Bang Duda

Bang Duda
383. Bibir Sumbing



"Bunda?" ulang Echa. Dengan cepat, Riana menggeleng.


"Hanya mirip Bunda," lirihnya.


Echa menghela napas lega. Sesungguhnya dia belum siap untuk bertemu dengan mantan ibu sambungnya. Riana dan Echa terus melangkahkan kaki mereka. Di lorong cukup sepi, Echa terperanjat ketika ada yang menariknya dengan kasar dan membenturkan tubuh bagian belakang Echa ke arah tembok. Hingga Echa mengaduh cukup keras. Riana segera menoleh ke belakang. Matanya melebar ketika melihat seorang wanita yang dengan kasarnya memukul perut bagian bawah Echa.


"Agar kamu bisa merasakan yang namanya sepsis," ujar wanita yang masih menggunakan cadar.


"Hentikan!" seru Riana.


Echa sudah terkulai lemah. Bagaimana tidak, bekas luka operasi yang menjadi sasaran pukulan dari wanita tersebut.


Riana sudah ketakutan apalagi melihat sang kakak lemah tak berdaya. Hanya terus meringis dan meringis.


"Riana," panggil lirih wanita itu.


Wanita itu berkaca-kaca, berbeda dengan Riana yang sangat membencinya. Dengan kasar, Riana menarik cadar yang dipakai wanita itu.


"BUNDA JAHAT! BUNDA BUKAN IBU RIANA. BUNDA IBLIS."


Sakit, itulah yang Amanda rasakan. Apalagi anaknya malah memilih menolong sang kakak yang hampir pingsan.


Dengan gerakan cepat, Amanda menarik tangan Riana dan membawanya menjauh dari Echa.


"Kakak!" teriak Riana ketika Echa mulai tak sadarkan diri sedangkan Riana ditarik semakin jauh oleh sang bunda. Air mata Riana mengalir begitu deras.


Ketika Amanda membuka pintu mobil. Riana dengan kerasnya menggigit tangan Amanda. Amanda menjerit kesakitan dan ini kesempatan untuk Riana pergi dari Amanda.


Ketika sampai di lorong yang tadi, wajah Riana semakin memucat ketika tubuh sang kakak sudah tidak ada.


"Kakak," lirihnya.


"Kakak kamu dibawa ke IGD. Tubuh Riana luruh ke lantai. Tangisnya pecah dan terdengar sangat menyayat hati.


"Kakak kamu pasti baik-baik saja," ucap seorang laki-laki yang tengah mengusap lembut pundak Riana. Sedangkan di tangan yang sebelahnya dia sedang menggendong seroang bayi.


"Ayo, Om antar ke IGD." Riana pun mengikuti langkah Satria.


"Maafkan Ri," ucap Riana ke arah Radit dan juga Addhitama. Serta Rindra bersama istrinya.


Semua mata tertuju ke arah Riana yang tengah tertunduk dengan punggung terlihat bergetar.


"Ini bukan salah kamu, Ri," ucap Addhitama sambil memeluk tubuh Riana.


"I-ini semua ulah Bunda." Ucapan Riana sontak membuat Raditya geram.


"Akan ku bunuh kau, Amanda." Emosi Radit sudah memuncak.


"Tenang dulu, Dit. Echa pasti baik-baik saja. Dan Papih akan mengerahkan semua anak buah Papih untuk menjaga anak-anak kamu."


Bukan ketenangan yang Radit dapatkan. Rasa khawatir kini memenuhi hatinya.


"Kalo begitu, aku pulang, ya, Bang. Kasihan dedek bayinya," ujar Satria. Ya, di sana hadir juga Satria.


"De-dek bayi?" Riana segera memandang ke arah Satria. Langkahnya mulai mendekati anak yang sedang digendong Satria. Matanya melebar ketika melihat bibir adiknya tidak sempurna.


"I-ini ...."


"Ya, anak Om mengalami cacat dari lahir. Bibirnya sumbing," timpal Satria.


Mungkin ini karma yang harus anak Satria terima akan kesalahan ibunya. Atau juga, ini adalah karma untuknya karena telah merenggut kebahagiaan dua anak yang tidak tahu apa-apa.


Riana hanya terpaku. Menatap dengan tatapan nanar. Sedih, pastinya dia rasakan.


"Jangan khawatir, ini bisa sembuh kok. Nanti ada beberapa prosedur operasi yang harus dilakukan."


Setelah berpamitan, Satria keluar dari rumah sakit dan menuju parkiran . Dia sudah dijemput oleh sopir pribadi. Baru saja hendak masuk, anak yang ada di tangan Satria diambil dengan paksa oleh seorang wanita yang memakai pakaian serba hitam.


"Anakku!"


...****************...


Komen yang banyak aku akan crazy up ...