Bang Duda

Bang Duda
207. Meninggalkan



Ketika Echa sudah terlelap dan Radit pun sudah berbaring di sofa. Amanda memberanikan diri untuk masuk ke ruang perawatan Echa.


Dia berdiri di samping tempat tidur Echa dan menatap Echa dengan tatapan penuh rasa bersalah. Melihat wajah damai Echa membuat hati Amanda sangat teriris.


"Maafkan Bunda, Cha," lirihnya.


"Makasih udah mau menyelamatkan Bunda dan juga Riana. Bunda sudah salah menilai kamu, Cha. Kamu adalah anak yang benar-benar baik. Wajar jika Ayahmu sangat menyayangi kamu."


Amanda mengecup lembut kening Echa. "Bunda akan pergi, Bunda yakin kamu dan Ayah kamu bisa menjaga Riana dengan baik. Bunda tidak pantas berada bersama kalian. Manusia-manusia yang berhati baik, sedangkan Bunda hanyalah manusia yang penuh dengan kedengkian. Cepat sembuh, Cha. Bunda sayang kamu."


Amanda pun meninggalkan kamar perawatan Echa dengan bulir bening yang tak hentinya menetes. Dia merasa sangat tidak pantas hidup diantara orang-orang baik seperti Ayanda, Gio, dan juga Rion.


Pagi harinya, Echa ingin ke kamar mandi. Dia tidak ingin membangunkan Radit yang masih terlelap. Ketika dia turun ada sebuah amplop putih yang terjatuh. Di amplop itu tertulis namanya.


Echa duduk di samping tempat tidur, dan membuka amplop itu. Ada lipatan kertas di dalamnya.


Assalamualaikum ...


Maafin Bunda ya, Cha. Selama ini. Bunda sudah berburuk sangka kepadamu. Bunda sudah jahat kepadamu, padahal kamu begitu baik kepada Bunda. Kamu rela mempertaruhkan nyawa kamu demi Bunda dan juga Riana.


Bunda merasa malu, kejahatan Bunda masih bisa kamu balas dengan kebaikan hati kamu. Bunda tidak pantas menjadi ibu untuk kamu. Bunda tidak pantas berada di samping kalian yang berhati sangat baik. Sudah menerima segala kekurangan Bunda dan juga masa lalu Bunda.


Sebagai tanda terima kasih Bunda kepada kamu, Bunda akan pergi dari hidup kamu dan ayah kamu selamanya. Bunda tidak pantas berada diantara kalian. Bunda yakin, Ayah kamu dan juga kamu bisa membesarkan Riana dengan sangat baik. Mendidik Riana seperti kamu, menjadi anak yang baik dan juga berhati lapang. Bunda tidaklah pantas disebut sebagai seorang ibu. Tidak ada ibu yang akan menyuruh anaknya untuk membenci saudaranya, kecuali Bunda. Bunda telah jahat, telah membuat Riana membencimu dan menjauhimu.


Sekali lagi maafkan Bunda, Cha. Meskipun kata maaf dari Bunda tidak akan pernah bisa merubah apa yang telah terjadi. Bunda tahu, kamu belum bisa memaafkan Bunda. Bunda memang patut untuk dibenci.


Bunda pergi Cha, sampaikan salam Bunda untuk Riana. Bunda sangat menyayangimu dan juga Riana.


Wassalamu'alaikum ...


Air mata Echa menetes ketika membaca akhir surat ini. Echa langsung menghubungi ayahnya.


Sedangkan Rion sedang menunduk dalam menatap surat yang diberikan oleh Amanda.


Assalamualaikum ...


Bang, makasih sudah mau menerima Manda jadi istri Abang. Telah mau memperistrikan Manda yang berasal dari tempat kotor. Maaf, telah membuat Abang kecewa. Manda bukanlah ibu yang baik untuk Echa dan juga Riana. Manda hanya ibu tiri yang kejam. Dan juga Manda bukanlah istri yang baik untuk Abang.


Dengan kejadian yang menimpa Echa, Abang pasti semakin membenci Manda. Manda terima dengan lapang dada. Dari pada Manda terus menerus menjadi benalu di hidup Abang, ijinkan Manda pergi dari hidup Abang. Tolong jaga Riana dan besarkan dia dengan penuh kasih sayang. Didiklah dia agar memiliki hati seperti Echa.


Hari ini, Manda sudah menyerahkan berkas perceraian ke pengadilan. Semoga prosesnya bisa cepat selesai. Agar Abang bisa terlepas dari Manda. Oiya, semua kartu pemberian dari Abang Manda simpan di laci beserta dompetnya. Serta semua surat rumah dan juga mobil ada di dalam laci.


Manda pamit, Bang. Assalamualaikum ....


Hati Rion benar-benar terpukul membaca surat ini. Dia memang masih marah kepada Amanda tapi, dia tidak menyangka jika Amanda akan pergi meninggalkan dia dan juga Riana.


Ponsel Rion berbunyi, dia mendengar Isak tangis dari seberang telpon. Echa pun menangisi kepergian Bundanya, bagaimana dengan Riana.


Rion bergegas ke rumah sakit. Radit sedang mendekap tubuh Echa yang sudah berlinang air mata.


"Cari Bunda, Yah," pinta Echa.


Rion tidak bergeming, dia hanya terdiam dan menatap sedih ke arah Echa.


"Biarkan saja, Dek. Karena dia kamu terluka seperti ini," imbuh Rion.


"Ayah," lirih Echa.


"Ayah ...."


"Kita fokus sama kasus kamu aja. Ayah dan Papa mu sedang mencari tahu siapa dalang dibalik ini semua," potong Rion.


"Dit, Jaga Echa dulu. Om harus ke kantor." Radit pun mengangguk.


Rion tak ingin melihat manik mata putrinya. Dirinya tidak kuat, dia juga merasakan kehilangan sama seperti yang Echa rasakan. Meskipun dia berbeda kamar dengan Amanda, setiap malam Rion selalu mengecek keadaan Amanda. Dia hanya bisa memandangi istrinya dari jarak beberapa meter.


Yang Rion pikirkan adalah Riana. Bagaimana dia mengatakan semuanya pada putri kecilnya ini. Terlebih, Riana adalah anak yang sangat kritis.


Seharian ini Rion benar-benar tidak fokus dengan semua pekerjaannya. Sehingga Arya merasa sedikit curiga apa yang sedang terjadi dengan Rion.


"Kenapa?"


"Manda pergi dari rumah." Arya melebarkan matanya tak percaya.


"Udah lu cari?" Rion hanya menggelengkan kepalanya.


"Lu be go atau apa sih? Bini lu pergi bukannya lu cari," sentak Arya.


"Itu keinginan dia, biarkan saja. Dia juga sudah memasukkan berkas perceraian ke pengadilan."


"Lu serius?" Rion hanya mengangguk.


"Gua sih gak terlalu peduli sama lu, yang gua peduliin itu adalah Riana. Bagaimana nasib Riana tanpa ibunya?"


"Apa lu mau nasib Riana sama Kaya Echa?" Rion hanya terdiam. Dia hanya bisa memejamkan matanya


Belum selesai Arya berbicara, Ayanda dan Gio sudah masuk ke ruangan Rion. Membuat Arya dan Rion menatap ke arah mereka.


"Mas, apa Mas mau diam saja seperti ini?" tanya Ayanda.


"Pikirkan masa depan Riana, jangan salah lagi dalam mengambil langkah," imbuh Gio.


Ayanda dan Gio tahu Amanda kabur dari Echa. Echa tidak berhenti menangis.


Sedangkan Amanda sudah menginjakkan kakinya di kota hujan. Dia tersenyum ke arah seorang wanita paruh baya. Ya, dia adalah kakak dari sang Mamih.


"Ya Allah Nda, kamu sudah berhijrah," ucap haru Uwa Emi.


"Alhamdulillah." Jawaban Amanda tidak sesuai dengan hatinya. Dia malu disebut sudah berhijrah. Padahal hatinya masih berlumuran dosa.


Mereka melepas rindu, dan Amanda memutuskan untuk bekerja di kedai kue milik Wa Emi. Hanya saja, Amanda memilih tinggal disebuah kontrakan sangat sederhana yang berada di dalam gang sempit. Bukan tanpa alasan Amanda memilih tempat itu. Dia hanya tidak ingin Rion mengetahui keberadaannya.


Amanda mencoba bertahan hidup dengan sebuah kartu yang diberikan oleh Juna. Semua pemberian dari Rion tak satu pun yang dia bawa. Karena dia tidak pantas untuk mendapatkan semuanya.


"Riana ...."


****


Happy reading ....


Ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.