
Terima kasih kepada kalian yang udah baca dan suka sama karya Bang Duda. Dan terima kasih juga bagi kalian yang udah menjadi pembaca setia Bang Duda. Yang belum jadi pembaca setia, ayo jadi pembaca setianya.
Baca di sini tidak memerlukan koin, jadi kalian cukup membaca setiap update Bab terbaru dari Bang Duda tanpa menimbun-nimbun bab yang sudah terbit. Dengan cara begitu, kalian telah membayar mahal karya ini.
Aku tunggu kalian untuk jadi pembaca setia ...
...****************...
Setelah hatinya sedikit tenang dan bebannya sedikit menghilang. Rion kembali ke rumah sakit bersama Arya. Rion seperti bunglon. Bisa menempatkan suasana hatinya.
Tibanya di ruang perawatan Ayanda, hanya ada Gio yang sedang memeluk tubuh istrinya.
"Pasutri bucin," ejek Rion.
"Gak sadar diri lu," tukas Arya.
"Lu lebih parah," ledek Arya.
"Wajarlah, gua udah hampir seminggu puasa." Cubitan pun mendarat dengan sempurna di perut Gio.
"Dek, suamimu bringas gak sih?" Mode keinginan tahuan Rion muncul.
"Rahasia perusahaan, Mas."
Geplakan dari Arya mendarat dengan sempurna di kepala Rion. "Yang bringas itu lu, kerjaannya tiap hari mimi susu mulu. Malu lah sama Riana," ucap Arya.
"Kaga usah buka kartu Bang sat!"
Tiga pria itu saling meledek satu sama lain dan diselingi tawa bahagia. Serta terlihat sangat akrab. Jika, sekilas orang melihat, mereka tidak akan menyangka jika ada sepasang mantan suami-istri di sana. Sangat jarang ketika sudah menjadi mantan, hubungan masih berjalan sangat baik.
Suara pintu terbuka membuat delapan pasang mata menoleh ke asal suara.
"Ngapain kamu ke sini?" ketus Rion.
"Mas, jangan galak-galak dong sama calon mantu," sahut Ayanda.
Hanya seulas senyum yang Radit tunjukkan. Dan tanpa dipersilahkan pun Radit duduk di samping Arya.
"Echa sama siapa, Dit?" tanya Arya.
"Ada Tante Beby sama Tante Manda serta empat bocah yang luar biasa berisiknya," jawab Radit.
"Tumben kamu ke sini?" Sekarang giliran Gio yang bertanya.
"Ada yang mau Radit omongin," ujar Radit.
"Masalah tunangan?" Radit pun menggeleng. Dan Ayanda sedikit terkejut mendengar kata tunangan yang dilontarkan Gio.
"Siapa yang mau tunangan?" tanya Ayanda.
"Radit dan Echa Tante. Tapi, itu nanti saja kita obrolinnya. Sekarang, ada yang mau Radit tanyakan tentang masa kecil Echa."
Detak jantung Rion dan Ayanda terasa berhenti ketika mendengar ucapan Radit. Ada apa dengan Echa sekarang? Begitulah yang kedua orangtua kandung Echa pikirkan.
"Ada sepenggal rasa iri yang Echa miliki kepada ketiga adiknya."
Gio, Rkon, Ayanda serta Arya sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Radit. Namun, mereka masih menunggu kelanjutan dari ucapan Radit.
"Radit tahu, masa kecil Echa kurang bahagia. Diusia Echa yang seharusnya mendapatkan kasih sayang berlimpah. Malah derita yang dia terima. Menahan semuanya seorang diri tanpa bisa menolak apa yang dikatakan oleh Tante."
Sungguh hati Ayanda menjerit mendengarnya. Selama ini Echa menjelma menjadi gadis kecil yang ceria dan penurut.
"Masa-masa sulit bersama Tante yang terukir jelas di memori otaknya. Sampai sekarang, dia tidak bisa melupakan itu."
Air mata Ayanda luruh membasahi pipinya. Bukan hanya Echa yang tidak bisa melupakan hal itu. Ayanda pun tidak bisa melupakan masa-masa sulit tersebut.
"Satu hal yang dari kemarin ingin Daddy tanyakan. Benarkah Mommy dan Echa sering makan hanya dengan berlaukkan kecap dan garam?" Ayanda pun mengangguk seraya terisak.
"Sejak kapan?" Gio tak menyangka jika itu terjadi pada Ayanda dan juga Echa.
"Ketika Daddy dan Ayah pergi ke Singapura. Uang yang Daddy dan Ayah berikan kepada Echa, Mommy pake untuk biaya pengobatan Echa. Karena setelah Daddy dan Ayah pergi, kondisi Echa semakin menurun. Mungkin, karena pola makan yang sangat jelek. Membuat daya tahan tubuhnya semakin lemah," terang Ayanda dengan penuh penyesalan.
"Kenapa Mommy gak hubungi Daddy dan juga Ayah?" Ayanda pun menggeleng.
"Mommy tidak ingin merepotkan kalian. Sekuat tenaga Mommy, Mommy mencari uang untuk menebus obat Echa. Gaji dari toko retail Ayah tidaklah cukup. Karena Mommy selalu mementingkan obat Echa, akhirnya lauk untuk makan Echa tidak tentu. Dan setelah pulang kerja Mommy nyambi kerja cuci gosok di Perumahan dekat toko retail," jelasnya dengan berlinang air mata.
Gio pun tak kuasa menahan air matanya. Wanita mungil yang kini menjadi miliknya memilki masa lalu yang penuh dengan beban dan penderitaan.
"Bukan hanya Echa yang menderita, Mommy pun menderita dikala itu. Setiap pagi, Mommy harus berjalan kaki dari kontrakan ke toko. Dan makan Mommy pun tak tentu. Seringnya Mommy harus menahan lapar seharian tanpa sarapan. Dan akan makan ketika malam bersama Echa. Meskipun hanya berlaku garam dan kecap."
Hati siapa yang tidak akan teriris mendengar penuturan dari Ayanda. Penderitaan yang harus Ayanda dan Echa rasakan dikala suaminya sudah mulai bergelimang harta. Kelaparan, kekurangan itulah yang mereka rasakan.
"Sesulit apa kamu, Dek?" Kini, Rion yang bertanya.
"Sangat sulit, Mas. Aku memang sudah biasa hidup sulit. Tapi, ketika hidup sulit dan harus membawa anak kandungku, rasanya beban di pundak ku bertambah sangat berat. Apalagi, obat yang harus aku tebus bisa mencapai 1,5 juta per bulan."
"Belum lagi harus bayar kontrakan dan lainnya. Bertahan dengan uang segitu tidaklah mudah," ujar Ayanda.
Jantung Rion seperti dihantam belati tajam. Sakit sekali rasanya mendengar ucapan dari Ayanda. Ingin rasanya dia mengulang masa-masa sulit bersama anak dan istrinya.
Pelukan hangat Gio sedikit meredam kesedihan yang mendera Ayanda akan masa lalunya. "Cukup di masa lalu Mommy dan Echa menderita. Sekarang dan di masa depan Daddy akan selalu membuat Mommy Dan Echa bahagia," ujar Gio yang memeluk erat tubuh Ayanda dengan sangat erat.
"Maafkan Mas, Dek. Maafkan Mas," sesal Rion yang tak kuasa menahan tangisnya.
Arya yang tahu kondisi Rion seperti apa hanya bisa menghisap lembut pundak Rion. Sebenarnya bukan hanya Ayanda dan juga Echa yang menderita. Rion juga menderita.
"Gua mau istri dan anak gua!"
Teriakan itu yang tidak pernah hilang diingatan Arya. Kondisi Rion yang kurus dengan wajah dan tubuh yang tidak terurus. Karena kesalahannya pula lah, ibu dan adiknya meninggalkan Rion dalam keterpurukan seorang diri. Bukan karena mereka tega, tapi mereka kecewa dengan pilihan Rion. Permata yang sangat berharga rela Rion buang hanya untuk mendapatkan sebuah kotoran.
"Radit ke sini bukan untuk mengingatkan Tante dan Om akan masa lalu Tante dan Om. Radit hanya ingin meminta sesuatu kepada Om dan Tante."
Ucapan Radit terjeda karena Radit sendiri bingung mau bicara dari mana. Keadaan kedua orangtua Echa kali ini sudah sangatlah berbeda. Apa orangtua kandung Echa mau menuruti permintaan Radit? Bagaimana dengan para pasangan mereka? Radit hanya menghela napas kasar.
"Minta apa Dit?" tanya Ayanda yang penasaran dengan ucapan Radit yang terjeda. Tiga pria yang lain pun menatap ke arah Radit seakan meminta agar Radit meneruskan ucapannya.
"Maukah Tante Ayanda dan Om Rion kembali ke masa lalu? Memberikan kasih sayang yang sempurna kepada seorang anak kecil yang mendambakan kasih sayang sempurna dari ayah dan ibunya?"
"Sehari aja Tante dan Om Rion tinggal bersama Echa dan mengulang apa yang tidak didapatkan oleh Echa ketika Echa kecil."
"Iri yang Echa miliki semata-mata karena dia tidak bisa melewati masa kanak-kanaknya seperti para adiknya yang mendapat kasih sayang utuh dan sangat sempurna."
Rion dan Ayanda pun hanya terdiam. Semua yang dikatakan oleh Radit tidak ada yang salah.
"Lakukanlah! Selagi itu bisa mengobati luka di hati putri kita," ucap lembut Gio kepada Ayanda.
"Tapi, bagaimana dengan Amanda? Mommy tidak ingin ada kesalah pahaman lagi. Mommy tidak ingin rencana untuk menyembuhkan luka Echa malah menimbulkan luka pada Amanda."
Di balik pintu kamar perawatan Ayanda ada seseorang yang sedang menahan sesak di dadanya, Dia tidak bermaksud menguping karena kedatangannya hanya untuk mengambil pakaian Riana yang tertinggal di sofa.
"Maafkan Bunda, Cha. Maafkan Bunda."
Hubungan yang tidak harmonis pernah terjadi antar Amanda dan juga Echa. Dan sampai sekarang pun masih terasa ada jarak antara Echa kepada dirinya.
"Kalo Echa datang ke sini bilang aja Ayahnya gak ada," ucap Amanda pada Mbak Ina.
Setiap hari Echa selalu datang ke rumah Rion dan Mbak Ina pun selalu menuruti perintah Amanda untuk mengatakan hal itu. Namun, Echa bukanlah anak yang pantang menyerah. Hingga pada akhirnya, Mbak INa lelah dan menyuruhnya masuk ke rumah Ayah dari ECha.
Baru saja Echa menginjakkan kaki di rumah ini, pekikan suara nyaring terdengar.
"Ngapain kamu ke sini? Ayah kamu gak ada," sinis Amanda.
"Echa akan menunggu Ayah, Bun. Gak apa-apa lama juga."
Meskipun ucapan Amanda dengan suara tinggi tapi, Echa tetap sopan menjawabnya. Ketika Echa sedang makan, dengan kasarnya Amanda merampas piring yang berisi makanan yang baru Echa ambil.
"Beresin kamar Riana dulu. Riana mau tidur," ucapnya sambil menggendong Riana.
"Bu, biarkan saya saja yang membereskan kamar Neng Riana," sahut Mbak Ina.
"Gak usah, biar anak ini jadi anak mandiri gak jadi anak yang manja," tunjuk Amanda pada wajah Echa.
Tidak ada jawaban apa-apa dari Echa. Hanya kepatuhan dan rasa hormat yang Echa tunjukkan. Echa sudah mulai terbiasa dengan sikap Amanda yang berubah seperti ini.
Setelah kamar Riana selesai dibereskan, Echa yang hendak masuk ke ruang kerja ayahnya pun ditarik paksa oleh Amanda hingga punggungnya terbentur pegangan tangga.
"Aw," ringisnya.
"Gak usah lebay. Jangan seenaknya kamu masuk ke ruangan yang ada di rumah ini. Setelah kepergian kamu, rumah ini sudah banyak berubah."
Sambil memegang punggungnya yang sakit serta sesak di dadanya, Echa pun menuruni anak tangga dan duduk di gazebo seorang diri Menunggu Ayahnya datang dan ingin memeluknya. Karena ayahnya sudah mengabarkan akan pulang cepat hari ini.
Amanda yang melihat Rion hendak menghampiri Echa segera mencekalnya. Dan mengalihkan perhatian kepada Riana. Pada waktu itu kelemahan utama Rion adalah Riana.
"Ayah, Riana dari tadi ngerengek aja ingin dipeluk Ayah," ucap Amanda kepada Rion.
Dan Amanda pun berhasil mengalihkan pikiran Rion. Tinggalah Echa seorang diri di gazebo hingga dia terlelap. Mbak Ina yang baru saja akan membangunkannya pun dicegah oleh Amanda.
"Gak usah dibangunin. Biarin aja," titah Amanda.
Setelah kepergian Amanda, Mbak Ina segera menyelimuti tubuh Echa yang sudah meringkuk bagai anak bayi yang kedinginan. Kaos yang Echa gunakan tersingkap bagian belakangnya. Hjngga manampilkan luka memar yang jelas terlihat.
"Ya Allah, Neng."
Ketika tengah malam, Echa pun terbangun dan mendapati dirinya sudah terbalut selimut.
"Ayah," lirihnya.
Air mata Echa pun tak kuasa menetes. Dia seperti anak yang terbuang. Isak tangis di tengah malam membuat Amanda yang sudah terlelap terbangun dan mencari asal suara isakan. Untung saja, suaminya masih terlelap.
"Berisik!" Amanda melempar bantal tepat ke wajah Echa.
"Dasar anak gak tau diuntung. Udah dibiayain sama Ayah kamu, dikasih fasilitas yang bagus, sekarang malah neglunjak. Mau kamu apa sih?" geram Amanda.
"Echa hanya ingin dipeluk Ayah."
"ANAK MANJA!"
"Ingat umur kamu tuh, udah gadis. Harusnya kamu jadi anak yang mandiri. Jangan mentang-mentang hidup kamu serba ada, serba dilayani kamu manja kaya gini. Bikin saya muak," omelnya pada Echa.
Apakah Echa merasa sakit hati dengan ucapan yang dilontarkan oleh Amanda kepadanya? Sudah pasti, tapi Echa hanya menunduk dalam dan menangis dalam diam. Setelah Amanda puas memarahinya di tengah malam, Echa masuk ke dalam kamarnya dan menumpahkan semua tangisnya. Hingga dia lelah dan dia pun terlelap.
Perdebatan AyAh dan Bundanya mewarnai pagi hari. Ucapan Bundanya seakan melarangnya untuk bertemu ayah kandungnya sendiri sangat terdengar jelas di telinga Echa.
"Gak usah terlalu manjain anak kamu. Dia udah gadis udah waktunya berpikir dewasa bukan apa-apa Ayah, Ayah dan Ayah."
"Manja boleh, tapi gak gitu juga," omel Amanda di pagi hari.
Dengan sekuat hati Echa melangkah ke arah Amanda serta Rion. Melihat ayahnya, ingin sekali Echa memeluk tubuh kekar sang ayah. Namun, rasa sakit yang sudah menusuk sampai ke ulu hati karena ucapan bundanya membuat Echa berontak dan memilih untuk pergi.
Semenjak pemberontakan Echa, hubungan Rion dan Amanda semakin menjauh. Rion lebih memilih putri sulungnya dibanding Amanda. Hingga puncak kemarahan Amanda muncul ketika Rion membentaknya di depan rumah Ayanda.
Amanda semakin membenci Echa karena Echa adalah biang dari semua masalah yang terjadi di keluarga kecilnya. Amanda nekat menunggu Echa di depan sekolahnya. Ketika Echa dan dua sahabatnya keluar dari gerbang sekolah, bentakan Amansa membuat semua siswa yang melewati Echa, Sasa dan Mima memusatkan perhatian mereka kepada Echa.
"Puas kamu sekarang!"
Plak!
Satu buah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi putih Echa membuat Sasa dan Mima seketika memeluk Echa.
"Dasar anak gak tau diri!"
Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Echa. Dia hanya memegang pipinya dan menatap nanar ke arah Amanda.
"Ambil Ayahku, ambil!" teriak Echa dan langsung berlari masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya.
Nyeri sudah pasti yang Echa rasakan. Sopir yang menjemput Echa pun melihat kejadian itu sangat geram. Namun, Echa melarang sopirnya untuk ikut campur dan dilarang memberitahukan perihal perilaku ibu sambungnya terhadapnya hari ini.
Sampai saat ini, perilaku kasar Amanda tidak pernah diketahui oleh Rion, Gio serta Ayanda. Jika, mereka tahu mungkin Amanda tidak akan bisa bersatu lagi dengan Rion. Namun, Echa masih memikirkan nasib adiknya. Hidup denga orang tua yang berpisah itu sangat menyiksa. Lagi-lagi Echa menahan sakitnya seorang diri.
"Bunda memang bukan ibu sambung yang baik untukmu, Cha. Bunda memang egois. Ternyata masa kecilmu sangat menderita. Tidak seperti apa yang Bunda bayangkan."
...----------------...