Bang Duda

Bang Duda
378. Selembar Kertas (Musim Kedua)



Echa sudah mulai meringis kesakitan karena efek obat bius yang sudah habis.


"Sakit banget, ya, Yang." Echa hanya mengangguk pelan. Dan Radit tak hentinya mengecup kening sang istri. Seakan kecupannya mampu meredakan sakit yang tengah istrinya rasakan.


Tak lama, Gio dan Ayanda datang membawakan obat yang direkomendasikan oleh Sarah. Sakit yang Echa rasakan perlahan berkurang. Namun, air matanya mengalir deras.


"Kamu kenapa, Yang?" tanya Radit panik.


"Apa melahirkan normal lebih sakit dari melahirkan Caesar?" tanya Echa kepada sang Mamah.


"Semuanya sakit, Kak. Inilah keistimewaan kita sebagai wanita. Mampu melahirkan anak-anak ke dunia. Orang-orang yang hebat terlahir dari seorang ibu yang kuat," jawab Ayanda sambil mengusap lembut rambut sang putri.


"Jangan pernah kamu sia-siakan istri kamu, Dit. Setelah melahirkan pasti banyak perubahan pada istri kamu. Di situlah kamu harus bisa terus menjaga kesetiaan dan cinta kamu. Lihatlah perjuangan istri kamu hari ini. Perjuangan dia tidak akan pernah bisa kamu gantikan dengan apapun. Sekalipun dengan harta yang sangat berlimpah."


"Radit gak akan menyia-nyiakan istri Radit, Pa. Karena itu sama saja membuat anak-anak Radit menderita. Radit sudah janji kepada diri Radit sendiri, akan selalu berada di samping Echa apapun yang terjadi. Dan Radit tidak ingin Echa sedih kembali. Radit hanya ingin bahagia bersama istri dan anak-anak Radit." Tulus dari hati, itulah yang Radit ucapkan.


Echa menatap suaminya dengan tatapan haru. Radit membalasnya dengan sebuah kecupan di kedua kelopak mata Echa secara bergantian.


"Aku akan menjaga kamu dan anak-anak kita. Love you, Bubu Sayang."


Ayanda dan Gio tersenyum bahagia. Dan berharap, apa yang dialami kedua orangtua Echa tidak terjadi pada rumah tangga putrinya.


Di lain tempat, Nesha memberikan cek sebesar lima ratus juta rupiah kepada Amanda.


"Itu kan, yang Mbak minta. Jadi, ikhlaskan anak Mbak. Biar anak Mbak bisa kami rawat dengan penuh kasih sayang. Karena kasih sayang yang sesungguhnya tidaklah bisa dibeli dengan uang."


Ucapan yang sangat mengena ke hati Amanda. Dan sedari tadi Amanda hanya terdiam. Tidak menjawab atau menyanggah ucapan dari Rindra maupun Nesha.


Bukan hanya satu kejutan, ternyata ada kejutan lain yang harus Amanda terima.


"A-A-Addhitama," gumamnya.


Seorang pria dengan sorot mata yang sangat tajam sedang berada di ambang pintu kamar perawatan.


"Kenapa kamu masih memanggil namaku? Apa masih kurang uang yang telah aku berikan untukmu?" sarkas Addhitama.


"Ternyata yang aku hadapi belut betina berotak dangkal," ejek Addhitama kemudian.


Amanda merutuki kebodohannya sendiri. Harusnya dia tidak percaya begitu saja kepada Sha, yang tak lain adalah menantu Addhitama.


"Wanita berhati iblis, semuanya kamu halalkan. Termasuk rela menjual anakmu sendiri yang tidak berdosa dan tidak minta dilahirkan dari rahim kamu," bentak Addhitama.


"Kamu kira selama ini aku diam saja. Dan tidak tahu apa rencana kamu setelah mendapatkan harta dari mantan suami kamu," terang Addhitama.


"Kamu mencoba kabur dari Satria. Sekarang, kamu berhadapan denganku, Amanda!" ucapnya penuh dengan penekanan.


"Addhitama sialan!" pekiknya. Namun, sedetik kemudian Amanda meringis menahan sakit di bagian perutnya.


"Jangan terlalu banyak gaya, Mbak. Ingat loh, itu perut abis diobrak-abrik. Jahitannya aja masih basah," sahut Nesha. Diam-diam Nesha menghanyutkan ternyata. Mulutnya berbisa seperti ular cobra.


Amanda benar-benar geram dengan tiga manusia di depannya. Nasibnya benar-benar sial. Masuknya seorang dokter membuat keadaan menjadi hening. Hanya lemparan tatapan tajam nan membunuh yang Amanda dan Addhitama layangkan.


"Maaf, Pak. Anak dari Nyonya Amanda belum diadzani," ucap salah seorang perawat yang datang bersama seorang dokter yang sedang memeriksa Amanda.


Belum juga Addhitama menjawab, kehadiran Satria membuat semua orang tersenyum. Tetapi, tidak dengan Amanda yang hanya terdiam membisu.


"Adzani anakmu," titah Addhitama.


"A-anak?"


Perawat itu membolehkan Satria dan Addhitama untuk menemui bayi hasil bercocok tanam secara ilegal.


Suara adzan dikumandangkan oleh Satria dengan derai air mata membasahi pipinya. Di usia yang sudah tidak muda dia baru bisa memiliki keturunan. Itu pun dengan cara tidak benar.


Anak Satria berjenis kelamin laki-laki berwajah tampan dan mirip sekali Satria. Seakan anak itu pun tidak mau memiliki kemiripan dengan ibunya yang tidak memilik hati. Rela menjualnya demi harta duniawi.


"Anak ini terlahir secara prematur. Jadi harus menerima perawatan intensif. Setelah berat badannya normal dan semua kesehatannya baik, bayi ini diperbolehkan untuk dibawa pulang oleh keluarga."


"Lakukan yang terbaik untuk putra saya, Sus," ucap Satria.


Setelah keluar dari ruang NICU, Satria berhambur memeluk tubuh Addhitama.


"Makasih, Bang."


Ucapan yang sangat tulus yang terucap dari mulut Satria bercampur Isak tangis bahagia.


"Aku yakin, Abang tidak sekejam itu," ujarnya lagi.


Addhitama hanya menepuk pundak Satria. Memberikan ketenangan kepada sang adik. Yang sudah dua bulan ini tidak pernah dia temui.


"Abang tidak ingin anak yang masih suci itu menjadi korban kebiadaban ibu kandungnya sendiri."


"Rawatlah dia dengan penuh cinta dan kasih. Besarkan dia menjadi anak yang tahu tata krama dan batasan agama." Satria pun mengangguk patuh atas apa yang diucapkan Addhitama.


"Ada yang harus kamu selesaikan sekarang juga." Bingung, Satria tidak mengerti dengan ucapan sang kakak. Tetapi, dia tetap mengikuti langkah Addhitama tanpa protes dan banyak bertanya.


Ketika dia masuk ke kamar perawatan yang tadi dia datangi. Matanya melebar ketika melihat Amanda yang sedang berada di ranjang pesakitan.


Nesha menyerahkan surat perjanjian yang Amanda dan dirinya tandatangani. Membuat wajah Satria merah padam. Dengan tangan yang mengepal.


"Istri Om jatuh dari kamar mandi, menyebabkan ketubannya pecah dan harus dilakukan operasi Caesar untuk menyelamatkan anak Om." Dengan menahan amarah, Satria masih mendengarkan penjelasan Rindra dengan mata yang masih fokus kepada Amanda.


"Inginnya sih bayinya saja yang selamat, ternyata emaknya juga ikutan selamat," lanjut Rindra dengan sedikit mengejek.


"Selesaikan urusanmu. Bukankah kamu dan Amanda hanya melakukan pernikahan kontrak?"


Jantung Satria terasa berhenti berdetak mendengar ucapan Addhitama.


"Jangan kira aku tidak tahu apa yang telah kamu lakukan. Ingat, kamu masih dalam pengawasan yang ketat," terang Addhitama.


Addhitama menengadahkan tangannya kepada sang putra. Lalu, Rindra memberikan selembar surat ke tangan sang Papih.


"Baca poin terakhir!" Perintah Addhitama yang kini menyerahkan surat itu ke tangan Satria.


Satria hanya membeku. Menatap kertas putih yang berisi huruf abjad dan di bagian bawah ada dua materai yang dibubuhi tanda tangannya dan juga Amanda. Pernikahan Kontrak, judul dari selembar kertas tersebut.


"Apa perlu aku yang membacakannya?" sergah Addhitama.


"Se-setelah Amanda melahirkan, saya (Satria) akan menceraikan kamu (Amanda)."


"Sesuai ucapanmu juga, Amanda. Aku akan mengirim kamu ke Arab Saudi untuk menjadi TKW di sana," timpal Addhitama.


...****************...


Masih bilang sedikit, aku jewer kalian, 🤧