Bang Duda

Bang Duda
170. Siapa Radit?



Setelah Radit pamit pulang, Rion menatap Gio dengan tatapan tajam. "Siapa sebenarnya Radit?"


Bukan hanya Rion yang penasaran, semua orang yang berada di sana pun sama penasarannya seperti Rion.


"Dia ...."


Ucapan Gio terhenti ketika suara ponselnya berdering. Dia menjauhi yang lain untuk menerima panggilan. Lima menit kemudian, Gio masuk kembali ke ruang keluarga namun untuk pamit kepada semuanya.


"Mommy, kita harus pulang sekarang."


"Ada apa, Dad?" tanya Ayanda sedikit panik.


"Ada kolega Daddy yang akan datang ke apartment. Jadi, kita harus segera pulang," jelasnya.


Dengan berat hati Ayanda dan si kembar pulang terlebih dahulu. Radit masih menjadi teka-teki bagi orang-orang yang masih berada di rumah Rion.


#Flashback off.


Pagi harinya, Echa sedang bersiap untuk pergi ke sekolah. Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak karena rasa sakit di lututnya. Echa terlalu takut untuk membuka perban yang menempel di lututnya.


"Kak, sebaiknya hari ini kamu jangan berangkat sekolah dulu," ucap Ayanda mampu membuat Echa kaget. Dia memegang dadanya karena mamahnya datang tiba-tiba.


"Echa baik-baik saja, Mah." Senyum khas Echa berikan untuk sang mamah.


Senyuman Echa adalah kesakitan untuk Ayanda. Karena senyuman itu tidak tulus dan hanya senyuman terpaksa. Echa harus menutupi semua kesedihannya kepada mamah dan ayahnya. Hanya kepada Gio, Echa akan mengungkapkan semuanya.


"Papa akan memeriksa luka mu. Papa sudah menunggu di ruang keluarga." Ayanda pergi dengan hati yang teriris perih. Dia tidak mau, Echa melihat dia menangis.


Dengan langkah yang menahan sakitnya luka. Echa berjalan dibuat sebiasa mungkin, Gio menatap ke arah Echa dengan tatapan datar.


"Echa tidak apa-apa, Pa."


Gio menarik pelan kaki Echa dan meluruskannya. Dengan sangat hati-hati Gio membuka perban Echa. Gio hanya bisa menghela napas kasar.


"Luka mu harus segera ditindak lanjuti, Kak. Ini sangat tidak bagus," ucap Gio.


"Pa, bisakah Echa ke dokternya siang aja. Jadi, Echa sekolahnya setengah hari. Echa sudah banyak tertinggal pelajaran Matematika dan juga kimia."


"Baiklah, nanti akan ada yang menjemput kamu."


Setelah sarapan, Echa pamit kepada keempat orangtuanya. Baru saja dia bangkit dari duduknya, suara seseorang yang akhir-akhir ini mengganggu hari-harinya terdengar.


"Pagi semua," sapa Radit sambil menyalami satu per satu orangtua Echa.


"Kamu diantar Radit, Dek," ujar sang Ayah.


"Tapi ...."


Mata Rion melebar, sorot matanya mengatakan tidak ada bantahan. Turuti apa yang Ayah katakan.


"Pa ...."


"Papa ada meeting, Kak. Dan Om Remon sudah menjemput Papa," potong Gio.


Dengan wajah kesal dan marah, Echa berangkat sekolah diantar oleh Radit. Radit hanya tersenyum kecil melihat tingkah lucu gadis di depannya ini.


Ada apa sih sama ni bocah. Kenapa selalu buat gua gemes dan juga tertawa dengan semua sikapnya.


Radit melajukan mobilnya, selama perjalanan hanya keheningan yang ada. Sesekali Radit melihat ke arah Echa yang sedang menatap kosong ke arah luar melalui kaca samping mobil.


"Kamu kenapa?" Pertanyaan Radit mampu membuat Echa terbangun dari lamunannya.


"Kalo ada masalah, aku siap kok jadi tempat cerita untuk kamu," imbuh Radit.


"Ck, gak usah ikut campur lah. Jalanin aja tuh mobil yang benar. Jangan buat aku celaka lagi," sinis Echa.


"Ya ampun, kamu tuh galak dan judes banget sih. Kayak emak-emak yang kekurangan duit bulanan," goda Radit sambil tertawa kecil.


Echa hanya melirik tajam ke arah Radit dengan wajah yang penuh kemarahan. Sedangkan Radit malah terkekeh melihat wajah Echa yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Awas ... nanti jatuh cinta, jatuh cinta padaku. Jangan-jangan kamu lah jodohku." Radit bersenandung sambil tersenyum ke arah Echa. Seakan lagu ini sedikit menyindir Echa. Tapi, Echa tetaplah Echa. Sikap dinginnya sudah mulai kembali dan tidak menggubris apa yang dikatakan Radit.


Setelah tiba di sekolah, Echa yang hendak langsung ke luar mobil dicegah oleh Radit. "Tunggu dulu."


Radit buru-buru keluar dari mobil dan membuka bagasi belakang. Ternyata dia menurunkan kursi roda untuk Echa.


"Kata Papamu, kamu gak boleh terlalu banyak gerak. Lukamu akan semakin parah." Jika, Echa sudah mendengar nama Papa seketika dirinya akan menjadi anak yang penurut.


Echa menuju kelasnya memakai kursi roda yang didorong oleh Radit. Semua mata tertuju pada Echa dan juga Radit. Bisik-bisik pun terdengar, namun Radit maupun Echa pura-pura menjadi manusia tuli.


Apalagi tawa diantara Echa dan juga Radit selalu terukir. Ya, Radit sedang menceritakan masa kecilnya dulu yang memalukan, membuat Echa tertawa.


Niat hati ingin memamerkan kemesraannya di hadapan Echa, dengan merangkul mesra tangan Riza. Tere malah syok melihat pemandangan di depannya.


Jangan ditanya bagaimana mimik muka Riza. Baru genapa sehari hubungan merka usai, Echa sudah mendapatkan pengganti dirinya. Bisa dibilang lelaki itu lebih dari Riza.


Radit yang sedari tadi melihat Riza dan juga Tere yang sedang berada di depan kelas Echa langsung menghentikannya langkahnya.


"Ada ap ...."


Suara Echa tercekal ketika dia juga melihat Riza dengan Tere. Echa mencoba menetralkan hatinya, lalu mendongak ke arah atas. "Aku baik-baik saja, Kak."


Mendengar ucapan dari Echa, semakin membuat Radit ragu untuk meneruskan langkahnya. Ketika tangan lembut Echa menyentuh punggung tangan Radit, akhirnya Radit mengangguk dan melanjutkan langkahnya kembali.


Mereka berpapasan dengan Riza dan Tere namun, Echa sama sekali tidak menggubris mereka. Radit membantu Echa untuk duduk di bangkunya.


"Jangan hujan-hujanan lagi, kamu udah gede bukan bocah," ledek Radit. Wajah Echa merengut kesal.


Sebelum Radit pergi, dia mengacak-acak poni Echa terlebih dahulu. Membuat Riza yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya dapat menahan rasa sesak dan sakit di dada.


Di kediaman Rion.


Rion menarik kemeja Gio dari belakang ketika dia hendak pergi ke kantor. "Apaan sih?" sentak Gio.


"Lu masih punya hutang penjelasan sama gua," bentak Rion.


"Siapa Radit?" ucap Rion dengan penuh penekanan.


"Iya, Pak. Siapa Radit?" timpal Amanda.


Akhirnya, Gio duduk di ruang tamu bersama Rion, Amanda dan juga Ayanda.


"Jelasin, siapa Radit?" tekan Rion


"Radit adalah putra bungsu dokter Addhitama."


"Addhitama?" Rion mencoba berpikir siapa Addhitama.


"Bukannya, dia itu dokter terbaik di negara ini, ya. Dan pasiennya pun kebanyakan pengusaha-pengusaha kaya raya," imbuh Amanda.


"Iya, dan putranya Raditya Addhitama adalah psikolog muda."


Rion dan Amanda tercengang mendengar penjelasan Gio. Mereka tidak bisa berbicara apa-apa.


"Radit adalah anak yang cerdas. Semasa sekolah dia selalu ikut kelas akselerasi. Makanya, diusia dia yang masih sangat muda ini dia sudah menjadi psikolog," terang Gio.


"Ini alasan lu mempercayakan Echa pada Radit?" tanya Rion.


"Ya, putri kita bukan hanya luka fisik tapi psikisnya juga cukup terguncang. Dan itu bisa berimbas pada kesehatan Echa jika psikis Echa tidak kita sembuhkan," jelasnya.


"Semalam, Radit lah yang memberitahu gua kalo Echa hujan-hujanan dan menangis. Dia sudah menjemput Echa, namun Echa gak ada, dia masih di sana sampe sekolah sepi. Radit tetap nunggu Echa dari kejauhan supaya gak ada yang liat dia."


"Dugaan Radit benar, Echa masih ada di sekolah dan keluar dengan wajah yang sangat sendu. Dibarengi dengan cuaca yang sudah gelap. Radit terus ngikutin Echa hingga Echa kehujanan. Radit sudah mengejar Echa, dan ketika mendengar gumaman Echa menyebut Papa ... Radit kembali ke mobil. Dia menghubungi gua dan menyuruh gua menjemput Echa."


"Radit tau apa yang harus dia lakukan untuk Echa, karena menurut dokter Addhitama Radit sudah biasa menangani hal semacam ini. Kita percayakan dulu kepada Radit. Dan dia pasti akan memberikan laporan perkembangan Echa kepada kita semua," imbuh Gio.


"Kalo perlakuan Radit itu membuat Echa jatuh cinta gimana?"


****


Nah gimana tuh?


Aku mau menjawab permintaan kalian yang minta aku up yang banyak. Per bab aku usahain nulis serebu kata, kalo aku up 2bab per hari salah satu bab-nya emang gak nyampe serebu. Tapi, kalo ditotal dalam sehari 1.500-an kata yang aku tulis untuk Bang Duda. So, itu udah banyak ya menurut aku karena menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan itu tidaklah gampang, Sayang. Ini pun aku nulis disela-sela kesibukan RL aku. Cukup sekian dan terimakasih 😁


Jangan ditimbun-timbun ya, bab-nya. Terbit langsung baca ...


Happy reading ....