Bang Duda

Bang Duda
265. Mamah Baru (Musim Kedua)



Sebelum bel pulang sekolah berbunyi, Echa sudah berada di depan gerbang sekolah Aksa dan Aska. Dia ditugaskan oleh sang mamah untuk menjemput si kembar. Karena Ayanda harus pergi ke tempat usahanya yang sedang dalam renovasi.


Echa duduk di kursi yang telah disiapkan pihak sekolah untuk menunggu para siswa ketika pulang sekolah. Sedang nikmat-nikmatnya Echa meminum es kopi, pekikan suara yang mengganggu gendang telinga membuatnya kaget. Echa menyemburkan es kopi yang sudah berada di dalam mulutnya.


Semburan Echa ternyata tepat sasaran mengenai wajah Dea. Bukannya meminta maaf, Echa malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah Dea. Eye liner dan maskara yang Dea pakai luntur sudah.


"Ya kalo mau cantik beli make-up yang mahal lah. Jadi kagak beleberan begitu tuh make up," ejek Echa yang tidak bisa menahan tawanya.


Wajah Dea sudah memerah, menahan malu sekaligus marah. Baru saja dia ingin marah kepada Echa, suara tertawa renyah dari para murid yang baru saja keluar membuat Dea segera menunduk malu.


"Tante lucu deh kayak kuntilanak yang semalam Chika tonton," ucap Chika yang baru saja menghampiri Dea.


"Dimana-mana kuntilanak itu serem," timpal Echa.


Chika menatap ke arah Echa. "Tante artis?"


Echa melongo mendengar ucapan Chika. Chika menyentuh wajah Echa yang benar-benar halus. Dan tidak ada bekas bedak sama sekali di tangan Chika ketika dia menyentuh wajah Echa.


"Cantik alami, gak kaya Tante Dea dan juga Tante Vera. Kalo aku sentuh wajah mereka bedak semua telapak tangan aku."


Echa pun tertawa puas mendengarnya. Sedangkan Dea melirik tajam ke arah Echa.


Echa memberikan tisu basah kepada Dea. "Kalo mau jadi pelakor perawatan wajah yang mahal. Kalo gak mampu perawatan mahal mending mengundurkan diri deh jadi pelakor," bisik Echa.


Setelah Echa masuk ke dalam mobil, seringai licik muncul di wajah Dea.


Aksa dan Aska sudah masuk ke dalam mobil. Echa baru saja membuka pintu mobil. Namun, ada notif pesan di ponselnya.


"Kak cepat, Abang lapar pengen mie ayam," rengek Aksa.


"Adek ingin pangsit kuah, Kak," rengek Aska.


"Sebentar." Echa membuka pesan terlebih dahulu. Dia hanya bisa menghela napas kasar. Echa langsung menghubungi seseorang.


Di kursi belakang si kembar sudah merengek karena mereka sudah lapar, "Kita tunggu orang yang jemput kita," ujar Echa.


Si kembar pun saling pandang tak mengerti. "Ada apa?" Aska memberanikan diri bertanya, Sedangkan Aksa tahu, sedang ada yang disembunyikan oleh Kakaknya.


"Tidak apa-apa, Kakak hanya lelah saja menyetir," dustanya.


Echa menatap ke arah Dea yang sedang memperhatikan dirinya. "Nyesel gua ngasih tisu basah mahal gua ke tuh wanita iblis berkedok malaikat. Tadinya aja gua kasih tisu yang gua basahin pake air keras," gerutunya.


Orang yang menjemputnya sudah datang, dan dia tertawa mendengar ocehan Echa barusan. Echa menyuruh si kembar untuk naik ke dalam mobil yang sudah menjemput mereka. Dea melebarkan matanya tak percaya. Echa menghampiri Dea sebelum dia masuk ke dalam mobil.


Dengan kasar Echa mengambil paksa tisu basah yang tadi dia berikan kepada Dea. Dea benar-benar terkejut apalagi melihat tatapan tajam Echa.


"Lembaran tisu basah yang Anda pakai akan menjadi lembaran laporan yang akan saya berikan kepada pihak yang berwajib."


Dea benar-benar takut sekarang ini. Tidak dia sangka Echa mengetahui rencananya. Dea langsung menyuruh orang suruhannya untuk menggagalkan rencana yang telah dia buat.


Siapa dia sebenarnya? Kenapa susah sekali menembus info tentangnya.


Sesampainya di kedai mie ayam kesukaan si kembar, Gio menghubungi Echa.


"Iya, Pa."


"Kenapa kamu menyuruh orang untuk menjemput kamu?"


"Papa bisa tanya sama Ronald aja ya. Echa masih kesal sama orangnya. Pengen Echa mutilasi tuh orang."


"Baiklah, kamu hati-hati. Tetap waspada."


"Iya Pa."


Sambungan telepon pun terputus. Aksa melirik ke arah Echa yang wajahnya nampak tak bersemangat.


"Ada apa Daddy telepon?" tanya Aksa.


"Hanya menanyakan kita di mana?"


Sendok dan sumpit yang sedang dipegang Aska pun terjatuh ketika mendengar ucapan kakaknya. Echa tersenyum ke arah Aska yang wajahnya berubah pucat.


"Kakak tidak bilang jika kalian sedang makan di luar. Bukan hanya kalian yang akan Daddy marahi, tapi Kakak juga akan kena semprot Daddy dan Mommy kalian."


Si kembar pun tertawa mendengar celotehan sang kakak. Echa selalu memanjakan kedua adik laki-lakinya ini. Mereka tidak butuh barang mewah, mereka hanya butuh jajan di pinggir jalan seperti ini. Karena mereka selalu diwajibkan makan makanan yang sehat. Jika, ingin makanan yang sedang viral pun Gio akan mendatangkan koki khusus ke rumahnya


Seperti biasa Echa mengantarkan si kembar terlebih dahulu ke rumah. Lalu, dia pergi lagi ke kantor ayahnya.


"Kamu ambil mobil saya di sekolah." Sopir yang menjemput Echa pun mengangguk pelan.


Wajah Echa nampak kesal ketika masuk ke ruangan ayahnya. Hanya ada Arya di sana.


"Ayah ke mana?"


"Lagi ketemu klien," sahut Arya yang masih fokus pada layar laptopnya.


"Muka lu kenapa ditekuk gitu?" tanya Arya.


"Lagi ada yang ngajakin gelayutan di leher, Om," balas Echa sambil mengecek pekerjaannya.


"Cari mati dong dia."


"Bukan lagi, belum ngerasain leher sama badan kepisah aja tuh orang," oceh Echa.


"Lah badan sama leher emang pisah woiy." Echa pun tertawa.


"Kirain otak Om gak nyampe Echa ngomong begitu," ledeknya.


"Tetep aja lu ngeselin," geram Arya.


Waktu pulang kerja pun tiba, Echa meregangkan ototnya. Ayahnya baru saja datang ketika jam pulang kantor tiba.


"Kok Ayah kembali ke sini? Gak langsung pulang," ucapnya.


"Ayah akan jemput anak gadis Ayah lah," sahut Rion.


Echa pun segera memeluk tubuh ayahnya. Ada kehangatan yang menjalar di tubuhnya setiap dia memeluk tubuh ayahnya. Semua beban pikiran terasa hilang begitu saja.


Arya yang melihat betapa tulusnya kasih sayang Rion terhadap Echa hanya dapat tersenyum bahagia. Anak kecil yang menyebalkan kini sudah tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Yang selalu memasang badan ketika keluarganya diserang.


Rion membawa Echa ke kedai cokelat. Rion tahu, anaknya sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak hal yang dia kerjakan di luar jam kantor. Rion tahu itu.


Setelah memesan cokelat panas dan ice chocolate, mereka duduk di kursi pojok. Echa hanya ingin merasakan ketenangan dengan meminum es cokelat yang dia pesan.


Rion duduk di samping Echa dan mengusap lembut rambut anak gadisnya ini. Bulir bening pun jatuh membasahi pipi Echa. Echa pun memeluk erat pinggang ayahnya.


"Echa ingin keluarga Ayah dan keluarga Mamah tetap harmonis. Jangan ada orang ketiga dalam rumah tangga Ayah. Cukup dulu saja Ayah bodoh."


"Perpisahan Ayah membawa rasa trauma di hati Echa sampai sekarang. Inilah alasan Echa tidak ingin buru-buru menikah. Meskipun, berulang kali Radit meminta Echa untuk menikah dengannya."


Hati Rion sangat sakit mendengarnya. Dia tahu, ada rasa ketakutan di dalam hati putrinya ini. Echa takut, jika Rion akan tertarik pada Dea. Apalagi melihat perjuangan Dea yang sangat keras dan pantang menyerah.


"Maafkan Ayah, Dek." Echa pun mengerti pelukannya.


Dea yang berada di kedai cokelat itu pun tak sengaja melihat adegan mesra antara Rion dan juga Echa. Tangannya sudah mengepal dengan keras. Menunjukkan marahnya sudah sampai ubun-ubun.


Aku pasti bisa menyingkirkan dia.


Di lain tempat kekhawatiran Gio sangat terlihat jelas. Setelah Ronald menceritakan semuanya. urat-urat kemarahan terlihat jelas di wajah Gio.


Rencana Dea.


Api cemburu sudah membakar otak dan tubuhnya. Dea dan Vera bekerja sama untuk mencelakai mobil Echa yang sedang membawa si kembar. Tujuannya yaitu menyingkirkan Echa.


Sedangkan Vera sedang menemui Cantika mencari tahu tentang siapa Echa sebenarnya. Sedangkan dia juga tidak tahu nama Echa itu siapa.


Namun, langkah Vera terlambat. Cantika sudah dipindahkan ke rutan yang lain. Pihak kepolisian pun tidak memberi tahu rutan tempat pemindahan Cantika. Gerak Echa sangat cepat, apapun bisa dia lakukan karena dia juga memiliki rekan kerja sekaligus teman yang bekerja di kepolisian. Semuanya terasa mudah bagi Echa.


****


Keesokan harinya, Riana sudah diperbolehkan masuk sekolah. Awalnya, Amanda ingin menjaga Riana dari jam pelajaran pertama hingga selesai. Namun, Riana menolaknya.


"Ri ingin dijemput Ayah," pintanya pada Rion.


Rion pun tersenyum dan mengiyakan keinginan putri bungsunya ini.


"Tapi, pulangnya makan es krim ya, Yah."


Rion pun tertawa mendengarnya, dia pun mengusap lembut kepala Riana.


Riana langsung memeluk tubuh ayahnya dan mengecup pipi sang ayah. "Makasih Ayah."


Beginilah cara Rion memanjakan anak-anaknya, Hingga anak-anaknya lebih dekat dengan dirinya ketimbang dengan mamahnya.


Riana turn dari mobil dan langsung melangkah masuk ke gerbang sekolah. Tak sengaja Riana berpapasan dengan Dea. Karena Vera tidak bisa mengantarkan Chika. Dia sedang mengurus usaha Cantika yang sedikit terbengkalai karena pemiliknya ditahan.


"Riana tunggu," panggil Dea.


Riana memicingkan matanya, dia menatap Dea dari atas hingga bawah dengan tatapan menyelidik.


"Boleh Tante bicara sebentar?" pinta Dea.


"Kata Bunda, aku gak boleh mengobrol dengan orang asing," imbuhnya.


"Tante bukan orang jahat, kok. Tante adalah saudaranya Chika anak kelas 4."


"Hanya lima menit," ucap Riana. Dea pun mengangguk.


Mereka duduk di kursi tunggu di depan gerbang sekolah. Tanpa basa-basi Dea berbicara langsung ke inti.


"Kamu anak dari Pak Rion, kan?"


"Kenapa Tante tahu Ayah aku?" Bukannya menjawab, Riana malah melontarkan pertanyaan lagi kepada Dea.


Dea mengambil sesuatu dari dalam tasnya, ada beberapa lembar foto yang Dea tunjukkan kepada Riana.


Tatapan Riana sangat datar, ekspresi Riana sulit diartikan. Matanya lekat sekali memandang foto demi foto.


Kali ini, Dea menunjukkan foto yang berada di ponselnya. Foto itu baru dia ambil ketika sore kemarin di kedai cokelat.


Riana hanya diam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dahinya sedikit mengkerut menatap foto itu.


Dea sangat bahagia melihat respon Riana. Apalagi mimik wajahnya terlihat sendu.


Benar kata Vera, mencuci otak anak ini lebih mudah dari pada kedua orangtuanya.


Padahal yang menyebabkan Riana sedih itu melihat Kakaknya yang sedang memeluk ayahnya dengan air mata yang menetes.


"Ternyata Ayahmu pecinta wanita, ya?" Riana menatap kesal ke arah Dea.


"Ya kali Ayah aku pecinta laki-laki. Bukankah manusia diciptakan berpasang-pasangan?" Jawaban yang sangat cerdas dari Riana.


Panggilan dua orang siswa laki-laki membuat Riana menoleh. Aksa menghampiri Riana dan mengajaknya masuk ke dalam kelas.


"Jangan dekat-dekat Ri, wajahnya nanti berubah menyeramkan," bisik Aksa. Riana menatap ke arah Aksa tak mengerti.


Dari kejauhan Aska sudah mengeluarkan benda ajaib. Dan hujaman daro pistol air pun tepat mengenai wajah Dea ketika Dea dipanggil oleh Aska. Ya, Aska menjadi penembak jitu.


Riana tertawa terpingkal-pingkal melihat mata Dea yang berubah hitam. "Benar, berubah kayak wajah sundel bolong di TV-TV," ejeknya seraya tertawa.


Aksa, Aska dan juga Riana berlari meninggalkan Dea yang sedang menahan malu.


"Anak-anak nakal," geramnya.


Sedangkan ketiga anak itu terlihat sangat puas mengerjai Dea habis-habisan. "Jangan percaya ucapan orang lain," ucap Aksa. Ada sedikit kekhawatiran di wajah Aksa.


"Nggak Bang, Ri akan selalu percaya sama Ayah dan Bunda. Kalo Ri ragu, Ri akan menanyakan hal itu kepada Mommy," sahutnya seraya tersenyum.


Jam istirahat tiba, Riana senyum-senyum sendiri karena teringat kejadian pagi tadi dengan Dea.


Semalam ...


Sang Bunda masuk ke kamar Riana dan menceritakan siapa wanita yang berhijab yang mengatakan masa lalu Amanda. Riana mendengarkan dengan seksama.


Amanda menceritakan satu lagi wanita yang berhijab yang ingin merebut ayahnya dari mereka.


"Gak akan Ri biarkan, Bun. Ayah hanya milik Bunda, Ri dan juga Kakak Echa," jelasnya.


***


Jam makan siang tiba, Echa mengerutkan dahinya ketika dia melihat ada beberapa orang yang dia kenal di bawah sedang berjaga-jaga. Echa hanya menghela napas kasar.


Echa tahu itu adalah orang suruhan Gio. Sedikit banyak Echa tahu para orang kepercayaan Wiguna Grup. Karena selama di Ausi mereka sering ke rumah besar dan masuk ke dalam ruang kerja Genta Wiguna.


Selama bekerja di perusahaan pun, orang-orang itu memakai seragam layaknya karyawan biasa. Echa menghubungi sang papa.


"Kenapa Sayang?"


"Itu kenapa ...."


"DIkawal apa tidak keluar sama sekali?"


"Tapi dari jauh aja, ya."


"Ronald tetap yang menjaga kamu, mereka hanya berjaga di belakang Ronald. Kemarin, jika Ronal terlambat sedikit saja kamu dan adik-adik kamu celaka."


"Maaf, Pa."


"Turuti saja, semua demi keselamatan kamu dan juga asik-asik kamu."


Ucapan sang Papah bagaikan perintah yang harus dikerjakan dan tidak bisa dibantah oleh siapapun.


Echa sudah bersiap untuk menjemput si kembar. Begitu pun Rion.


"Kamu mau ke mana Dek?" tanya Rion.


"Jemput si kembar."


"Ayah juga mau jemput Riana," imbuhnya.


"Biar Ayah aja yang jemput mereka," lanjut Rion.


"Echa juga ikut, bosen di kantor."


"Kerjaan kamu banyak loh itu," ucap sang ayah.


"Biarin lah, yang punya kantornya juga Ayah Echa sendiri, gak bakalan dipecat," jawabnya sambil memeluk pinggang Rion.


"Dasar."


Kedekatan mereka terkadang menimbulkan asumsi berlebihan. Bagi yang belum tahu, Echa dikira wanita simpanan Rion. Dan kabar itu sudah menyebar ke beberapa tempat di dekat lingkungan kantor Rion.


Setibanya di sekolah, Dea sudah sangat bahagia ketika melihat mobil Rion terparkir tak jauh darinya. Namun, rona bahagia itu berubah dalam sekejap. Ketika Rion dan Echa keluar dari mobil yang sama.


Rion duduk di kursi kosong, sedangkan Echa sedang memesan es kopi kesukaannya. Lalu, dia duduk di samping sang ayah.


Rion menunjukkan ponselnya ke arah Echa, Echa pun tertawa begitu juga Rion. Orangtua murid yang berada di sana pun memandang kagum pada Rion dan juga Echa.


Es kopi sudah di tangan Echa. Echa memberikannya ke Rion lalu Rion meminumnya menggunakan sedotan yang tersedia. Setelah ayahnya meminum es kopi itu. Echa pun meminum es kopi dari sedotan yang sama.


Wajah Dea sudah merah padam. Marah dan cemburu bercampur menjadi satu. Ingin rasanya dia menghampiri Echa dan menyiramnya dengan air soda yang ada di tangannya.


Bel pun berbunyi, satu per satu para murid keluar dari kelasnya. Riana berlari ke arah ayah dan kakaknya. Memeluk tubuh mereka berdua.


"Jadi, kan?" tanya Riana kepada Rion.


"Apa sih yang nggak buat anak kesayangan Ayah," ucapnya.


"Mamah ikut kan?" Riana pun tersenyum penuh arti ke arah Echa.


"Ikut dong, Mamah dan Ayah akan menuruti kemauan Riana," imbuhnya seraya mengusap lembut rambut Riana.


Ponsel Echa berdering, ada notif pesan dari sang mamah.


Adik-adik kamu ada pelajaran tambahan dadakan. Biar Mamah aja nanti yang jemput mereka.


Riana menatap tajam ke arah Dea yang sedang bermuram durja. Rion bangkit dari duduknya untuk membayar es kopi yang Echa pesan. Sedangkan Riana mengahampiri Dea seraya membuang sampahyang ada di tangannya.


"Tante tau gak? Itu Mamah baru aku loh. Cantik kan?" ucapnya seraya tersenyum manis.


Riana menjauhi Dea yang terdiam seribu bahasa. Sedangkan Echa yang melihat tingkah Riana dari dalam mobil hanya tertawa puas.


****


Ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.