
Mata Amanda dan juga Satria melebar dengan sempurna. "Apa-apaan ini?" tanya Satria dengan suara tercekat.
"Seperti yang Anda baca, Pak. Ini adalah surat yang ditulis tangan oleh Papah Anda. Dan semua isi surat wasiat ini harus dilakukan oleh anak-anaknya, yaitu Pak Addhitama dan juga Pak Satria."
"Kami akan menunggu sampai Pak Satria melakukan tes DNA."
"Tes DNA?" ulang Amanda.
"Ya, karena keluarga Pak Adijaya bukanlah keluarga sembarangan. Jika, tes DNA negatif. Kami bisa menuntut Anda."
Sungguh berita pagi hari yang membuat perut lapar menjadi kenyang. Berada di keluarga Satria ternyata lebih menyeramkan dibandingkan berada dengan keluarga Rion.
"Bang, ini tuh ibarat makan buah simalakama. Ketika tes DNA mengatakan positif, aku akan kehilangan harta. Dan ketika hasil tes DNA itu negatif, aku akan kehilangan separuh hartaku beserta Amanda. Sungguh menyakitkan, Bang," keluhnya.
"Cinta atau harta? Silahkan pilih salah satu," jawab lugas Addhitama.
"Manusia memang diciptakan tanpa rasa puas. Tetapi, manusia juga harus memiliki rasa bersyukur berlebih agar tidak selalu tamak akan harta duniawi. Pada hakikatnya, yang akan menyelamatkanmu ketika di akhirat adalah segala perbuatan baik dan amal solehmu." Nasihat yang sangat menampar hati Satria serta Amanda.
Satria benar-benar frustasi kali ini. Begitu juga Amanda yang sudah pasti akan kembali ke jalanan.
"Mas ...."
"Kamu tenang, ya. Aku akan bernegosiasi dengan Abang ku. Karena aku tahu, Bang Addhit gak akan pernah tega membiarkanku hidup menderita."
Satria bergegas mengganti pakaiannya dan akan menemui seseorang yang bisa membantunya. Satria terpaksa meninggalkan Amanda seorang diri. Dan berpesan jangan membukakan pintu ketika orang lain datang. Karena akan berbahaya bagi karirnya.
Mobil yang dikendarai Satria berhenti di hunian sederhana. Dan sudah ada satu bocah laki-laki yang sedang bermain di halaman depan.
"Sha, Rindra ada?" tanyanya pada istri Rindra.
"Ada, Om. Silahkan masuk," jawab sopan Nesha istri Rindra.
"Rio, masuk dulu yuk. Kita panggil Papih." Bocah kecil itu pun patuh kepada ucapan sang ibu.
Nesha menuntun tangan kecil Rio menuju kamarnya. Dilihatnya Rindra sudah rapi dengan pakaian kerja. "Ada Om Satria di bawah, Pih," ucap Nesha sambil membantu menggulung kemeja sang suami.
"Mau ngapain?" tanyanya dingin.
"Gak tahu, Mamih gak nanya terlalu dalam." Rindra mengangguk pelan.
"Mamih siapkan kopi, Papih mau temuin Om. Rio, ikut Papih ke bawah." Istri dan anaknya pun menuruti setiap perintah Rindra.
"Tumben pagi-pagi udah bertamu," sindir Rindra kepada Satria.
"Om sedang ada masalah, Dra," sahutnya.
Rindra mengernyitkan dahinya tak mengerti sambil memangku putra kesayangannya.
"Om, akan kehilangan harta, Om. Karena surat wasiat dari mendiang Kakek." Tawa Rindra pun menggema di pagi hari.
"Aku kira yang jadi laki-laki bejat cuma aku. Ternyata Om lebih bejat," ejeknya.
Hanya mendengar kalimat kehilangan harta, Rindra sudah menebak apa yang sedang terjadi dengan Satria.
"Ck, Om ke sini mau minta bantuan kamu. bukan mendengar ejekan kamu. Tolong yakinkan Papih kamu, agar tidak menarik harta yang udah mendiang Kakek berikan."
"Om kira, aku hidup enak ketika aku melakukan kesalahan yang sama dengan, Om. Aku dibuang dan tidak ada harta yang aku bawa sedikit pun. Semua kartu aku dibekukan oleh Papih. Namaku dicoret dari perusahaan. Om kira, aku hidup seperti sekarang karena bantuan Papih? Salah besar, Om."
"Papih adalah cerminan Kakek. Ketika kita melanggar aturannya siap-siap untuk angkat kaki dengan inistiaf sendiri atau ditarik paksa oleh orang berbadan kekar yang tak punya hati," terang Rindra.
"Om sudah melihat bagaimana hukuman yang aku terima ketika melakukan perzinahan. Harusnya Om mikir seribu kali sebelum melakukannya jika Om gak mau kehilangan harta," lanjut Rindra lagi.
Percakapan mereka terkesan karena kehadiran Nesha yang sedang membawa nampan berisi dua cangkir kopi panas.
"Diminum, Om. Maaf gak ada apa-apa. Karena kita gak memiliki pembantu," ucap sopan Nesha.
"Makasih, Sha."
"Rio, ayo main lagi di luar." Rio pun mengikuti ajakan Nesha. Karena sesungguhnya Nesha tidak ingin tahu apa yang sedang suami dan Omnya bicarakan. Nesha memang sudah tahu seberapa berengseknya suaminya di masa lalu. Maka dari itu, dia tidak ingin mendengarnya lagi karena akan membuat hatinya perih.
"Apa Om kira, harta akan selalu membuat kita bahagia?" tanya Rindra dengan tatapan serius.
"Pasti lah, uang akan membuat hidup kita lebih layak," jawabnya.
"Menurutku tidak, uang membuat semua orang yang memilikinya bisa lupa diri. Yang membuat aku bahagia sekarang ini adalah memiliki istri yang mau menerima keburukanku. Dan bertahan sampai sekarang ini adalah kebahagiaan yang tidak bisa ditukar oleh apapun. Termasuk uang," terangnya.
"Dengan gaji yang tidak besar bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan Papih, membuatku senantiasa bersyukur. Kecil besarnya uang yang aku dapatkan, jika selalu menanamkan rasa bersyukur pasti akan selalu cukup."
Tersentak, itulah yang Satria rasakan. Anak yang dulunya memiliki obsesi dan ambisi tinggi, kini menjelma menjadi seorang pria yang sangat berbeda. Addhitama menghukum Rindra dengan caranya sendiri. Hidup tanpa harta orangtua, begitulah hukuman yang diterapkan Addhitama kepada semua anak-anaknya ketika mereka melakukan kesalahan yang fatal. Apalagi, sampai berita itu viral.
"Jangan sangkut pautkan aku dalam masalah Om. Terima saja hukuman yang Papih berikan. Toh, jika Om bisa melakukan hukumannya dengan baik, Papih juga yang akan menemui Om dan membantu Om lagi. Karena Papih tidak sekejam itu," tutur Rindra.
"Sia-sia Om datang ke sini," sesal Satria.
"Hahahaha, lagian orang bejat minta bantuan sama mantan orang bejat. Salah lah," cibir Rindra.
Satria hanya berdecak kesal mendengar cibiran dari keponakannya. "Emang siapa yang udah Om hamili," tanya Rindra setelah menyeruput kopi.
"Amanda."
Rindra pun terbatuk-batuk mendengarnya. "Amanda mertua tiri Radit?" Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Satria.
"Gila, sumpah gila banget." Rindra menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Aku gak bayangin, gimana perasaan keluarganya. Omnya Radit selingkuh sama ibu mertua Radit. Serem bayanginnya," ujar Rindra.
"Wajar sih kalo Papih murka," sambungnya lagi.
"Kami saling cinta."
"Cinta dan nafsu itu beda tipis, Om. Tidak usah mengatakan cinta pada akhirnya Om ragu akan masalah kehilangan harta." Menusuk sekali ucapan Rindra. Bagaimana pun, Rindra adalah orang pertama yang merasakan kejamnya Addhitama dan juga Raditya dalam menghukumnya.
"Kenapa kamu sekarang berpihak kepada Papih kamu? Padahal Papih kamu sudah mengambil apa yang kamu punya," geram Satria.
"Berpihak? Aku tidak berpihak kepada siapa pun. Aku berbicara sesuai fakta yang ada. Aku merasakan sendiri bagaimana keras dan kejamnya hukuman dari Papih. Sehingga mata dan hatiku terbuka lebar, akan tujuan Papih menghukum ku karena Papih ingin aku berubah."
"Dan harus Om garis bawahi, berubah itu dari hati bukan untuk mengambil hati. Jika, Om hanya melakukan perubahan untuk mengambil hati Papih. Lebih baik Om segera menggali liang lahat. Karena Papih akan menyuruh anak buahnya untuk mempercepat kematian Om."
...****************...