
Setelah keberangkatan Gio, Juna mulai mendekati Ayanda. Namun, suara tangisan si kembar membuat Ayanda meninggalkan Juna. Ada raut kecewa di wajah Juna karena belum bisa mendekati Ayanda.
Juna masih berada di kediaman Rion, dia tetap setia menunggu Ayanda keluar dari kamarnya. Sayang seribu sayang, Ayanda tak kunjung keluar. Hingga Juna memutuskan untuk pulang.
Usaha Juna untuk mendekati Ayanda selalu gagal karena salah satu dari si kembar pasti ada yang menangis. Seolah si kembar mengerti Mommy-nya tidak boleh didekati oleh orang lain kecuali, Daddy dan ayahnya.
"Kamu gak merasa risih ada mantan istri dari suami kamu, di sini?" tanya Juna kepada Amanda.
"Nggak, Kak. Nda udah menganggap Mbak Ayanda seperti Kakak Nda sendiri."
"Apa kamu gak takut kalo suami kamu akan kembali ke mantan istrinya. Sekarang aja mereka berduaan di kamar."
Amanda diam sesaat, dia percaya kepada suaminya. Suaminya hanya menganggap mantan istrinya sebagai adiknya.
Di kamar, Rion sedang bercanda dengan si kembar. Mereka berdua selalu saja tersenyum jika Rion mengajak mereka berbicara. Seolah Gathan dan Ghassan mengerti dia itu adalah ayahnya.
"Mas, kenapa setiap Juna mau ngajak ngobrol aku si kembar selalu saja menangis keras?" tanya Ayanda.
"Itu tandanya si kembar menuruni sifat Daddy-nya, posesif."
"Mas, aku serius," ujar Ayanda.
Rion menatap wajah Ayanda intens. Nektra mata mereka beradu. Masih ada rasa sayang yang mata mereka pancarkan. Hanya rasa sayang tanpa ada cinta.
"Juna menyukaimu, maka dari itu dia mendekatimu."
Ayanda hanya menutup mulutnya tak percaya. Juna tahu dia sudah memiliki suami tapi, masih nekat untuk mendekatinya.
"Bukan hanya Mas yang merasakan ada yang beda dari tatapan Juna kepadamu. Gio juga merasakan hal yang sama," tuturnya.
"Daddy tau akan hal ini?"
Rion menganggukkan kepalanya. "Mas bersyukur karena si kembar sekarang menjadi pelindung mu dari pria-pria nakal."
"Mas, kenapa Juna seperti itu?"
"Kata Manda, kamu itu mirip seperti alamarhumah istrinya. Apalagi senyummu, katanya mirip sekali dengan Ameera."
Ayanda hanya menghela napas kasar. Dia memikirkan suaminya sekarang. Suaminya pergi dengan keadaan tidak tenang.
"Gio orang hebat, dia akan profesional." Rion seolah mengerti apa yang dipikirkan Ayanda.
"Makasih sudah selalu baik sama aku, Mas."
"Kamu adalah ibu dari anakku. Wanita yang sudah melahirkan putri cantikku. Sudah seharusnya aku bersikap baik kepadamu. Karena kamu memiliki tempat tersendiri di hati Mas."
Ayanda pun memeluk tubuh Rion. Sikap Rion sangat berubah. Tak hentinya Ayanda mengucapkan terimakasih. Dibalik pintu, ada yang sedang meneteskan air mata mendengar ucapan Rion.
Amanda masuk ke dalam kamarnya dengan menahan sesak di dada. Ternyata selama ini suaminya masih mencintai mantan istrinya. Lalu, Amanda dianggap apa oleh Rion. Pemuas nafsu saja. Begitulah pikir Amanda.
Rion masuk ke dalam kamarnya dan langsung memeluk tubuh Amanda namun, langsung di dorong oleh Amanda. Rion bingung dengan sikap Amanda yang tiba-tiba arogan seperti ini.
"Kamu kenapa?" tanya Rion dengan nada lembut.
"Gak usah pegang-pegang. Tidur aja sama mantan istrimu sana," geram Amanda.
Mendengar kata tidur dengan mantan istri seolah merendahkan Ayanda membuat wajah Rion memerah.
"Mantan istriku adalah wanita baik. Jaga ucapanmu," bentak Rion.
"Terus aja Bang, belain mantan istri Abang itu. Abang masih cinta kan sama dia. Abang masih berharap kan sama dia," ucap Amanda sinis.
"Jika aku masih berharap sama dia, aku tidak akan membuka hatiku untukmu," sahutnya.
"Abang hanya pura-pura sayang kan sama Manda. Karena Abang cuma menganggap Manda sebagai pemuas nafsu saja. Iya, kan?"
Rion hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan jalan pikiran Amanda.
"Wanita mana yang tidak akan cemburu jika melihat suaminya memeluk mantan istrinya. Lebih menjaga mantan istrinya dibanding istrinya sendiri."
"Kamu salah, aku ...."
"Apa? Abang hanya melindunginya gitu. Setiap pulang kerja hanya mantan istri Abang dan anak-anaknya yang Abang cari. Seolah Abang lupa punya istri," geram Amanda.
"Kamu kenapa sih kayak gini? Kamu udah tau sendiri Ayanda sudah memiliki suami yang lebih baik dari aku. Memiliki buah hati yang sangat lucu dan tampan. Aku tidak akan merusak hubungan mereka," bela Rion.
"Karena Pak Gio lagi gak ada makanya Abang mepet Mbak Ayanda terus, kan."
"Astaghfirullah, aku bukan pria seperti itu Amanda," bentak Rion kesal.
"Sangat cocok mantan suami-istri munafik semua. Padahal masih ada rasa diantara kalian berdua."
"Jaga ucapanmu Amanda, jangan semakin lancang. Alasan kami dekat hanya karena putri kami dan Mamah juga sudah menganggap Ayanda seperti putrinya sendiri."
"Kamu boleh cemburu tapi, cemburu mu juga harus tau batasannya."
Rion pun meninggalkan Amanda di dalam kamar yang kini sudah menangis. Setan apa yang membuat Amanda seperti ini. Rion bingung sendiri.
Di kamar lain, Ayanda sedang membereskan barang-barang Gathan dan juga Ghassan. Hati Ayanda terasa sesak mendengar ucapan Amanda tadi. Apakah dia dan Rion yang memang sudah keterlaluan? Melewati batasan mereka sebagai mantan suami-istri.
"Ganteng-gantengnya Mommy, kita pulang ke apartment ya," lirihnya.
Ketika pertengkaran itu berlangsung, Ayanda yang hendak memberikan ponsel Rion yang tertinggal di kamarnya langsung mematung di tempatnya. Kata-kata Amanda sangat menusuk hatinya. Dia memaklumi itu karena Amanda cemburu. Namun, tetap saja hati kecilnya sakit mendengarnya.
Ayanda langsung menelepon Gio dan meminta malam ini juga dia dan si kembar untuk kembali ke apartment. Ayanda merasa tidak enak hati kepada Amanda dan tidak mau jadi wanita perusak rumah tangga mantan suaminya.
Gio menyetujuinya dan akan mengirimkan Beby untuk menemani Ayanda di apartment. Dan Arya yang akan menjemput Ayanda dan si kembar di rumah Rion.
Ayanda sudah keluar kamarnya dengan kereta dorong dan juga tas yang berisi perlengkapan si kembar.
"Ibu mau ke mana?" tanya Mbak Ina.
"Mau pulang ke apartment Mbak."
"Tapi ini sudah malam, kasian dedek-dedeknya."
Mendengar suara di ruangan depan, Rion menghampiri Mbak Ina dan juga Ayanda. Dia mengerutkan kedua alisnya melihat Ayanda dengan si kembar dan juga barang bawaannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Rion.
"Aku mau kembali ke apartment, Mas."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin dibenci Amanda karena menganggap ku sebagai perusak rumah tangganya."
Rion terdiam hingga suara Arya terdengar. "Udah siap semua?" Ayanda hanya menganggukkan kepalanya.
Beby meraih kereta dorong si kembar dan Arya sudah membawa barang-barang si kembar.
"Ini ponselmu, Mas. Tadi lupa kamu bawa di kamar tamu. Maaf, tadi aku gak sengaja mendengar pertengkaran kamu sama istrimu. Makanya aku memilih pergi. Makasih udah mau mengizinkan aku tinggal di sini."
Ayanda pun meninggalkan Rion yang sedang mematung. Perkataan terakhir Ayanda sangat menusuk hatinya.
"Posesif boleh, be go jangan. Ingatlah jasa mereka yang sudah sering membantu lu," ucap Arya penuh penekanan.
Arya tahu, Amanda sedang berada mengintip mereka dari balik pintu kamarnya. Kata-kata itu ditujukan untuk Amanda. Rion menatap sedih punggung Ayanda yang kini sudah tak terlihat lagi.
****
Happy reading ....