Bang Duda

Bang Duda
196. Tidak Boleh Egois



Senyum kebahagiaan melengkung indah di wajah para sahabat Beby. Terlebih Azka yang sudah berkaca-kaca. Selama empat tahun ini Beby selalu menumpahkan kesedihannya kepada Azka. Dari kesedihan berubah menjadi ketakutan ketika waktu terus berjalan. Sedangkan dia masih belum bisa hamil juga.


Beby manusia biasa, dia juga pernah ingin menyerah. Namun, Azka dan Gio selalu menguatkannya. Dua pria yang selalu membuatnya kuat untuk menghadapi segala ujian hidup yang dia lalui.


"Pih, Papih nangis," ucap Sheza ketika melihat Azka menyeka sudut matanya.


"Papih hanya bahagia Mih mendengar kabar Beby hamil. Mamih tau kan, bagaimana Beby selama empat tahun ini. Dia berubah menjadi wanita yang murung tapi, jika di depan suaminya dia akan berubah menjadi wanita yang kuat."


"Papih tau bagaimana perjuangannya untuk bisa hamil. Papih tau bagaimana sakitnya dia ketika dia divonis oleh dokter. Dia adik Papih satu-satunya, dan ikatan batin kami sangat kuat. Ketika Beby sedih pasti Papih pun akan ikut sedih."


Sheza merangkul lengan Azka dan meletakkan kepalanya di bahu sang suami. "Sekarang tugas kita menjaga Beby dan juga bayinya. Supaya anak yang dikandung Beby lahir dengan selamat ke dunia," imbuhnya.


"Pasti, Papih akan menjaga Beby dan calon keponakan Papih. Makasih, sudah menyayangi Beby seperti adik Mamih sendiri," ucap Azka yang kini telah menatap istrinya.


"Itu sudah kewajiban Mamih, menyayangi Papih berarti harus menyayangi keluarga Papih juga." Azka memeluk erat tubuh Sheza dan mengecup ujung kepalanya.


Sedangkan Rion dibuat rusuh oleh sang putri. Putrinya benar-benar tidak mau jauh darinya. "Ri, sama Mbak ya," pinta Rion.


"Ndak, mau tama Ayah," ucap Riana yang berada dipangkuan Rion.


"Yang lain mah bisa berduaan, kita mah malah bertiga. Kan gak leluasa," bisik Rion. Amanda hanya tersenyum mendengar ucapan sang suami.


"Ayah rindu berdua, Bun," bisiknya lagi.


"Sabar Ayah," sahut Amanda.


"Bun, ndak boleh detet Ayah. Ini Ayah Li," ucap Riana dengan bahasanya.


"Bukan Bunda yang deketin, tapi Ayah yang deketin Bunda," balas Amanda.


Riana membalikkan tubuhnya menghadap sang ayah. Menatapnya dengan marah. Rion pun tertawa dan menciumi putri kecilnya.


"Maaf, Ayah lupa," canda Rion. Wajah Riana semakin murka mendengar ucapan dari ayahnya. Dan itu yang membuat Rion dan Amanda gemas sekali kepada putri kecil mereka.


Ada sepasang mata yang sedang memperhatikan keluarga kecil itu. Matanya sudah berkaca-kaca.


Seusia Riana aku hanya mendapat kasih sayang Mamah. Tidak pernah mendapat sentuhan hangat dari ayah kandungku sendiri. Malah, orang lain yang aku sebut Papa yang memberikanku kasih sayang yang tulus seperti kasih sayang Ayah kepada putrinya.


Echa menghela napas kasar, dia menyeka ujung matanya. "Don't klay," ucap si Abang yang sedang digendong pengasuhnya.


Echa pun tersenyum dan mengambil Ghassan dari gendongan pengasuhnya. "Si Abang biar sama aku aja." Pengasuh pun menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan Ghassan dan juga Echa.


"Aban dak tuka tata nanis," ujarnya.


"Kakak gak nangis, Abang," kilah Echa.


"Aban tayang tata," ucapnya sambil memeluk tubuh Echa.


Echa benar-benar terharu melihat sikap adiknya kepadanya. Meskipun beda Ayah, tapi sifat Ghassan sama seperti Gio. Tulus menyayanginya.


Setelah sampai di Singapura, mereka dijemput oleh sopir pribadi keluarga Wiguna. Ada empat buah mobil mewah yang berjejer di sana. Mobil-mobil itu akan membawa tiga keluarga kecil itu menuju kediaman Genta Wiguna.


Suasana rumah mewah Genta Wiguna kini ramai sekali. Gelak tawa, tangis dari para balita membuat rumah ini bernyawa.


"Anak durhaka," sentak Genta pada Gio.


Gio hanya tertawa dan memeluk tubuh ayahnya dengan sangat erat. "Gi janji, nanti akan sering nengok Ayah ke sini," imbuhnya.


Genta tersenyum melihat putranya yang telah menjadi seorang Ayah yang luar biasa. Genta beralih pada cucu kesayangannya yaitu Echa.


"Miss you cucu Kakek," kata Genta.


Echa memeluk tubuh Genta dengan eratnya. "Miss you too, Kek."


Ghassan dan Gatthan sedang menarik-narik celana sang kakek menatap ke arahnya dengan wajah sedih.


"Ya ampun, kalian juga cucu kesayangan Kakek," ujarnya pada si kembar dan memeluk mereka berdua.


Ghassan menarik tangan Echa. "Tini, piyuk," ajaknya agar memeluk tubuh kakeknya.


Hati Rion tersentil melihat Echa, si kembar dan juga Genta. Semenjak kehadiran Riana, kasih sayang Rion hanya dia berikan kepada Riana. Dia seolah sudah lepas tangan kepada Echa.


"Kalian istirahat, pasti capek," imbuh Genta kepada semuanya.


Mereka memiliki kamar masing-masing di rumah ini. Echa menuju lantai atas di mana kamarnya dahulu. Dia merebahkan tubuhnya. Memejamkan matanya sejenak.


Aban tayang tata. Ucapan itu yang terngiang-ngiang di kepala Echa. Seorang bocah tiga tahun yang dengan tulus mengucapkan kalimat itu.


Di kamar lain, Gio dan Ayanda sedang duduk di sofa. "Dad, apa Mommy saja merasakan hal ini?"


Gio mengerutkan dahinya tak mengerti. "Meraskan apa?"


"Semenjak Riana lahir, kasih sayang Mas Rion selalu difokuskan pada Riana. Dia tidak pernah menanyakan tentang Echa," terangnya.


"Biarkanlah Mom, yang penting kita selalu mengajarkan si kembar untuk menyayangi Kakaknya. Meskipun mereka berbeda Ayah," sahutnya.


"Tapi, Mommy melihat ada gurat kesedihan di mata putri kita Dad," lirihnya.


"Itulah kenapa Daddy menyuruh Mommy untuk memakai pengasuh, supaya kasih sayang dan perhatian Mommy tidak terfokus pada si kembar saja. Kita masih memiliki putri yang sudah beranjak dewasa. Memerlukan perhatian dan kasih sayang lebih dari kita."


Ayanda memeluk tubuh Gio. "Makasih sudah memberikan kasih sayang yang sangat tulus dan besar kepada putri Mommy. Meskipun dia bukan darah daging Daddy, tapi Daddy selalu menyayanginya. Meskipun, si kembar sudah lahir tapi kasih sayang Daddy terhadap Echa tidaklah berubah. Makasih banyak, Daddy."


Gio mengecup ujung kepala istrinya. "Tidak perlu berterimakasih, Daddy menyayangi Echa sudah sedari Echa kecil. Dia sudah Daddy anggap seperti anak kandung Daddy sendiri," ucapnya.


Suara pintu terbuka membuat Gio dan Ayanda melepaskan pelukan mereka. Dua bocah laki-laki sedang berlari ke arah mereka.


"Sudah mainnya?" tanya sang Mommy. Si kembar hanya mengangguk.


"Dad, Mom, tata tadi nanis di cawat," imbuh Ghassan.


Ayanda dan Giondra hanya saling tatap. Ada apa dengan putri mereka?


"Kakak nangis karena Abang?" tanya Gio.


"Nyo," jawab Ghassan sambil menggelengkan kepalanya.


"Ade dak tuka bebi Li," imbuh Gatthan yang sudah mau berbicara.


"Why?" tanya sang Daddy.


"Tata nanis talna dia. Yayah ana tayang Li dak tayang tata," jelas Gatthan.


Gatthan memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Ghassan. Dia lebih pendiam dari Ghassan dan lebih cool. Hanya saja, ketika dia tidak menyukai seseorang dengan sendirinya mulutnya akan berbicara tanpa diminta. Dan dia akan menjelaskan alasannya kenapa tidak suka. Meskipun masih sangat kecil dia sudah kritis.


Ayanda hanya menghela napas kasar. Apa yang dia takutkan terjadi. Pasti Echa sangat sedih. Ayah yang selalu dekat dengannya, menjadi tempat mengadu untuknya. Kini, seakan menjauh darinya.


"Dengar Daddy, Abang dan Adek harus menyayangi Kakak. Tidak boleh nakal dan jahat kepada Kakak. Harus melindungi Kakak karena Abang dan Adek adalah laki-laki. Tugas laki-laki melindungi perempuan. Sama halnya Daddy melindungi Mommy," terang Gio.


Si kembar pun mengangguk. Sedari kecil si kembar sudah diajari tanggung jawab. Agar ketika dewasa dia tumbuh menjadi pria yang selalu bertanggung jawab di manapun dan kepada siapa pun.


Sore hari mereka berkumpul di halaman belakang. Rumput-rumput hijau menjadi arena bermain anak-anak balita itu. Mereka sangat asyik bermain bersama. Riana terjatuh dan menangis. Dengan sigap Rion membangunkan putrinya dan membujuk putrinya yang sedang menangis agar tidak menangis lagi dan bermain bersama yang lain.


"Kamu adalah anak yang kuat bukan anak yang cengeng," imbuh Genta. Echa tersenyum ke arah kakeknya.


"Kakek tau, ada rasa iri yang menjalar di hati kamu," ujarnya.


Genta membelai rambut cucunya. "Ketika kamu jatuh seperti itu dan terluka, Papa Gi yang sangat khawatir dengan kondisi kamu. Tapi, kamu malah tertawa. Dan kembali bermain."


"Kamu adalah makhluk kecil yang membuat suasana rumah Kakek berwarna. Papa Gi yang tidak pernah pulang pun karena kehadiran kamu selalu pulang cepat. Ingin bermain bersama kamu, bercanda sama kamu."


"Kamu adalah malaikat hati Kakek. Kamu kesayangan Kakek. Jadi, jangan pernah iri kepada siapapun. Kasih sayang ayahmu kepada anaknya itu tidak sebanding dengan kasih sayang Kakek, Papa dan Mamahmu yang sangat besar dan tulus kepada kamu, Sayang. Kamu adalah anak yang dipenuhi jutaan kasih sayang."


"Love you, Kek." Echa memeluk tubuh Kakeknya.


Dan kali ini, Ayanda akan berbicara empat mata dengan mantan suaminya. Agar mantan suaminya peka terhadap perasaan putrinya.


"Mas, bisa kita bicara sebentar," ucapnya.


Rion yang sedang memangku Riana pun menoleh ke arah Ayanda. "Ada apa?" tanyanya.


"Tentang anak kita." Jawaban dari Ayanda membuat Rion dan Amanda terdiam. Azka dan Sheza hanya menatap ke arah mereka.


"Tunggu Riana tidur dulu," imbuh Rion.


"Mommy," panggil si Abang yang sedang berlari ke arah Ayanda.


"Sudah main sama Kakaknya?" Ghassan mengangguk pelan.


"Adek di mana?" tanya Gio.


"Tamal tata."


"Mommy ... tadi tata tana, aban tayan tata dak? Ban dawab tayan. Adek tuda tawab tayan tata. Telus, tata nanis peyuk ban ama Adek," tutur Ghassan dengan bahasanya.


"Kenapa Kakak menangis?" tanya Gio.


"Tata tenang, ban ma Adek tayan tata. Pel ... Pel ... ha ... tian ma tata. Titu tatana."


Rion dan Amanda terus terdiam mendengar ocehan putra pertama Giondra itu. Anak-anak Gio sangat sayang kepada Echa sedangkan Riana seperti musuh jika melihat Echa.


Dan dia sadar, sudah dua tahun ini jarang sekali dia berbincang dengan putri pertamanya itu. Kehadiran Riana membuat Rion lupa jika dia memiliki seorang putri yang membutuhkan kasih sayangnya juga.


"Mommy," panggil Gatthan.


"Udah mainnya?" Gatthan mengangguk.


"Tata bobo," ujarnya.


"Kalo begitu, Abang sama Adek juga sekarang harus bobo, ya. Akan Daddy bacakan dongeng untuk kalian."


"Yey," sorak si kembar.


Gatthan selalu memandang sengit ke arah Riana. Dia tidak pernah sekalipun bersikap manis kepada Riana. Entah apa yang menjadi alasannya. Hanya Gatthan yang tahu.


Setelah Riana tertidur, Rion menghampiri Ayanda di ruang keluarga. "Ada apa, Dek?" tanya Rion.


"Mas, tolonglah perhatikan Echa. Selain Riana, Mas juga memiliki putri lain. Yaitu, Echa." Rion terdiam, mulutnya terkunci.


"Kapan terakhir Mas ngobrol sama Echa?"


"Sudah sangat lama," jawabnya.


Ayanda menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Mas, Mas pasti tahu bagaimana watak anak kita. Dia tidak akan mengungkapkan isi hatinya dan dia hanya akan memendamnya seroang diri."


"Aku bisa lihat dari matanya menyimpan kesedihan yang mendalam ketika Mas bermain dengan Riana dan memanjakannya. Mas tahu kan, putri kita kurang kasih sayang dari Mas. Mungkin, rasa iri sedang memenuhi hati dan pikirannya. Putri kita sudah remaja, Mas. Mood-nya selalu berubah-ubah. Jadi, tolonglah berikan perhatian Mas untuk Echa sedikit saja. Dia juga putri kandung Mas."


Sungguh sesak yang Rion rasakan mendengar penjelasan dari Ayanda. Dia baru menyadari, menebus kesalahannya di waktu lalu kepada Riana tidaklah salah. Hanya saja kefokusannya kepada Riana membuatnya lupa jika Echa lah yang harus diberi kasih sayang yang lebih.


"Aku dan Gio selalu berusaha untuk adil. Menyayangi si kembar dan juga Echa dengan kasih sayang yang sama. Meskipun Gio bukan ayah kandung Echa, tapi dia sangat tulus menyayangi Echa melebihi kasih sayangnya kepada si kembar."


"Aku tidak akan memaksa, Mas. Aku hanya berbicara apa adanya. Jangan lupakan anak kita meskipun Mas sudah memiliki putri lagi."


Ayanda meninggalkan Rion seorang diri. Hatinya tak kuat jika harus membahas masalah Echa. Dia melangkahkan kaki menuju kamar Echa. Kamar Echa hanya berhiaskan cahaya temaram.


"Meskipun Ayah sudah jarang memperhatikanmu, masih ada Mamah dan Papa yang akan terus menyayangi dan memperhatikanmu. Jangan pernah bersedih, Sayang. Sedih mu adalah kegagalan untuk Mamah dan Papa dalam membahagiakanmu."


Ayanda mengecup kening Echa. Dia langsung bergegas keluar dari kamar Echa karena air matanya sudah tak mampu dia bendung.


Setelah pintu kamarnya ditutup, Echa bangkit dari tidurnya dengan air mata yang sudah menetes. "Makasih Mamah dan Papa selalu ada untuk Echa. Selalu berusaha membuat Echa bahagia. Makasih banyak," lirihnya.


Air matanya terus membanjiri pipinya. Dan kejadian beberapa bulan lalu melintasi kepalanya.


# flashback on.


Echa sedang menginap di rumah Rion. Ingin sekali Echa bercerita kepada sang ayah perihal kisahnya bersama Radit. Namun, ayahnya sangat sibuk dengan Riana. Satu jam, dua jam dia menunggu ayahnya tapi, tak kunjung ayahnya keluar dari kamar Riana.


Echa pergi ke ruang makan dan bertemu dengan Amanda. "Bun, apa Ayah masih lama?" tanyanya pada Amanda.


"Ngapain sih kamu dari tadi nanyain Ayah terus. Udah tahu Riana itu manja sama Ayahnya. Ayah kamu gak akan keluar kamar sebelum Riana tidur." Jawaban yang terdengar ketus di telinga Echa. Echa hanya membalasnya dengan seulas senyum. Meskipun hatinya sedikit teriris dengan perkataan Amanda.


Echa sudah mengirimkan pesan kepada ayahnya. Hanya dibaca saja tanpa dibalas. Hingga larut malam Echa menunggu Rion di gazebo halaman belakang. Hingga dia tertidur dan Mbak Ina lah yang mencoba membangunkannya.


"Neng, di sini dingin. Pindah ke kamar Neng aja," ujar Mbak Ina.


"Apa Ayah sudah keluar dari kamar Riana?"


"Sudah Neng, Bapak sudah masuk ke kamarnya." Hati Echa terasa sakit mendengar semuanya. Selama berada di kediaman Rion, dia seperti orang asing yang selalu diabaikan.


Pagi pun tiba, Ayahnya sama sekali tidak menyapanya dan malah asyik bermain dengan Riana.


"Yah, Echa langsung berangkat ya. Soalnya sekarang bagian upacara, takut telat." Echa mencium tangan kedua orangtuanya bergantian dengan seulas senyum di bibirnya.


Baru selangkah keluar dari rumah sang ayah air matanya luruh juga. "Aku gak boleh egois, sekarang sudah ada Riana. Dan aku harus mandiri," lirihnya sambil mengusap air mata di pipinya.


# flashback off.


"Andaikan Papa adalah Ayah kandungku, mungkin kebahagiaan ini akan sangat sempurna," lirihnya dengan air mata yang menetes.


*****


Bab ini 2155 kata loh ...


Apa kalian puas bacanya?


Ini sebagai ucapan terimakasih atas kesetiaan kalian membaca karya Bang Duda ini. Berkat kalian level karya Bang Duda menaiki level 10. Makasih banyak sayang ....


Di sini kalian tidak usah membeli koin, hanya bermodal kuota jadi, untuk mendukung karyaku ini aku hanya meminta kepada kalian semua jika bab baru terbit tolong jangan ditimbun ya. Langsung baca terus like dan komen, permintaan ku simple kok hanya itu.


Terimakasih atas dukungannya kalian ...


Aku makin lope kalian ....