Bang Duda

Bang Duda
352. Belut Betina (Musim Kedua)



"Semalam."


Wow!


Sungguh luar biasa jawaban Amanda dan mampu membuat semua mata orang yang berada di sana melebar dengan sangat sempurna.


"Bukan semalam lu sama dia jagain Iyan." Aneh, itulah yang Arya rasakan. Dan hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Rion.


"Lalu?" Bukan hanya Arya yang penasaran, tapi juga semua orang yang berada di sana. Termasuk readers yang udah kebawa emosi. 🤣


"Siapa suami dari ibu ini?" tanya dokter Ribka memotong percakapan Rion dan juga Arya yang terdengar cukup keras di telinganya.


"Saya suaminya, tapi dia (sambil menunjuk Satria) ayah biologis dari anak yang ada di dalam kandungan wanita yang dokter periksa." Dokter menganga mendengar ucapan dari Rion. Sedangkan yang lain hanya mengulum senyum mendengar perkataan Rion. Mempermalukan, itulah tujuan utama Rion. Dan benar saja dua sejoli itu menunduk malu.


"Saya tidak peduli siapa suaminya dan siapa yang menanam benih di dalamnya. Dan saya pastikan, jika ibu Amanda memang hamil. Apalagi sudah tiga bulan ini dia tidak datang bulan," jelas dokter Ribka.


Dalam hati semua orang yang berada di sana bersorak gembira karena tidak lama lagi Rion akan terbebas dari jeratan Amanda. Benci, itulah yang mereka rasakan ketika melihat Amanda.


"Makasih, dok. Atas pencerahannya," ucap Radit sambil mengulurkan tangan.


"Istri dokter tidak ingin diperiksa juga?"


"Tidak, nanti saja. Lagi pula, dia masih dipantau oleh dokter kandungannya." Dokter Ribka pun mengerti. Apalagi melihat Echa yang duduk di kursi roda dengan selang infus di tangannya.


"Kalo begitu, saya permisi." Radit pun mengangguk. Dan mengantarnya hingga pintu depan.


"Semalam? Gimana cara ngelakuinnya?" selidik Arya.


"Apa kayak oreo. Dibuka, dicelup lalu dikeluarin. Tokcer bener dong," gurau Arya.


"Lu tau belut, dia itu seperti belut betina." Sungguh pedas sekali ucapan seorang Rion Juanda mengatai istrinya sendiri.


"Dia kira gua tidur, akhirnya dengan mengendap dia keluar ruang perawatan. Padahal, gua gak benar-benar tidur. Dia ngirim pesan katanya mau beli makanan. Dan gua coba ikutin ternyata ada sebuah mobil yang sudah menunggunya di luar rumah sakit. Mobil itu, sama persis dengan mobil yang berwarna hitam mengkilap yang ada di depan." Ya, mobil yang mereka bawa berwarna putih dan juga merah. Hanya mobil Satria yang berwarna hitam.


"Kalian tahu? Mobil itu bergoyang-goyang layaknya terkena gempa," kekeh Rion.


Semua mata menatap pilu ke arah Rion. Mulutnya mampu tertawa pasti hatinya merasakan sakit yang luar biasa.


"Kenapa Aa diam saja?" tanya Nisa seraya terisak.


"Untuk apa Aa menghalang-halangi. Biarkan saja, mereka bukan anak kecil. Mereka tahu mana yang baik mana yang tidak. Mereka juga tahu akan dosa," sahut Rion tenang.


Nisa dan mamah Dina menitikan air mata mendengarnya. Sakit hati mereka melihat laki-laki kesayangan mereka menahan semua marah, sakit, kecewa seorang diri. Memiliki istri yang senang menjajakan diri demi seonggok materi.


"Jika, Anda masih ragu dengan anak yang ada di dalam kandungan itu. Saya siap untuk melakukan tes DNA. Karena sudah dua tahun saya tidak pernah menyentuh dia," tunjuknya pada Amanda.


"Saya jijik memakai barang bekas dijamah orang lain."


"Maafkan kelakuan adik saya, Rion," sesal Addhitama.


"Ini bukan salah Pak Addhitama. Mungkin ini sudah jalan takdir yang sudah Tuhan tentukan untuk saya." Seulas senyum terukir di bibirnya.


"Saya harap, kamu tidak menyangkut pautkan dengan hubungan anak saya dan juga ...."


"Jangan khawatir, ini tidak ada sangkutannya dengan Radit serta putri saya. Saya tidak akan memisahkan mereka berdua hanya karena masalah saya dengan Omnya. Ini masalah saya dengan Satria, bukan dengan Raditya." Akhirnya, hati Radit benar-benar lega mendengarnya. Echa pun menggenggam tangan Radit karena dia tahu Radit khawatir masalah ini akan berimbas pada rumah tangganya.


"Lalu, bagaimana keputusanmu? Semuanya sudah terjadi, dan sudah menghasilkan benih," ujar Addhitama.


"Ceraikan saja, A. Nisa sangat ikhlas jika Aa bercerai dengan belut betina itu. Karena Nisa tahu, Aa sangat tersakiti di sini," lirihnya.


Rion memeluk tubuh adik satu-satunya ini. Menenangkannya dengan sentuhan lembut tangannya.


"Keputusan Aa memang sudah bulat, tapi Aa juga tidak ingin gegabah. Ada anak-anak Aa yang harus Aa kasih pengertian. Echa sudah dewasa, dia sudah mengerti akan masalah ini. Berbeda dengan Iyan dan juga Riana. Mereka belum paham akan artinya perceraian yang sesungguhnya."


Echa menunduk dalam mendengar ucapan sang ayah. Sangat sakit hatinya. Itu adalah jawaban dari sikap ayahnya yang mampu bertahan dalam kesakitan selama dua tahun ini.


"Aa tidak ingin merusak psikis anak-anak. Sudah cukup, Aa menjadi ayah yang bodoh untuk Echa. Dan sekarang, Aa tidak ingin itu terjadi lagi."


"Yang Aa pikirkan sekarang ini adalah anak-anak. Korban dari kesalahan orangtuanya pasti anak-anak. Dan Aa belum siap untuk dibenci oleh Riana dan juga Iyan. Karena Aa tidak becus menjadi imam yang baik untuk istri Aa."


Ucapan yang sangat menyayat hati semua orang yang mendengarnya. Tak terkecuali Amanda yang sedari tadi tidak berani menegakkan kepalanya. Bagaimana dengan Ayanda? Dia pun menunduk dalam. Dia merasa, Rion seperti dirinya dulu. Ketika dia sudah tidak sanggup dan ingin menyudahi semuanya. Tetapi, berat kepada yang namanya anak. Bertahan, itulah yang dia lakukan meskipun sangat menyakitkan.


"Biar Mamah yang bicara kepada Iyan dan Riana," sahut mamah Dina.


"Tidak perlu, Mah. Biar Aa saja. Riana bukanlah anak yang mudah diajak bicara. Harus memiliki kesabaran ekstra untuk berbicara dari hati ke hati dengan Riana. Biarkan Aa yang akan berbicara kepada putri Aa," jawabnya dengan lembut dengan seulas senyum yang Rion tunjukkan untuk sang mamah.


"Apa lu masih sanggup untuk bertahan?" Arya yang bertanya kali ini. Rion menggeleng, kemudian dia menatap ke arah Satria dan juga Amanda.


"Janin yang ada di dalam kandungan Amanda adalah hasil buah cinta kalian berdua. Maka, bertanggung jawablah. Jangan biarkan anak itu menderita di dalam kandungan sana. Bagaimana pun dia perlu pengakuan, calon anak kalian itu tidak salah apa-apa. Kalian lah yang membuatnya hadir ke dunia ini."


"Amanda, maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi suami yang sempurna untuk kamu. Belum bisa menjadi imam yang baik untuk kamu dan juga anak-anak kita. Aku sudah mencoba untuk bertahan. Namun, kamulah yang merusak harapan. Aku menyerah, dan malam ini aku menjatuhkan talak satu kepadamu, Amanda."


Hening, itulah yang terjadi di ruang keluarga rumah Addhitama. Tidak ada yang bersuara. Apalagi mengucapkan satu atau dua buah kata.


"Besok, aku akan mengembalikanmu kepada Kakakmu."


"Tidak perlu!"


Suara Barito menggema di ruangan tersebut. Seorang pria datang dengan dua orang anak yang sudah terisak.


...****************...


Komen mana komen? Up lagi nih kalo komennya banyak ...