
Sebelum lanjut, aku mau jawab komenan kalian dulu. Mon maap komenan kalian gak bisa aku bales satu per satu.
Kenapa cerita Bang Duda datar aja kek rel kereta? Gak kayak Ayanda yang menguras emosi. Bikin dong ceritanya kek Ayanda.
Aku jawab ya.
Awal cerita ini sampai bab 50-an selalu aku sisipkan konflik, hanya saja konflik ringan yang sehari dua hari aku selesaikan. Jika, cerita ini alurnya kek Ayanda gak akan aku jodohin Rion sama Amanda, pasti aku jodohin Rion dengan Sheza. Wanita lembut dan juga rapuh sama seperti Ayanda. Pasti ada alasan kenapa aku jodohin Rion sama Amanda, aku ingin membuat alur yang berbeda dengan cerita Ayanda. Meskipun ini cerita sekuel atau lanjutan, tidak semua alur ceritanya harus sama dengan cerita terdahulu. Kalo aku tulis begitu, pasti akan berujung monoton dan juga membosankan dan ceritaku gak akan berkembang.
Aku tau, setiap reader beda-beda. Aku hanya berharap kepada kalian semua para readers kesayanganku, hargailah setiap ide yang aku tulis dalam setiap part-nya. Hingga nanti ada waktunya aku kasih tanda End pada cerita ini.
Mon maap, kalo cerita yang aku buat ini terasa hambar dan datar karena aku juga masih dalam proses belajar.🙏
...****************...
Dengan langkah lebarnya Rion meninggalkan meeting setelah mendapatkan kabar dari Echa jika Amanda pingsan. Ke manapun Rion melangkah pasti akan ada Arya yang selalu mengikutinya.
Selama perjalanan Rion terus saja berteriak kepada Arya agar melajukan mobil lebih cepat lagi. Perdebatan pun tak terelakan.
"Lu mau ketemu bini lu apa malaikat maut?" geram Arya yang sedari tadi terus mengumpat kesal.
"Cemas boleh, gila jangan," tambahnya.
Setelah dua jam perjalanan, mereka pun tiba di rumah sakit tempat Amanda di rawat. Rion segera menuju ke kamar perawatan Amanda karena Echa sudah memberitahu kamar yang bundanya tempati.
"Bunda gimana?" tanya Rion dengan nada khawatir.
Echa yang baru saja menutup pintu kamar Amanda hanya tersenyum ke arah ayahnya.
"Bunda lagi istirahat," jawabnya.
Rion hendak masuk ke kamar Amanda namun, tangannya ditarik oleh Echa. "Jaga adik Echa dan juga Bunda," pintanya dengan wajah bahagia.
Rion hanya mematung di tempatnya, tidak mengerti apa yang diucapkan oleh putrinya. Adik Echa, hanya kata itu yang sedang memutari kepalanya. Pikirannya seolah kosong seketika.
Di dalam kamar perawatan ada Mbak Ina yang sedang menjaga Amanda. Rion menyuruhnya untuk pulang ke rumah bersama Echa karena besok Echa harus sekolah.
Rion terus saja memandangi wajah Amanda yang terlihat pucat dan tirus. Dia mengecup punggung tangan istrinya dan terus mengucapkan kata maaf. Dia merasa belum bisa menjadi suami yang baik untuk Amanda.
Arya mengambil satu benda yang sangat asing di atas nakas. Dilihatnya dengan seksama benda kecil berukuran lima centimeter. Hanya ada dua garis merah di dalam benda kecil itu. Arya terus saja membolak-balikkan benda tersebut.
Rion langsung mengambil benda itu dari tangan Arya. Senyum lebar terukir dari bibirnya. Tak terasa ujung matanya mengeluarkan bulir bening. Arya yang melihatnya hanya terpaku heran.
"Makasih, Sayang, Sekarang telah tumbuh calon anak kita di rahim mu," ujar Rion dan langsung mengecup kening Amanda.
Arya sekarang mengerti, kenapa tiba-tiba sahabatnya itu berubah menjadi melow. Ternyata istrinya sedang mengandung anaknya. Apakah semua suami akan berbahagia ketika mengetahui istrinya hamil? Begitulah yang ada dipikiran Arya.
Di kamar ini hanya ada Rion dan juga Amanda. Sedangkan Arya telah pulang ke rumahnya. Rion terus menggenggam tangan Amanda dan tangan yang satunya terus berada di atas perut istrinya. Sesekali tangannya mengusap perut Amanda yang masih rata.
Selepas Maghrib, Amanda mengerjapkan matanya. Dia melihat senyum bahagia yang terukir indah di bibir suaminya.
"Makasih, Sayang," ucapnya.
Hanya seulas senyum tipis yang terukir dari bibir Amanda. Ada rasa kecewa di hati Amanda ketika mengetahui kabar ini. Akan tetapi, melihat kebahagiaan yang dipancarkan suaminya rasa kecewa itu sirna begitu saja.
Kini saatnya Amanda berdamai dengan hatinya. Dia serahkan semuanya kepada Allah. Jika ke depannya dia akan bahagia ataupun merana itu sudah menjadi takdirnya. Manusia hanyalah pemeran utama pada skenario yang sudah Allah tulis. Semuanya Amanda pasrahkan kepada sang Pencipta.
"Mau makan apa?" tanya Rion.
"Manda mau jus alpukat sama siomay," pintanya.
Rion mengeluarkan ponselnya dan langsung memesan makanan yang diinginkan istrinya melalui aplikasi online. Setengah jam berlalu, makanan yang dipesan oleh Rion tiba. Rion menyerahkan jus alpukat kepada Amanda.
Baru saja Amanda meminum jus alpukatnya, perut Amanda sudah bergejolak tak karuhan. Baru saja kakinya turun dari ranjang pesakitan, rasa mual Amanda sudah tidak tertahan. Dia pun memuntahkannya di lantai.
Rion membawa Amanda ke kamar mandi dan memijat tengkuk leher istrinya dengan lembut. Setelah dirasa tidak ada lagi yang mau dikeluarkan, Amanda mencuci mulutnya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Rion. Sangat terlihat jelas wajah lemas Amanda.
Rion membawa Amanda untuk berbaring kembali di ranjang pesakitannya. Dia menatap kasihan kepada istrinya.
"Kok ngidam kamu separah ini sih?" ucap Rion heran.
"Sudah seminggu ini Manda gak bisa makan apapun. Langsung dikeluarin lagi," jelasnya.
Hati Rion sangat terenyuh mendengar penjelasan Amanda. Jika akan terjadi seperti ini, dia tidak akan meminta anak tergesa-gesa kepada istrinya.
****
Sad, udah bikin cerita tapi malah ke hapus dan ini ngetik ulang🤧