Bang Duda

Bang Duda
326. De Javu (Musim Kedua)



Di pagi hari yang cerah, keluarga Ayanda dan juga Gio sedang menikmati sarapan bersama. Kegiatan yang rutin mereka lakukan. Dan di meja makan lah menjadi tempat untuk saling berbagi cerita diantara mereka berempat. Terlebih, Gio yang akhir-akhir ini sedang sibuk dengan perusahaannya. Selalu pulang larut malam ketika si kembar sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.


"Bagaimana hubunganmu dengan Riana, Bang?" Kalimat pembuka yang Gio lontarkan untuk Aksa.


"Nothing special."


Jawaban yang membuat Gio tersenyum tipis. Dan Ayanda hanya menghela napas kasar mendengarnya. Sedangkan Aska hanya melirik ke arah sang Abang yang sedang fokus dengan nasi goreng di piringnya.


"Bang, bagaimana jika Riana marah kepada kamu?" tanya Ayanda dengan gurat kekhawatiran.


"Tidak masalah, Mom. Yang penting Abang sudah jujur dengan perasaan Abang sebenarnya. Lebih baik menyakiti sekarang dari pada nanti yang ending-nya pun tetap sama saja. Menyakiti."


"Good, itu baru anak Daddy. Laki-laki harus punya pendirian kuat. Dan tidak boleh lemah menghadapi perasaan wanita. Jangan menjadi orang tidak enakan. Pada akhirnya, sikap tidak enak itu akan menjadi Boomerang untuk kita sendiri," papar Gio.


Aksa tersenyum ke arah Daddy-nya. Sungguh Daddy-nya adalah panutan bagi dirinya. Terbukti, meskipun banyak bunga yang lebih indah dan harum di luaran sana. Terlihat menggoda para kaum Adam, tapi Daddy-nya tidak pernah tergoda. Di mata Daddy-nya hanya sang Mommy bunga terindah dan terharum di dunia ini. Tidak ada yang lain. Only one woman in his life.


"Inilah yang Mommy takutkan," ujar Ayanda.


"Persahabatan jika dibumbui dengan percintaan akan terpecah."


"Jangan takut, Mom. Meskipun Riana nanti membenci Abang. Abang tidak akan membenci Riana. Karena Abang tidak ingin menjadi manusia pendendam," sahut Aksa dengan senyum ketulusan.


Ayanda membalas senyum itu dengan senyum bahagia. Sungguh Aksa adalah cerminan dari Daddy-nya. Bawaannya yang santai, tapi tegas. Membuat wajahnya penuh dengan kharisma yang luar biasa.


"Adek, Daddy harap kamu tidak mengenal wanita dulu. Daddy ingin, anak-anak Daddy sekolah yang benar dulu. Berusaha menjadi kebanggan Daddy, Mommy dan juga Kakak."


"Jika, kamu menyayangi Riana. Simpanlah rasa sayang itu hingga nanti kamu menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Daddy harap, ungkapan itu setelah kamu lulus kuliah dan menunjukkan siapa dirimu sesungguhnya. Agar kamu bisa langsung menikahinya," urai Gio.


Aska mengangguk patuh. Ya, dia harus memendam rasa untuk Riana. Apalagi mendengar perdebatan antara Aksa dan Amanda semalam. Membuat Aska sedikit bimbang dengan perasaannya. Rasa sayang terhadap sang kakak lebih besar dibandingkan kepada Riana. Mendengar kata tamparan saja dari mulut Aksa membuat hati Aska sakit. Bagaimana dengan kakaknya?


Setelah selesai sarapan, Aksa dan Aska pergi bersama dengan mengendarai motor berboncengan. Motor matic yang selalu mereka bawa dari kelas satu SMA. Selama diperjalanan, tidak ada pembicaraan antara mereka berdua. Mereka sama-sama diam menyelami pikiran mereka masing-masing.


Tibanya di sekolah, Aska memilih masuk ke kelas terlebih dahulu. Sedangkan Aksa harus memarkirkan motornya sebelum ke kelas. Tepukan bahu, membuat Aksa menoleh. Seorang gadis cantik dengan rambut sebahu tersenyum ke arahnya.


"Masih ingat aku gak?" tanya si perempuan itu.


Aksa menelisik inchi demi inchi wajah perempuan di depannya. Beberapa detik kemudian, bibirnya terangkat.


"Ziva."


Perempuan itu mengangguk dengan cepat dan tersenyum manis, menunjukkan lesung pipinya.


"Kami pindah sekolah?" Ziva pun mengangguk.


"Tanggung lah," ujar Aksa yang kini sudah menjauhi area parkir.


"Ya harus bagaimana lagi. Aku harus mengikuti kedua orangtuaku ke sini," sahutnya santai.


Dari kejauhan ada yang menatap dengan penuh kekesalan. Wajahnya merah padam, apalagi Aksa terlihat sangat dekat dan mampu memberikan tawa yang jarang dia lihat.


Riana menatap datar ke arah Keysha. Kemudian pandangannya dia fokuskan kembali ke arah Aksa dan seorang perempuan. Keysha mengikuti arah pandangan Riana.


"Tumben banget, tuh Abang es kutub jalan sama cewek. Mana ketawa terus lagi dari tadi." Tarikan di ujung rambut Keysha membuatnya meringis.


"Sakit," ringis Keysha. Tanpa berucap Riana meninggalkan Keysha yang sedang mengusap rambutnya yang terasa sakit karena tarikan dari tangan Riana.


Riana mengikuti Aksa dan perempuan itu. Hingga langkahnya terhenti di depan kelas Aksa. Mereka berdua tampak akrab sekali. Dan Aksa terlihat bahagia berbincang dengan perempuan itu.


"Siapa dia? Apa dia pacar Abang?" gumamnya.


Riana melihat sosok Aska yang tak jauh dari kelas Aksa. Hingga Riana menghampiri Aska.


"Kak, aku mau ngomong." Riana menarik tangan Aska di depan teman-temannya. Menimbulkan sorakan mengejek dari teman-teman Aska.


"Itu siapa?" tanya Riana sambil menunjuk ke arah perempuan yang sedang duduk bersama Aksa.


Aska hanya mengangkat bahunya, menandakan bahwa dia tidak tahu. Namun, Riana terus memaksa. Aska tetap pada pendiriannya. Menjawab dengan kata tidak tahu. Akhirnya, Riana kesal sendiri dan meninggalkan Aska dengan penuh kemarahan.


"Maaf Ri, aku harus melakukan ini. Karena Abang tidak bahagia denganmu. Tidak seperti dengan Ziva, teman Abang yang bisa membuat Abang tertawa lepas," gumam Aska pelan.


Selama jam pelajaran berlangsung, Riana benar-benar tidak fokus dengan mata pelajaran yang guru terangkan. Beberapa kali Riana ditegur karena tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan. Bel istirahat pun berbunyi. Para siswa sudah berhambur meninggalkan kelas. Menuju kantin sekolah untuk melepas lapar dan dahaga yang mereka tahan. Begitu juga dengan Keysha dan juga Riana.


Awalnya, Riana menolak. Karena hari ini mood-nya sangat berantakan. Tapi, perutnya juga sudah keroncongan menandakan minta asupan makanan. Dengan langkah gontai Riana dan Keysha menuju kantin. Seperti biasa keadaan kantin sangat ramai sekali. Mereka celingak-celinguk melihat ke kanan dan ke kirk. Mencari meja yang masih kosong dan bisa diduduki oleh dua orang.


Namun, mata Riana tak bergeming ketika melihat dua sosok yang tadi pagi dia lihat sedang tertawa lepas. Dan Aksa sedang mengusap ujung bibir perempuan di depannya dengan sangat mesra. Dan perempuan itu terlihat tersipu malu. Aliran darah Riana mulai mendidih. Seperti orang kesetanan, Riana melangkah ke arah meja yang ditempati Aksa dan juga Ziva.


Brak!


Gebrakan meja seperti gempa bumi enam skala Richter mengguncang para mangkuk dan juga gelas yang ada di atas meja. Bukan hanya mangkuk dan gelas yang terkejut. Aksa dan juga Ziva menoleh bersamaan ke arah Riana. Begitu juga para siswa yang mendengar gebrakan meja tersebut.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Aksa, membuat Ziva menutup mulutnya tak percaya. Dengan apa yang dilihatnya sekarang. Begitu juga dengan para siswa yang lain. Keysha mencoba untuk menarik tangan Riana, tapi Riana masih bersikukuh menatap tajam ke arah Aksa.


Seperti de javu bagi Aksa. Kejadian ini mengingatkannya ke dua tahun lalu. Dipermalukan di depan semua siswa.


"Jadi, dia yang jadi alasan Abang meminta Ri untuk jauhi, Abang. Iya?"


"Abang jahat! Jahat!" teriak Riana.


Semua mata tertuju pada Aksa. Aksa hanya terdiam mendapat perlakuan yang tidak mengenakan seperti ini. Mata para siswa seolah menyalahkan Aksa. Menatap iba ke arah Riana.


...----------------...


Happy reading ....