Bang Duda

Bang Duda
297. Kabar Duka (Musim Kedua)



"Radit masih marah?" tanya Rion.


Hari ini Echa menginap di rumah Rion atas permintaan Riana.


"Entahlah, Yah. Semenjak pulang dari Puncak sikapnya aneh," ujar Echa.


"Lagian kamu gak peka. Radit itu cemburu dan gak mau liat kamu deket sama cowok lain," imbuh Rion.


"Doni itu teman Echa, Ayah."


"Tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan, Dek," kata Rion sambil mengusap kepala Echa.


Echa hanya menghela napas kasar. Benar apa yang dikatakan oleh Ayahnya. Buktinya Doni dekat dengan Echa karena Doni menyukai Echa.


Ketukan pintu terdengar, ternyata Doni datang ke rumah Rion. Amanda mengerutkan dahinya.


"Tante, Echa ada?"


"Ada perlu apa?" tanya balik Amanda karena dia tidak ingin hubungan Echa dengan Radit kembali renggang.


"Riza Tante," ucap Doni.


"Riza?"


"Riza meninggal, Tante," lirih Doni.


"Innalilahi."


"Siapa yang bertamu, Yang?" Mata Rion menyiratkan ketidak sukaan akan kehadiran Doni di rumahnya.


Amanda yang sudah melihat raut wajah Rion yang sangat tidak bersahabat segera merangkul lengannya.


"Riza meninggal, Bang," terang Amanda.


Seketika Rion mematung, tubuhnya seakan membeku. Yang Rion pikirkan adalah bagaimana putrinya. Rion benar-benar takut jika, Echa drop kembali.


"Abang telpon Radit dulu," kata Rion.


"Echa biar sama aku aja, Om ke rumah duka," tawar Doni.


Rion tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Doni. Dan ketika sambungan telepon terhubung, Rion menjelaskan semuanya kepada Radit . Dan Radit pun segera menjemput Echa di kediaman Rion.


"Jangan bilang dulu sama Echa," larangnya pada Amanda.


Amanda pun mengangguk pelan dan Rion kembali menghubungi Ayanda serta Gio. Ada rasa khawatir di wajah Rion Karena sesungguhnya dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan putri sulungnya. Bagaimana pun pernah ada rasa diantara Echa dan juga Riza.


Lima belas menit kemudian, Radit tiba di rumah Rion. Keningnya mengkerut ketika melihat ada mobil yang terparkir di halaman rumah Rion. Dan dadanya bergemuruh ketika dia melihat Doni ada di sana.


"Temui Echa di gazebo." Radit pun mengangguk menuruti perintah Rion.


Echa sedang duduk bersantai sambil memegang gitar kesayangannya. Suara langkah kaki membuat Echa menoleh.


"Ay," gumamnya.


Radit menghampiri Echa dan memeluknya. Echa merasa aneh dengan sikap Radit ini.


"Ada apa, Ay?"


Radit melonggarkan pelukannya dan menatap manik mata Echa. "Riza meninggal."


Tubuh Echa menegang, otaknya tiba-tiba blank mendengar ucapan Radit. Riza meninggal? Otak Echa sulit mencerna dua kata tersebut dan dia menolak untuk percaya.


"Kita ke sana." Radit menarik tubuh Echa yang setengah sadar.


Sebelumnya Amanda sudah mempersiapkan pakaian untuk Echa kenakan. Dan Radit sudah memakai kemeja lengan panjang berwarna hitam yang digulung hingga ke siku.


Radit menunggu di depan pintu kamar Echa. Dengan terus memejamkan matanya. Akankah acara pertunangannya akan dibatalkan?


Echa keluar dari kamarnya dengan raut tidak bisa dibaca. Radit menggenggam tangan Echa. Seolah dia sedang memberi kekuatan untuk Echa.


Echa melihat ke arah genggaman tangan Radit. Dan kemudian dia menatap wajah tampan Radit yang terlihat gundah.


"Ay," panggil Echa.


Hanya seulas senyum yang Radit berikan. Senyum yang memiliki banyak arti.


Sepanjang perjalanan Radit menggenggam tangan Echa. Sudut bibir Echa pun sedikit terangkat karena perlakuan Radit.


"I'm okay, Ay," ucap Echa.


Radit hanya menoleh tanpa berbicara. Radit sangat tahu, sekarang ini Echa sedang tidak baik-baik saja.


Dan di belakang mobil Radit ada beberapa orang kepercayaan Gio yang akan berjaga-jaga. Karena kehadiran Echa pasti akan sedikit membuat kegaduhan di sana.


Tiba sudah mereka di rumah yang cukup besar dan sudah ada tenda di sana serta bendera kuning. Orang-orang pun silih berganti masuk ke rumah itu. Di sana juga sudah ada teman-teman sekolah Echa. Seperti Doni dan Tere.


"Puas lu bikin Riza mati!" sentak Tere.


Radit merangkul pundak Echa dan mengusapnya lembut.


"Lu itu pembunuh! Bahagia di atas penderitaan Riza," seru Tere.


"Kita masuk," ajak Radit dan menjauhkan Echa dari Tere dan juga Doni.


Pemandangan yang memilukan yang ECha lihat. Seorang wanita sedang menangis meraung-raung di samping jenazah putra kesayangannya yang sudah terbujur kaku.


Tangisannya terdengar sangat lirih. Echa menatap Radit dan Radit menganggukkan kepalanya. ECha pun menghampiri Marta.


"Tante," sapa Echa.


Marta melihat ke asal suara dan segera memeluk tubuh Echa.


"Riza, Cha ... Riza," lirihnya.


Air mata Echa pun luruh. Meskipun Riza telah menggoreskan luka di hati Echa tapi, kenangannya bersama Riza masih terukir di kepalanya.


Kekonyolan Riza, keromantisan Riza dan juga perjuangan Riza untuk sembuh.


"Maafkan Riza, Cha. Maafkan Riza," ucap Marta.


"Echa sudah memaafkan Riza dari dulu, Tante," sahut Echa dengan suara bergetar.


"Andai Riza masih bersama kamu, mungkin kamu dan Riza sudah menikah." Ucapan Marta mampu didengar oleh Radit.


"Tante yang sabar ya, Riza udah gak sakit lagi sekarang. Dia udah tenang di sana," tutur Echa.


"Tapi, Tante belum siap kehilangan Riza. Riza adalah harta satu-satunya yang Tante miliki," terang Marta.


Marta membuka penutup wajah Riza dan memperlihatkannya kepada Echa. Sungguh hati Echa teriris melihatnya. Wajah pucat pasi dengan tulang pipi yang sangat menonjol karena tubuh Riza yang sangat kurus.


"Ada satu hal yang Riza pinta sebelum kepergiannya. Dia ingin bertemu dengan kamu dan dia ingin kamu mencium keningnya. Seperti waktu kalian berpacaran," ungkap Marta.


Echa masih terdiam menatap pilu wajah Riza yang terlihat bukan seperti Riza yang dia kenal. Dan keinginan terakhir Riza apakah akan Echa kabulkan. Echa juga sadar ada hati yang harus Echa jaga. Hati pria yang kesabarannya luar biasa.


"Tolong kabulkan permintaan terakhir Riza, Cha," pinta Marta.


"Maaf Tante, ada hati yang harus Echa jaga. Echa tidak ingin menyakiti orang yang sudah menyembuhkan luka hati Echa dan rela menunggu Echa lebih dari 5 tahun ini," jawab Echa.


Echa mendekat ke arah jenazah. Dan mendekatkan wajahnya ke telinga Riza.


"Semoga kamu tenang di sana, Za. Aku sudah memaafkan kamu dari awal kamu nyakitin aku. Aku sudah melupakan semua kesalahan kamu pada aku. Maaf, kalo aku gak bisa lagi balas cinta kamu karena ada laki-laki yang lebih pantas mendapatkan cintaku," bisik Echa di telinga Riza.


Echa menghampiri Radit dan kemudian menggenggam tangan Radit seraya tersenyum ke arah Radit.


"Temani aku hingga ke pemakaman Riza, ya," pinta Echa. Radit mengangguk pelan.


Sedangkan di rumah Rion sudah ada Gio dan juga Ayanda. Mereka khawatir akan kondisi Echa. Isi hati Echa tidak ada yang tahu.


"Kita percepat tunangannya aja, dan biarkan Echa pergi ke Ausi lagi," ucap Rion.


"Jika Echa drop, bukan hanya Echa yang tersakiti tapi, Radit juga," imbuh Amanda.


"Aku tidak ingin terlalu tergesa dalam mengambil keputusan, Mas. Kita gak mungkin memaksakan kehendak kita kepada Echa. Jika, Echa sedih wajar. Karena Riza memiliki kenangan tersendiri untuk Echa," tutur Ayanda.


"Bohong jika, Echa bilang baik-baik saja. Pasti ada air mata yang sudah menetes dari matanya," lanjut Gio.


"Masalahnya pada Radit, apa Radit masih bisa bersabar?" tanya Rion.


Gio dan Ayanda hanya saling pandang. Mengingat perjuangan Radit dan pengorbanan Radit yang sungguh luar biasa untuk Echa. Dan jika, Echa terpuruk lagi ada kemungkinan Radit perlahan akan mundur.


"Kenapa ketika Echa akan menemui titik kebahagiaan, ada saja penghalangnya," keluh Rion.


"Apa Echa tidak pantas untuk bahagia?"


Mereka pun terdiam, benar apa yang dikatakan oleh ayah kandung Echa. Dari kecil hidup Echa menderita dan sekarang ketika dia akan menuju kebahagiaan ada penghalang cukup besar yang menghadangnya.


***


Di rumah duka, Echa terus menggenggam tangan Radit. Bukan Echa yang sedang tidak baik-baik saja. Tapi, Radit yang dalam keadaan gundah gulana. Echa mampu merasakan kegundahan Radit.


Echa dan Radit pun mengantarkan Riza ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Di mana tanah berukuran 2x1 meter yang akan menjadi rumah abadi. Belatung serta cacing tanah yang akan menjadi teman di kala lubang itu ditutup oleh gundukan tanah.


Setelah jenazah diturunkan ke liang lahat. Dihadapkan ke arah kiblat, ditutup papan kemudian, ditimbun dengan tanah hingga menghasilkan gundukan tanah. Di situlah acara prosesi pemakaman selesai dan ditutup dengan doa serta taburan bunga di atas pusara oleh keluarga.


Isak tangis masih mewarnai wajah Marta. Hanya Riza yang dia miliki. Dan sekarang, Riza telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Tante, maaf Echa gak bisa lama-lama," pamit Echa seraya mencium tangan Marta.


"Makasih, Cha. Udah nyempetin waktunya melihat Riza untuk terakhir kalinya," ucap Marta.


"Sama-sama Tante," sahut Echa.


Radit mengikuti Echa untuk berpamitan dengan Marta lalu, mencium tangannya.


"Jaga Echa, ya. Jangan sakiti dia." Radit pun mengangguk.


Echa dan Radit keluar dari pemakaman dan menuju tempat parkiran dengan tangan Echa yang tak lepas menggenggam tangan Radit.


"Cha," panggil Doni.


Langkah Echa pun terhenti begitu juga Radit. "Nanti malam ikut tahlilan, kan, bareng anak-anak," imbuh Doni.


"Maaf, Don. Gua udah punya janji sama calon suami gua," sahut Echa seraya mengeratkan lengannya ke lengan Radit.


"Gua pamit, ya." Echa pun meninggalkan Doni diikuti oleh Radit.


Tibanya mereka di rumah Rion, wajah khawatir keempat orangtua Echa sangat terlihat jelas


"Kenapa dengan wajah kalian?" tanya Echa.


"Dek ...."


"Echa baik-baik saja, Ayah. Echa tidak apa-apa. Wajar kalo Echa sedih, karena Riza pernah jadi orang yang sangat spesial di hidup Echa meskipun hanya sebentar," terang Echa.


Ayanda memeluk tubuh putrinya. "Kalo kamu sedih bilang kepada kami semua, jangan pernah kamu simpan seorang diri. Kamu memiliki kami, orangtua yang sayang sama kamu," ungkap Ayanda.


Hati Echa menghangat mendengar ucapan dari sang mamah. Echa tahu, keempat orangtuanya mengkhawatirkan kondisi Echa. Padahal, kondisi psikis Echa sudah semakin membaik setelah semua unek-unek yang Echa pendam seorang diri dia utarakan kepada kedua orangtua kandungnya.


"Iya, Mah. Tapi, Echa memang baik-baik saja," ucap Echa.


"Yang lagi gak baik-baik aja mah tuh, pacar Echa."


"Sok ah kalian interogasi calon mantu kalian. Dari tadi diem aja kayak patung." Echa pun berlalu meninggalkan kelima orang yang ada di ruang keluarga.


"Ada apa, Dit?" tanya Ayanda.


"Lu masih cemburu sama si Doni?" Radit menggeleng.


"Apa kamu ragu?" tanya Gio.


"Radit hanya takut Om, Tante. Mulut Echa memang berkata tidak apa-apa. Tapi, hatinya pasti kenapa-kenapa."


"Radit gak mau memaksakan kehendak Radit, Tante, Om. Kalo kondisi Echa lagi buruk seperti ini, mungkin Radit akan mengundur acara pertunangan kita," imbuh Radit.


"Persiapan pertunangan kamu udah 85% loh, Dit," sahut Ayanda.


"Gak apa-apa, Tante."


"Kok gitu? Kamu gak serius sama aku?" ucap Echa dengan suara tinggi.


"Rame nih urusannya," gumam Rion.


"Kalo kamu gak serius, ya udah batalin aja semuanya," sambung Echa yang berlalu pergi.


"Drama banget nih bocah," gerutu Rion. Sedangkan Radit sudah mengejar Echa ke lantai atas.


"Cara Echa mendapatkan perhatian itu seperti itu," tutur Ayanda.


"Nyari masalah dulu awalnya," sambung Gio.


"Emang sama lu sering berantem?" tanya Rion.


"Bukan sering lagi. Sering banget," sahut Ayanda sambil terkekeh.


"Gua kira sama gua doang."


"Sama aja, apalagi kalo mode ngeselin si Echa datang. Darah tinggi gua," jawab Gio. Sedangkan Ayanda terkekeh geli. Apalagi dia teringat akan keusilan Echa kepada Gio yang membuat Ayanda sakit perut karena terus tertawa.


Ketika si kembar lahir. Produksi asi Ayanda sangatlah banyak. Sehingga Ayanda harus memompa ASI nya setiap hari.


"Mah, ini apa?" tanya Echa sambil menunjukkan botol berukuran satu liter di dalam lemari pendingin.


"Itu ASI Mamah, buat si kembar," sahut Ayanda.


Ketika Ayanda pergi dari dapur, Gio datang ke dapur. "Kak, buatin Papa sereal, ya."


"Oke."


Dan ide jahil pun muncul di kepala Echa. Dibuatkan lah sere spesial untuk sang Papa menemani sarapan di Minggu pagi.


"Makasih," ucap Gio ketika menerima sereal dari Echa.


"Sama-sama, Papa.".


Suapan pertama, Gio sudah mulai merasakan ada yang aneh dari sereal yang dia makan.


Suapan kedua, rasanya semakin aneh. Namun, tetap Gio kunyah.


Suapan ketiga, sang Mamah berteriak seperti Tarzan.


"Kak, kok Asi si kembar tinggal setengahnya? Kamu kemanain setengahnys lagi?" tanya Ayanda seraya berteriak.


"Echa campur ke sereal Papa," sahut Echa kencang.


Seketika Gio langsung memuntahkan sereal yang dia makan. Dan Echa pun tertawa terbahak-bahak melihat wajah Papanya.


"Enak gak Pa?"


"Anak kurang asem kamu, Papa potong uang jajan kamu," pekik Gio.


Ayanda pun tertawa melihat suaminya. "Ngakunya suka susu Mommy, tapi pas diminum isinya malah dimuntahin begitu," cibir Ayanda.


"Daddy cuma suka cangkangnya, Mom. Isinya mah aneh rasanya."


Jeweran pun Gio rasakan, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah dikerjai oleh Echa sekarang kena jeweran dari istri tercinta.


"Echa tolongin Papa," pinta Gio.


"Nggak ah, Papa aja mau potong uang jajan Echa. So, nikmatin aja hukuman penuh cinta dari Mamah," ucap Echa yang kini berlalu meninggalkan Gio yang sedang dianiaya oleh Ayanda.


****


Maaf part-nya panjang-panjang. Akunya lagi ngejar 60k kata. Makanya bantu aku untuk tetap setia membaca karya Bang Duda ya. Jangan ditimbun-timbun nanti level aku turun, level semakin turun cerita ini semakin cepat aku End.