
Di Canberra.
Ketika Echa sudah selesai menjalani terapi psikisnya. Sekarang, Echa harus menjalani pengobatannya di rumah sakit miliki Papihnya Radit.
Lelah yang Echa rasakan, hampir setiap hari harus berjibaku dengan jarum suntik dan juga obat-obatan. Tapi, tidak ada kata menyerah untuknya. Kesembuhan adalah tujuan utama hidupnya.
Air mata Echa menetes ketika jarum suntik menusuk ke tangannya. "Sakit?" tanya Addhitama.
Echa pun menggeleng, lalu menundukkan kepalanya sangat dalam. "Hari ini hari ulang tahun Mamah," lirihnya.
Addhitama terdiam mendengar ucapan pilu dari calon menantunya ini. "Kamu boleh pulang ke Indonesia." Echa pun menggeleng.
"Echa tidak akan pulang jika, belum sembuh. Echa ingin membawa kesembuhan Echa sebagai hadiah terindah untuk Mamah dan juga Ayah. Serta orang-orang yang menyayangi Echa."
Inilah yang Addhitama suka dari Echa. Kisah pilunya mampu mendidiknya menjadi gadis dewasa meskipun usianya masih belia.
"Kita lanjut pengobatannya ya. Tahan semua rasa sakit yang kamu rasakan. Bayangkan, Mamahmu sedang tersenyum ke arahmu sambil mengusap lembut rambutmu."
Echa memejamkan matanya. Dia membayangkan Mamahnya sedang berada di sisinya dan menyemangatinya. Bulir bening pun menetes deras di ujung matanya, hingga alat detak jantung berbunyi dan mereka menatap ke arah Echa. Dada Echa sudah mulai sesak.
Perawat melebarkan matanya, dan Addhitama pun sempat kaget dan mereka segera melakukan pertolongan pertama untuk Echa.
***
"Jangan bercanda," bentak Gio kepada Mr. Jeff dengan penuh emosi.
"Jika Anda tidak percaya, silahkan hubungi Tuan besar."
Tanpa banyak bicara Gio langsung menghubungi ayahnya. Di panggilan ketiga barulah sang ayah mengangkat telponnya.
"Maafkan Ayah, Gi." Suara yang terdengar sangat lirih. Hati Ayanda dan Rion seperti dihantam bebatuan besar, lalu ditusuk belati tajam.
Ayanda duduk dengan lemahnya. Wajahnya nampak datar dan sorot matanya menandakan kesedihan sangat mendalam.
Dan Rion, dia menahan sakit di dadanya. Mulutnya terkunci, Arya mengusap pundak Rion dan Rion menatap ke arah Arya dengan tatapan yang teramat terluka. Arya hanya menggelengkan kepalanya, seakan dia tahu apa yang dikatakan oleh Rion.
"Yah, jangan bercanda. Jangan buat kebahagiaan istri Gi hancur dengan kabar ini," ucapnya.
"Cepat kemari Gi, sebelum kalian menyesal." Semua orang terdiam dan menunduk dalam. Tak terkecuali Rion dan Ayanda selaku orangtua Echa.
Jari Ayanda mencari nama kontak Radit. Dia langsung menghubunginya. Tak lama, Radit pun menjawab panggilan telepon dari Ayanda.
"Dit ...."
"Tante tenang, ya. Di sini semua dokter sedang berusaha yang terbaik untuk Echa." Sungguh sakit hati Ayanda mendengarnya. Tubuhnya lemah tak berdaya dan air matanya pun luruh.
Notifikasi pesan berdering di ponsel Ayanda. Gio langsung membukanya. Mata mereka terkejut ketika melihat gambar yang dikirimkan Radit.
Seorang gadis yang sedang terbaring di atas brankar rumah sakit dengan banyak alat. Dikelilingi banyak dokter dan juga perawat.
"Cha ...."
Tangis Ayanda pun pecah, begitu juga Rion yang sudah terisak. Semua orang merasa sedih dengan kabar yang baru saja mereka dapati. Hadiah kecil yang mampu membuat semua orang sedih.
"Tuan, kita harus segera berangkat. Nona Echa membutuhkan kalian." Gio pun mengangguk mantap. Dia memapah tubuh Ayanda yang lemah seperti tidak bertulang. Tak lupa si kembar pun dibawa olehnya.
Selama diperjalanan menuju Bandara, Ayanda hanya bisa menangis dan terus menangis. Gio hanya bisa memeluk tubuh istrinya. Dia pun sangat syok mendengar kabar buruk ini. Kali ini Gio sudah gagal, gagal menjadi penolong untuk putrinya.
"Semoga putri kita baik-baik saja," ujar Gio yang tak hentinya mengecup puncuk kepala Ayanda.
Ratusan pesan dari Canberra masuk ke dalam ponsel Ayanda dan juga Gio. Membuat hati mereka semakin pedih. Rasanya mereka ingin memakai pintu ke mana saja agar bisa cepat sampai di Canberra.
Mereka tiba di Bandara dan sudah ada beberapa mobil yang menjemput mereka di sana. Tangan Ayanda sudah dingin. Wajahnya pucat seperti mayat hidup. Matanya sembab dan tidak ada keceriaan sama sekali.
Mereka tiba di rumah sakit dan dibawa ke lantai atas di mana Echa dirawat. Genta sudah menunggu mereka. Dan wajah Genta pun terlihat sedih begitu juga Radit.
"Di mana Echa?" Suara lirih seroang ibu yang menanyakan keberadaan putrinya.
Radit menunjukkan seorang gadis yang berada di ranjang pesakitan dengan banyak alat kesehatan di tubuhnya. Dikelilingi beberapa dokter dan juga perawat. Ayanda yang hanya bisa melihat dari kaca luar pun tak sanggup menopang tubuhnya. Dia pun limbung dan tak sadarkan diri.
Dan Rion, tubuhnya luruh ke lantai. Dia menangis seperti anak kecil sambil memegang dadanya yang teramat sakit. Hancur sekali hatinya.
Amanda mengusap punggung suaminya dan ikut jongkok bersama Riana. Riana memeluk tubuh Rion dan mengusap air mata yang terjatuh membasahi pipi Ayahnya.
"Putri kita pasti kuat," ucap Amanda.
Arya mengusap punggung Rion, bukan hanya Rion yang merasakan sedih tapi dia juga sangat sedih. "Kita harus kuat," ucap Arya.
Hanya tatapan penuh kesakitan yang Rion tunjukkan. Satu hal yang membuatnya akan menjadi lemah yaitu putrinya.
Si kembar sudah menangisi Mommy-nya yang terpejam. Mereka tidak mau jauh dari Mommy-nya.
"Banun Mommy,Banun."
Si kembar terus saja berkata seperti itu membuat hati semua orang benar-benar sakit.
"Paman ...."
"Kejadian ini sangat cepat, Paman mendapat kabar dari Addhitama sudah seperti ini," sesalnya.
Sejurus kemudian Azka menatap ke arah Radit. Matanya seolah meminta penjelasan. "Tadi Echa bercerita panjang lebar. Dia ingin sembuh dari sakitnya. Ingin mempersembahkan kesembuhannya sebagai hadiah terindah untuk Mamahnya."
Semua orang terdiam mendengar cerita Radit. Mereka sangat merasakan perjuangan pilu Echa untuk sembuh.
"Dia ingin pulang, dia ingin bertemu dengan Tante Yanda. Tapi, egonya sangat kuat. Dia memiliki prinsip sebelum sembuh dilarang pulang."
Rion pun menitikan air mata mendengar cerita dari Radit. Putrinya sungguh luar biasa. Berjuang seorang diri tanpa orangtua di sisinya.
"Apa selama ini dia baik-baik saja?" Mulut Rion pun terbuka seakan ingin mengetahui apa yang terjadi dengan putrinya.
"So far so good," jawabnya.
"Echa." Suara lirih Ayanda membuat semua orang sedih. Apalagi melihat keadaan Ayanda yang teramat kacau.
"Putri kita akan baik-baik saja, percayalah." Sebuah kalimat penguat padahal dalam hati Gio menangis sangat keras.
Addhitama keluar dari kamar perawatan Echa. Semua orang menatapnya dengan sebuah harapan yang besar.
"Ayanda, masuklah," ucap Addhitama.
Ayanda ragu, dia tidak ingin masuk seorang diri. Dia pasti tidak sanggup untuk menerima kenyataan yang ada. Apalagi melihat tubuh lemah Echa yang dipasang semua alat bantu medis.
Ayanda menatap Addhitama dengan mata yang nanar. Ada sorot ketakutan di matanya. Addhitama menganggukkan kepalanya, dengan hati yang lemah Ayanda bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Addhitama.
****
Happy reading ...
Jangan lupa komennya, dan setiap ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun-timbun.