Bang Duda

Bang Duda
338. Lelah (Musim Kedua)



"Ada satu video lagi, yang pasti akan membuat kamu, suamimu dan juga mantan suamimu terkejut."


Jantung Amanda seperti berhenti berdetak mendengar ucapan Genta. Dia mencoba untuk menatap Genta. Hanya raut biasa yang Genta tunjukkan.


Sedangkan Ayanda, Gio serta Rion mereka saling pandang. Mata mereka seolah bertanya. Video apa yang dimaksud Genta?


"Video apa Ayah?"


Gio yang penasaran akhirnya membuka suaranya. Genta hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Genta terdiam sejenak. Menatap satu per satu orang yang ada di depan dan di sampingnya. Kemudian, menghembuskan napas kasar sebelum melanjutkan pembicaraan.


"Asal kalian semua tahu, saya memang berada jauh dari anak dan cucu-cucu saya. Tetapi, saya tidak pernah lengah mengawasi mereka."


Tubuh Amanda terasa lemas mendengarnya. Dia sudah bisa menebak, Genta akan membongkar rahasianya.


"Rion," panggil Genta.


Dengan raut wajah penuh rasa bersalah, Rion menatap Genta. "Jika, anakmu ingin dengan cucuku. Didik dia menjadi wanita yang memiliki akhlak yang baik dan juga tanggalkan ambisinya. Percuma berjuang sendiri, sedangkan Aksa serta Aska tak menyimpan rasa untuk anakmu. Jadikan anakmu seperti wanita yang mahal, bukan menjadi wanita obralan."


Ucapan Genta seperti tamparan keras untuk Rion. Karena dia telah gagal dalam mendidik Riana. Namun, berbeda dengan Amanda. Dia merasa Genta sudah menghina Riana. Apalagi, melihat anaknya yang sudah terisak membuat wajah Amanda merah padam dan amarahnya meluap.


"Jaga bicara Anda Tuan Genta!"


Dengan nada yang berani dan sedikit menantang Amanda berbicara. Matanya menunjukkan kemarahan yang luar biasa.


"Tidak usah menyudutkan putri saya. Dia hanya ingin memperjuangkan hatinya," terang Amanda dengan nada cukup keras.


"Memperjuangkan katamu," cibir Genta.


"Apa perjuangan itu harus melukai fisik kedua cucuku?" Amanda terdiam mendengar sanggahan dari Genta.


"Maafkan saya, Om." Rion berbicara sambil menundukkan kepalanya.


"Saya telah gagal mendidik putri saya," sambungnya lagi.


"Tidak, kamu adalah Ayah yang hebat. Buktinya, kamu bisa membesarkan Echa menjadi wanita yang mandiri dan tangguh. Dan putra bungsumu, itu cikal bakal penerusmu," jawab Genta.


Genta kembali menatap Amanda yang masih terdiam. "Ketiga cucuku, aku dan orangtuanya rawat dengan penuh kasih sayang. Tidak pernah sekali pun kami melakukan kekerasan fisik kepada mereka. Lalu, kenapa putrimu dengan sangat lancang berani menampar para penerus Wiguna Grup?"


"Ingat, saya bukan lah orang baik. Saya adalah manusia kejam." Perkataan yang penuh dengan penekanan dari Genta.


Genta menegakkan duduknya dan melipat kedua tangannya di atas dada. Menatap tajam ke arah Amanda.


"Selama ini saya diam karena saya ingin tahu bagaimana kalian." Genta melirik ke arah Amanda kemudian, ke arah Riana.


"Akan tetapi, kalian masih tetap tidak berubah," ucapnya lagi.


"Maksud Ayah apa?" Ayanda mencerna kata-kata sang ayah mertua. Seperti ada sesuatu hal yang mertuanya sembunyikan darinya dan juga Gio.


"Banyak hal yang kalian tidak tahu," sahut Genta kepada Ayanda dan juga Gio.


"Ayah hanya ingin menjaga hubungan kekeluargaan antara kalian semua. Tetapi, setelah Ayah memantaunya secara berkala. Ternyata tidak ada niatan dari mereka untuk berubah. Malah semakin menjadi, akhirnya Ayah memutuskan memberitahu ini semua."


Ayanda dan Gio saling pandang, mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh sang ayah.


Genta membuka rekaman video yang lain. Dia akan menunjukkan video yang lainnya kepada Gio, Ayanda dan juga Rion. Baru saja jarinya akan menekan tombol play, suara seseorang menghentikan jarinya.


"Kakek." Echa sudah berdiri tak jauh dari ruang keluarga. Kepalanya menggeleng pelan dengan mata yang sarat akan permohonan.


Pandangan semua orang tertuju pada Echa yang tengah berdiri bersama Radit. Radit sedang merangkul pundak istri tercintanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ayanda sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya sedari tadi.


Dengan senyum tipis sambil menatap ke arah Echa. Jari telunjuk Genta menekan tombol play dan video pun diputar.


Di dalam video itu Aksa berbicara dengan sangat tenang dengan memegang pipinya yang terlihat merah.


"Tamparan keras yang pernah Bunda layangkan pun, masih menjadi rahasia besar sampai saat ini, bukan. Apakah Kakak itu tidak istimewa? Tamparan itu memang tidak terlalu menyakitkan, tapi mampu membuat orang sakit hati dan bisa dibawa sampai mati."


Gio, Ayanda dan Rion melebarkan matanya ketika mendengar ucapan Aksa di dalam video tersebut. Sedangkan Echa sudah menatap suaminya dengan air mata yang sudah menganak. Radit menarik tangan Echa dan memeluknya dengan erat.


"Sudah waktunya semua orang tahu. Biar gak ada beban lagi di hati kamu, Sayang," bisik Radit.


"Tapi ...."


Radit memotong ucapan Echa dengan mengecup kening istrinya sangat dalam. Seolah kecupan itu mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Dan ada Radit di sampingnya.


Genta beralih ke video berikutnya. Dengan ekspresi yang sangat datar jari Genta menekan tombol play kembali.


"Puas kamu sekarang!"


Plak!


Suara tamparan terdengar sangat keras di dalam video tersebut. Dan mata Ayanda menatap Amanda dengan penuh kemarahan.


"Dasar anak gak tahu diri!"


"Ambil Ayahku ambil!"


"Amanda!" geram Rion yang sudah menahan amarahnya.


"Apa maksud video ini?" bentak Rion.


Gio meraih ponsel yang berada di atas meja dan melihat video itu dengan seksama.


"Ini ... ketika Echa masih SMA." Ayanda terhenyak mendengar ucapan Gio.


"Jadi, bukan hanya putra-putra ku yang kena tampar oleh anakmu. Kamu juga telah berani menampar putriku di depan umum seperti ini, iya?" teriak Ayanda.


Echa sudah menangis di dalam pelukan Radit. "Kak, tolong jelaskan kepada Papa." Suara yang penuh dengan kemarahan.


Echa masih memeluk erat tubuh Radit dan tidak ingin menatap ke arah siapapun.


"Kenapa kalian bisa jadi wanita kejam? Kenapa?" teriak Rion dengan wajah penuh amarah. Amanda dan Riana hanya menunduk takut.


"Aku sudah lelah Amanda menghadapi kamu. Lelah," ucap frustasi Rion di depan semua orang.


"Selama ini aku bertahan dengan dirimu hanya demi anak-anak. Aku tidak ingin Riana dan Iyan mengalami apa yang dialami oleh Echa. Tetapi, apa yang telah kamu lakukan kepada putriku?"


"Aku memang bukan Ayah yang baik untuk putriku, tapi aku tidak pernah memperlakukan putriku dengan kasar seperti itu, Amanda," bentak Rion. Amanda hanya diam dan terisak mendengar bentakan serta teriakan dari suaminya.


Pandangan Rion kini beralih pada putri tercinta. "Kenapa kamu gak bilang sama Ayah, Dek?" Suara lemah nan berat penuh dengan penyesalan.


Mendengar suara ayahnya yang berbeda, Echa melonggarkan pelukannya dan berani menatap ayahnya yang kini sudah menitikan air mata.


"Echa tidak ingin keluarga Ayah berantakan." Echa menunduk dan Radit segera menarik tubuh istrinya kembali dalam dekapannya.


Rion pun terduduk lesu dengan posisi menunduk dalam. Hatinya sangat sakit mendengar pengakuan dari putrinya. Hanya karena tidak ingin melihat rumah tangganya dengan Amanda bermasalah, Echa lebih memilih menyimpan semua ini seorang diri. Hingga hampir sepuluh tahun rahasia ini baru terbongkar.


Ayanda mendekat ke arah Amanda yang sedang menunduk dalam. "Tegakkan kepalamu seperti kamu menegakkan kepalamu di hadapan Ayahku," sentak Ayanda.


Dengan pelan, Amanda mulai menegakkan kepalanya dan menatap Ayanda.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Amanda.


"Itu tidak sebanding dengan kesakitan putriku dan juga kedua putraku," teriaknya.


"Pantas saja putrimu bisa bertindak kasar. Ternyata, menurun dari kamu, Amanda," ucap Gio.


"Harusnya kamu sadar dari mana kamu berasal!" bentak Gio.


"Jika, dari awal aku tahu masalah ini. Sudah dipastikan tanganmu yang lancang itu sudah aku potong dan aku berikan ke buaya." Gio benar-benar sangat murka.


"Sudah Pa," lerai Echa dengan linangan air mata.


"Itu sudah berlalu."


"Berlalu untuk kamu, tapi tidak untuk Papa," tegas Gio.


"Ya ... sekarang keputusanku sudah bulat." Rion membuka suaranya lagi sambil menatap ke arah Amanda.


"Lebih baik kita bercerai ...."


...----------------...


Happy reading ...