Bang Duda

Bang Duda
230. Quality Time



Kedua orangtua kandung Echa kaget mendengar pernyataannya. Begitu juga keluarga Echa yang lain.


"Kuliah kamu?" tanya Ayanda sedikit bingung.


"Kuliah Echa bisa ditunda, sedangkan kebersamaan dengan keluarga tidak bisa Echa tunda."


Rion dan Ayanda terharu mendengar pernyataan putri mereka. Kedua orangtua Echa pun memeluk tubuh Echa dengan penuh kasih sayang.


"Echa ingin membuat kalian bahagia." Senyum bahagia tersungging di bibir mereka semua yang akan berangkat ke Jakarta.


"Radit?" Echa menatap Radit, dan Radit pun tersenyum ke arah calon mamah mertua.


"Dua minggu lagi Radit akan pulang ke Jakarta."


Mereka semua pun bertolak ke Jakarta. Echa duduk bersama empat orang bocah kecil yang sangat menyayanginya.


Apalagi Gatthan, dia terus merangkul erat lengan Echa. "Tata anan pelgi agi." Echa pun tersenyum dan mencium gemas Gatthan.


Lima jam mengudara, keempat bocah kecil dan Echa sudah terlelap. Lengkungan senyum tak pernah pudar di bibir Ayanda. Bagian dari dirinya yang kosong kini telah kembali lagi.


Dini hari mereka tiba di Jakarta dan dijemput oleh sopir mereka masing-masing. Echa pulang ke rumah sang Mamah. Dia sangat merindukan kamarnya.


"Langsung istirahat, Kak," titah Ayanda. Echa pun mengangguk patuh.


Matanya berbinar ketika masuk ke dalam kamar yang hampir dua bulan ini dia tinggalkan. Kamar itu seperti memiliki magnet dan langsung menarik Echa untuk berbaring di tempat tidur. Tak lama kemudian, dia pun terlelap.


Sudah berapa puluh kali ponsel Echa berdering namun, tak Echa hiraukan. Dia semakin masuk ke alam mimpi.


Makan siang sudah siap semua, tinggal menunggu si putri tidur yang masih nyenyak di bawah selimutnya.


"Mom, tata ana?" tanya si Abang.


"Masih bobo, jangan diganggu ya." Ghassan pun mengangguk dan dia kembali bermain bersama adiknya. Bukan bermain, lebih tepatnya bertengkar.


"Echa belum bangun juga?" Gio sudah masuk ke ruang makan.


"Belum, biarkan dia Dad. Mungkin dia rindu dengan kamarnya." Derap langkah kaki terdengar, putri tidur sudah keluar dari goa persembunyiannya.


"Nyenyak banget kayaknya," goda Gio. Echa hanya tersenyum.


"Radit tadi telpon, nanyain kamu," kata Ayanda.


"Iya, tadi juga dia udah telpon. Mah, Echa ingin makan di luar." Rengekan yang Ayanda dan Gio sangat rindukan kini terdengar kembali.


"Semua makanan ini spesial buat kamu loh," ujar Ayanda. Echa pun menggeleng.


"Ya udah, kamu mandi terus siap-siap." Echa pun berteriak gembira. Dia mencium pipi sang Papa.


"Love you."


Begitulah cara Gio memanjakan Echa, dia tidak akan pernah menolak apa yang diinginkan oleh putrinya. Meskipun istrinya akan mengoceh seharian yang terpenting Echa bahagia.


Mereka pun sudah siap dan akan berangkat menuju restoran yang sangat Echa sukai di salah satu mall. Setelah makan, Echa dan si kembar bermain di arena permainan yang membuat mereka sangat bahagia.


"Quality time ini sangat jarang kita lakukan," imbuh Gio.


"Daddy terlalu sibuk, dan Mommy pun sibuk mengecek beberapa bisnis Mommy. Padahal mereka tidak menginginkan sesuatu yang mahal. Hanya kebersamaan." Gio dan Ayanda terus mengawasi ketiga anak mereka yang sangat asyik bermain.


Setelah puas dan lelah bermain, mereka menghampiri Mommy dan Daddy-nya dan merengek kembali meminta makan. Ayanda dan Gio hanya tertawa dan akan selalu menuruti permintaan ketiga anaknya ini.


Malam hari mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton film kartun kesukaan si kembar.


"Mah, Pah, Echa ingin tinggal bersama Ayah."


Perkataan Echa membuat Gio dan Ayanda menatap tajam ke arah Echa. Echa menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Echa kembali ke sini karena Echa ingin merealisasikan keinginan Ayah. Ayah ingin seperti kita, menghabiskan waktu bersama layaknya keluarga bahagia."


"Echa di sini juga hanya satu bulan. Setelah itu Echa akan melanjutkan study Echa di Ausi." Kedua orangtua Echa tak percaya dengan ucapannya. Mereka pikir Echa akan berada di sini selamanya.


"Jadi, Radit ke sini untuk ...."


Raut kecewa nampak di wajah Ayanda. Dia mengharapkan Echa tidak kembali ke sana. Tapi, nyatanya putrinya akan tetap bersekolah di sana.


"Mah, Echa di sana belajar sambil mengejar mimpi Echa. Echa ingin memantaskan diri menjadi bagian dari keluarga Wiguna. Meskipun Echa bukanlah cucu kandung Kakek, tapi Kakek berharap besar kepada Echa." Gio pun tersenyum.


"Kakek akan sangat bangga pada kamu jika kamu bisa menjadi apa yang diinginkan Kakek." Echa pun mengangguk.


"Ini salah satu cara Echa untuk membalas jasa Kakek dan Papa. Karena dua pria itu, hidup Echa terasa sangat sempurna. Echa memiliki Papa dan juga Kakek yang tak pernah berhenti menyayangi Echa. Meskipun pada nyatanya Echa hanyalah orang lain yang masuk ke dalam keluarga Wiguna."


Gio memeluk tubuh putrinya. "Semenjak bertemu kamu, Papa dan Kakek sudah menganggap kamu bagian dari keluarga kami. Terlepas Papa dan Mama menikah atau tidak, kamu tetap anak Papa dan juga cucu Kakek."


Echa mengeratkan pelukannya, inilah kasih sayang yang dia dapatkan dari Papanya. Sejak kecil hingga sekarang Papanya selalu menjadi pelindung untuknya. Begitu juga Kakeknya, yang tidak akan pernah tinggal diam ketika melihat dirinya terluka.


"Mamah izinkan kamu tinggal dengan Ayah, tapi kamu juga harus sering main ke sini dan tidur di sini." Echa pun mengangguk.


"Echa pasti akan bolak-balik kok Mah. Echa juga pasti akan merindukan si Upin Ipin ini." Tangannya menunjuk si kembar yang sedang rebutan mainan.


"Pusing pala Mamah, makin ke sini ini anak dua makin gak akur," timpal Ayanda.


Gio dan Echa pun tertawa. Kenakalan si kembar mulai terlihat. Dan bagaimana tingkah nakal mereka yang membuat Mommy-nya selalu saja seperti Tarzan. Ikutin terus ceritanya.


****


"Yang, Abang ke rumah Yanda dulu ya," pamit Rion.


"Mau ngapain ke rumah Mbak Aya?"


"Gak usah cemburu, tadi si Gio telepon katanya Abang disuruh ke sana. Dia juga gak bilang apa-apa. Palingan juga dia bosen gak ada temen ngopi," ujarnya.


"Li itut Ayah, Li inin ain Tama tata."


"Ayah ke sananya sebentar doang, Ri. Hanya ketemu Daddy." Wajah Riana pun merengut membuat Rion tertawa.


"Nanti ya kita main ke rumah Kakak. Kita bawa makanan yang banyak buat Kakak." Riana pun mengangguk setuju.


Setibanya di rumah Gio, seperti biasa dia langsung masuk ke dapur. Mengambil minuman dingin di lemari pendingin.


"Ada apaan?" tanya Rion yang sudah duduk di samping Gio.


"Tunggu aja dulu, ntar juga lu tahu." Rion pun berdecak kesal mendengar jawaban dari Gio.


"Ayah." Rion menoleh ke asal suara. Dahinya mengerut ketika melihat Echa membawa koper. Rasa takut kini sudah memenuhi hatinya. Dia takut, Echa akan pergi meninggalkannya lagi.


"Ka-kamu mau kemana bawa koper?" tanya Rion dengan raut penuh ketakutan.


"Anakmu ingin tinggal sama kamu, Mas." Ucapan Ayanda membuat Rion terdiam. Apa dia tidak salah mendengarnya.


"Echa boleh kan tinggal bersama Ayah, Bunda dan juga Riana?" Mata Rion berkaca-kaca, hatinya sangat bahagia sungguh bahagia.


"Tentu boleh, Dek. Boleh."


Ayanda dan Gio hanya tersenyum melihat reaksi Rion. Ada sorot kerinduan yang sangat besar dari seorang Ayah untuk putrinya.


Mereka harus mengalah sejenak. Karena selama ini Echa lebih banyak tinggal bersama Gio dan juga Ayanda dibanding dengan sang Ayah. Alasannya, Echa kurang nyaman.


Amanda tetaplah orang baru dalam hidup Echa. Berbeda dengan Gio yang sudah Echa kenal sejak dia kecil. Sejak dia belum bertemu ayahnya.


Dan hari ini Echa memutuskan untuk tinggal bersama sang ayah. Tujuannya cuma satu, ingin melihat Ayahnya bahagia. Tangis Ayahnya yang dia dengar dan dia lihat, seperti pisau tajam yang menusuk hatinya. Orang yang dia anggap kuat ternyata bisa serapuh itu.


Permintaan sederhana, sekarang Echa ingin mencoba membuatnya menjadi nyata. Semoga akan berakhir bahagia.


****


Jangan ditimbun-timbun, UP langsung baca.


Jangan bosen ya kalo up-nya 2x sehari.


Besok mah 1x sehari kok up-nya, dan bulan depan keknya rada dikurangin up-nya.