Bang Duda

Bang Duda
76. Pemilik Yayasan



Echa terus saja terisak dalam dekapan Amanda. Hingga akhirnya Echa terlelap karena lelah menangis. Amanda terus membelai lembut rambut Echa.


"Kamu anak hebat. Bisa menutupi semua sedihmu pada siapa pun," gumam Amanda.


Amanda hendak memakaikan selimut ke tubuh Echa, Namun, dia teringat akan ucapan Mima tentang pinggang Echa yang membentur ujung meja dengan keras. Amanda masih duduk di samping tempat tidur Echa, menunggu Echa memiringkan badannya untuk memastikan luka yang diucapkan Mima.


Terdengar ringisan kecil ketika Echa memiringkan badannya. Dengan pelan, Amanda menyingkapkan kaos yang dikenakan Echa.


"Kamu sedang apa?" tanya Rion tiba-tiba.


Amanda memberikan kode kepada Rion untuk diam dan Rion pun mendekat ke arah istrinya.


"Lihatlah!" lirih Amanda.


Rion sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Apa yang terjadi?" tanya Rion dengan suara pelan.


Amanda menarik tangan suaminya menjauh dari tempat tidur Echa. Amanda mengajak Rion untuk duduk di sofa di depan pintu kamar Echa.


"Abang tau, Echa di dorong sangat keras hingga membentur ujung meja. Dan itulah luka yang Echa dapat," jelas Amanda.


"Kamu tau dari mana?" tanya Rion curiga.


"Maaf, Bang. Tadi Manda mengizinkan Mima dan Sasa untuk menemui Echa. Karena Manda tahu, Echa membutuhkan sahabatnya untuk sekarang ini." Rahang Rion mengeras menandakan dia sangat marah.


"Abang boleh marah sama Manda tapi, jangan pernah memarahi Echa," ucap Amanda.


Rion tahu ucapan Amanda ini sangat tulus tapi, dia tidak suka jika Amanda terus membela Echa padahal jelas-jelas Echa salah.


Rion beranjak dari duduknya dan meninggalkan Amanda karena dia tidak ingin bertengkar dengan istrinya.


"Abang tahu kenapa Echa melakukan itu?" tanya Amanda, dan seketika langkah Rion terhenti.


"Echa selalu dibully karena dia adalah anak broken home, yang dapat membawa dampak buruk untuk teman-temannya yang lain," jelas Amanda.


Hati Rion sakit mendengar semua yang diucapkan Amanda. Ternyata banyak beban dan kesedihan yang Echa simpan sendiri. Tanpa pernah mau mengutarakan ke siapapun.


Rion membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki menuju tempat tidur putrinya. Dipandangnya wajah damai Echa yang sedang tertidur. Dikecupnya kening putrinya sangat lama.


"Maafkan, Ayah," lirihnya.


Amanda memeluk tubuh Rion, dia tahu suaminya akan terlihat rapuh jika sudah menyangkut masalah Echa.


"Jangan pernah bertindak kasar lagi terhadap Echa. Terlalu banyak yang kita tidak ketahui tentang putri kita ini," ujar Amanda.


Rion mengecup kening Amanda sebagai tanda terimakasihnya. Amanda sudah mau menganggap Echa seperti putrinya sendiri.


"Jadilah ibu sambung yang baik untuk putriku," pinta Rion. Amanda hanya mengangguk pelan.


Rion merasa curiga ada sesuatu hal agi yang Echa tutupi darinya. Rion masuk ke kamar Echa dan mencari-cari ponsel milik putrinya. Tidak biasanya Echa menyembunyikan ponsel miliknya karena ponselnya adalah teman sejati Echa.


Dibukanya laci kecil di bawah meja, Rion menemukan apa yang dicarinya. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat layar ponsel Echa yang sudah retak tak karuhan.


Rion menatap Echa dengan rasa bersalah. Dia bisa menyimpulkan bahwa Echa adalah korbannya tapi. dengan sengaja malah memfitnah Echa. Bodohnya, Rion mempercayai ucapan dari kepala sekolah dan anaknya itu.


"Maafkan Ayah, pasti kamu membenci Ayah sekarang," gumamnya pelan.


Pagi harinya, Mbak Ina masuk ke kamar Echa dengan membawa sarapan untuk Echa. Setelah mengucapakan terimakasih, Echa menanyakan keberadaan Amanda.


"Bapak sama Ibu pergi ke sekolah non Echa, mau menemui kepala sekolah," ujar Mbak Ina.


"Mau ngapain?"


"Mau menuntut kepala sekolah katanya," sahut Mbak Ina.


Echa pun bangkit dari duduknya dan turun ke bawah dengan sedikit meringis karena merasakan sakit di pinggangnya. Echa meminta Pak Mat untuk mengantarnya ke sekolah.


Tiba di sekolah, Echa menuju ruangan kepala sekolah dengan langkah pelan karena menahan sakit di pinggangnya. Baru saja melewati beberapa kelas langkahnya dihadang oleh cewek-cewek pembuat onar.


Sebisa mungkin Echa menghindari Sheryl dan juga teman-temannya. Dengan sengaja Sheryl terus saja menghadangnya.


"Mau kalian apa?" geram Echa.


"Mau gue? Lu pergi dari sekolah ini," sahut Sheryl dengan gaya tengilnya.


Echa hanya menghela napasnya. Ingin sekali dia menjawab perkataan Sheryl namun, Echa tidak ingin menambah hukumannya lagi dan membuat ayahnya semakin marah kepadanya.


Echa pun tidak menghiraukan ucapan Sheryl dan memilih untuk melanjutkan langkahnya. Dengan sengaja Sheryl mendorong tubuh Echa hingga tersungkur ke lantai.


"Hentikan!" teriak seseorang dengan suara tegas.


Tubuh Sheryl dan teman-temannya pun seketika gemetar.


"Gimana ini? Itu pemilik yayasan," ucap salah seorang teman Sheryl dengan nada sangat ketakutan.


***


Sudah aku tepati janjiku hari ini untuk up 3 bab😄


Jangan lupa jempolnya, komennya dan votenya ya biar aku rajin ngetik dan mikir alur selanjutnya ...


Happy reading ....