Bang Duda

Bang Duda
28. Menguji



Sheza hanya bisa menghela nafas kasar. Baru saja kata cinta diungkapkan Bossnya, beberapa detik kemudian Rion sudan berpaling darinya.


Kenapa gua selalu terpesona sama cowok brengs*k sih?


Baru saja Sheza memesan taksi online, ada seseorang yang duduk di sampingnya. Pria itu tersenyum manis kepada Sheza. Sheza hanya mendengus kesal. Pria yang tidak ingin dia temui lagi kini muncul di hadapannya.


Sheza bangun dari duduknya dan melangkahkan kakinya menjauhi pria itu. Dengan langkah kaki yang cukup panjang, pria itu mengejar Sheza dan meraih tangannya. Pria itu berlutut di depan Sheza dengan kedua tangannya menggenggam erat tangan Sheza.


"Aku masih mencintaimu," katanya dengan nada yang sangat lirih.


"Aku merindukan gelak tawa kita ketika kita bersama," jelas Nando.


Cih!


"Masih berani kamu bilang seperti itu setelah kamu menukar cinta kita dengan tahta," balas Sheza.


"Sekarang kamu bahagia kan sudah menduduki tahta tertinggi," lanjutnya.


"Aku menyesal," ucap Nando sambil menundukkan kepalanya.


"Hahahaha, nikmati saja penyesalanmu. Aku sudah menganggapmu mati dan sudah aku kubur dirimu dalam-dalam," tegas Sheza sambil melepaskan genggaman tangan Nando secara kasar.


"Lebih baik kamu pergi jauh dari hidupku. Nikmati tahtamu," ujarnya dengan senyum tipis dan berlalu meninggalkan Nando.


Dengan tak tahu dirinya Nando terus mengejar Sheza dan menarik paksa agar Sheza ikut dengannya. Sheza meronta-ronta namun tak diindahkan oleh Nando.


"Aku ingin mencumbu mu. Aku rindu tubuhmu," tukasnya.


"Lepas!" teriak Sheza.


Nando semakin menyeret tubuh Sheza agar masuk ke mobilnya. Sheza semakin memberontak. Di kepalanya hanya ingin kabur dari Nando. Sebenarnya Sheza takut.


Hingga sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Seorang wanita keluar dari mobilnya. Menatap tajam ke arah Sheza dan Nando.


"Wah wah wah, cinta lama belum usia rupanya," ucap Caren dengan tatapan ingin membunuh.


"Tidak beb, ini Sheza yang memaksaku agar mau tidur dengannya," kilah Nando.


Sheza melebarkan matanya tak percaya. Dia hanya menggelengkan kepalanya, ucapan cinta dan rindu yang diucapkan Nando hanya seperti angin lalu sama seperti Rion.


"Beraninya kau," geram Caren dan sudah mencengkram dagu Sheza. Hanya senyum tipis yang Sheza tunjukkan. Tidak ada rasa takut yang dia rasakan.


"Akan ku bunuh kau," ucap Caren dengan penuh amarah.


"Saya sangat berterimakasih jika Anda membunuh saya. Sudah dipastikan hidup saya akan damai dan tidak akan pernah bertemu dengan manusia seperti suami Anda dan juga Anda. Tapi jangan salahkan saya jika suami Anda nanti akan menangis meraung-raung di atas tempat peristirahatan saya terakhir," jelas Sheza dengan senyum sinis.


Caren semakin menguatkan cengkeramannya kepada Sheza. Hingga terdengar ringisan kecil dari mulut Sheza.


"Berani ya sekarang kamu." Wajah Caren sudah sangat memerah. Dia semakin murka, mendorong tubuh Sheza keras hingga membentur mobil. Tamparan sangat keras pun mendarat di pipi Sheza hingga menyisakan luka.


"Nona Caren," teriak seseorang yang baru saja turun dari mobil.


Wajah murka Ayanda sangat terlihat jelas. Caren melebarkan matanya melihat siapa yang datang.


Sial, kenapa selalu saja ada mereka jika gua sedang menyiksa Sheza.


Ayanda memandang Nando dengan tatapan ingin mencabik-cabik wajahnya. Dia pun menarik tangan Sheza, dilihatnya sudut bibir Sheza mengeluarkan darah.


"Kamu tidak apa-apa," ucap Ayanda sangat khawatir. Sheza menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


"Pria sejati tidak akan pernah mampu melihat wanita yang disayanginya terluka. Apalagi disentuh oleh tangan-tangan kasar hingga meninggalkan jejak luka," sindir Gio.


Nando hanya menunduk dalam tidak berani memandang Gio. Sedangkan Caren merasa gelisah, takut Gio akan membatalkan kerjasamanya secara sepihak.


"Sebenarnya saya tidak suka bekerja sama dengan orang yang arogan. Merasa dirinya paling berkuasa, padahal dia tidak ada apa-apanya tanpa bantuan saya."


Seketika wajah Caren pias, ucapan Gio mampu menusuk hatinya. Dulu keluarganya kaya, tapi sekarang semua usaha yang Caren dan orangtuanya masih bisa kokoh berdiri karena bantuan keluarga Wiguna.


Tanpa sepatah kata pun, Gio mengajak Ayanda dan juga Sheza untuk meninggalkan dua manusia yang gila akan harta dan tahta.


Pagi harinya,


Luka di sudut bibir Sheza masih ada. Perih masih dia rasakan, tapi lebih perih lagi hatinya. Baru saja berbunga-bunga sudah dikecewakan kembali. Sakit, ya sedikit.


Rion menghampiri Sheza yang sudah fokus dengan laptopnya. "Ke ruangan saya sebentar," pinta Rion.


Mau tidak mau Sheza mengikuti langkah Rion dari belakang. Dia tahu apa yang akan Rion lakukan.


"Aku minta maaf," kata Rion.


Sheza menatap wajah Rion, dia melihat ketulusan permintaan maaf dari Bossnya. Apakah hatinya akan semudah itu memaafkan orang di depannya ini?


"Saya tidak marah Pak karena saya tau ungkapan semalam hanya sekedar bualan," jawab Sheza.


Rion menatap wajah cantik Sheza lalu menggenggam tangan Sheza. Sheza hanya bisa diam.


"Aku serius dengan ucapanku semalam," balas Rion.


Sheza hanya tertawa mendengarnya dan melepaskan genggaman tangan Rion.


"Jika kamu masih ragu dengan hatimu sendiri, jangan pernah memberikan angin segar kepadaku," ucap Sheza.


"Hatiku ini mudah rapuh dan hancur. Jadi, sebelum kamu yakin akan hatimu sendiri berhentilah bilang I love you kepadaku. Jika ujungnya kalimat itu tidak benar-benar dari hatimu. Hanya sebuah kalimat kiasan yang siapapun bisa mengatakannya."


"Aku punya kenangan pahit yang selama ini terus saja membayangi langkahku. Aku hanya ingin melangkah dengan pria yang benar-benar tulus mencintaiku dan menerima segala kekuranganku," jelas Sheza.


Rion hanya terdiam mendengar penjelasan Sheza. Dia tahu Sheza marah melihatnya memeluk tubuh Dinda.


"Dinda ...."


"Aku tidak menyalahkan siapapun, aku hanya ingin kamu meyakinkan hatimu sendiri untuk mencintai siapa. Aku tidak mau sakit untuk kedua kalinya," tukas Sheza.


Sheza meninggalkan Rion dan membiarkan Rion berpikir dengan logika dan hatinya.


Sheza hanya menghela nafas kasar setelah duduk di belakang mejanya. Ucapan Ayanda dan Gio tengiang-ngiang di kepalanya.


#Flashback on.


Sheza diajak masuk ke dalam mobil oleh Ayanda. Dengan hati-hati Ayanda mengobati luka di bibir Sheza.


"Bu, saya bisa sendiri," ucap Sheza karena tidak enak hati.


"Sudah diam," tukas Ayanda.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Ayanda setelah selesai mengobati luka Sheza.


"Pak Rion."


Gio dan Ayanda saling tatap, Gio hanya mengangkat bahunya.


"Kenapa dia meninggalkan kamu sendiri?" tanya Gio yang tetap fokus ke jalan.


Sheza hanya tersenyum. "Pak Rion sedang bersama Bu Dinda. Jadi, saya memutuskan pergi karena tidak ingin mengganggu mereka," lirihnya.


Ayanda hanya menghela nafas pelan. Ternyata mantan suaminya masih mencintai Dinda. Gio mengusap puncuk kepala Ayanda. Dia tahu istrinya tidak nyaman dengan nama yang disebutkan Sheza.


"Lelaki yang tulus dan serius itu akan terus berjuang mengejar cintanya. Tak akan pernah peduli di garis finish itu dia akan jadi pemenang atau pecundang," jelas Giondra.


Ayanda hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Sedangkan Sheza bergelut dengan hati dan pikirannya.


Apa Pak Rion benar-benar tulus mencintaiku? Atau sekedar main-main dengan perasaanku.


#Flashback off.


Dengan cara ini setidaknya aku bisa tau, kamu benar-benar tulus mencintaiku atau lebih memilih masa lalu mu.


***


Hy ...


Maaf, telat up banget karena semalam mager ditambah paginya kerjaan dunia nyata gak kelar-kelar ditambah daring.


Jangan lupa like, komen dan juga vote ya ....


Happy reading semua ...


Semoga Terhibur😄