Bang Duda

Bang Duda
220. Selamat Tinggal



"Bang, jelaskan apa maksudnya?" tanya Amanda.


Rion mengatur napasnya sebelum menjawab pertanyaan Amanda. "Putri kita akan melanjutkan kuliah di Canberra."


"Kenapa Abang gak bilang sama Manda?" Air mata Amanda pun luruh.


Hati Echa sakit melihat air mata Bundanya menetes ditambah sang Mamah sedang menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang papa.


Rion pun hanya terdiam. "Apa ini syarat yang diajukan Echa agar Manda kembali? Manda ke sini dan Echa pergi," katanya.


"Bukan begitu, Bunda," tegas Echa.


"Kenapa kamu harus mengorbankan diri kamu lagi? Seharusnya Bunda tetap di tempat itu. Biar kamu tetap berada di sini bersama orang-orang yang menyayangi kamu," imbuhnya.


"Bunda rela pergi lagi, asal kamu tetap di sini. Bunda tidak ingin merasa berdosa untuk kesekian kalinya." Air matanya sudah membasahi pipi Amanda.


"Bunda jangan pergi, lihatlah Riana," pinta Echa. Riana yang tidak mengerti apa yang dikatakan orang dewasa hanya diam. Dan ketika namanya dipanggil oleh sang kakak dia pun berhambur memeluk tubuh Echa.


"Tata," panggilnya lirih.


Sungguh hati Echa mencelos mendengar panggilan bocah yang sedang memeluk kakinya ini. Keysha dan si kembar yang sedang bermain pun ikut berlari menghampiri Echa dan memeluknya.


"Tey, tayang tata."


"Ban lebih tayang tata."


Gatthan hanya bisa terus memeluk tubuh sang kakak dengan air mata yang sudah menetes. Semua orang ikut menyeka ujung mata mereka melihat pemandangan di depan mereka. Dan Ayanda sungguh tidak kuat dan dia semakin erat memeluk pinggang suaminya.


"Kakak sayang kalian semua," lirih Echa.


"Jika, keberadaan Bunda membuat kamu tidak nyaman. Bunda akan kembali ke tempat asal Bunda. Bunda tidak ingin merusak kebahagiaan kamu. Bunda tidak ingin menjadi benalu dalam kebahagiaan kalian semua," imbuh Amanda.


"Danan pelgi, Bunta." Riana berlari memeluk tubuh Amanda.


Radit membantu Echa untuk bangun. Dan dia duduk disamping Radit dengan memangku si kembar dan Radit memangku Keysha. Tangan Radit tak melepaskan genggamannya kepada jemari Echa.


"Bunda, Ayah, Mamah, Papa ...."


Echa menjeda ucapannya dan mengatur napas sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Selama ini, Echa sudah banyak mengorbankan perasaan Echa untuk kalian semua. Sudah mengesampingkan keinginan Echa untuk kalian semua. Sekarang, waktunya Echa mendapatkan kebahagiaan Echa. Sudah waktunya, Echa mementingkan diri Echa sendiri."


Semua orang yang mendengar hanya terdiam mendengar penuturan Echa. Terlebih, keempat orangtua Echa yang hanya bisa menatap Echa nanar.


"Inilah impian sederhana Echa," ucapnya seraya menyunggingkan senyum.


"Ketika Mamah sudah menemukan kebahagiaannya. Dan Ayah sudah menemukan kebahagiaan Ayah juga, di situlah Echa harus pergi. Echa juga perlu bahagia seperti Mamah dan Ayah rasakan."


"Sudah tidak ada beban lagi di hati Echa ketika orang terkasih Echa bisa melengkungkan senyum indah. Papa sudah membuat Mamah bahagia, dan Bunda juga sudah membuat Ayah bahagia. Apalagi kehadiran si kembar dan juga Riana yang menyempurnakan kebahagiaan kalian."


"Izinkan Echa untuk pergi, izinkan Echa untuk mencari kebahagiaan Echa sendiri. Echa ingin dikenal bukan karena nama besar Papa dan juga Mamah. Echa juga tidak ingin dikenal karena nama besar Ayah. Echa ingin dikenal oleh dunia karena prestasi Echa sendiri, perjuangan Echa sendiri. Tolong kali ini mengerti Echa," pinta Echa.


Permintaan Echa sangatlah menusuk hati bagi semua orang yang mendengarnya. Apalagi keempat orangtua Echa.


"Dit, bawa Echa ke kamarnya."


"Glenpa, ban mu bobo ma tata," ucap Ghassan.


"Tey uda." Sedangkan Ghattan masih memeluk tubuh Echa dan tidak ingin jauh dari Echa.


"Kalian boleh tidur sama Kakak," sahut Genta.


Radit dan Echa pun membawa si kembar dan juga Keysha ke lantai atas. Di lantai bawah, Genta hanya bisa menghela napas kasar. Kemudian, Genta menatap Addhitama.


"Izinkanlah Echa untuk sembuh," ucap Addhitama.


Semua orang melebarkan matanya kecuali, Gio, Ayanda dan juga Rion yang hanya menundukkan kepala mereka.


"Ma-maksudnya apa?" tanya Amanda.


"Kalian pasti sudah tau tentang penyakit Echa. Apa kalian tahu, jika penyakit Echa sampai kambuh lagi kemungkinan untuk selamat hanya 20 persen. Lebih kecil dibandingkan prediksi awal."


Semua orang terlonjak kaget dengan pernyataan Addhitama. "Jangan bercanda, Om," kata Ayanda.


"Saya tidak bercanda. Kenyataannya seperti itu."


Tubuh Rion seakan melemah, begitu juga Ayanda. Dan wajah sedih ditunjukkan oleh orang-orang yang berada di sana.


"Keberangkatan Echa untuk menjalani serangkaian pengobatan penyakitnya. Dan juga pemulihan psikisnya," jelas Genta.


"Psikis Echa sangat terguncang, sehingga menyebabkan penyakit lamanya kambuh kembali. Jadi, bukan hanya Aritmia Echa yang perlu disembuhkan tapi juga psikis Echa harus dipulihkan. Ketika psikisnya stabil, penyakit itu juga tidak mungkin menyerang Echa," ungkap Addhitama.


"Inilah dampaknya karena Echa selalu memendam segala sedih dan lukanya sendiri. Apalagi, jika ada yang menyenggol lukanya dan membuat lukanya menganga kembali. Itu berimbas pada kondisi jantung Echa," lanjut Addhitama.


"Jika, kalian sayang kepada Echa, lepaskan kepergian Echa dengan ikhlas. Jangan Bebani Echa dengan sikap kalian seperti ini. Itu akan membuat Echa semakin jauh dari kata sembuh," imbuh Genta.


"Kalian jangan khawatir, Echa ditangani oleh dokter terbaik yaitu Addhitama sendiri dan dibantu dokter dari Jepang dan juga Singapura."


Semua orang tahu, jika Addhitama adalah dokter terbaik yang jasanya digunakan oleh petinggi-petinggi negara dan jajaran orang berduit di negeri ini.


"Untuk psikis Echa, kalian bisa percayakan kepada Radit. Putra saya membuka praktek psikiater di Canberra, dan juga sedang magang di rumah sakit tempat nantinya Echa menjalani pengobatan. Yaitu, rumah sakit milik saya sendiri," terang Addhitama.


Sungguh luar biasa kekayaan yang dimiliki oleh Addhitama. Tidak banyak orang yang tahu jika, Addhitama memiliki sebuah rumah sakit di luar negeri. Belum lagi perusahaan yang dikelola oleh Rindra dan juga Rival putra pertama dan keduanya.


"Setelah Echa dinyatakan sembuh dari sakit dan guncangan psikisnya, mau Echa kuliah di sana atau tidak, Ayah tidak akan memaksa. Akan Ayah kembalikan kepada cucu Ayah."


"Harus kalian ingat, Echa adalah cucu pertama Ayah dan dia akan menjadi penerus pertama semua perusahaan Ayah."


Addhitama tersenyum bangga kepada Genta. Ketegasan Genta dan juga kasih sayang tulus Genta kepada Echa memberikan sebuah pembelajaran untuknya.


Echa bukanlah cucu kandung Genta, tapi Genta memperlakukan Echa layakanya cucunya sendiri. Dan dia tidak segan mengatakan kepada semua orang jika Echa adalah penerus pertama perusahaannya. Padahal, Genta memiliki dua cucu laki-laki yang posisinya lebih kuat dari Echa. Begitulah Genta, dia tidak membeda-bedakan semua cucunya.


Setelah mendapati kenyataan tentang Echa, keempat orangtua Echa menghampiri Echa di kamarnya. Hati mereka sakit ketika Echa menangis di dalam pelukan Radit.


"Dek." Panggilan dari orang tercinta membuat Echa menghapus air matanya dengan cepat. Dan di tersenyum ke arah ayahnya dan juga orangtuanya yang lain.


Rion merentangkan tangannya membuat Echa menahan air matanya dan berhambur memeluk tubuh ayahnya. Rion memeluk tubuh Echa dengan eratnya dan dia sekuat tenaga menahan bulir air mata yang ingin menetes.


"Carilah kebahagiaanmu, Dek. Bawalah kebahagiaanmu ke hadapan Ayah agar Ayah ikut bahagia dengan kebahagiaan yang sudah kamu temukan." Suara Rion terdengar sangat bergetar. Hatinya menahan sakit sekaligus sedih dan pedih.


Amanda membelai rambut Echa yang sedang dipeluk oleh Rion. Echa melepaskan pelukan Ayahnya dan memandang wajah Amanda dengan penuh permohonan.


"Jangan pergi tinggalkan Riana dan Ayah, Bunda. Echa mohon," pintanya.


"Bunda tidak akan pergi meninggalkan Riana dan juga Ayah. Asal kamu janji satu hal kepada Bunda," ujar Amanda.


"Apa?"


"Kuburlah semua kesedihan dan kepedihanmu. Obati luka di hatimu, dan kembalilah menjadi Echa yang baru. Echa yang penuh dengan keceriaan." Bibir Amanda mampu tersenyum. Namun, hatinya menangis keras.


"Siap Bunda," kata Echa dengan senyum yang melengkung indah di bibirnya.


Echa beralih menatap Mama dan Papanya. Wajah sedih nampak sekali di wajah kedua orangtuanya itu.


"Mah ...."


Ayanda langsung memeluk tubuh putrinya. Air matanya sudah tidak terbendung.


"Lakukanlah apa yang kamu mau. Tapi, setelah kamu menemukan semuanya, jangan lupa pulang. Mamah akan selalu menunggu kepulangan kamu di sini." Echa pun mengangguk pelan.


"Echa pasti akan kembali lagi, Mah. Pasti," sahutnya.


Echa menatap sang Papa dan memeluknya. "Pa, jaga Mamah, jangan biarkan Mamah menangis lagi," pinta Echa.


Radit tersenyum melihat ketulusan cinta yang keempat orangtua Echa berikan. Echa adalah anak yang sangat-sangat beruntung. Berbeda dengan dia.


"Dit," panggil Ayanda.


"Iya Tante." Ayanda memeluk tubuhnya membuat Radit terdiam sejenak. Merasakan kehangatan yang selama ini tidak dia rasakan.


"Jaga Echa, Dit. Tante percaya sama kamu."


"Iya, Tante, Radit akan jaga Echa," sahutnya.


Setelah keempat orangtuanya keluar kamar, hanya tinggal Radit dan Echa di kamar. Mereka masih memandangi langit yang sunyi tanpa kerlipan bintang.


"Dingin, masuk yuk," ajak Radit.


"Aku pasti akan merindukan tempat ini," ujar Echa.


"Tempat di mana aku merasa nyaman dengan kesendirian dan juga kesedihan."


Radit memeluk tubuh Echa dari belakang, "Kamu sekarang tidak sendiri, ada aku Sayang. Aku yang akan menemani kamu," imbuhnya.


Radit meletakkan dagunya di bahu Echa dan Echa pun tersenyum bahagia sambil mengusap lembut pipi Radit.


"Jangan pernah merasa sendiri lagi. Ada aku yang akan menemani kamu. Ada keempat orangtua kamu yang sangat menyayangi kamu. Kamu harus selalu bersyukur karena dikelilingi orang-orang seperti mereka." Echa mengangguk pelan dan mereka masih betah berada dalam posisi seperti ini.


Pagi hari, matahari sudah terbit dari ufuk timur. Namun, Echa tidak kunjung turun untuk sarapan. Ayanda naik ke lantai atas, ketika membuka pintu bibirnya tersungging dengan sempurna.


Putrinya sedang tertidur di atas kasurnya, sedangkan Radit tidur di sofa kamar Echa. Melihat pemandangan seperti ini mengingatkan akan hubungannya dengan Gio pada waktu itu.


Tak ingin mengganggu Echa dan juga Radit yang sedang terlelap, dengan pelan Ayanda menutup pintu kamar dan kembali ke bawah.


"Echa masih tidur?" Ayanda pun mengangguk.


"Biarkan saja, keberangkatannya masih jam 10 kok ," imbuh Genta.


"Yah, jangan terlalu keras terhadap Echa," ucap Gio.


Genta mengerutkan dahinya tak percaya. Apalagi melihat keseriusan di mata Giondra.


"Kasihan Echa, Yah." Nampak sekali kekhawatiran di mata Gio.


"Anak bodoh," umpat Genta.


"Cara mendidik kamu dan mendidik cucu Ayah itu berbeda. Anak super duper nakal, biang kerok, langganan masuk ruang BK sering di skorsing itu wajib menerima didikan yang keras. Supaya apa? Supaya kamu bisa memimpin perusahaan yang sudah susah payah Ayah dirikan. Dan lihatlah sekarang, kamu dikenal dunia dan menjadi manusia sukses di usia yang masih muda."


Gio pun mengangguk. "Gak usah disebutin kenakalan Gi satu-satu atuh, Yah. Apalagi di depan istri Gi sendiri," keluhnya.


Ayanda hanya tertawa. "Biar orang lain tahu bahwa kamu itu tidak sesempurna apa yang mereka lihat," tukas Genta.


Pukul delapan, Radit sudah turun dari lantai atas dan bergabung bersama Ayanda, Gio dan juga Genta.


"Nyenyak kayaknya nih tidur," canda Gio. Radit hanya tertawa.


"Bisa cek CCTV kok Om," sahut Radit.


Tak lama kemudian, Echa turun ke bawah dengan muka bantalnya. Matanya sedikit membengkak, sepertinya Echa menangis semalam. Dia bergelayut manja di lengan sang Mamah, membuat tiga pria di sana hanya tersenyum.


"Kalo masih ngantuk tidur lagi aja," kata Ayanda.


"Mah, bikinin sarapan spesial untuk Echa. Ini kan terakhir kalinya Echa sarapan makan masakan Mamah." Mendengar permintaan Echa seperti itu membuat ulu hati Ayanda serasa ditusuk pisau tajam.


"Ya udah, Mamah buatin ya." Sekuat tenaga Ayanda menahan tangisnya. Dia tidak boleh menjatuhkan air matanya di depan Echa.


Dan sekarang Echa merangkul lengan sang papa. Gio dengan lembut mengusap rambut Echa sambil mengobrol dengan Genta dan juga Radit.


Sedangkan di dapur, Ayanda memasak dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Dia akan merindukan momen ini. Pasti akan sangat merindukan.


Di tempat berbeda, Amanda terus saja menangis. Hatinya sakit sekali mendengar kepergian putrinya. Apalagi, penjelasan dari Papihnya Radit dan juga Genta. Membuat hati Amanda hancur berkeping-keping.


Sedari semalam pun, Rion tidak banyak bicara. Dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk merelakan kepergian putrinya. Bukannya berlebihan, wajar saja jika Rion tidak rela melepas putrinya ke negara orang. Sedari pertama kali bertemu, Rion selalu berusaha menjadi Ayah yang baik untuk Echa. Dan ketika keinginannya ingin membina keluarga yang bahagia dengan istrinya dan juga Riana serta Echa, tapi Echa pergi dan akan tinggal jauh darinya.


Sekarang sudah pukul sepuluh. Mereka sudah bersiap mengantar Echa ke Bandara Halim. Di mana pesawat pribadi Genta berada. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang tercipta. Sesampainya di sana, sudah ada keluarga besar Echa yang sudah menanti kehadiran Echa.


"Echa akan merindukan kalian semua," katanya dengan menahan tangis.


"Jangan sering-sering jenguk Echa karena itu akan membuat Echa sedih dan selalu teringat kepada kalian." Semua wanita yang berada di sana menitikan air mata dan memeluk tubuh Echa.


"Mamah, Bunda, jangan menangis lagi. Echa pasti kembali kok. Selalu doakan Echa, doakan putri kalian ini."


Echa mencium tangan Ayanda sangat lama lalu memeluknya. Merasakan aroma tubuh sang Mamah yang nantinya akan sangat dia rindukan. Echa pun mencium tangan bundanya dan memeluknya. Benar kata Radit, dia harus banyak bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang tulus menyayanginya.


"Jaga istri-istri kalian," ucap Echa seraya tersenyum. Arya yang pertama kali mendekap hangat tubuh keponakannya ini.


"Cepet kembali, ntar gua gak ada teman buat adu mulut," imbuhnya dan Echa pun tertawa.


Semua orang tahu, Arya sangat sedih melepaskan keponakannya satu ini. Dia lah yang sangat dekat dengan Echa, dia yang tahu tentang Echa selain Rion. Dan dia yang menjadi tempat bercerita untuk Echa.


"Kalo anak Om udah lahir, kabarin Echa. Biar Echa yang kasih nama." Arya pun mengangguk mantap.


"Bercanda, Om." Echa pun tersenyum hangat kepada Arya.


"Pacar, aku pergi ya," ucap Echa kepada Azka.


"Hati-hati pacar, jangan selingkuh dari aku ya," canda Azka.


"Yaah ... aku udah punya selingkuhan, gimana dong." Semua orang tertawa mendengar celotehan Echa bersama Azka.


"Jaga diri kamu baik-baik," ucap Azka yang kini memeluk erat tubuh Echa.


"Pasti, Kak."


Dan terakhir Echa tersenyum ke arah Papa dan juga Ayahnya. "Love you Dad's."


Rion dan Gio memeluk tubuh Echa. Echa memejamkan matanya sejenak, merasakan kehangatan dari dekapan sang papa dan juga ayahnya.


"I will miss you," ucapnya lirih.


"I know," sahut Gio.


Echa mencium tangan Gio dan juga Rion bergantian. Melepaskan senyum yang sangat teramat manis. Agar kedua lelaki tersayangnya mengingat senyumnya itu.


"Echa berangkat ya. Assalamualaikum."


Radit dan Echa pun berjalan menjauhi keluarga besar Echa. Ada bulir air mata yang terjatuh, ada hati yang teramat sedih dan ada sedikit ketidak relaan untuk melepaskan.


Lambaian tangan Echa sebelum masuk pesawat menjadi akhir cerita Echa yang penuh dengan luka. Dia akan berkelana untuk mencari apa yang selama ini dia cari, yaitu kebahagiaan yang hakiki serta kesembuhan yang sesungguhnya.


Perpisahan tak bisa lagi dielakkan lagi. Kini, saatnya untuk Echa pergi mengudara. Meninggalkan negara ini dan datang ke belahan dunia yang lain untuk menjadi tamu sekaligus penghuni baru. Mencari bahagianya yang mungkin saja berada di sana.


Selamat tinggal kisah sedih dan pilu. Selamat tinggal luka yang tak pernah sembuh dan selamat tinggal untuk semua orang yang menyayangi Echa dengan tulus.


Doakan Echa, agar Echa bisa menyembuhkan semuanya.


****


Happy reading ....


Ada notif UP langsung baca janah ditimbun-timbun.


Jempolnya jangan pelit dan jangan lupa sisipkan komennya biar aku bahagia ...