Bang Duda

Bang Duda
173. Harus Pergi



Sebelum berbicara Radit terlebih dahulu menarik napasnya. Menenangkan hatinya terlebih dahulu.


"A-aku harus pergi, Cha."


"Pergi kemana, Kak? Gak usah nge-prank deh, aku lagi gak pingin bercanda." Echa fokus kembali ke bukunya sedangkan Radit bersandar di bahu Echa.


"Aku mau lanjutin study di London," ucap Radit pelan.


Buku yang Echa pegang pun terjatuh, perlahan Echa menatap Radit yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan.


"Maafkan aku ...."


"Kapan kamu berangkat?" Wajah Echa benar-benar sangat datar dan tidak terbaca. Sekuat tenagan dia menahan rasa sedih di hatinya.


"Sebentar lagi."


"Ya udah, semoga kamu betah di sana dan study mu lancar." Echa beranjak dari duduknya namun tangan Radit langsung memeluk pinggang Echa.


"Maafkan aku, Cha. Aku gak bisa nepatin janji aku untuk selalu ada buat kamu," lirihnya.


"Hidupku masih akan baik-baik saja tanpa kamu." Dinginnya ucapan Echa membuat hati Radit benar-benar sakit.


"Raditya." Suara pak Adhitama menyudahi pelukan Radit.


"Aku janji, aku akan menyelesaikan kuliahku secepatnya."


Mendengar ucapan Radit, dadanya terasa sesak. Kenapa dia merasa kecewa ketika Radit mengatakan jika dirinya harus pergi. Ada apa dengan hatinya?


Sebelum pergi, Radit memeluk Echa sangat erat. "Jangan menangis, aku hanya dua tahun di sana. Ketika libur, pasti aku akan pulang ke Jakarta dan menemui kamu."


Tidak ada balasan apapun dari Echa. Air matanya menetes seakan tidak rela harus berpisah dengan Radit. Orang yang cukup berjasa menyembuhkan rasa sakit di hatinya. Yang selalu ada di saat Echa sedang tidak baik-baik saja. Dan Radit pun sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Papanya.


"Memang benar, tidak ada yang benar-benar tulus, selain keluarga," lirihnya.


Radit menangkup pipi Echa, menatapnya lekat. "Ketulusanku tidak usah kamu ragukan. Aku menyayangimu, Elthasya." Radit mencium kening Echa sangat dalam.


Selama diperjalanan menuju bandara Radit hanya terdiam. Bayang-bayang Echa masih memenuhi kepalanya.


"Papih lakukan ini supaya kamu pantas dan layak menjadi salah satu anggota keluarga Wiguna. Mereka bukan orang sembarangan dan pasti tidak akan memilih orang sembarangan pula untuk pendamping putrinya. Terlebih, putrinya baru saja mengalami pengkhianatan." Perkataan sang Papih membangunkan Radit dari lamunannya.


"Dan kamu harus buktikan, bahwa kamu layak dan pantas menjadi pendamping untuk Echa."


Radit hanya menghela napas kasar. Dia tahu, apa yang papihnya lakukan adalah yang terbaik untuk masa depannya. Terlebih, dia anak bungsu dan memilih jalan berbeda dari dua orang kakaknya.


"Aku akan berusaha lulus secepatnya. Aku tidak akan mengecewakan Papih dan juga Echa serta keluarganya."


Kepergian Radit menimbulkan kembali rasa kecewa di hati Echa. Semua lelaki sama, begitulah pikirnya.


"Kak, Radit pergi untuk belajar. Untuk melanjutkan sekolah. Jadi, kamu harus dukung dia," ujar Ayanda.


"Echa pasti akan mendukung Kak Radit, Mah. Meskipun Echa harus kehilangan cenayang dalam hidup Echa." Suara tertawa Echa terdengar sangat sumbang di telinga Ayanda.


"Meskipun jauh, kamu masih bisa komunikasi kan sama dia. Ketika liburan, kita bisa pergi menemui Radit di sana," ujar Gio.


"Tidak, Pa. Biarkan Kak Radit fokus pada kuliahnya. Echa tidak mau mengganggu dia."


Raut kesedihan dan kekecewaan terlihat jelas di mata Echa. Sorot matanya tidak bisa membohongi kedua orangtuanya meskipun senyum tersungging di bibir Echa.


Bagaimana kelanjutan kisah Radit dan Echa? Akankah Radit pantas untuk bersanding dengan Echa? Ataukah takdir berkata lain?


Ikuti kisah Echa dan juga Radit di karya aku selanjutnya. Apakah sudah ada? Belum, masih proses penggarapan. Dan masih proses mengumpulkan niat untuk menuangkan ide-ide yang ada di kepala ke dalam tulisan.


Dimanakah aku harus menerbitkan karya baru ku ini? Tetap di sini atau di platform lain?


Bagaimana menurut kalian? Kalian memilih dimana? Tulis di kolom komentar ya, Sayang. Aku ingin tahu seberapa sayangnya kalian ke diriku.😁🤧


***


Happy reading ....