
Teriakan Riana membuat Amanda berlari dari arah dapur. Mata Amanda melebar ketika dia melihat Echa sedang menarik koper kecil.
"Ka-kamu mau ke mana Kak?" Perasaan takut kini menghantui Amanda.
"Dia mau tinggal di sini, Yang." Wajah takut Amanda kini berubah menjadi binar kebahagiaan.
"Serius?" pekiknya.
Echa mengangguk seraya berkata, "jangan bosan dengan kehadiran Echa di sini, ya."
Hati Amanda seperti dihantam bebatuan besar mendengar perkataan Echa. Perilaku tidak baiknya kepada Echa beberapa bulan lalu, mulai menghiasi kepalanya.
"Maafkan Bunda," lirihnya. Echa pun tersenyum lalu memeluk tubuh sang Bunda.
"Sayangi Echa seperti Bunda menyayangi Riana. Dan Ayah tidak akan pernah membeda-bedakan kasih sayangnya kepada Echa dan Riana."
Sungguh sakit hati Amanda mendengarnya. Dia tahu masih ada kesakitan di hati Echa meskipun tidak dia tunjukkan.
"Tata dak piyuk Li?" Echa tersenyum dan beralih memeluk adik kecilnya. Lalu menggendongnya dan membawanya ke kamar. Mereka asyik bermain bersama.
Amanda dan Rion memandang dua putri mereka dengan hati yang sangat bahagia. Keinginan Rion sedikit demi sedikit mulai terealisasikan.
Menu makan malam pun dihidangkan sangat spesial. Semua masakan yang dimasak Mbak Ina adalah masakan kesukaan Echa.
"Echa kangen masakan Mbak Ina." Mbak Ina pun tersenyum mendengarnya.
Semua orang tersenyum melihat Echa sangat lahap menikmati hidangan makan malam. Setelah selesai, Meraka berkumpul di ruang keluarga sambil menemani Riana bermain.
"Yah, jajan keluar yuk. Pengen booba." Mendengar rengekan Echa mengingatnya kejadian beberapa tahun ke belakang. Ketika Echa merengek ingin jajan, dan mereka baru sampai di sana ternyata mendapat kabar dari orang rumah jika Ayanda pingsan.
"Li itut, Ayah."
"Bunda juga." Rion pun tertawa dan menyuruh kedua anaknya dan juga istrinya bersiap.
Amanda dan Riana segera bersiap namun, Echa malah anteng dengan ponselnya. "Kamu gak ganti baju?"
"Gak ah, orang ke tempat jajan doang kan." Rion mengacak-acak rambut anak gadisnya. Dari dulu sifatnya tidak pernah berubah. Selalu saja cuek dengan penampilannya.
Amanda hanya menggeleng keitka melihat anak gadisnya hanya menggunakan piyama tidur panjang dan juga sandal jepit.
"Kak, kamu tuh cantik kenapa sih cuek banget," oceh Amanda.
"Biarinlah Bun, inilah Echa sebenarnya. Diterima syukur, nggak juga gak apa-apa. Echa butuh seseorang yang tulus Bun," sahutnya.
"Kayak Radit," timpal sang Ayah yang masih fokus ke jalanan.
"Ya, dia mau Nerima Echa dengan segala kekurangan Echa. Tak perduli sakit Echa, trauma Echa dan yang penting dia mau menerima Echa apa adanya. Bukan ada apanya."
"Ayah ikut bahagia sama hubungan kalian. Jangan pernah berpisah lagi, harus mengerti satu sama lain."
Mereka pun tiba di tempat jajanan. Riana dan Echa sangat antusias sekali. Riana sudah berlarian ke sana ke mari. Menunjuk ini dan itu dan semuanya ingin dia beli. Begitu pun Echa, Amanda hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Rion dengan senang hati membayar apa yang diinginkan oleh kedua putrinya.
Tangan mereka berempat sudah penuh dengan aneka makanan yang Riana dan juga Echa beli.
"Makanan sebanyak ini mampu kalian berdua habiskan?" tanya Amanda.
Riana dan Echa pun mengangguk cepat. Rion hanya tertawa karena selera kedua putrinya sangatlah sama. Pantas saja, Arya selalu meminta ganti rugi jika mengajak Riana jajan.
Ponsel Rion pun berdering, ternyata Arya dan istrinya sedang ada di rumahnya. Mereka pun langsung pulang.
Baru saja mereka masuk ke dalam rumah umpatan demi umpatan Arya layangkan ke arah Rion. "Tamu gak ada akhlak," pekik Rion.
"Echa," panggil Beby. Echa pun langsung berhambur memeluk tubuh Beby.
"Tadi gua ke rumah Mamah lu. Kata Mamah lu, lu tinggal di sini sekarang," Echa pun mengangguk.
"Mau ngapain lu nyari anak gua?" tanya Rion.
"Bini gua pengen make up-in anak lu."
"Hah?" Mata Echa membuka dengan sempurna dengan mulut yang menganga.
"Nggak ada, Echa bukan Kelinci percobaan," tolaknya.
"Ini keinginan dedek bayinya, Cha," lirih Beby sambil mengelus perutnya yang buncit.
"Bantuin lah Cha," pinta Arya.
Senyum licik mengembang di bibir Echa. Dan dia membisikkan sesuatu ke telinga Arya
"Ah buset, itu mah mahal banget. Gak mampu gua," tolak Arya.
"Ya udah, Echa juga gak mau jadi model make up Kak Beby. Biarlah anak Om Arya ileran. Ntar Echa panggil si Nces tukang ngeces," sahutnya sambil tertawa.
"Ayang ...."
"Ya udah, deal," ucapnya pada Echa. Echa pun bersalaman dengan Arya menyetujui kesepakatan yang Echa berikan.
"Anak gua minta apaan?" Arya pun mengeluarkan ponselnya. Dan mengetikkan sesuatu. Rion pun tertawa.
"Gua kira sepatu mahal yang anak gua punya dari si Gio. Ternyata dari lu," ucapnya. Dia pun tak henti tertawa.
"Bangkrut gua nih. Gila hampir 15 juta," ucap Arya sambil menepuk jidatnya.
"Dapetlah baju bayi mah," ledek Rion lagi.
"Bang Ke lah," geramnya.
Arya pun meninggalkan Rion dan juga istrinya yang sedang mendandani Echa. Dia masuk ke ruang makan. "Wah, banyak makanan nih," ucap Arya.
"Danan, Puna tata," larang Riana.
"Om minta dikit." Arya pun tidak menggubris ocehan Riana. Arya sibuk dengan makanan yang dilahapnya.
Sedangkan Echa sedang didandani ala-ala boneka Barbie. "Kak, ini mah bukan Barbie, malah kayak boneka Chucky," imbuhnya ketika melihat ke arah cermin. Dia sendiri saja merasa takut melihat wajahnya di cermin.
"Gak usah banyak bicara, ntar juga cantik."
Echa hanya berpasrah diri dan enggan sekali dia melihat wajahnya ke arah cermin. Setelah selesai dirias, kini saatnya rambut Echa yang ditarik ke sana di tarik ke sini oleh Beby.
"Rambut Echa rontok atuh lah," geramnya.
"Bisa diem gak sih," omel Beby.
Catokan, hair spray dan beberapa printilan untuk menghias rambut Echa sudah Beby pasang dan semprotkan. Echa hanya menghela napas kasar. Pikirannya sedang melayang-layang ke makanan yang dia beli tadi. Semuanya belum sempat dia makan.
Sudah dua jam Echa dirias oleh Beby. Bokongnya terasa panas dan wajahnya terasa berat karena bedak. Perutnya sudah mulai keroncongan. Namun, Beby tak kunjung selesai.
"Kak ...."
"Bentar lagi."
Setelah tiga jam berjibaku dengan alat make up dan segala macam aksesoris rambut akhirnya selesai juga tugas Beby.
"Tinggal pake bajunya dan sepatunya," kata Beby dengan sangat antusias.
"Awa aja kalo hasilnya jelek. Kak Beby harus beliin aku sepatu juga," ancam Echa.
"Siap."
Uang bukanlah hal yang sulit untuk Beby. Pada nyatanya penghasilan Beby lebih besar dari penghasilan Arya.
Setelah Echa memakai bajunya, Beby memamerkan hasil karyanya kepada orang-orang yang berada di gazebo.
"Liat semua, cantik kan," ucap Beby menunjuk ke arah Echa.
Arya pun tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Echa. Begitu juga Rion dan juga Amanda.
"Model apaan itu Beb?" tanya Rion.
"Ini loh Belle yang di film Beauty and The Beast."
Arya pun tertawa terpingkal-pingkal. "Jatohnya kaya Betty Lafea," kata Arya seraya tertawa keras.
"Gak sia-sia gua bayar mahal," lanjut Arya. Dia pun langsung mengeluarkan ponselnya dan tidak menyia-nyiakan momen langka ini.
Satu foto.
Dua foto.
Jepret.
Jepret.
Dan banyak foto yang diambil oleh Arya. "Hasil karyamu sangat bagus, Sayang," puji Arya kepada Beby. Beby pun tersenyum bahagia.
Amanda menyerahkan ponselnya setelah dia pun mengambil gambar Echa. Dia memperlihatkan penampilan Echa setelah di make over oleh Beby.
"Om Arya ...."
Arya dan Beby pun sudah pergi meninggalkan rumah Rion dengan tertawa lepas. Si bocah nakal berhasil mereka kerjai habis-habisan.
"Pinter kamu, Sayang. Gak sia-sia bayar tuh bocah 15 juta," imbuh Arya yang tak berhenti tertawa.
"Kapan lagi bisa bikin Echa nurut kayak gitu." Sepasang suami istri pun tertawa dengan sangat puas. Mereka terhibur dengan apa yang sudah mereka lakukan kepada Echa.
****
Kalo views kemarin bagus ntar siang up lagi. Untuk yang minta visual pemeran Bang Duda awal Maret aku sisipkan gambarnya.