
"Berani Ayah nikah lagi, Echa potong burung Ayah sampai habis," ancam Echa si anak pertama.
"Jangan harap pernikahan Ayah akan bahagia. Ri, akan buat istri Ayah menderita," ancam Riana si anak kedua.
"Apa mau menikmati sensasi malam pertama ditonton teman-teman Iyan yang menyeramkan?" ancam Iyan si anak ketiga.
"Tidak!" seru Rion. Dia menatap tajam ke arah Arya yang sudah terpingkali-pingkal.
"Kenapa nyari asisten gak melalui Echa dulu? Apa Ayah lupa siapa pemilik toko yang Ayah kelola?" tanya Echa dengan sangat emosi.
"Duplikat si Yanda banget kalo tuh bocah lagi marahin si Rion," kelakar Arya disambut tertawa semua orang.
"Lah, ini Ayah mau ngomong. Makanya jangan pada suudzon dulu. Ucapan si Bhaskara gak patut dipercaya," sahut Rion.
Rion mengajak ketiga anaknya untuk duduk bersama. Menarik napas dalam sebelum dia mulai berbicara.
"Ayah udah janji kepada diri Ayah sendiri, kalo Ayah udah gak mau memikirkan pernikahan lagi."
Paper bag yang dibawa wanita itu terjatuh begitu saja. Dan mata wanita itu sudah berkaca-kaca. Seperti sedang menahan kesakitan di dalam dadanya. Membuat semua orang menatapnya dengan perasaan menduga-duga. Tetapi, Rion tidak memperdulikannya.
"Hidup Ayah sudah sangat sempurna, tinggal bersama ketiga anak Ayah, menantu durhaka Ayah dan juga tiga cucu yang membuat hidup Ayah lebih berwarna. Hanya suka cita yang Ayah rasakan ketika bersama kalian. Selama kalian terus mendampingi Ayah hingga waktu Ayah habis, Ayah pasti akan sangat bahagia."
Suasana yang tadinya ramai dengan gelak tawa. Sekarang berubah menjadi hening dan haru. Apalagi ketiga anak Rion yang sudah mendekap hangat tubuh Rion yang sudah tidak seperti dulu. Garis kerutan sudah mulai terlihat. Sakit yang tiba-tiba menyerang tubuhnya serta cinta yang sudah hilang dari hatinya untuk wanita manapun. Cinta yang dia miliki sekarang hanya untuk anak-anak dan cucu-cucunya.
"Sehat terus Ayah, jangan pergi sebelum RI dan Iyan memberikan kebanggaan untuk Ayah. Jadilah wali dalam pernikahan Ri kelak. Karena Ri tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Ayah." Sungguh ucapan yang sangat menyayat hati. Semua orang menyeka ujung mata mereka melihat pemandangan yang tidak biasa ini.
Melihat keluarga Rion selalu membuat mereka haru. Seorang pria berengsek menjelma menjadi ayah yang sangat luar biasa. Dua kali menikah dua kali juga gagal. Tetapi, dia mampu membuat anak-anaknya nyaman hidup bersamanya. Dan menjadikan mereka anak-anak yang membanggakan.
"Apapun akan Echa berikan untuk Ayah. Apa yang Ayah minta pasti akan Echa kabulkan."
"Sungguh?" tanya Rion sumringah. Echa mengangguk cepat.
"Kalo Ayah minta cucu cowok gimana?"
"Gak ada, Ayah!" pekik Radit. Semua orang pun tertawa.
"Produksi bayinya cukup tiga. Radit gak mau liat Echa kesakitan lagi," tegasnya.
"Sifat si Gio nurun," cibir Rion.
"Radit aja masih maju mundur buat nyentuh istri Radit. Masih takut dengan luka operasinya. Sampe sekarang aja belum buka puasa." Keluhan Radit mendapat sambutan tawa luar biasa riuhnya. Membuat Echa mendelik kesal ke arah sang suami.
"Kasih Cha, kasihan itu udah satu tahun. Nanti karatan," cibir Arya.
Riuh tawa puas terdengar kembali. Sedangkan wanita yang katanya asisten Rion masih menatap nanar ke arah Rion yang sedang tertawa lepas sambil merangkul ketiga anaknya.
"Kalo Ayah minta mengundurkan diri dari toko pusat gimana?" lanjut Rion lagi.
Ucapan Rion membuat semua orang terdiam. Mereka menatap Rion dengan tatapan tidak mengerti.
"Assisten itu namanya Desti. Dia sengaja Ayah rekrut untuk membantu kamu ke depannya. Kedekatan Ayah dengannya hanya sekedar partner kerja. Tidak lebih, Ayah dekat dengan dia agar dia mampu memahami bagaimana cara kerja kamu kelak ketika kamu memegang langsung toko pusat. Sudah pasti cara kerja Ayah dan kamu berbeda," jelas Rion dengan wajah serius.
"Ayah sangat serius. Setelah tiga cucu Ayah lahir, Ayah memikirkan keputusan ini. Ayah ingin menikmati hari tua Ayah bermain dengan cucu-cucu Ayah. Berkumpul dengan anak-anak Ayah, sahabat-sahabat Ayah," ungkapnya.
Sedih dan bingung tampak terlihat jelas di wajah Echa. Lelah dan jenuh sudah pasti sang ayah rasakan. Kerja dari muda hingga menjelang senja. Tetapi, dia juga tidak ingin meninggalkan ketiga anaknya. Tidak bisa mempercayakan si kembar pada pengasuh. Berkali-kali Radit dan Gio menawarkan pengasuh. Berkali-kali juga Echa menolaknya. Memilih dia yang jatuh sakit karena kelelahan dari pada harus melihat anak-anaknya diasuh orang.
"Ayah tahu apa yang kamu pikirkan," ucap Rion sambil mengusap lembut rambut Echa.
"Kamu tidak perlu khawatir. Ayah yang akan menjadi baby sitter untuk anak-anak kamu." Sontak semua orang terperangah mendengarnya.
"Ma-maksud Ayah?"
"Ayah yang akan menjaga si kembar sekaligus jadi pengasuhnya. Lagi pula tiga anak kamu udah jinak sama Ayah."
...****************...
Maaf kalo kalian udah bosen dan terus dijejelin cerita ini sama aku 😂
Komen kalian kemarin itu banyak banget yang minta kisah Riana dan Aksa segera terbit. Pertanyaan aku, maukah kalian menjadi pembaca setianya?
Syarat yang aku ajuin ke kalian kalo ingin kisah Riana dan Aksa dirilis secepatnya.
Favorit dalam bentuk love di samping like, komen vote di bab 1 minim 100 dalam sehari. 😜
Like dan komennya kudu banyak 😜
Kalo bisa votenya juga banyakin 😜
Nah, kalo kalian memenuhi syarat ketiganya, insha Allah aku akan up rutin.
Apa kalian mau bantu aku dengan syarat di atas? 😁
R : Ribet banget sih Thor.
A : Itu hanya untuk menyemangatiku dalam berkarya netz.
Yang mau tahu kisah Rindra dan Nesha yuk kepoin. Tanpa download aplikasinya juga bisa. Tinggal DM aku aja ya biar nanti aku kasih link-nya. 😉
****Yang belum follow ig aku yuk follow sekarang @fiet82.
Jangan nanya di mana terbitnya. Udah tertera di gambar ya ...
Ditunggu komen kalian di sana.😘****