Bang Duda

Bang Duda
74. Scorsing



Dua hari sudah Echa tinggal bersama ayahnya dan juga Amanda. Tidak ada tanda-tanda kedekatan Echa dengan Amanda. Meskipun Amanda mencoba untuk dekat namun, dengan sopan Echa tolak.


Rion tidak pernah mempermasalahkannya. Dia dan Ayanda sudah bertekad untuk tidak memaksa Echa. Biarkan Echa yang membuka mata dan hatinya untuk Amanda serta menerima Amanda sebagai ibu sambungnya.


Pagi hari, Amanda selalu menyiapkan bekal untuk Echa, dan di dalam kotak makannya selalu dia selipkan satu buah cokelat kesukaan Echa. Echa tetap menghargai bekal yang Amanda beri. Tidak pernah dia tidak makan bekal yang Amanda berikan.


Bel istirahat pun berbunyi, semua murid beranjak dari kelas masing-masing kecuali Echa, Sasa dan Mima.


"Kenapa sih lu belum bisa nerima istri ayah lu?" tanya Mima.


"Suatu saat nanti gua akan Nerima dia, kok. Tapi jangan tanya kapan. Gua belum tau," jelasnya.


Cokelat yang Amanda beri selalu Echa simpan di dalam tas. Dia memakan cokelat ketika moodnya jelek saja.


Datang lah segerombolan cewek-cewek yang cukup populer di sekolah. Mereka menghampiri Echa dan sahabatnya.


"Gak usah sok cantik lu," bentak Sheryl si ketua genk.


"Jauhin Riza!" seru Sheryl.


"Maap ya kakak-kakak kelas yang terhormat. Saya tidak merasa cantik, tapi Riza menganggap saya cantik makanya dia deketin saya," ujar Echa dengan seringai tipis.


Mima dan Sasa hanya mengulum bibirnya menahan tawa. Echa bukanlah anak yang takut jika digertak seperti ini.


"Sial*n!" Sheryl langsung menarik kerah Echa hingga wajah mereka sangat dekat.


"Berani lu ngelawan gua," bentak Sheryl. Tubuh Echa didorong oleh Sheryl hingga mengenai ujung meja. Suara ringisan pun terdengar dari mulut Echa.


Mima dan Sasa hendak membantu tubuh Echa pun dihadang oleh kedua teman Sheryl. Mereka melihat Echa yang sedang menahan sakit. Sheryl mendekati Echa dan merebut paksa ponsel yang ada di saku seragam Echa. Di angkat ponsel Echa lalu dengan sengaja dijatuhkan dengan sangat keras sehingga layar ponselnya retak parah.


"Anak yang masih pake ponsel merk oppa gak pantes dideketin cowok sekelas Riza," ejek Sheryl yang menunjukkan ponsel merk apel digigit.


Echa menatap ponselnya nanar, ada raut kesedihan di wajahnya.


"Apa lagi lu hanya anak broken home, pasti akan membawa dampak buruk buat Riza," cela Sheryl.


Dengan amarah yang sudah diujung kepala, Echa menarik rambut Sheryl. Dan merebut ponsel yang sedang dia pegang. Dibantingnya ponsel Sheryl hingga rusak tak beraturan.


"Apa ada yang salah kalo gua anak Broken home? Setidaknya gua masih punya sopan santun dari pada lu yang katanya anak kepala sekolah," ujar Echa.


Echa pun meninggalkan Sheryl dan teman-temannya. Mima dan Sasa pun mengejar Echa. Di sinilah Echa, di belakang sekolah yang tak lain adalah gudang. Dia tidak masalah ponselnya dibanting, yang dia tidak suka jika ada orang yang mengatakan jika dia anak broken home yang membawa dampak tidak baik.


"Lu gak apa-apa?" tanya Sasa.


Hanya gelengan kepala jawaban dari Echa. Mima memberikan cokelat kepada Echa. "Ini gua ambil dari tas lu, ini kan yang lu butuhkan," ucap Mima.


Echa hanya tersenyum mendengar ucapan Mima. Setelah Echa tenang dan moodnya membaik, mereka kembali ke kelas. Namun, langkah mereka terhenti ketika guru BP menyuruh Echa masuk ke ruangannya.


Echa hanya tersenyum ke arah sahabatnya. Seolah dia mengatakan jika dia akan baik-baik saja. Di dalam ruangan BP sudah ada Sheryl yang sedang menangis meraung-raung dipelukan kepala sekolah.


Plak!


Tamparan keras dari tangan kepala sekolah mendarat di pipi Echa. Membuat guru BP tercengang melihatnya. Echa hanya menunduk, dia sudah memprediksikan ini pasti akan terjadi.


"Kamu telah kasar sama anak saya dan ponsel anak saya pun kamu banting hingga rusak. Siswa macam apa kamu?" bentak kepala sekolah.


Tidak ada jawaban dari mulut Echa, hingga suara pintu terbuka. Rion menghampiri Echa yang sedang berdiri seraya menundukkan kepalanya.


Echa hanya mendongakkan kepalanya lalu menunduk kembali. Guru BP dan kepala sekolah menceritakan ulah Echa terhadap Sheryl sehingga membuat ponsel Sheryl rusak. Guru BP pun mengeluarkan surat scorsing untuk Echa.


Rion hanya menghela napas kasar, dia menatap tajam ke arah Echa yang masih berdiri.


"Baik, terimakasih Pak. Saya akan lebih keras lagi mendidik Echa," ucap Rion kepada kepala sekolah.


"Kita pulang," ajak Rion. Echa mengambil tasnya di kelas dengan sesekali merasakan sakit di punggungnya.


Selama di perjalanan Rion hanya diam begitu pun Echa. Setelah tiba di rumah, Rion langsung menutup pintu mobil dengan sangat keras. Baru saja Echa meletakkan tasnya wajah marah Rion sangat terlihat.


"Siapa yang mengajarkan kamu bertindak seperti ini, hah?" bentak Rion.


Echa hanya terdiam dan menunduk dalam. "Jawab!" seru Rion.


Mendengar suara suaminya di kamar atas membuat Amanda menuju kamar Echa. Dilihatnya Rion yang sudah mengangkat tangannya. Namun, bisa Amanda hentikan.


"Ada apa, Bang?" tanya Amanda. Dilihatnya Echa tengah menunduk dalam. Rion menyerahkan satu lembar surat, Amanda hanya menghela napas.


"Kita perlu bicara," ajak Amanda kepada suaminya dan meninggalkan Echa.


Amanda mengajak Rion ke ruangan kerjanya. Dia menatap suaminya tajam.


"Hanya karena ini, Abang marah sama Echa. Pasti ada alasan Echa melakukan ini," ucap Amanda.


"Kamu tidak usah membela Echa hanya karena ingin dilihat oleh Echa," balas Rion.


Wajah Amanda pun memerah mendengar ucapan suaminya. Namun, tetap dia tahan emosinya yang ingin sekali meledak.


"Bang, Manda tidak pernah ingin dilihat oleh Echa. Manda tahu, Echa bukanlah anak yang arogan, pasti ada alasan kenapa Echa bersikap seperti itu," jelas Amanda.


"Terserah, sudah pusing masalah kerjaan ditambah Echa bikin ulah," kesalnya.


"Jangan biarkan Echa keluar kamar, dan larang kedua sahabatnya untuk menemui Echa di hari-hari scorsingnya," tegas Rion.


Echa yang tidak sengaja mendengar percakapan ayah dan juga istrinya hanya bisa tersenyum tipis. Dia mengurungkan niatnya untuk turun ke lantai bawah. Dia kembali lagi ke kamarnya.


Echa duduk di atas tempat tidurnya seraya memandang fotonya bersama mamahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ingin dia menumpahkan segala perasaannya namun, kepada siapa? Hanya Mamah dan Papanya yang selalu mau mendengarkan keluh kesahnya.


"Echa kangen Mamah, Echa kangen Papa," gumamnya. Tak terasa air matanya pun jatuh. Dia membenamkan wajahnya di atas lututnya. Isakan tangis lirih pun terdengar.


Amanda yang sedari tadi melihatnya dari pintu kamar yang sedikit terbuka, ikut merasakan kesedihan yang Echa rasakan.


Ingin rasanya aku mendekat, mendekap tubuh mungil yang sedang bersedih itu. Tapi, apalah dayaku? Dia tidak belum bisa menerimaku sekarang. Tante merasakan apa yang kamu rasakan, Cha.


***


Hay,


Tunggu up aku selanjutnya ya, insha Allah hari ini up 3 bab.


Jangan lupa like, komen dan juga vote ya ...


Happy reading ...