
Semakin hari hubungan Rion dan Dinda semakin dekat. Malah bisa dibilang semakin lengket seperti permen karet. Arya sebenarnya risih dan tidak suka, tapi apalah dayanya. Kabar tersebut juga sudah terdengar ke telinga Echa dan juga Ayanda. Mereka tidak ambil pusing, terlebih Ayanda masih kecewa akan sikap mantan suaminya. Dan mendengar kabar itu membuatnya kecewa semakin dalam.
Echa juga seakan tidak peduli dengan hubungan ayahnya dan juga seorang pelakor. Dia sudah berjanji akan setuju dengan siapapun ayahnya menjalin hubungan. Meskipun Echa tahu jika Dinda sangat tidak menyukainya. Yang terpenting ayahnya masih mementingkan dirinya. Itu cukup baginya.
Jangan ditanya bagaimana hubungan Arya dan Beby. Mereka berdua semakin kompak. Dan mereka memutuskan untuk menjalin hubungan ke arah yang lebih serius. Ditambah singa betina Arya sudah menyetujui hubungan mereka.
Pagi menjelang siang, datang sebuah kabar menggemparkan. Bu Dina masuk rumah sakit dan kondisinya kritis. Nisa meminta kepada anak-anaknya Bu Dina untuk segera berkumpul. Ayanda yang berada di apartment pun ikut panik. Begitu juga Rion dan juga Arya yang memutuskan untuk langsung berangkat ke Bandung. Kebetulan Bu Dina kemarin pulang ke Bandung.
"Dad, cepet," teriak Ayanda.
"Iya, Mom."
"Echa?" tanya Ayanda.
"Dia sudah dijemput oleh sopir. Nanti langsung menuju landasan," jelas Gio.
Selama menunggu Gio bersiap, hati Ayanda sangat resah. Meskipun Bu Dina belum lama ini bersikap tidak baik kepada Ayanda, tapi Ayanda sama sekali tidak membencinya. Dia selalu menganggap Bu Dina seperti ibunya sendiri. Terlepas Bu Dina membencinya atau tidak.
Diperjalanan Rion terus saja melafalkan doa. Dia benar-benar cemas kali ini. Meskipun hubungannya dengan sang mamah belum membaik tapi dalam lubuk hati Rion dia sangat menyayangi mamahnya. Dia berdoa untuk kesembuhan mamahnya.
Ayanda yang terlebih dahulu tiba di rumah Bu Dina. Sebelum pesawat lepas landas, Nisa menghubungi Ayanda jika dia tidak perlu ke rumah sakit. Datang saja ke rumah mamah.
Ayanda mengetuk pintu, dan Nisa yang membukakan langsung. "Mamah gimana?" tanya Ayanda sangat khawatir. Dibelakang Ayanda ada juga Gio dan juga Echa. Nisa hanya tersenyum.
Nisa membawa Ayanda, Gio dan juga Echa masuk ke ruang keluarga. Dilihatnya ruangan yang sudah disulap cantik seperti mahligai pernikahan.
Apa ini? batin Ayanda.
Gio mengerutkan kedua alisnya, dia sama sekali tidak mengerti. Siapa yang akan menikah? Rion dan Dinda kah? Pertanyaan seperti itu sedang brkecamuk di pikiran Gio.
"Aunty, ini ada apa? Nenek mana?" tanya Echa memecah keheningan.
"Nenek di sini Sayang," sahut Bu Dina yang sudah berada di belakang mereka.
Mereka bertiga sangat terkejut, Bu Dina terlihat segar bugar jauh dari kata sakit. Akan tetapi, Nisa memberitahukan jika Mamah kritis.
"Maafkan Nenek," ucap Bu Dina pada Echa.
Echa langsung memeluk tubuh neneknya. "Echa sudah memaafkan Nenek dari jauh-jauh hari. Mamah selalu mengajarkan untuk selalu memaafkan kesalahan orang lain," ungkap Echa.
Hati Bu Dina terenyuh mendengar ucapan Echa. Bu Dina beralih menatap Ayanda, ada raut penyesalan dari mata Bu Dina. Ayanda pun tersenyum hangat kepadanya.
"Maafkan Mamah," lirihnya.
Ayanda langsung mencium tangan Mamahnya dan memeluknya. "Aku sudah melupakannya Mah," ujarnya dan mengeratkan pelukannya.
Hati Gio sangat bahagia sekali melihat Ayanda dan Echa memiliki hati yang luar biasa lapangnya.
"Mah, Mamah beneran sakit?" tanya Gio curiga.
Bu Dina hanya menggelengkan kepalanya dan berhasil membuat semua orang melebarkan mata. Bu Dina duduk di sofa dengan wajah sendu.
"Mah, kenapa dengan cara seperti ini? Mas Rion pasti akan semakin marah kepada Mamah," ucap Ayanda.
"Apa Mamah harus diam saja ketika melihat putra Mamah berhubungan dengan wanita liar itu?" tanya Bu Dina. Semua orang terdiam, tidak bisa menjawab apapun.
"Mamah tau semuanya, Mamah tau hubungan putra Mamah dengan pelakor itu. Mamah tau anak Mamah sudah menyakiti hati seorang wanita yang kini berlabuh kepada sepupu Nak Gio," ungkapnya.
"Mamah juga tahu, kalian tidak menyetujui hubungan mereka namun kalian tetap diam," imbuh Bu Dina.
"Mamah memiliki anak yang sukses namun akhlaknya yang buruk membuat Mamah merasa gagal mendidiknya," lanjutnya dengan suara gemetar.
Ketiga perempuan dihadapan Bu Dina langsung berhambur memeluk tubuh Bu Dina. Mereka tahu, yang dilakukan Bu Dina ini untuk kebaikan putranya.
"Izinkan Mamah untuk menikahkannya dengan seorang wanita yang sudah Mamah pilihkan. Insyaallah wanita itu akan membuat si Aa berubah," pinta Bu Dina dengan mata nanar.
Apa Nenek tetap akan menjodohkan Ayah dengan Tante seksi itu?
"Wanita itu insyaallah wanita baik. Wanita yang baru saja berhijrah," ujar Nisa yang seolah tahu apa yang dipikirkan keponakannya.
"Siapa dia Nek?" tanya Echa.
"Dia ada di kamar atas," jawab Bu Dina dengan seulas senyum.
"Apa Echa boleh menemuinya dulu? Kalo tidak boleh Echa tidak akan menyetujui perjodohan Ayah," ancam Echa.
Akhirnya, Bu Dina pun mengijinkan Echa untuk menemui wanita yang akan dijodohkan dengan ayahnya. Echa membuka pintu kamar atas sangat pelan, dia melihat ada seorang wanita yang sedang berdiri di depan jendela kamar.
Echa memperhatikan wanita itu dari ujung kaki hingga kepala. Penampilan yang membuat hati Echa tenang dan damai. Seulas senyum hadir di bibir Echa.
Echa melangkah pelan, namun wanita itu seolah menyadari ada yang datang. Dia membalikkan badannya dan melihat Echa yang telah menghentikan langkahnya. Mata Echa terpana melihat wanita di depannya. Tatapan hangat dari wanita itu membuat hati Echa luluh seketika. Meskipun sebagian wajahnya tertutup oleh cadar yang dikenakannya.
Tak lama Echa turun ke bawah menemui semua orang dengan wajah yang sangat amat bahagia. Senyuman di wajah cantiknya membuat semua orang bahagia.
"Echa setuju, Nek," ucap Echa dengan penuh semangat.
Bu Dina dan Nisa langsung tersenyum lega. Berbeda dengan Ayanda dan juga Gio yang hanya terdiam.
"Siapkan semuanya Nis, dan kita adakan akad nikah hari ini juga."
"Apa?" teriak Ayanda dan Gio bersamaan. Membuat Nisa, Bu Dina dan juga Echa tertawa.
"Jadi ini jebakan?" tanya Ayanda.
Bu Dina dan Nisa hanya tertawa. "Teteh, A Gio dan juga Echa masuk ke dalam jebakan yang kita bikin," imbuh Nisa sambil tertawa puas.
Ayanda mendelik kesal ke arah Nisa membuat Gio gemas dan mencubit pipi chubby Ayanda.
Semoga wanita itu bisa merubah Ayah, dan bisa menerima segala kebaikan dan juga keburukan Ayah. Sejujurnya, Echa tidak setuju dengan hubungan Ayah dengan Tante Dinda. Tapi demi kebahagiaan Ayah, Echa mengesampingkan rasa tidak suka itu. Echa hanya ingin melihat Ayah bahagia.
***