
Riza bergabung bersama Echa dan juga teman-temannya yang lain. Sebelumnya dia menyalami kedua pasang orangtua Echa dan juga guru-guru yang berkumpul di sana. Hanya kehangatan yang tercipta di aula tersebut. Dan mereka baru tahu jika, Riza bukanlah pindah sekolah melainkan sakit dan harus menjalani perawatan yang intensif.
Setelah berbincang dengan teman-teman yang lain dan juga para guru, Riza duduk bersama keluarga Echa. Riza diapit oleh dua pria tampan. Ayah dan juga papa dari Echa.
"Bagaimana kondisi kamu?" tanya Gio.
"Sedikit membaik, Om," jawabnya.
Jawaban Riza membuat wajah Echa berubah sendu kembali. Sang mamah yang merasakan kesedihan Echa langsung merangkul pundak putri tercintanya.
"Ada yang mau aku berikan untuk Echa, Om," kata Riza kepada Gio dan Rion.
"Apa?" jawab ketus Rion.
"Kebiasaan," bentak Amanda sambil memukul lengan suaminya.
Riza memberikan satu amplop putih panjang kepada Echa. Echa menatap Riza penuh tanya. Hanya senyuman yang menjadi jawabannya.
"Ini apa?" Akhirnya Echa membuka suara.
"Itu hasil diagnosa dokter," jawab Marta dengan wajah yang sulit dibaca.
Echa menjauhkan amplop itu dari hadapannya. Dia sama sekali tidak mau membuka amplop itu. Hatinya sangat takut, dia takut mengetahui kenyataan pahit tentang kesehatan Riza.
"Bukalah El," pinta Riza.
"Nggak," sahut Echa yang menggelengkan kepala.
Ayanda mengambil amplop itu, dia melirik ke arah suami dan mantan suaminya, serta Amanda. Mereka menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Mah," tolak Echa ketika Ayanda sudah ingin membuka amplop putih itu.
"Kita semua harus tau, Sayang. Kamu harus mampu menghadapi kenyataan yang ada. Kita hidup di dunia nyata bukan di dunia halu," tutur Gio seraya mengusap rambut Echa.
Selembar kertas Ayanda ambil dari dalam amplop. Dia lihat dengan seksama. Hanya tulisan negatif yang Ayanda mengerti. Dia menyerahkan kertas itu kepada Gio. Sedikit banyak suaminya pasti tau tentang istilah-istilah kedokteran yang tertulis di kertas itu.
Gio membaca isi kertas itu dengan teliti. Awalnya Gio mengerutkan dahinya tapi, sebelum Gio melipat kembali kertas itu bibirnya terangkat dengan sempurna.
"Anak yang kuat," puji Gio kepada Riza.
Riza tersenyum manis sedangkan yang lainnya belum mengerti akan maksud Gio dan kertas itu
"Pada intinya, Riza dinyatakan sudah sembuh dari sakit yang dideritanya," jelas Gio.
Semua orang di meja itu merasa tidak percaya dengan yang diucapkan Gio. Namun, Marta langsung membenarkannya. Membuat Echa memeluk sang mamah dan menangis dalam dekapannya. Tangis bahagia yang kini Echa rasakan.
"Keajaiban itu pasti ada, Kak. Kamu sudah berhasil menjadi obat untuk Riza," imbuh sang mamah.
"Echa gak mimpi, kan," katanya.
"Nggak, Sayang," sahut sang mamah.
Bukan hanya Echa yang menganggap semua ini mimpi. Marta pun sebagai ibunya merasa ini hanyalah khayalannya saja. Ternyata ini mukjizat dari Tuhan yang sudah membuat Riza terbebas dari sakitnya.
Malam ini, Gio akan membuat acara syukuran kecil-kecilan. Berkumpul dengan keluarga sambil makan-makan di hotel miliknya. Dalam rangka merayakan ulang tahun putri tercantiknya dan juga kesembuhan Riza.
Kelima orang dewasa meninggalkan Echa dan Riza, mereka memberikan waktu untuk Echa dan Riza meluapkan perasaan mereka.
Riza beralih duduk di samping Echa, menatap manik Echa dengan rasa yang tidak tergambarkan. Dengan tangan Riza yang sudah menggenggam tangan Echa.
"Makasih, sudah menjadi obat untuk sakit aku. Sudah menjadi penyemangat dalam hidup ku. Tanpa kamu, mungkin aku sudah menyerah."
"Makasih, sudah mau mendampingi aku dengan sabar di setiap sakit ku. Setia menemani aku menghadapi rasa sakit yang sangat luar biasa. Makasih," ucap Riza dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Air mata yang Echa coba tahan akhirnya tumpah. Disela tangisnya, dia melengkungkan senyum.
"Makasih sudah mau berjuang demi kesembuhan kamu. Makasih sudah menjadi kado terindah dalam ulang tahun aku ini," balas Echa dengan suara berat.
Riza mengecup punggung tangan Echa. Lalu, menghapus air mata yang membasahi wajah cantiknya.
"Aku janji, akan bahagiain kamu. Aku ingin terus melihat senyum dan tawamu setiap saat. Aku janji, aku sayang kamu, El."
Kedua sahabat Echa dan juga para orangtua Echa serta Riza menitikan air mata melihat anak-anak mereka. Perjuangan Riza dan pengorbanan Echa akhirnya tidak sia-sia.
Hari ini, tepat diusia Echa 17 tahun kebahagiaan datang kepadanya. Kesembuhan Riza adalah kado terindah yang Echa dapatkan. Tidak ada hadiah yang lebih indah selain melihat orang yang Echa sayang pulih apalagi berada di sampingnya saat ini.
****
Happy reading ...