Bang Duda

Bang Duda
224. Sahabat



Pagi hari, kamar Arya Bhaskara sudah didatangi oleh satu anak perempuan cantik. Dia sedang asyik membangunkan Arya yang masih setia berada di bawah selimut.


"Banun Om," teriak Riana.


"Ngantuk Ri." Arya menutupi semua tubuhnya dengan selimut.


"Oma, Omnya dak mau banun," teriak Riana.


"Siram pake air yang ada di atas meja," sahut Nyonya Reina yang sedang berada di lantai bawah.


Arya pun segera membuka selimutnya dan bersandar di kepala ranjang. Benar saja, Riana sudah memegang gelas berisi air.


"Kamu ngapain sih pagi-pagi udah ke sini?" tanya Arya yang kini sudah mengangkat tubuh Riana dan meletakkannya di pangkuannya.


"Bunta dan Onti Beby te pacal. Yayah temput Nenek," ocehnya.


"Terus mau ngapain bangunin Om?"


"Li inin es tlim dan totlat," bisiknya.


Arya pun tertawa, Riana akan bersikap manis kepadanya jika menginginkan sesuatu. Karena sudah pasti kedua orangtuanya melarang Riana untuk memakan makanan itu.


Bocah kecil dikuncir dua dengan bola mata yang bulat terlihat sangat menggemaskan. Arya selalu berkhayal jika nanti anaknya perempuan pasti akan secantik Riana dan Keysha. Jika, laki-laki pasti akan seaktif si kembar.


"Om mandi dulu, ya. Kamu ke Oma dan ke Ante Arin dulu ya," ucapnya sambil mengusap lembut kepala Riana.


"Ote," sahut Riana.


Ketika sudah rapi, Arya turun ke lantai bawah. Dia tersenyum ketika melihat Mamih dan kakaknya terlihat bahagia bermain bersama Riana. Apalagi mendengar celotehan Riana yang selalu mengundang gelak tawa.


"Ri, ayo," ajak Arya.


"Oma, Ante, Li Dadan duyu, ya. Bye," pamit Riana.


Arya pun menggendong tubuh Riana dan mereka hanya menggunakan motor matic. Inilah yang Riana sukai jika jajan bersama Arya.


Mereka tiba di minimarket, Riana langsung berlari ke tempat es krim. Riana nampak bingung lalu menoleh ke arah Arya. "Pilih aja mana yang kamu mau, tapi satu aja ya." Riana pun mengangguk.


Tak cukup dengan es krim, Riana berlari ke tempat yoghurt berada. Susu kotak pun dia ambil. Beralih ke Snack, wafer, biskuit dan permen yang dia sukai. Tak terasa keranjang belanjaan yang Arya bawa sudah penuh.


"Kamu mau ngerampok Om, ya." Riana hanya tersenyum dan memamerkan gigi susunya. Setelah selesai membayar, mereka pulang dengan dua kantong belanjaan besar.


Setelah sampai rumah, dengan senangnya Riana memamerkan apa yang dibelinya kepada Nyonya Reina dan juga Arina.


"Wow banyak sekali," ucap Nyonya Reina.


"Kalo tiap hari begini bisa bangkrut," ujar Arina seraya tertawa.


"Ntar gua minta ganti rugi ke bapaknya." Arina dan Arya pun tertawa.


Riana tak menghiraukan ocehan Om dan Antenya. Riana asyik memakan es krim. Dan tiba-tiba Riana terdiam dan menaruh es krimnya di atas meja. Lalu naik ke pangkuan Arya.


"Loh?"


Arya menghela napas kasar ketika melihat Amanda sedang bertolak pinggang ke arah Riana. "Udah gak apa-apa." Arya mengelus rambut Riana.


"Riana," panggil Amanda. Namun, Riana semakin mengeratkan pelukannya kepada Arya.


"Udahlah Nda, sesekali makan es krim mah wajar," ujar Arya.


"Dia itu baru aja sembuh dari demam," jelas Amanda.


"Hiks, hiks." Tangisan Riana terdengar.


Arya melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Riana yang sudah basah dengan air mata. "Minta maaf sama Bunda. Tadi Riana gak bilang kalo Riana abis sakit. Makanya Om turutin maunya Riana."


Riana menatap wajah Bundanya dengan hidung seperti tomat cherry. "Li, inin es tlim," ucapnya dan tak lama dia pun menangis keras. Arya langsung memeluk tubuh bocah kecil ini.


"Riana cuma beli es krim yang kecil doang kok. Jadi, biarin aja. Kasian kan Riana nangis gitu," imbuh Nyonya Reina.


Riana tak mau lepas dari Arya, dia terus memeluk tubuh Arya. Sedangkan Beby mengusap lembut punggung Riana.


Amanda membujuk Riana untuk pulang, namun dia menolak. "Biarin Riana di sini aja dulu, Mbak. Nanti kalo dia rewel aku anterin pulang," ujar Beby. Amanda pun pasrah, dia kembali ke rumah seorang diri.


Sedangkan Riana sudah mulai mau bermain dengan Arya dan juga Beby. Mereka menikmati makanan yang Riana beli. Menyuapi Arya dan Beby bergantian.


"Kita seperti keluarga bahagia ya. Udah gak sabar pengen si dedek cepet launching," ucap Beby sambil mengelus perutnya.


"Tinggal satu setengah bulan lagi, rumah kita akan ramai dengan tangisan bayi," sahut Arya yang kini merangkul mesra Beby.


"Om, Li inin bobo. Tapi, batain donen ya." Arya pun mengangguk. Arya membawa Riana ke kamarnya. Riana tidur di tengah-tengah. Di samping kirinya Arya dan di kanannya Beby. Arya pun membacakan cerita. Lama kelamaan Riana dan istrinya terlelap. Senyum kecil tersungging di bibirnya.


"Begini kah rasanya memiliki seorang anak?" gumamnya. Dia mencium kening Riana dan juga istrinya. Tak lupa perut istrinya pun dia cium.


"Cepatlah keluar Sayang, kami semua sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu."


Setelah jam makan malam, barulah Riana mau pulang ke rumahnya. Tapi, dengan syarat yang diajukan oleh Riana. Riana ingin ke toko mainan yang tak jauh dari kediaman Arya.


Mau tidak mau Arya menuruti keinginan bocah kecil ini. Karena bapak dari bocah kecil ini sudah mengancam dirinya jika, Riana tidak dikembalikan ke rumah.


Sampainya di toko mainan, Riana mengambil salah satu mainan. Dan setelah dibayar mata Arya melebar dengan sangat sempurna.


"Satu koma tujuh juta." Kasir pun mengangguk mantap.


"Astaghfirullah, masih kecil juga udah pinter banget morotin orang," gerutunya.


Riana pun diantarkan ke rumah Rion. Dan wajah Riana amat riang dengan membawa satu goody bag di tangannya.


"Anak Ayah bawa apa?" Riana pun menunjukkan kepada semua orang mainan yang baru saja dia beli.


"Bagusnya," kata Nisa. Riana pun mengangguk dan membawa mainannya ke kamarnya.


"Makasih udah beli ...."


"Tuh." Arya memberikan bkn kepada Rion. Ada dua bon di atas meja.


Tangan Rion mengambil bon itu dan dahinya mengernyit. "Totalnya 2 juta. Harap dibayar cash," tegas Arya.


"Apaan? Gak ada," tolak Rion.


"Ck, itu bukti jajan anak lu hari ini. Ganti lah, bini gua bentar lagi mau lahiran," tutur Arya.


"Urusannya apa sama bini lu lahiran?"


"Itu duit buat biaya lahiran bini gua Rion oon. Kalo lu gak mau ganti sih gak apa-apa. Pas bini gua lahiran, lu yang bayarin semua biaya rumah sakit bini gua, oke. Anggap aja itu hadiah dari atasan kepada bawahan. Dan gua anggap hutang lu yang ini juga LUNAS."


Rion bergegas mengeluarkan ponselnya. Mencari aplikasi M-Banking. "Udah gua transfer 2,1 juta," kata Rion. Arya pun tertawa lalu mengecek ponselnya.


"Okeh, udahh masuk. Takut banget lu bayarin rumah sakit bini gua," cibir Arya.


"Jajan Riana 2 juta biaya rumah sakit bini lu paling murah 20 juta. Rugi bandar gua," geramnya.


"Pelit," sarkas Arya.


"Lu tuh gak pantes dipanggil Om sama Riana," ucap Rion.


"Lah ngapa?"


"Mana ada Om yang itungan banget ke keponakannya," kata Rion lagi.


"Mana ada yang katanya sahabat tapi malah nodong disuruh bayar lima ratus rebu ketika gua selesai makan di rumahnya. Padahal gua makan di rumah lu cuma pake masakan warteg. Sahabat macam apaan lu?"


"Lima ratus rebu udah bisa gua borong semua lauk yang ada di warteg ijo depan noh," gerutu Arya.


Bu Dina dan Nisa hanya tertawa mendengar perdebatan antara Rion dan juga Arya yang tidak mau kalah. Seperti inilah persahabatan mereka berdua. Selalu berdebat tapi sangat dekat.


****


Happy reading ...