
Gio memicingkan mata kepada Radit yang dengan tenangnya melihat Gio. "Ini Om, ini KTP saya dan ATM saya. Ini juga ponsel saya sebagai jaminannya. Isi di dalam saldo itu lebih dari 600 juta. Dan jika Om tidak percaya, bisa cek langsung," kata Radit.
"Saya adalah laki-laki yang dididik untuk bertanggungjawab atas segala kesalahan saya. Jadi, terimalah ini, Om. Di situ tertera alamat saya dan Om bisa menemui saya di rumah itu jika saya kabur."
"Saya ambil ini semua, jangan pernah main-main dengan saya," tegas Gio.
Radit pun tersenyum ke arah Gio dan dia menatap Echa dengan tatapan berbeda. "Om, saya pergi dulu. Ada kelas yang harus saya ikuti. Setelah kelas saya selesai saya langsung ke sini lagi," ujar Radit.
Hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban dari Gio. "Gadis cantik, aku pergi dulu, ya. Aku tidak akan pernah lari dari tanggung jawab kok," ucapnya pada Echa dengan senyum yang mengembang dengan sempurna.
Setelah Radit pergi dan Echa pun dipindahkan ke ruang rawat. Tentu saja Gio meminta kamar perawatan yang nyaman untuk putrinya. Gio menatap Echa dengan tatapan tak terbaca. Begitu pun Echa, manik mata Echa menyiratkan akan kesedihan yang mendalam.
"Sayang," Gio menarik kursi yang berada di samping ranjang pesakitan Echa.
Echa mencoba tersenyum ke arah Gio dan memperlihatkan wajah cerahnya. Gio menggenggam tangan Echa dengan sorot mata yang sangat Echa takuti.
"Papa tau kamu, melebihi ayah dan Mamahmu." Echa menunduk dalam.
"Kamu mau cerita sendiri atau Papa yang ...."
Echa berhambur memeluk tubuh Gio dan suara Isak tangis pun terdengar. "Tanpa Echa jelaskan pasti Papa sudah tau semuanya," lirihnya sambil terisak.
Gio menghela napas kasar dan tubuh Echa pun bergetar karena tangisnya. Gio merenggangkan pelukannya, menghapus air mata Echa. "Jika kamu siap jatuh cinta berarti kamu juga harus siap untuk sakit hati. Dua itu adalah satu kesatuan yang tidak dipisahkan," jelas Gio.
"Sakit, Pa. Ternyata pengorbanan Echa selama ini sia-sia," ujarnya.
"Kamu masih sangat muda, Sayang. Masa depan kamu masih sangat panjang. Tidak ada gunanya kamu memikirkan satu orang yang telah menyakiti kamu. Padahal, masih banyak yang menyayangi kamu dengan tulus," jelas Gio.
"Kenapa papa gak bilang dari awal?" Echa yakin, Papanya tau kelakuan Riza sebelum Echa tau kelakuan Riza di belakang Echa Seperti apa.
"Papa tidak mau kamu membenci Papa. Karena sepandai-pandainya seseorang menyimpan ****** pasti baunya akan tercium juga."
"Menangislah sesuka hati kamu, ketika beban kamu terlalu berat harus kamu ingat, masih ada bahu Papa untukmu bersandar. Masih ada dada Papa untuk kamu menangis. Kamu tidak sendiri, Sayang. Papa selalu ada untukmu."
Bulir bening pun mengalir deras di pipi Echa. Mulutnya sudah tidak bisa berbicara apa-apa. Dan Gio pun memeluk tubuh putrinya yang tengah bergetar.
"Jangan pernah simpan apapun sendirian, Sayang. Pundakmu tidaklah terlalu kuat untuk menanggung semuanya," ujar Gio.
"Pa, jangan pernah bilang ini semua kepada Mamah dan Ayah," pinta Echa.
"Kenapa?"
Sebenarnya Gio tahu alasan Echa untuk merahasiakan ini semua dari kedua orangtuanya. Namun, melihat mimik wajah Echa yang memohon membuat Gio ingin menjahili putrinya.
"Kamu masih sayang sama dia?" tanya Gio lagi.
"Echa hanya tidak ingin Ayah dan Mamah membenci Riza. Biarkan lah mereka tahu sendiri bagaiman Riza sebenarnya," imbuhnya.
"Baiklah, jawab pertanyaan Papa," tegas Gio.
"Ma-maaf," ucap Echa. Echa sudah tahu arah pembicaraan papanya akan ke mana.
"Tadi, guru ekskulnya gak ada. Echa memutuskan untuk ke taman dulu. Ketika Echa menyebrang jalan, motor Kakak yang tadi menabrak Echa. Untungnya, Kakak yang tadi langsung ngerem. Karena Echa panik Echa jatuh dan lutut Echa kena trotoar jalan yang sudah rusak," jelas Echa.
"Sudah mulai nakal ya, anak Papa," ujar Gio yang mencubit pipi Echa.
Echa pun tersenyum dan memeluk tubuh Papanya lagi dan membisikkan kata maaf. Setelah sedikit canda tawa dan Echa meminum obatnya, Gio pamit kepada Echa untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
"Papa akan merahasiakan yang tadi. Tapi, kondisi mu sekarang ini tidak akan pernah Papa rahasiakan dari Mamah dan ayah kamu. Karena mereka berhak tahu," ujarnya.
Hanya anggukan yang menjadi jawaban Echa. "Papa pamit, ya. Setelah selesai Papa langsung ke sini lagi." Gio mengecup kening Echa penuh dengan kasih sayang yang tulus.
Setelah Gio pergi, dada Echa masih terasa sesak. Matanya nanar melihat wallpaper utama di ponselnya. Echa memejamkan matanya, merasakan kesakitan yang sangat mendalam.
Echa membuka matanya ketika seseorang merebut ponsel di tangannya. Orang itu seperti tidak berdosa dan tersenyum manis ke arah Echa.
"Kembalikan," bentak Echa.
***
Happy reading ...