Bang Duda

Bang Duda
259. Riana (Musim Kedua)



Riana pulang dengan wajah sendu. Amanda yang menyapanya pun hanya dijawab singkat oleh Riana. Ada kesedihan di hatinya ketika mengetahui tentang siapa Bundanya. Apalagi ucapan dari wanita itu amatlah membuat hatinya sakit.


"Kamu itu bukan anak kandung dari ayah kamu."


"Kakak, Ri ingin peluk Kakak," lirihnya.


Ketukan pintu membuat Riana dengan cepat menyeka air mata yang sudah menetes. "Kamu kenapa Ri?" tanya sang ibunda.


Riana hanya menggeleng dan mencoba tersenyum ke arah bundanya. "Ri capek, Bun. Ri ingin tidur," imbuhnya.


Riana berucap tanpa mau melihat ke arah sang bunda. Karena bundanya pasti akan tahu jika dia sedang tidak baik-baik saja. Riana tidak bisa berbohong kepada Amanda. Riana merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mencoba memejamkan matanya. Akhirnya, Amanda pun mengalah dan pergi meninggalkan kamar Riana.


Setelah terdengar suara pintu kamarnya ditutup, air mata Riana tak bisa terbendung lagi. Dia masih teringat jelas foto-foto bundanya yang ditunjukkan oleh seorang wanita. Ucapan wanita itu pun sangatlah tajam seperti pisau.


# Flashback On.


Riana baru tiba di sekolah, tapi langkahnya dihadang oleh seorang wanita yang berpenampilan seperti sang Bunda. Dia juga tersenyum ke arah Riana.


"Kamu Riana, ya." Riana pun mengangguk.


Ketika wanita itu ingin menyentuh tangan Riana, namun Riana langsung beringsut mundur. "Jangan takut, Tante bukan orang jahat. Tante ini Tantenya Chika anak kelas empat." Riana pun menatap setiap inchi wajah wanita itu, tidak ada tanda-tanda orang jahat di wajahnya wanita itu.


Riana pun mengikuti wanita itu untuk duduk di kursi tunggu yang disediakan pihak sekolah untuk para wali murid menunggu putra-putri mereka pulang sekolah.


"Tante kenal aku? Padahal aku gak kenal Tante," kata Riana.


Wanita itu hanya tersenyum, tanpa Riana sadari ada seringai licik yang muncul di wajah wanita itu. Wanita itu membuka tas yang dibawanya. Dia menyerahkan beberapa lembar foto kepada Riana.


"Ini foto siapa?" tanya Riana seraya mengernyitkan dahinya.


"Coba kamu lihat pelan-pelan," sahut wanita itu.


Riana menajamkan matanya, dia seperti mengenali orang ini. Matanya melebar ketika melihat foto yang kedua. "Bunda," ucapnya.


Wanita itu pun mengangguk. "Ke-kenapa Bunda pakai pakaian ini?" tanya Riana.


"Bunda kamu bukanlah orang baik. Begitulah pekerjaan Bunda kamu dulu. Tidur bersama laki-laki berbeda setiap harinya demi mendapatkan uang." Riana pun hanya terdiam mendengarnya. Dia mencoba untuk tidak percaya.


"Tante bohong," elaknya.


"Untuk apa Tante berbohong kepada kamu. Itu kamu sudah lihat bagaimana kelakuan Bunda kamu. Pakai pakaian yang tidak pantas dan bermesraan dengan laki-laki yang bukan suaminya."


Riana mencoba untuk tetap tenang, padahal hatinya ingin sekali menangis. Namun, dia masih ingat akan nasihat dari sang Mommy, jika mendengar ucapan yang menjelekkan keburukan orang lain jangan langsung percaya. Bisa saja orang itu membalikkan Fakta yang ada.


"Aku percaya Bunda orang baik. Tidak seperti apa yang Tante katakan," tukasnya.


Wanita itu pun tertawa dan menatap tajam ke arah Riana. "Bunda kamu adalah seorang pembunuh," bisiknya di telinga Riana.


Riana pun tersentak mendengarnya. "Tidak mungkin!" sahut Riana.


"Bunda kamu telah merebut Ayah kamu dari pacar Ayah kamu yang terdahulu. Hingga pacar Ayah kamu itu depresi lalu, bunuh diri," jelasnya.


Mata Riana pun berkaca-kaca mendengarnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya menolak untuk percaya. Tanpa pamit dan tanpa sepatah kata pun, Riana pergi meninggalkan wanita itu dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.


# Flashback off.


"Apa benar yang dikatakan Tante itu?" gumamnya dengan wajah yang nampak terlihat sedih.


Amanda merasa khawatir dengan tingkah Riana yang seperti ini. Hatinya seakan mengatakan jika Riana sedang tidak baik-baik saja. Batin seorang ibu sangatlah kuat.


Hingga menjelang makan malam, Risna tidak keluar dari kamarnya. Setibanya Rion di rumah, Amanda menceriterakan perihal Riana kepada suaminya. Rion hanya menghela napas kasar. Untuk menghadapi Riana itu tidaklah mudah. Riana sangat keras kepala, yang bisa membuat Riana buka mulut hanya Echa dan juga Arya.


Rion pun melaju ke rumah Keysha. Tibanya di sana dia disambut oleh Kano, sedangkan Sheza sedang di kamar Kaza. "Tumben," ucap Kano.


"Key ada?"


"Ngapain lu nyari anak gua?" Rion pun berdecak kesal.


"Lu ada tamu juga, bukannya disuruh masuk." Sedangkan Rion sudah berada di dalam rumah Kano.


"Eh, ada Pak Rion," sapa Sheza yang baru saja keluar dari kamar Kaza.


"Aku mau ketemu Key, Zha," imbuh Rion.


"Oh bentar, saya panggilkan Key dulu."


"Ada apa sih?" tanya Kano.


"Mau nanya tentang Riana, pasti Key tahu sesuatu tentang Riana." Kano pun mengangguk mengerti.


Keysha berjalan bersama Sheza, Keysha sudah tahu pasti Rion akan menanyakan tentang Riana. Dia pun duduk di samping Rion.


"Ayah mau bertanya tentang Riana?" Dijawab anggukan kepala oleh Rion.


"Maaf Ayah, tapi Key harus menanyakan ini kepada Ayah. Karena kata Mommy kalo Key dapat berita dari orang lain tidak boleh langsung percaya begitu saja," katanya.


"Maksud kamu apa Key?" tanya sang Mamih.


"Apa benar Bunda itu ...."


Tiba-tiba ponsel Rion berdering, dan terdengar suara Amanda yang sangat panik. "Iya, Abang pulang sekarang," jawab Rion.


Semua mata menatap ke arah Rion, seolah menanyakan apa yang telah terjadi. "Riana demam tinggi dan tak sadarkan diri." Rion pun bergegas pulang. Kepanikan membuat Rion lupa dengan apa yang akan dia tanyakan pada Keysha.


Setelah kepergian Rion, Kano dan juga Sheza menatap ke arah Keysha. Sorot mata kedua orangtua Keysha seolah meminta penjelasan langsung dari Keysha.


"Maaf, Mih, Pih," ucap Keysha seraya menunduk.


"Ada apa Key?" tanya lembut sang Papih.


"Apa benar Bunda itu seorang pembunuh?" Kano dan Sheza pun tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Keysha.


"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu, Key?" tanya sang Mamih.


Keysha menjelaskan secara rinci kepada kedua orangtuanya. Azkano dan juga Sheza jangan bisa menghela napas kasar.


"Dengar Mamih ya, Key. Kematian seseorang itu pasti terjadi. Dengan cara seperti apa kita mati kita juga gak pernah tahu. Jangan pernah menyalahkan siapapun dalam meninggalnya seseorang. Mungkin itu memang sudah waktunya dia kembali kepada Tuhan, masa hidupnya di dunia ini telah habis." Keysha pun mengangguk, sedari kecil Keysha sudah diajarkan untuk berfikir realistis. Maka dari itu, dia mampu mencerna dengan cepat apa yang dikatakan orang dewasa kepadanya.


Di lain benua, seorang gadis cantik sedang memasukkan beberapa benda ke dalam tas ransel miliknya. "Kamu yakin mau pulang?" Dia pun mengangguk mantap.


"Emang gak bisa ditunda seminggu lagi?" Si gadis itu pun menggeleng.


"Udah beberapa hari ini perasaan aku gak enak, aku teringat Mamah dan Ayah serta adik-adikku."


***


Ada notif Up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun. Bantu aku buat mempertahankan level karya Bang Duda.


Happy reading ....