Bang Duda

Bang Duda
390. Hidup atau Mati (Musim Kedua)



Ketika Genta mendengar cucu kesayangannya celaka, dia segera mengerahkan anak buahnya yang berada di Indonesia untuk menangkap Amanda.


"Kurang ajar!" geramnya.


Genta segera menghubungi Addhitama. Dengan marah bercampur emosi, Genta memaki-maki Addhitama. Menyuruhnya untuk mencari Amanda dan bawa ke hadapan Genta hidup atau mati hari ini juga. Sedangkan Addhitama tidak bisa menjawab ucapan dari sahabatnya ini. Addhitama sedang berduka, ketika jenazah keponakannya tiba di rumah sakit. Bertepatan dengan itu juga Genta menelepon. Addhitama menerima panggilan telepon di depan jenazah sang keponakan yang mengenaskan. Ketika sambungan telepon itu diputuskan, Addhitama segera pergi dari kamar jenazah itu. Tanpa memberi tahu tujuannya ke mana. Padahal, dia berpapasn dengan anak pertama dan menantunya.


"Pih, mau ke mana?" Pertanyaan Rindra tidak digubris oleh Addhitama. Addhitama semakin jauh meninggalkan Rindra dan juga Nesha.


Inilah yang dilakukan oleh Addhitama, menghubungi orang suruhannya agar menangkap Amanda dalam keadaan hidup atau mati. Bukan hanya Genta yang marah besar Addhitama pun sama. Ketika dua orang yang sangat kejam bekerja sama. Apa yang akan terjadi?


Di sinilah Addhitama, di samping makam sang Ayah. Mengadu, itulah yang dia lakukan.


"Maafkan Addhit, Pah. Addhit tidak bisa menjaga keturunan Papah," lirih Addhitama.


Menjadi anak sulung ternyata tidak mudah bagi Addhitama. Memikul berat beban yang diberikan oleh sang Papah. Apalagi, menghadapi adiknya yang susah untuk diatur. Membuat Addhitama terkadang ingin menyerah.


"Tapi, Addhit janji, Addhit akan memberikan hukuman yang setimpal untuk wanita itu. Dia tidak patut untuk hidup," ucapnya dengan emosi yang menggebu.


Setelah meluapkan rasa sedihnya, Addhitama mengecek ponselnya. Semua yang diinginkan Addhitama sudah selesai semua. Laporan ke kepolisian, pemakaman mewah serta pencarian Amanda sedang berlangsung. Addhitama menetralkan napasnya sejenak. Dan akan kembali ke rumah sakit menemani adiknya yang tengah dirundung duka yang mendalam.


Orang suruhan Addhitama dan juga Genta sudah bekerja sama. Mencari ke segala arah. Hingga salah satu orang suruhan Genta menghentikan langkah mereka ketika melihat kawanan pemuda lusuh berlari dari arah rumah kosong.


"Kita periksa ke rumah kosong itu," ucap orang yang ditugaskan oleh Genta.


Pencarian Amanda mencakup ke beberapa wilayah ibukota. Karena Genta dan Addhitama tahu, jika Amanda adalah belut betina yang sulit untuk ditangkap. Apalagi, sekarang dia menjadi milyarder dadakan.


Empat orang suruhan itu mulai memasuki area rumah kosong. Hanya rerumputan liar yang ada di sana. Dan rumah itu pun sudah lapuk karena tidak dirawat. Mereka mencoba memasuki rumah itu. Langkah mereka terhenti ketika mereka melihat seorang wanita yang tidak memakai sehelai benang pun tergelatak di sana. Di sampingnya terdapat darah segar yang beraroma sangat anyir. Hingga keempat orang itu menutup hidung mereka.


Mereka berempat pun mendekat, dan di bagian dalam paha Amansa terdapat cairan putih kental seperti sper-ma. Dan mereka saling tatap. sejurus kemudian mereka mengangguk bersamaan.


Salah satu dari mereka terlonjak, ketika melihat sudah ada belatung di luka yang sedikit menganga.


"Ya, Tuhan," ucap pria berbadan kekar yang lain.


"To-to-long saya." Begitulah mulut Amanda bergerak tanpa mengeluarkan suara. Seperti ikan kekurangan air. Mulutnya hanya mangap-mangap.


"Apa yang Anda katakan?" tanya pria berbadan kekar yang kini sudah dalam posisi jongkok di depan wajah Amanda.


"Sa-kit." Mulutnya mengatakan seperti itu. Tetapi, empat orang itu tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Amanda yang seperti orang bisu.


Salah seorang dari pria berbadan kekar itu mengambil video untuk bukti ke bos mereka. Dan mereka memutuskan untuk membawa Amanda pergi dari rumah kosong ini. Mereka diperintahkan untuk membawa Amanda ke hadapan Addhitama dan juga Genta dalam keadaan masih hidup atau sudah mati. Jadi, mereka harus menurutinya.


Ketika tiga orang pria itu hendak mengangkat tubuh Amanda, dan seorang lagi sibuk mengambil video. Tiba-tiba pria yang tengah mengambil video berteriak, "Awas!" Ketiga pria itu segera mundur dan menjauhi Amanda.


Brukk!


"Aaaa!"


...****************...


Komen lagi yuk ....


Bagaimana akhir hidup Amanda? Apa dia akan mendapat karma yang setimpal? Atau masih diberi kesempatan untuk kesekian kalinya gardu bertaubat?


Next bab ...