seperti ini, Echa sudah ikhlas."


Amanda menitikan air matanya ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Echa. Sungguh dewasa cara berpikir Echa.


"Isilah memori otak Riana dengan kebahagiaan dan juga kasih sayang yang berlimpah. Jangan pernah tinggalkan segores luka pun untuknya. Karena nantinya luka itu yang akan tertanam jelas di memori otaknya."


Perkataan Echa ini sangat menohok hati Rion. Dia sudah banyak menggoreskan banyak luka di hati Echa. Hingga, ketika ada orang yang menyenggol luka goresan itu rasanya akan teramat sakit. Dan luka itu akan menganga kembali.


"Ayah gak usah pikirkan perasaan Echa. Echa sungguh tidak apa-apa. Echa sudah bahagia hidup dengan Mamah dan Papa serta si kembar. Mereka selalu memberikan kasih sayang yang berlimpah setiap harinya. Meskipun Echa bukan anak kandung Papa, si kembar juga adalah adik Echa lain Ayah, tapi mereka sangat menyayangi Echa. Di situlah Echa belajar agar kelak Echa menyayangi seseorang itu harus dengan tulus. Ketulusan lah yang akan membuat hidup kita bahagia." Kalimat yang sangat menyindir perasaan Amanda.


"Kembalilah kepada istri Ayah, Echa yakin Ayah masih menyayangi istri ayah begitu pun istri Ayah. Saling introspeksi diri karena setiap manusia pasti memiliki kesalahan dan kekurangan."


"Jika salah, tegurl ah. Jika berbelok arah luruskan lah. Ayah dan istri Ayah harus jalan beriringan demi Riana."


Rion berhambur memeluk tubuh Echa, dia sungguh tak sanggup menyimpan air matanya.


"Kenapa kamu berhati sangat baik sekali, Dek?"


"Echa banyak belajar dari masa lalu Echa, Ayah. Ketika Echa ingin menyakiti orang lain, ingatan tentang kesakitan Echa di masa lalu pasti hadir. Membuat Echa mengurungkan niat Echa. Dan Papa selalu bilang, jika Echa harus bisa move on dari masa lalu. Echa hanya boleh fokus menata masa depan Echa yang penuh kebahagiaan," jawab Echa seraya tersenyum.


Amanda benar-benar dibuat malu dengan ucapan dan sikap Echa kepadanya dan juga Riana. Meskipun Echa belum bisa memaafkannya tapi, perhatian dan kasih sayangnya kepada Riana sangatlah tulus.


"Echa tidak akan pergi lagi, Yah. Jika, Ayah kangen Echa silahkan datang ke rumah Mamah. Mamah dan Papa pasti akan merasa senang, apalagi jika Ayah membawa Riana," imbuhnya.


"Oiya, bilang ke istri Ayah jangan pernah cemburu kepada Mamah Echa. Karena Mamah bukanlah seorang pelakor dan bukan juga manusia kotor. Mamah tidak akan mengambil kembali apa yang sudah dia buang. Apalagi Mamah membuang tembaga yang tak ada harganya dan kini mendapatkan berlian yang sangat mahal harganya."


Amanda hanya terdiam mendengar ucapan dari Echa. Dia sangat malu dan sangat-sangat malu.


"Bhul, udah?" tanya Radit.


Echa mengangguk pelan, dan mereka berdua pamit kepada Rion dan Amanda. Kecuali Echa hanya berpamitan kepada ayah tercinta.


Rion menghela napas kasar ketika Echa dan Radit sudah pergi. Dia menatap Amanda yang masih menunduk dalam.


"Itulah contoh anak yang mendapat didikan yang baik dari orangtuanya. Bukan mendidik hal yang buruk kepada anak yang masih balita," sindir Rion.


"Dan kamu lihat, begitu dewasanya putriku dalam berpikir. Usianya masih muda tapi cara berpikirnya di atas rata-rata. Harusnya kamu malu. Coba bandingkan dengan sikapmu saat ini," tuturnya.


"Wajar putriku masih marah kepadamu. Ucapanmu sudah melampaui batasan. Jika, aku jadi Echa, aku tidak akan pernah memaafkan mu."


"Mulutmu jahat, hatimu sudah kotor dan pikiranmu picik. Satu paket yang sangat komplit. Dan kamu tidak cocok disebut ibu sambung, tapi IBU TIRI YANG KEJAM."


Amanda hanya bisa menangis mendengar ucapan yang sangat menyakitkan dari mulut suaminya. Dia tidak apa-apa, memang dia berhak menerima cacian dan makian dari semua orang. Dia memang jahat, sungguh jahat.


****


Happy reading ....


up langsung baca ya, bantu aku untuk dapat penghasilan tambahan.


Jangan lupa like, komen dan juga vote. Aku tunggu koin vote dari kalian 🤣