Bang Duda

Bang Duda
136. Bahagia



Komen mana komen? 😭


...****************...


Malam ini Rion dan Amanda bermalam di rumah sang mamah. Rencananya besok mereka berdua akan berkeliling Bandung menikmati bulan madu dadakan. Rion berjanji akan membuat Amanda bahagia dan melupakan yang telah terjadi hari ini.


Keesokan paginya Rion dan Amanda pamit kepada sang mamah. Bu Dina dan Nisa awalnya menahan putra dan menantunya. Akhirnya, mereka harus mengalah.


"Aa tuh ke sini sekalian mau bulan madu yang sudah terlewat. Siapa tau aja tumbuh benih Aa setelah pulang dari Bandung."


"Ya udah, beri Mamah cucu-cucu yang lucu kayak anak si Teteh," jawab sang mamah.


"pasti atuh, Mah."


Amanda mencubit pinggang Rion karena sedari tadi mukanya sudah sangat merah menahan malu. Dia tidak habis pikir suaminya bisa sesantai ini membicarakan tentang hal yang bersifat pribadi.


pak Mat melajukan mobil menjauhi kediaman Bu Dina. Rion terus menggenggam tangan Amanda dan membaringkan kepala Amanda di pundaknya. Sesekali Rion mengecup ujung kepala istrinya ataupun tangan Amanda.


Hati Amanda benar-benar bahagia sekarang. Baru kali ini perlakuan romantis dia dapatkan dari Rion. Biasanya Amanda harus memancing terlebih dahulu, barulah suaminya peka.


Tiba sudah mereka disebuah resort yang sangat sejuk dan indah sekali. Ternyata Rion sudah mem-booking salah satu resort itu untuknya dan Amanda bermalam. Senyum Amanda mengembang ketika melihat pemandangan yang sangat indah dari balkon. Suasana yang sejuk dan damai sangat dia rasakan.


Sepasang tangan melingkar di pinggang Amanda membuat ujung bibirnya terangkat sempurna.


"Kamu suka?"


"Banget, Bang."


Amanda menyandarkan kepala belakangnya di dada bidang Rion. Matanya kini mulai terpejam, merasakan hembusan angin yang sejuk dan mampu membuat hatinya tenang.


Begitu pun Rion, kejadian kemarin membuatnya ingin terus melindungi Amanda dan juga membahagiakan istrinya. Dia tidak ingin melihat Amanda sedih.


Setelah puas menikmati suasana alam dengan berpelukan, mereka memutuskan untuk mengganti pakaian mereka. Baru saja, Pak Mat datang mengantarkan paper bag besar.


Mata Amanda membulat ketika melihat isinya. Dia pun menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa seraya memainkan ponselnya.


"Abang seniat ini?" tanya Amanda yang memperlihatkan paper bag beserta istrinya.


Rion meletakkan ponselnya di atas meja dan tersenyum ke arah wanita yang amat dia sayangi.


"Kenapa? Kan kamu gak bawa baju banyak."


"Tapi ini?" Amanda memperlihatkan hot pants dan juga kaos putih transparan ke arah suaminya.


"Itu untuk kamu pakai di sini, Sayang. Kan cuma ada Abang sama kamu. Biar Abang bisa lihat kesempurnaan tubuh kamu pakai baju itu," jawabnya dengan menaik-naikan kedua alisnya.


"Mesumnya kumat lagi," gerutu Amanda.


Rion hanya tertawa dan menarik tangan istrinya hingga terjatuh di dalam dekapannya. "Ada tempat yang mau kamu kunjungi gak!?" tanya Rion yang sudah membelai rambut istrinya.


Amanda berpikir sejenak, lalu tersenyum bahagia. "Manda mau nyobain makanan di pinggir jalan, Bang. Apalagi sekarang malam Minggu, pasti rame."


Rion pun tersenyum dan mengiyakan keinginan istrinya. Padahal, hatinya merasa bersalah. Selama dia menikahi Amanda, belum pernah mereka memiliki waktu berdua untuk menikmati malam Minggu seperti pasangan pada umumnya.


"Ya udah, Manda mandi dulu, ya."


"Ikut," balas Rion dengan cepat.


"Nggak ah, mandi sama Abang mah bisa lama," tolaknya.


"Pikiran kamu tuh ya." Rion pun meletakkan telunjuknya ke dahi Amanda.


Amanda memicingkan matanya sedikit tidak percaya. Namun, melihat keseriusan Rion dalam bericara akhirnya, dia terpaksa menyetujuinya.


Baru saja Amanda membuka pakaian. Rion sudah memeluknya dari belakang. Mengecup pundak Amanda yang putih bersih.


"Tuh, kan," sesal Amanda.


"Suruh siapa tubuh kamu indah dan seksi. Adik kecil Abang sudah sangat tegang, Yang," ucapnya seraya menggesek-gesekkan adik kecilnya ke bokong Amanda.


Amanda berbalik ke arah suaminya tanpa melepaskan pelukan Rion. Dilihatnya mata Rion sudah tidak fokus dan dipenuhi nafsu yang sudah memuncak.


Amanda menjijitkan kakinya, lalu mencium bibir Rion dengan hangat dan lembut. Rion semakin mengeratkan pelukannya dan Amanda pun mengalungkan tangannya ke leher Rion.


Ciuman lembut penuh cinta membuat darah mereka bergejolak. Membuat pagutan bibir mereka kiab ganas dan panas. Tak mereka hiraukan oksigen yang sudah mulai menipis.


Pagutan bibir terlepas, kini turun ke leher. Mereka sama-sama membalas kecupan dan gigitan-gigitan kecil di leher pasangan mereka hingga menghasilkan tanda merah sebagai bukti kepemilikan


Kini, Rion menatap wajah istrinya dengan mata yang penuh dengan hasrat tinggi. Amanda mulai membuka pengait bra dan juga celana dalam yang masih menutupi area sensitifnya.


Dengan penuh cinta, Rion menyentuh bagian sensitif istrinya dan terus meninggalkan jejak di sana. Suara khas kenikmatan kini sudah melantun indah dari mulut Amanda.


Setelah puas, Rion sudah siap untuk memasuki daerah penggarapan. Sebelumnya, dia menghidupkan shower untuk mengguyur tubuh mereka berdua. Supaya Amanda merasakan sensasi yang berbeda. Baru saja kepala adik kecilnya memasuki daerah penggarapan, istrinya sudah mulai berteriak seakan meminta lebih dalam lagi.


Amanda sudah menyemburkan pupuknya namun, sang suami masih terus menggarapnya semakin dalam. Setelah puas bermain di bawah guyuran shower, Rion membopong Amanda dan membawa masuk ke dalam bath up yang sudah terisi air hangat dan aroma terapi. Dengan sengaja Rion meletakkan tubuh Amanda di atasnya.


Sudah cukup lama suara kenikmatan saling bersahutan namun, diantara mereka tidak ada yang mau mengalah. Hingga mereka mendongakkan kepala ke atas sambil memejamkan mata secara bersamaan. Hingga keluar lenguhan panjang dari keduanya.


Suara itu menandakan penanaman benih mereka telah selesai. Dan mereka kalah secara bersama.


Senja sudah menampakkan wajahnya, Rion hanya tertawa melihat cara jalan istrinya yang sedikit mengangkang.


"Jangan ketawa, sakit tau Bang," keluhnya.


Rion merangkul pundak istrinya lalu mengecup kening Amanda. Amanda sangat merasa nyaman diperlakukan seperti ini.


"Kita malam mingguan," ajak Rion.


Amanda dan Rion keluar dari kamar mereka, dan sudah ada satu motor yang akan mereka sewa untuk jalan-jalan malam keliling Bandung.


Baru kali ini Amanda dibonceng oleh suaminya, dan di pun memeluk pinggang Rion dan menyandarkan kepalanya di punggung Rion. Rion tersenyum bahagia dan sesekali memegang tangan sang istri.


Tiba sudah mereka di tempat aneka makanan pinggir jalan. Mata Amanda berbinar apalagi melihat aneka makanan khas Bandung.


Amanda memesan ayam bakar kampung lalu pindah ke penjual yang lainnya. Rion dengan sabar mengikuti Amanda dan tak pernah melepaskan genggaman tangannya.


Setelah selesai memesan apa yang diinginkan istrinya, mereka kembali ke tempat ayam bakar yang pertama kali mereka pesan. Hingga semua pesanan Amanda tiba dan matanya nampak berbinar. Berbeda dengan Rion, dua hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu sanggup makan semuanya?" tanya Rion yang melihat bakso goreng, siomay, batagor, seblak, baso Aci dan masih banyak yang lainnya.


"Kan ada Abang kalo ini gak abis," jawabnya.


Rion tertawa lalu mengusap puncuk kepala istrinya. Hatinya sangat bahagia melihat Amanda senang seperti ini.


Rion benar-benar berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan menjaga matanya dan juga hatinya. Buktinya, banyak mata para remaja dan wanita menatap Rion namun selalu Rion acuhkan. Dan dengan sengajanya Rion bermesraan dengan Amanda. Dari minta disuapi hingga tak segan mengecup kening Amanda di depan banyak orang.


Awalnya Amanda risih, lama kelamaan dia pun merasa nyaman dengan perlakuan suaminya terhadapnya. Inilah sedikit bukti jika, Rion akan berubah.


****


Happy reading ...