
Makasih udah nungguin Up-annya Bang Duda. Tapi, jangan ngedumel dong kalo up-nya sedikit. Sedih loh, sumpah. 🤧
Kan aku pernah bilang ke kalian, menulis cerita tidaklah mudah seperti kalian membacanya. Dari satu buah ide harus dikembangkan menjadi 1.000 - 4.000 kata yang biasa aku tulis itu memerlukan waktu yang cukup lama, Mak. Aku juga punya kehidupan nyata. Gimana caranya bagi cucian, masak, usaha sama nulis. Jadi, tolong hargai author cicilan macam aku ini.
Ada kalanya, aku itu buntu ide. Tidak selamanya otak penulis lancar jaya kayak jalan tol, Mak. Bagi yang mengerti Alhamdulillah, bagi yang nggak juga nggak apa-apa. Makasih banyak semuanya ...
...****************...
"Om, benarkan bayi itu adalah bayi Bunda?" Mata Riana seolah meminta jawaban. Hanya tatapan sendu yang Addhitama tunjukkan.
Satu menit, hening.
Dua menit, masih hening.
Tiga menit ....
Addhitama menganggukkan kepala dengan pelan. Membuat semua orang menganga tak percaya. Rion menyerahkan Aleena ke tangan Radit dan segera berhambur memeluk tubuh Riana dan juga Iyan yang memang sedang meminta jawaban.
"Ri, tidak apa-apa, Ayah," ucap Riana.
"Iyan semalam mimpi, ada anak laki-laki kecil yang memanggil Iyan dengan Kakak. Dan terus mengejar-ngejar Kakak karena Kakak menolak dipanggil dengan sebutan Kakak." Iyan menerangkan bunga tidurnya kepada semua orang di sana.
"Itu hanya mimpi, Iyan," imbuh Rion.
"Ri, juga mimpi yang sama Ayah. Anak itu cuma satu, tidak mungkin itu anak Kakak karena anak Kakak kan tiga," sambung Riana.
Semua orang hanya terdiam mendengar penjelasan Iyan dan Riana. Air mata Echa sudah luruh begitu saja. Dia membayangkan, berada di posisi Riana atau Iyan amatlah menyakitkan.
"Maafkan, Om, Riana. Maafkan, Om, Iyan," sesal Addhitama yang kini bersimpuh di hadapan kedua anak Rion. Ini semua bukan salah Addhitama. Tetapi, dia yang paling merasa bersalah. Karena Satria sudah merenggut kebahagiaan dua anak yang tidak berdosa.
"Seharusnya kalian hidup bahagia bersama kedua orang tua kalian. Bukan, malah tersakiti seperti ini." Addhitama memegang tangan Riana dan juga Iyan dengan bulir bening yang jatuh dari pelupuk matanya.
"Ini bukan salah, Om," ujar Riana.
"Ini sudah takdir kami berdua, Om," lanjut Iyan.
Riana dan Iyan pun memeluk tubuh Addhitama. Membuat semua orang terharu akan sikap dua anak Rion. Begitu juga dengan Rion yang mengukirkan senyum penuh kebanggaan untuk anak-anaknya.
Setelah memeluk Addhitama, mereka berdua menatap ke arah Echa yang tengah menangis haru. Riana dan Iyan pun berhambur memeluk tubuh kakaknya.
"Jangan menangis, Kak. Ri, belajar kuat dari kakak. Ri, belajar menjadi dewasa dari Kakak. Kakak adalah panutan untuk Ri."
Lengkungan senyum terukir di bibir laki-laki yang baru saja datang. Keadaan mampu mengubah sikap Riana.
"Semoga kamu masih seperti ini, ketika aku kembali ke tanah air," gumamnya.
"Mau ke mana kita, Pak?" tanya Satria ketika sudah tiba di Bandara.
"Ke Surabaya."
"Surabaya?" ulangnya.
"Tinggal ikut saja jangan banyak bertanya."
Satria hanya mengangguk patuh. Hatinya dari pagi memang merasa cemas tak karuhan. Seperti ada hal yang mengganjal. Tanpa dia tahu apa penyebabnya.
Dan sore hari Rindra mendapat kabar dari pihak rumah sakit bahwa proses operasi sudah selesai. Dia dan Nesha pun segera menuju ke rumah sakit.
Sudah satu jam yang lalu, Addhitama terbang ke Surabaya. Meninggalkan cucunya bersama Rifal. Hatinya sudah cukup tenang karena Riana dan Iyan tidak menyalahkannya atas perpisahan kedua orang tua mereka. Bagaimana pun, Satria adalah adik kandungnya. Dia sendiri takut jika kedua anak Rion yang menjadi korban atas perselingkuhan bunda dan adiknya akan memasukkannya ke dalam daftar orang yang mereka benci. Pada nyatanya, dua anak itu memiliki hati yang sangat mengasihi.
Tibanya Rindra dan Nesha di rumah sakit, wanita paruh baya mengantarkan dua majikannya itu ke kamar perawatan yang tadi siang mereka datangi.
Wanita itu tersenyum bahagia melihat Sha datang. Sedetik kemudian wajahnya berubah ketika melihat orang yang berada di belakang Sha. Senyum smirk Rindra tunjukkan kepada wanita itu.
"Masihkah Anda mengenal saya, Tante Amanda Maharani?"
Mata Amanda melebar ketika melihat sosok yang dia kenali. "Kenalin, itu suami aku, Rindra Addhitama," ucap Sha dengan senyum yang mengembang.
"Ka-kalian ...."
"Anda terlalu bodoh, masih bisa keluarga kami kelabuhi," ejek Rindra dengan senyum penuh kemenangan.
"Apa maksud kamu?" bentak Amanda.
"Mih, keluarkan surat perjanjian kita bersama apa yang dia minta," titah Rindra pada Nesha.
Nesha mengambil surat perjanjian mereka yang sudah ditanda tangani oleh Amanda.
"Bacakan poin terakhirnya, Mih," pinta Rindra.
"Ketika anak itu lahir, pihak Nesha Permata wajib menyerahkan sisa uang yang diminta oleh pihak Amanda. Dengan jumlah sisa uang yang harus dibayarkan sebesar lima ratus juta rupiah. Dan hak asuh akan jatuh pada pihak Nesha Permata dan juga keluarga. Ketika, pihak Amanda ingin merebut hak asuh. Pihak Nesha Permata berhak menuntut sepuluh kali lipat atau lebih dari apa yang telah pihak Nesha Permata berikan."
Duar!
Sungguh kejutan luar biasa yang tidak disangka oleh Amanda.
...****************...
Komen yang banyak, aku lagi ngetik lagi soalnya.