
Gio duduk di ruang tamu dengan memijat keningnya yang terasa pusing. Meskipun, Echa bukanlah anak kandungnya tapi rasa sayangnya kepada Echa melebihi apapun. Melihat putrinya terluka seperti itu, membuat hatinya teramat sakit.
"Dad." Ayanda mengusap lembut pundak sang suami dari belakang.
Setelah Ayanda duduk di samping Gio, dia langsung memeluk erat tubuh istrinya. "Putri kita ...."
Ayanda mengeratkan pelukannya dan air matanya tak tertahan. Dia tidak tega melihat putrinya seperti ini. Terlebih terlalu banyak yang harus Echa korbankan untuk kesembuhan Riza. Dan yang mereka khawatirkan, jika Echa terlalu down akan membuat penyakitnya kambuh lagi.
"Penyakitnya bagaimana?" Itulah yang sangat Ayanda khawatirkan.
"Dokter dari Singapura besok akan sampai di sini. Dan akan memeriksa semuanya."
"Mommy takut, jika Echa terlalu depresi Echa akan kehilangan kesadarannya lagi," lirih Ayanda.
"Kita berdoa saja, tapi Daddy akan melakukan yang terbaik untuk putri kita. Dan Daddy telah meminta Radit untuk selalu mendampingi Echa. Bukan hanya hati Echa yang terluka psikisnya pun ikut terguncang," ungkap Gio.
"Apa Radit bisa kita percaya?"
"Insha Allah, bisa. Ayahnya sudah menjamin semuanya. Dan setelah Daddy mencari tahu kepada Ayah, Ayah pun mengatakan hal yang sama seperti ayahnya Radit."
Hanya percaya yang Ayanda bisa lakukan. Dan hatinya kini benar-benar tidak tenang memikirkan putrinya. Jika, dia bertemu Echa sudah dipastikan dia akan rapuh.
Sementara di kediaman Rion, air mata Rion menetes begitu derasnya melihat layar laptopnya. Tanpa Echa ketahui, Rion sudah memasang CCTV di setiap sudut rumahnya. Tak terkecuali kamar Echa.
"Kenapa kamu harus mengalami ini?" lirihnya.
Amanda mengusap lembut punggung Rion dan memeluk tubuh suaminya. "Apa ini karma untuk Abang? Tapi kenapa putri Abang yang harus menerima getahnya? Dia tidak tau apa-apa," imbuh Rion dengan terisak.
"Biarkanlah Echa tenang dulu, Bang. Kita hanya perlu memantau. Echa memiliki sifat yang unik, sekarang kita fokus untuk terus membahagiakan dia. Supaya dia bisa melupakan semua ini," jelas Amanda.
"Kenapa nasibmu malang, Dek? Dulu, Ayah sempat membuang mu dan menganggap kamu hanyalah benalu di keluarga Ayah. Dan sekarang Ayah benar-benar takut, Ayah takut jika sakitmu kambuh lagi, Ayah benar-benar takut ...."
Mereka tidak terlalu memikirkan rasa sakit hatinya Echa, tetapi mereka memikirkan akan penyakit yang Echa derita. Setelah pulih dari koma, dokter mengatakan jika sekali lagi penyakit ini kambuh maka, kecil kemungkinan akan selamat. Ya, mereka sudah tahu tentang hubungan Riza dan Echa yang sudah diambang kehancuran.
Setelah Echa pulang dari rumah sakit dan dia beristirahat, Gio menceritakan semuanya kepada ketiga orangtua Echa dan juga keluarga yang lain.
Yang paling murka mengetahui semua ini adalah Rion. Dia benar-benar marah kepada Riza. Dan sumpah serapah pun keluar dari mulutnya. Bukan hanya Rion, Arya dan juga Azka pun tak kuasa menahan amarahnya. Riza yang memohon-mohon tapi kini dia sendiri yang mengkhianati.
"Apapun alasannya, semua ini tidak bisa dibenarkan," ucap Rion ketika mendengar penjelasan Gio kemarin malam.
"Gak tau diri tuh bocah, keponakan gua yang udah berjuang dan sekarang dia seperti itu," geram Arya.
Wajah Ayanda dan Amanda sangat dipenuhi rasa marah dan juga benci. Mereka perempuan, pasti akan sakit jika diperlakukan seperti itu oleh pasangan sendiri.
"Harusnya kita tidak mendukung Riza, Mbak," ucap Amanda.
"Benar, lebih baik dulu dia mati saja," ucap Ayanda dengan penuh emosi.
Kehadiran Radit, mampu meredam emosi mereka semua. Radit meminta kepada keluarganya, agar tidak membahas masalah ini kepada Echa. Karena psikis Echa sedikit terguncang.
"Aku minta kepada Om-om dan Tante-tante, jangan membahas tentang hubungan Echa dan juga pacarnya. Dan buatlah dia terus bahagia agar perlahan rasa sakit dan pedih di hatinya hilang," pinta Radit.
"Jaga Echa, dan pantau terus kondisi dia. Hiburlah dia terus, hanya itu caranya agar psikis Echa sembuh," terang Radit.
Setelah Radit pamit pulang, Rion menatap Gio dengan tatapan tajam. "Siapa sebenarnya Radit?"
Bukan hanya Rion penasaran, semua orang yang berada di sana pun sama penasarannya seperti Rion.
"Dia ...."
****
Happy Reading ....