
Setelah mendengar penjelasan dari dokter. Amarah Satria sudah tidak terbendung lagi. Jika, dia menemui Amanda sudah dipastikan Amanda akan mati di tangannya.
"Sungguh wanita gila," geramnya dengan tangan yang sudah meninju dinding.
Setelah biaya administrasi diurus, Satria pergi meninggalkan Amanda. Membiarkan Amanda seorang diri agar dia sadar, bahwa dirinya sudah tidak dihargai. Walaupun begitu, Satria masih memiliki hati. Sebelum pergi dari rumah sakit. Dia membeli aneka makanan, minuman serta buah-buahan untuk Amanda. Hanya saja, dia menyuruh pihak keamanan yang mengantarkannya ke kamar perawatan Amanda.
Pikiran kalut, kecewa dan marah jadi satu. Tibanya di rumah, Satria masuk ke ruang kerja dengan sejuta kekecewaan. Ketika diperjalanan, Addhitama menghubunginya agar dia segera menikahi Amanda. Karena ada beberapa orang penting di perusahaan milik Papanya sudah mengetahui skandal yang dilakukan oleh Satria dan Amanda. Besar kemungkinan orang-orang itu akan membocorkan skandalnya dan berimbas pada perusahaan.
"Nikah secara siri. Karena Rion pun sudah menjatuhkan talak tiga. Yang berarti dia sudah resmi bercerai secara agama." Begitulah yang Addhitama katakan.
Bimbang, kini Satria rasakan. Bukan tanpa alasan, mata Satria baru dibukakan ketika dokter mengatakan Amanda mencoba menggugurkan kandungan. Niatnya yang akan bertanggung jawab penuh, malah kini keraguan yang memenuhi relung hatinya.
"Aku ingin memiliki penerus. Tetapi, kenapa kamu malah menjelma seperti iblis?" teriaknya frustasi.
Ada tetesan bulir bening yang jatuh di pelupuk matanya. Satria akan terus memperjuangkan anaknya hingga anak itu lahir. Dia tidak akan membiarkan iblis yang menjelma menjadi seorang ibu melukai anaknya. Apalagi, berniat membunuh janin yang ada di dalam perutnya sendiri. Itu tidak akan Satria biarkan.
"Kontrak pernikahan. Ya, kontrak pernikahan," gumamnya.
Satria segera menghubungi pengacara pribadinya. Dan menyuruhnya untuk datang ke kediamannya malam ini juga.
Ketika pengacara itu datang, Satria tidak berbasa-basi. Dia langsung menuju ke inti. Dan pengacaranya pun tersentak ketika Satria meminta dibuatkan kontrak pernikahan.
"Pernikahan itu bukan untuk ajang mainan, Pak," ucap serius si pengacara.
"Itu adalah janji suci antara Bapak dengan Tuhan," lanjutnya lagi.
"Saya tahu. Tapi, ini untuk kebaikan calon anak saya," jawabnya.
"Maksudnya?"
"Ibunya berniat untuk menghilangkan janin yang sudah ada di dalam perutnya. Jika, tadi saya telat satu jam saja. Saya akan kehilangan calon penerus saya," lirihnya.
Pengacara itu menelisik inchi demi inchi wajah Satria. Tidak ada kebohongan yang raut wajah Satria katakan. Hanya raut kesedihan yang dia tampakkan.
"Baiklah, apa yang Bapak inginkan di dalam kontrak pernikahan itu?" Satria menyebutkan poin demi poin yang dia inginkan. Dan sang pengacara pun mendengarkannya dengan seksama. Menulis poin penting agar tidak ada kesalahan.
Setelah selesai, pengacara itu pun pamit pulang. Dan berjanji, besok pagi surat kontrak itu sudah selesai.
Sepeninggalan pengacaranya, Satria benar-benar tidak dapat tidur. Apalagi ucapan dokter masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Menggugurkan. Satu kata yang membuat Satria syok. Jika, dia memiliki riwayat penyakit jantung. Sudah dipastikan nyawanya tidak akan terselamatkan.
Sesuai janji sang pengacara, pagi-pagi sekali dia sudah datang ke rumah Satria. Dan menyerahkan selembar kertas yang berisi dua materai.
"Silahkan Bapak baca lagi." Satria membacanya dengan seksama hingga lengkungan senyum terukir di bibirnya.
"Bukankah itu sangat merugikan bagi pihak istri Bapak?" kata sang pengacara.
"Awalnya saya tidak ingin melakukan ini. Tetapi, tindakan gila yang dia lakukan membuat saya bertindak lebih gila lagi."
"Ketika sebuah ketulusan dibalas dengan sebuah kejahatan. Apa saya harus diam saja?" Pengacara itu pun mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Satria.
"Apa ini diketahui oleh Pak Addhitama?" Bagaimana pun ada rasa takut sekaligus khawatir jika kakak dari Satria ini mengetahui semuanya. Sudah dipastikan Addhitama akan marah besar.
"Kamu tenang saja. Saya tidak akan melibatkan kamu dalam masalah ini." Pengacara Satria pun merasa lega dengan apa yang diucapkan oleh kliennya.
Satria bergegas membawa surat itu ke rumah sakit. Ketika dia membuka kamar perawatan Amanda, dilihatnya Amanda sedang menitikan air mata. Ada rasa sakit di hati Satria. Namun, dia tidak boleh terperdaya. Menghadapi belut betina harus memiliki otak cerdik seperti kancil.
Dengan wajah datar tanpa menyapa, Satria masuk ke kamar perawatan Amanda.
"Mas, perut aku masih sakit." Ucapan yang terdengar jujur yang dikatakan oleh Amanda. Tetapi, tak membuat Satria luluh begitu saja.
"Bukankah itu kemauan kamu, untuk melenyapkan nyawa anak yang tidak berdosa itu." Kalimat yang sangat menusuk Satria ucapakan kepada Amanda. Amarah masih menguasai hatinya. Terlebih, Amanda mengadu perutnya sakit. Padahal, sakit itu karena ulah Amanda sendiri.
Satria melemparkan map ke tubuh Amanda dan berkata, "bacalah!"
"Kontrak pernikahan." Amanda menatap ke arah Satria yang masih tidak bergeming. Masih menunjukkan wajah datarnya.
Setelah tidak mendapatkan jawaban, Amanda membaca poin demi poin yang tertulis di sana.
Setelah kamu keluar dari rumah sakit. Aku akan segera menikahi mu secara agama. Dan aku wajib memberikanmu nafkah lahir dan batin. Kamu juga harus melayani suamimu dengan baik.
Setelah kandunganmu berusia 4 bulan, aku akan melakukan tes DNA. Jika, itu memang anakku. Berarti, kamu harus siap untuk hidup miskin bersamaku. Tetapi, jika itu bukan anakku. Aku akan melaporkanmu ke pihak yang berwajib atas dasar penipuan.
Jangan pernah mencoba melakukan tindakan aborsi secara ilegal. Aku tidak akan mengampunimu dan aku pastikan kamu akan mendekam di dalam jeruji besi seumur hidup.
Pernikahan kita akan berlangsung hanya sampai anak itu lahir. Ketika anak itu lahir, di hari itu juga aku akan menceraikanmu. Dan kamu bisa mencari pria yang lebih kaya dari aku. Hak asuh anak, aku pastikan ada di tanganku.
Anakku akan tetap menjadi pewaris perusahaan yang telah orang tuaku berikan. Dengan catatan, tidak boleh mencantumkan namamu di akta kelahirannya nanti.
Jika, kamu berani melanggar kontrak pernikahan ini. Aku akan menggugat mu secara perdata dan juga pidana.
Tubuh Amanda lemas seketika. Kontrak pernikahan yang sangat amat merugikan baginya.
"Tanda tanganlah!" titah Satria.
"Ke-kenapa Mas melakukan ini?" tanyanya lirih dengan air mata yang sudah menganak.
"Kamu tanya kenapa? Bukankah kamu yang memancing emosiku terlebih dahulu."
"Dari awal, aku berniat untuk menjadikanmu pendamping hidupku. Terlepas anak yang ada di kandunganmu itu anakku atau bukan. Aku akan tetap menjadikan kamu istri sah ku. Meskipun, aku harus jatuh miskin aku tidak apa. Tetapi, apa yang kamu lakukan? Diam-diam kamu meminum obat penggugur kehamilan. Untuk apa? Supaya kamu bisa kembali lagi bersama Rion, iya?"
"Jangan mimpi Amanda! Kamu sudah dianggap sampah oleh mereka."
...****************...
Komen dong, lelah nih ... 🤧