Bang Duda

Bang Duda
246. Bocah Berisik (Musim Kedua)



Weekend adalah hari untuk beristirahat dan juga berkumpul dengan keluarga. Tapi, tidak untuk Arya. Putri kecilnya sedari pagi merengek ingin ke rumah Riana.


"Pah, ayo ke rumah Ayah," ajaknya.


"Ayah sedang di Bandung, Sayang."


"Bohong!" sentak Beeya.


"Kemarin Papah bilang kalo Ayah ke Bandung, tapi Ayah ada di rumah sama Kak Ri dan juga Bunda," ocehnya.


"Tapi, kali ini Papah gak bohong, Bee," sahut Arya.


"Bee gak percaya," pekiknya.


Arya hanya menghela napas kasar. Apalagi Beeya yang sudah mencari Mamahnya. Sudah dipastikan Arya akan dibentak oleh istrinya.


"Satu ... dua ...."


"Pah, coba ajak ke rumah Riana biar Bee percaya. Mamah lagi masak ini," omel sang istri sambil membawa spatula.


Belum nyampe tiga udah nyamber kaya bensin.


"Bee, ayo kita ke rumah Ayah. Kalo Ayah gak ada pulang lagi, ya." Beeya pun mengangguk.


Dengan terus bersenandung Beeya berjalan dengan menggenggam tangan sang Papah. Tibalah mereka di rumah Rion.


"Assalamualaikum," ucap Beeya.


"Wa'alaikum salam," sahut Mbak Ina.


"Eh Neng Beeya."


"Ayah?" tanya Beeya.


"Bapak, Ibu sama Neng Riana sedang ke Bandung," jelas Mbak Ina.


Wajah Beeya seketika merengut dan berubah sendu. "Ya udah." Beeya pun keluar dengan hati yang sedih.


"Gimana ada gak?" Beeya pun menggeleng.


"Papaj gak bohong, kan. Kita pulang yuk." Beeya pun mengangguk.


Ketika Beeya dan Arya keluar dari pekarangan rumah Rion, Beeya memperhatikan seseorang diseberang jalan sana. Dia berdiri dan menatap ke arah rumah Rion. Wajahnya tak terlihat karena memakai gamis panjang, kerudung syar'i dan juga cadar.


Mata Beeya dan juga mata perempuan itu bertemu membuat si wanita itu salah tingkah. Dan dia pun mulai pergi.


"Bee, kamu liat apa?" tanya Arya karena Beeya tidak mau melangkahkan kakinya.


"Tidak Pah."


Di Bandung.


"Serius Teteh hamil lagi?" tanya Bu Dina.


"Testpack positif, tapi Manda sama Abang belum cek ke dokter kandungan," imbuhnya.


"Semoga kandungan kamu kali ini sehat, ya."


"Amin," balas Amanda.


"Bun, pulang," rengek Riana.


"Ayah mana?"


"Lagi sama onty," sahutnya.


"Bilang sama Ayah." Riana pun mengangguk cepat.


"Riana berbeda ya dengan Echa," kata Bu Dina.


"Iya Mah, di sini Riana gak betahnya karena gak ada teman. Kalo di rumah kan ada Beeya anak Arya. Teman main sekaligus teman berantem," balas Amanda.


"Mau pulang sekarang?" ucap Rion yang menghampiri Amanda dan Mamahnya.


"Ri kangen Beeya Ayah," kata Riana.


"Kalo jauh aja kangen kalo dekat aja berantem." Riana hanya tertawa.


Sepanjang perjalanan Rion masih mencermati kata-kata dari Nisa.


Aa, Nisa dapat laporan dari beberapa teman Nisa yang ada di sekitaran rumah Aa. Setiap hari ada wanita yang selalu memandang rumah Aa. Bukannya Nisa suudzon, tapi Aa harus berhati-hati. Takutnya, dia memiliki niatan jelek. Apalagi Riana, jangan biarkan Riana main sendirian di luar.


Siapa orang itu? Pikiran Rion berkelana ke sana ke mari.


Di tempat yang lain dua bocah kembar sedang berlatih basket dengan sang Daddy.


"Cape Dad," keluh Aska.


"Gini nih tipe anak doyan rebahan," ledek Aksa.


Mereka berlatih sore hari karena kegiatan pagi mereka ketika weekend jalan santai sambil jajan.


Mau tidak mau Aska pun mengikuti sang Daddy. Jika, olahraga seperti ini Aksa lah yang sangat bersemangat. Aksa menyukai semua olahraga. Meskipun awalnya dia tidak bisa, dia akan terus berusaha dan terus berlatih.


Ayanda tersenyum melihat suami dan anak-anaknya dekat seperti ini. Sesibuk apapun Gio, dia akan meluangkan waktu akhir pekannya untuk Aksa dan juga Aska.


"Latihan selesai," seru Gio.


Aska pun terkapar di lapangan basket sedangkan Aksa masih asyik dengan tembakan-tembakan ke ring basket.


Ayanda memberikan handuk kecil kepada Gio dan Gio pun mengecup singkat pipi sang istri. "Makasih, Mom."


"Mereka berbeda ya, Dad," ucap Ayanda yang sedang menatap ke arah si kembar.


"Mereka serupa tapi tak sama. Si Abang lebih senang bergaul sedangkan si Adek lebih senang di kamar," sahut Gio.


Setelah selesai berolahraga mereka bersantai sejenak di ruang keluarga. Tiba-tiba Aska menjadi melow, dia memeluk tubuh sang Mommy.


"Kenapa Dek?" tanya Ayanda sambil mengusap lembut tubuh Aska.


"Adek kangen Kakak," lirihnya.


Aksa pun mulai mendekat ke arah sang Mommy, dia memeluk tubuh Ayanda sebelahnya.


"Kapan Kakak pulang?" tanya Aksa.


Sejak kepergian Echa, si kembar kehilangan sosok seorang yang selalu membuat mereka semangat. Mereka berdua lebih senang menghabiskan waktu di kamar mereka. Bermain game atau sekedar mendengarkan musik.


"Sebentar lagi kuliah Kakak selesai. Kakak pasti akan pulang." Suara Ayanda pun bergetar menjawabnya.


Ada kerinduan yang mendalam terhadap Echa, ada tempat yang kosong di rumah ini tanpa kehadiran Echa. Gadis cantik yang selalu memberi warna yang berbeda.


"Mommy." Teriakan yang keluarga Gio kenali.


"Daddy." Beeya pun berlari ke arah Gio dan langsung duduk di pangkuannya.


"Bee kangen Daddy," katanya dengan tangan yang sudah merangkul leher Gio.


Gio pun mengecup seluruh wajah Beeya, si anak berisik yang sangat menggemaskan.


"Bang Athan dan Bang Acan kenapa?"


Aksa dan Aska pun menatap Beeya tajam. Hanya Beeya lah yang memanggil si kembar dengan nama depan. Sedangkan semua orang memanggilnya dengan nama tengah.


"Bang Aksa bukan Athan," ralat Aksa.


Beeya pun turun dari pangkuan Gio. Dia duduk di samping Aksa.


"Bee pernah nonton acara apa ya ... em ... Bee ingat, acara hewan-hewan gitu. Hewan itu lucu, gemes kayak Abang. Nama dia itu Otan."


Semua orang pun tertawa mendengar celotehan Beeya kecuali Aksa yang sangat kesal. "Otan itu singkatan dari orang utan, Beeya," geramnya.


"Hah?" Beeya pun bingung sendiri.


"Mah, orang utan itu monyet kan?" Beby pun mengangguk.


Beeya menatap wajah Aksa dengan seksama. Dia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Menatap tajam wajah Aksa.


"Abang lebih tampan dari monyet kok," imbuhnya seraya tertawa.


"Beeya!" pekik Aksa.


Beeya pun tertawa terbahak-bahak, apalagi Aksa yang sudah menggelitik perut Beeya membuat Beeya berteriak memohon ampun.


"Bocah berisik," gumam Aska yang masih betah memeluk tubuh sang Mommy.


"Bee berisik tapi ngangenin, Wek," sahut Beeya sambil menjulurkan lidahnya.


"Emang Bang Acan, mukanya gak ada manis-manisnya. Kalah sama iklan air minum." Semua orang pun terhibur dengan kedatangan Beeya.


"Mommy sih pas buat adonan Bang Acan kurang gula, jadinya asem muka Bang Acannya." Ayanda pun tertawa mendengar ucapan Beeya.


Gadis ini persis seperti Echa selalu membuat orang-orang di sekelilingnya bisa tertawa. Dan memberi warna yang berbeda.


***


Q : Thor kok up-nya gak nentu? Biasanya tengah malam atau pagi.


A : Maaf, anak aku lagi sakit ditambah lagi banyak kerjaan jadinya nulis sesempetnya. Nulis malam pasti ditinggal tidur.


Boleh minta tolong, kan?


Ada notif up langsung baca jangan ditimbun-timbun ya ...


Hari ini UP 2 bab ya, tunggu setengah jam-an atau 1 jam pasti terbit Bab baru.