
"Sayang, temuilah Papih mu. Beliau merindukanmu," imbuh Rion ketika sedang memakai jam tangannya.
"Manda belum ingin ketemu, Bang. Rasa sakit itu masih terasa," sahutnya.
Rion pun mengalah, dia tidak akan memaksa tapi dia akan terus membujuk istrinya agar mau menemui papihnya. Rion yakin, jika luka yang digoreskan sang Papih mertuanya amatlah dalam. Sehingga membuat trauma tersendiri untuk Amanda.
Setelah suaminya berangkat ke kantor, Amanda hanya duduk di gazebo belakang dengan tatapan kosong. Bayang wajah papihnya berputar di kepalanya. Ingin rasanya dia memeluk sang papi, tapi egonya masih menolak dengan sangat kuat.
Amanda bukanlah manusia yang sempurna yang bisa dengan mudahnya memaafkan kesalahan fatal yang Papihnya lakukan.
"Pergi kamu dari sini," sentak sang Papih.
Kalimat itulah yang masih terngiang-ngiang di kepala Amanda. Dorongan kuat sang Papih membuat keningnya terluka karena terbentur ujung lantai yang tajam. Darah yang mengucur deras di kening Amanda pun tak Seno hiraukan. Dengan kasarnya dia malah menendang Amanda yang masih tersungkur.
Betapa kejamnya Seno di waktu itu. Amanda hanya seorang anak yang tidak berdosa yang Seno jerumuskan ke kubangan dosa. Setelah puas bermandikan dosa, bukannya Seno merangkul sang putri malah dia acuh seolah tak tahu menahu. Hati anak mana yang tidak sakit diperlakukan seperti itu.
Pengorbanan yang Amanda lakukan hanya dibalas kekejaman. Sang Papih malah asyik menikmati harta yang Amanda perjuangan untuk bersenang-senang dengan istri mudanya.
Tak terasa bulir bening pun jatuh membasahi pipi Amanda. Bibirnya tersenyum tipis, dan dadanya teramat sesak.
"Terlalu sakit jika harus diingat. Namun, tidaklah mudah bagiku untuk melupakannya," gumamnya.
Kali ini, wajah mendiang sang Mamih hadir di pikirannya. Senyum manis sang Mamih dan kelembutan hati sang Mamih membuat Amanda bangkit dari keterpurukannya. Namun, itu hanya sebentar.
Ketika sang Mamih sakit parah, Amanda harus banting tulang mencari uang untuk membiayai pengobatan sang Mamih. Bekerja di sebuah cafe tidaklah mendapat upah yang banyak. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk kembali ke dunia malam. Dunia yang dengan mudahnya mencari uang, tentunya bukan dengan cara yang halal.
Amanda harus bekerja keras untuk membiayai pengobatan sang Mamih yang tidak sedikit. Muncullah fase di mana Amanda kebingungan karena harus membayar biaya rumah sakit yang tidak dia duga sebelumnya.
Mau tidak mau, Amanda pergi ke rumah sang Papih. Tapi, apa yang dia dapat.
"Dasar anak tak tau diuntung, istri penyakitan. Hartaku aku cari dengan susah payah untukku bukan untuk membiayai wanita payah itu," bentak Seno.
Sungguh sakit hati Amanda mendengarnya. Tapi, demi Mamihnya dia tidak pantang mundur. Dia rela merendahkan harga dirinya hingga berlutut di kaki sang Papih dan juga ibu tirinya. Tidak ada yang bisa Amanda lakukan selain itu.
Tendangan demi tendangan, tamparan demi tamparan, pukulan yang tak terhitung jumlahnya tak Amanda rasakan. Biarlah dia tersiksa, yang terpenting Mamihnya bisa dirawat.
Setelah puas menyiksa Amanda, barulah Seno menyerahkan uang yang Amanda butuhkan. Amanda keluar dengan wajah yang sangat memprihatinkan.
Sebelum ke rumah sakit, dia pergi ke rumah sederhana milik sang Mamih. Dia melihat wajahnya di cermin.
"Apa sebegitu hinanya aku? Apa salahku hingga Papih sangat membenciku?" Tangisnya pun pecah.
Itulah di mana Amanda terakhir kali menginjakkan kaki di rumah Sang Papih. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk bekerja keras lagi. Apapun akan dia korbankan demi sang Mamih.
Dalam sehari, Amanda bisa menerima tamu lebih dari lima orang. Dia melayaninya dengan sangat baik sehingga orang itu akan terus memakai jasanya lagi dan lagi.
Sebenarnya tubuhnya lelah, *********** sakit tapi inilah yang harus dia lakukan. Mamihnya harus sembuh dan dia rela mengorbankan dirinya.
Dikucilkan, dijauhi, digosipkan sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya. Dia tidak akan peduli apa kata orang. Karena orang pun tidak peduli akan dirinya.
Hingga satu hari, pengorbanan Amanda harus berakhir. Tuhan lebih menyayangi sang Mamih dan memanggilnya tepat di hari Jum'at ketika adzan Dzuhur berkumandang.
Teriakan histeris pun keluar dari mulut Amanda. Tangisnya pecah dengan sangat kerasnya. "Jangan tinggalin Nda, Mih."
Sebelum menutup mata sang Mamih hanya mengatakan, "kembalilah ke jalan Allah, Nda. Sudah cukup pengorbanan kamu untuk Mamih. Mamih ingin melihat kamu menutup aurat dan jauhi maksiat."
Isakan kecil pun terdengar, otak Amanda seperti memutar kejadian di masa lalu yang sangat amat menyakitkan untuknya.
Mengingat kekejaman sang Papih membuatnya memejamkan matanya. Sakit sekali hatinya.
Plak!
Bugh!
Suara itulah yang sekarang terngiang-ngiang di telinga Amanda. Tendangan, pukulan tangan dan juga benda tumpul pernah menjadi tato yang menghiasi tubuh Amanda.
Seno dan istrinya seakan tak punya rasa kasihan meskipun sudah melihat Amanda tersungkur dan memohon ampun. Apa masih pantas orang seperti itu dipanggil Ayah?
"Lukanya memang sudah hilang, namun bekasnya tidak akan pernah bisa hilang di dalam ingatan, " lirihnya.
Hati Amanda masih berdarah sampai sekarang. Lebih dari 5 tahun dia mencoba untuk melupakan semua tentang Papihnya. Papihnya adalah sumber malapetaka untuknya dan juga sang mamih. Dialah yang membuat Amanda sengsara, kecewa dan juga sangat terluka.
Harusnya, seorang Ayah menjadi cinta pertama untuk anak perempuannya. Tapi, tidak dengan Amanda. Ayahnya menjadi seorang yang sangat dia benci di dalam hidupnya.
Rion terus membujuk Amanda untuk menemui sang Papih. Lagi-lagi Amanda menolak. Dia belum siap untuk menerima luka baru. Luka lama yang dia peroleh pun belum sepenuhnya sembuh.
"Bang, jika Abang ada diposisi Manda, pasti tidak mudah untuk Abang memaafkan Papih," ujarnya.
"Sekejam apa sih Yang Papih kamu?" Rion benar-benar penasaran.
"Cukup Manda aja yang tahu Bang, bagaimana buruknya Papih, bagaimana kejamnya Papih. Ini adalah aib Papih yang harus Manda tutupi," sahutnya. Meskipun Amanda membenci papihnya tapi dia masih mampu menutup segala keburukan papihnya.
Sebenarnya ada kelegaan di hati Rion ketika dia mendengar kabar dari Pak Mat jika Amanda siang tadi pergi ke rumah papihnya. Meskipun tidak turun dari mobil dan dia hanya bertemu dengan perawat papihnya yang tak lain adalah tetangganya dulu.
"Bawa Papih ke rumah saki. Tapi, jangan pernah mengatakan ini semua aku yang biayain." Siti pun mengangguk paham.
"Berikan kabar setiap hari tentang perkembangan Papih," tukasnya.
Rion tahu istrinya tidak sekejam itu. Masih ada rasa sayang yang dia miliki untuk papihnya. Hanya saja luka dihatinya sedikit menutupi rasa sayang itu.
Sebelum tidur, Amanda membeesihkan tubuhnya terlebih dahulu. Amanda bercermin di kamar mandi. Dia menatap lehernya yang tanpa mengenakan hijab. Dilehernya masih ada luka bekas sayatan pisau, lukanya memang samar. Tapi, masih meninggalkan rasa ngilu.
Sebuah pisau buah sudah menyayat leher Amanda ketika Amanda mengamuk di rumah Seno setelah satu hari Mamihnya wafat. Bagaimana emosi Amanda tidak meledak ketika sang Papih menginginkan rumah Mamihnya untuk dijual. Padahal rumah itu adalah rumah peninggalan dari sang nenek.
Jika, Siti tidak berteriak mungkin Amanda sudah mati di tangan Seno. Darah pun mengalir deras hingga Amanda harus dirawat beberapa hari di salah satu rumah sakit.
Luka fisiknya bertambah lagi, apalagi luka hatinya yang mungkin tidak akan pernah bisa terobati. Ketika Amanda dirawat pun, tidak ada yang menanggung biaya rumah sakitnya. Seakan Amanda ini hanyalah anak sebatang kara.
"Manda ikhlas membiayai pengobatan Papih. Tidak perlu Manda menyiksa Papih dulu," imbuhnya dengan air mata yang menetes.
Setiap hari Amanda selalu mendapat kabar dari Siti tentang keadaan Seno. Hanya ucapan syukur yang Amanda panjatkan.
"Setidaknya Manda bisa membalas jasa Papih karena telah memberikan nafkah untuk Manda," gumamnya yang sedang duduk di halaman belakang.
Lamunannya buyar ketika mendengar suara anak gadisnya. Amanda langsung menghampiri Echa di depan.
"Bunda." Echa langsung berhambur memeluk tubuh sang Bunda.
"Gak betah, Bun. Lagian punya pacarnya sibuk banget. Di sana juga bukan liburan malah nemenin dia praktek," sindir Echa.
Radit hanya tersenyum mendengar sindiran Echa sedangkan Amanda hanya menggelengkan kepalanya.
"Riana mana?" tanya Radit.
"Lagi di rumah Beby. Tadi dijemput Mbak Arin."
"Bun, sibuk ga?" tanya Echa.
"Gak, ada apa?"
"Hari ini Echa dan Kak Radit mau ke panti, kunjungan rutin bulanan keluarga Kak Radit," jelasnya.
"Mau dong, Bunda juga bete di rumah." Echa pun tersenyum mendengarnya. Mata mereka berdua terperanjat ketika melihat Radit sudah terlelap di atas sofa.
"Sepertinya dia lelah," ujar Amanda.
"Padat banget kegiatannya, Bun. Kasihan sebenarnya." Echa masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil selimut dan juga bantal. Kaki Radit pun Echa luruskan. Agar badannya merasa nyaman.
Sore hari, setelah Radit bangun mereka berempat pun pergi ke sebuah panti. Sebelumnya mereka mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli berbagai makanan dan juga sembako.
"Ini kegiatan rutin, Dit?" tanya Amanda.
"Iya, Tante. Biasanya Papih yang datang, tapi hari ini Papih berhalangan hadir makanya Papih nyuruh aku," sahutnya.
Setelah selesai berbelanja, Radit melajukan mobilnya lagi ke arah panti. Mata Amanda melebar ketika yang Radit datangi bukanlah panti asuhan. Melainkan panti jompo.
"Bun, ayo turun," ajak Amanda.
Amanda yang dari tadi diam saja pun, kini mulai keluar mobil. Seperti dipukul dengan benda tumpul hatinya diajak ke tempat ini. Tempat di mana para lansia dititipkan dan dirawat di sini.
Kedatangan Radit disambut oleh sepasang paruh baya. Mereka menyambut Radit dengan penuh kehangatan.
"Sudah lama sekali Nak Radit baru ke sini," imbuh Pak Tejo dan juga Bu Kar.
"Maaf Bu. Saya sibuk," imbuh Radit seraya tersenyum manis.
"Ini sopo, Dit?" tanya Bu Kar sambil menunjuk Echa.
"Ini Echa Bu." Echa pun tersenyum ke arah dua orang paruh baya tersebut.
"Pacarmu?" tanya Pak Teji.
"Sekarang masih pacar, tapi berniat untuk serius kok." Wajah Echa pun mulai blushing mendengar ucapan sang kekasih.
Setelah berbasa-basi mereka masuk ke halaman belakang melihat banyak paruh lansia yang sedang melakukan aktifitasnya masing-masing.
"Radit," panggil salah seorang lansia.
"Kakek Dito," sahut Radit sambil mencium tangan Pak Dito.
"Semakin tampan kamu," ujarnya. Radit pun hanya tertawa. Tak lupa, Radit mengenalkan Echa dan juga Amanda serta Riana. Mereka pun berbincang hangat di bawah pohon rindang.
Pak Dito ini sepertinya berumur 70 tahun. Namun, dia masih sehat dan bugar.
"Beliau ini dengan keinginan sendiri masuk ke panti ini. Padahal beliau bukanlah orang biasa," jelas Radit.
"Kakek malu Dit, Kakek tidak pantas hidup bersama anak-anak Kakek."
"Kenapa?" tanya Echa.
"Dulu, Kakek itu bukanlah ayah yang baik untuk mereka. Semenjak kepergian istri Kakek, Kakek menjadi pemain wanita. Dan sering sekali Kakek menyiksa kedua anak Kakek jika, mereka meminta sesuatu kepada Kakek. Padahal uang Kakek ada, tapi hati Kakek seakan tidak mengizinkan untuk mereka memakai uang Kakek."
"Anak Kakek tahu kalo Kakek di sini?" Pak Dito mengangguk cepat.
"Mereka setiap bulan datang ke sini, membawakan Kakek makanan dan tidak pernah bosan mereka membujuk Kakek untuk tinggal bersama mereka. Tapi, Kakek tetap tidak mau."
"Papa," panggil dua orang wanita seusia Amanda. Pak Dito pun tersenyum ke arah kedua putrinya.
Dua wanita itu mencium tangan Pak Dito dengan penuh cinta. Apalagi, mereka berdua membawa banyak sekali makanan untuk sang papa.
"Kenalkan, ini Ziva dan Zavina." Kedua putri Pak Dito pun tersenyum ke arah Radit, Echa serta Amanda.
Melihat keakraban Pak Dito dan kedua putrinya membuat hati Amanda merasa perih. Seperti tersentil hatinya saat ini.
"Kakak, aku boleh nanya gak?" ujar Echa.
Ziva dan Zavina pun mengangguk. "Kata Kakek, dulu Kakak berdua sering disiksa Kakek. Apa Kakak-kakak ini tidak membenci Kakek?"
Kedua putri Pak Dito hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Echa. "Benci pasti pernah, bohong kalo nggak," sahut Ziva.
"Semakin kami dewasa usia Papa semakin menua. Melihat tubuh renta Papa, garis keriput Papa, tubuh ringkih Papa membuat rasa benci yang ada di hati aku hilang. Berganti dengan rasa sayang berlebihan," jelas Ziva.
"Sebenci-bencinya kami sebagai anak, Papa tetaplah ayah kandung kami. Yang telah membesarkan kami, memberi kami makan, menyayangi kami. Darah Papa mengalir pada tubuh kami. Dan kami tidak bisa menolak itu." Zavina menjeda ucapannya.
"Lebih baik berdamai dengan rasa benci itu. Apalagi semakin hari Papa semakin tua dan kami tidak tahu kapan Tuhan akan mengambil Papa dari kami. Di situlah aku dan Ziva mencoba memberikan yang terbaik untuk Papa semampu kami berdua. Membahagiakan Papa selagi Papa masih diberi kesehatan. Karena aku gak tau, bagaimana aku tanpa Papa? Kekejamannya memang menggoreskan banyak luka, tapi kasih sayangnya tidak terkira untuk aku dan juga Ziva," terang Zavina seraya memeluk tubuh sang Papa.
"Maafkan Papa, Zi, Za," kata Pak Dito.
"Semua orang pasti punya kesalahan Pa. Kami tidak pernah menyimpan dendam kepada Papa. Berkali-kali Papa menyiksa kami, kami selalu memaafkan Papa meskipun kami juga membenci papa," ujar Ziva sambil tertawa.
Melihat kedekatan dan kehangatan Pak Dito dan kedua anaknya, membuat suasana menjadi haru.
"Dari Kakak-kakak ini aku dapat pembelajaran. Sebenci apapun kita kepada sang Ayah beliaulah tempat sang anak untuk kembali. Dan sekejam apapun ayah terhadap sang anak, beliau tetaplah ayah kita. Orang yang berjuang untuk membesarkan kita hingga kita bisa tumbuh seperti sekarang ini."
Hati Amanda terasa terpukul mendengar penuturan Radit. Dia juga ingin seperti anak-anak Pak Dito yang memeluk hangat ayahnya. Tak peduli bagaimana kejamnya Pak Dito, bagaimana rasanya disiksa oleh ayah kandungnya.
Papih ....
***
Kangen gak sama aku?
Mon maap, otak dari semalam gak bisa diajak mikir🙏