
Kondisi di kantor Gio berjalan seperti biasanya. Para karyawan sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Begitu juga dengan pemilik perusahaan yang tidak hanya berpangku tangan. Gio pun sedang disibukkan dengan semua laporan yang diberikan Remon. Belum lagi meeting yang menguras banyak waktu.
"Apa saja jadwalku?" Remon menyerahkan iPad di tangannya. Dengan seksama Gio membacanya. Tak lama, dia mengalihkan pandangannya ke layar laptop miliknya.
Ketukan pintu membuat Remon mendengus kesal. Ketika pintu ruangan Gio terbuka, sekretaris Remon dengan wajah penuh ketakutan mencoba untuk berbicara. "Maaf, Pak. Ada ..."
Remon menukikkan kedua alisnya. Meminta penjelasan lebih lagi karena dia tidak memiliki waktu untuk sekedar basa-basi. "A-ada mantan Pak Gio." Mata Remon membesar mendengarnya.
Mantan? Sebuah kata keramat yang tidak ingin Remon dengar. Remon menyuruh sekretarisnya untuk pergi. Sebenarnya Remon bingung bagaimana dia menyampaikan pesan itu. Ragu sekaligus takut yang Remon rasakan. Sebelum berbicara, Remon menarik napas panjang terlebih dahulu. Dia takut, bosnya akan syok mendengarnya. Dan ketika bosnya berada di situasi seperti itu. Remon harus siap menerima caci-maki dari Gio. Sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Remon yang hanya sebagai bawahan dari Gio.
"Bos."
"Ada apa?" Suara yang sangat dingin di telinga Remon. Jawaban yang terlontar tanpa mengubah pandangan Gio ke arah laptop di depannya.
"Ada mantan bos yang ingin bertemu katanya." Remon menutup matanya. Dia takut kena omelan bosnya yang terbilang kejam ini.
Hanya dengusan kesal yang terlontar dari mulut Gio. "Ngapain sih tuh dokter gila nemuin gua," gumamnya.
Remon terdiam mendengar ucapan Gio. Dokter? Remon akhirnya bisa bernapas lega. Ternyata mantan bosnya yang datang itu adalah Sarah. Wanita yang kurang waras di mata Remon. Hingga dia tua pun, Sarah dengan bangganya selalu memperkenalkan dirinya sebagai mantan seorang Giondra Aresta Wiguna. Padahal hubungannya dengan Gio sudah sangat lama terjadi. Semasa Gio kuliah. Dan sekarang umur mereka pun sudah tidak muda lagi. Bagaimana Remon tidak menjulukinya sebagai wanita yang kurang waras jika tingkahnya saja seperti itu. Namun, dalam hubungan Sarah dan Gio. Remon banyak mendapat pelajaran. Sesama mantan tidak harus saling membenci. Dulu pernah terlibat hati, dan kini harus terjalin silaturahmi.
"Bilang, abis pulang kantor aja, gitu." Remon pun mengangguk patuh. Dan dia segera keluar untuk menemui Sarah. Karena dia juga ingin menyelesaikan pekerjaannya yang sangat menumpuk.
Sarah berdecak kesal ketika melihat Remon yang keluar dari ruang CEO. Bukannya Gio.
"Kenapa lu yang keluar? Si Gio mana?" sergah Sarah.
"Katanya abis pulang kantor aja lu nemuin dianya," sahut Remon
"Gak ada di kamus gua, gua harus nunggu lama." Sarah pun menyerobot masuk ke ruangan Gio membuat Remon ingin menarik paksa Sarah dari hadapannya.
"Sombong amat lu," sentak Sarah sambil membanting pintu.
Gio segera mengalihkan pandangannya dan menatap sinis ke arah Sarah yang sedang tertawa bahagia melihat tatapan Gio.
"Biasa aja sih, gua colok pake sumpit tuh mata," ledek Sarah.
"Ngapain lu ke sini?" sinis Gio.
"Mau bicarain masa depan anak-anak kita," jawab Sarah sangat percaya diri.
"Gak Sudi gua besanan sama lu," sahut Gio yang kini sudah meninggalkan pekerjaannya dan duduk di samping Sarah.
"Kampret emang!" dengus Sarah.
"Seriusan, gua mau jodohin anak gua sama salah satu dari si kembar," sambung Sarah.
"Najong!" dengus Sarah dan disambut kekehan dua pria menyebalkan di samping dan di depannya.
"Gak usah ketawa lu, Mon," cerca Sarah. Bukannya diam, Remon malah semakin tertawa mengejek.
"Si Alan emang lu berdua." Sarah melempar bantal ke arah Gio dan juga Remon.
"Lu mah gak ada manis-manisnya sama gua," keluh Sarah pada Gio.
"Dih, emang gua iklan air botolan," sahut Gio.
"Gak kaya bini lu, yang selalu bersikap manis sama gua."
"Kapan lu ketemu bini gua?" tanya Gio penasaran.
"Kemarin kan gua ke rumah lu sama anak perawan gua. Tapi, lu-nya belum pulang. Katanya ada meeting dadakan gitu."
"Oh." Jawaban yang membuat Sarah mendelik kesal.
"Lu meeting apa jajan di luar?"
"Lemes amat mulut lu," geram Gio sambil menutup wajah Sarah dengan bantal sofa. Hingga membuat Sarah tertawa cekikikan.
"Ya kali, lu main belakang. Pengen nyoba suasana baru," goda Sarah lagi.
"Sebejat-bejatnya gua, gua bukan tukang selingkuh. Lu yang pernah lama jalin hubungan sama gua. Apa pernah gua selingkuhin lu?" Sarah menggeleng.
"Itu lu tau jawabannya. Gak usah jadi kompor. Buat apa gua selingkuh, istri gua aja masih kinclong dan bening," ucap Gio. Sarah mengangguk setuju. Tidak ada alasan untuk Gio berpaling. Apa yang kurang dari Ayanda. Di usianya yang hampir setengah abad saja masih sangat cantik seperti wanita yang berusia 30 tahunan.
"Sebenarnya ada satu hal yang gua pengen tahu, Kemarin gua ke rumah lu itu mau nanyain ini. Tapi, lu-nya belum pulang. Mau nanya ke bini lu, gak enak," ujar Sarah di mode serius.
"Apaan?"
"Aksa emang punya pacar?" Gio menggeleng.
"Kemarin Ziva cerita sama gua. Ketika Ziva sama Aksa lagi makan di kantin. Katanya ada cewek yang ngelabrak mereka gitu. Dan parahnya, cewek itu nampar Aksa di kantin yang lagi rame. Suasana kantin seketika hening pas Aksa kena tampar," jelas Sarah.
Rahang Gio mengeras ketika mendengar penjelasan Sarah. Yang membuat Gio marah adalah Aksa ditampar lagi di depan umum. Itu yang akan membuat Aksa tidak mudah untuk melupakan masa lalunya.
"Siapa yang melakukannya?"
****
Happy reading ...