
Tiga hari sudah Amanda berada di rumah sakit. Sikap Rion yang selalu ada untuk Amanda membuat Amanda merasa yakin, jika suaminya ini telah berubah.
"Bang, boleh Manda tanya sesuatu," ucapnya ragu.
"Apa?" jawab Rion yang kini duduk disamping ranjang pesakitan Amanda.
"Kenapa Abang dengan kejamnya menyakiti Mbak Aya? Padahal dia wanita yang sangat luar biasa baiknya."
Rion tersenyum perih ke arah Amanda. "Kamu mau tau?" Amanda pun menganggukkan kepalanya.
"Kami berdua menikah di usia yang masih muda, sama-sama bary menginjak 20 tahun. Awalnya rumah tangga kami adem ayem saja. Namun, itu sedikit luntur ketika Ayanda positif hamil dan Abang mulai merambah ke dunia bisnis."
"Intensitas kami ketemu sangat jarang. Malah Abang pulang ke rumah karena cuma ingin tidur dengan Ayanda, bukan kangen atau apalah."
Amanda melebarkan matanya ketika mendengar segelintir pengakuan suaminya.
"Mungkin, Ayanda juga mengalami masa ngidam kayak kamu. Tapi, dia sama sekali tidak pernah meminta apapun ke Abang. Entah karena dia takut karena Abang sering membentak dia di masa kehamilannya, atau memang kehamilannya yang tidak menyusahkan."
"Apa Mbak Ayanda gak sedih ketika Abang membentaknya?"
"Abang tidak tahu dan tidak peduli. Yang Abang peduli hanya bisnis dan uang."
"Ya Allah Bang, kalo Manda jadi Mbak Aya udah Manda tinggalin Abang," geramnya.
"Itulah kelebihan Ayanda, dia mampu menutupi semua sedih dan lukanya. Memendamnya seorang diri tanpa ada orang lain yang tahu."
"Sampe Echa sakit parah pun, dia menutupinya dari Abang," lirihnya.
"Sakit apa?"
"Aritmia." Rion menghela napas sejenak. "Tiga hari Ayanda dan Echa tidak pulang ke rumah setelah Abang membawa Dinda ke rumah. Abang kira dia marah ternyata Echa dirawat di rumah sakit dan membuat Ayanda harus menunggu Echa di sana seorang diri. Tanpa memberitahu Abang. Dan malam itu dia pulang, karena amarah yang sudah memuncak malam itu juga Abang usir dia dan Echa dari rumah," ucap Rion dengan suara berat.
"Bang ...."
"Kehilangan Ayanda dan juga Echa tidak masalah untuk Abang karena ada Dinda yang bersedia menggantikan Ayanda. Apalagi, waktu itu Abang benar-benar di mabuk cinta."
"Setelah hubungan Abang dan Dinda kandas karena usaha Abang gulung tikar, Abang mulai merasakan kehilangan dua perempuan itu. Abang mencoba mencarinya dan terus mencari, hingga Abang melihat Ayanda sedang bekerja disalah satu minimarket milik ayahnya Gio. Abang terus ikuti dia, ternyata setelah pulang kerja dia harus cuci-gosok di tetangga-tetangganya."
"Larut malam dia baru pulang dan barulah dia menjemput Echa di rumah keluarga Gio. Hati Abang hancur melihat mereka berdua. Apalagi, mereka tidur hanya beralas karpet tipis membuat hati Abang sangat teriris."
Amanda menitikan air mata, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia yang berada di posisi Ayanda.
"Berkali-kali Abang mau menemuinya, seolah ada benteng yang terus menghalangi kami berdua. Selama dua tahun Abang mencoba sabar dan terus mengikuti kegiatan Ayanda dan juga Echa. Hingga ada satu kesempatan Abang bertemu dengan Echa di sekolahnya dan Echa pun mengenali Abang, meskipun dia tidak pernah bertemu sebelumnya. Echa hanya bilang, Echa punya dan Mamah selalu menunjukkan foto Ayah pada Echa."
"Berkat Echa lah akhirnya kami bisa bersatu kembali, meskipun Abang harus ekstra sabar untuk meyakinkan hatinya. Dan setelah kita bersama kembali, butuh waktu delapan tahun untuk Yanda benar-benar percaya sama Abang. Perlahan Abang mulai menghapus ingatan yang buruk tentang rumah tangga kami dulu."
"Dan kenapa pada akhirnya Abang berpisah dengan Mbak Aya?"
"Itu kesalahan Abang kagi, sebelum kita rujuk Yanda hanya meminta agar Abang jangan sekalipun menyakiti Echa. Namun, ketika Abang dijebak oleh Dinda dan Raska memanggil Abang Ayah di sebuah tempat bermain, tanpa Abang ketahui ternyata Echa ada di sana. Keesokan harinya Echa tak sadarkan diri dan kondisi Echa drop. Penyakitnya kambuh lagi hingga dia koma selama satu bulan lebih. Dan hampir dinyatakan meninggal oleh dokter."
Amanda terdiam membisu mendengar ucapan Rion. "Dan pada saat itulah tidak ada kesempatan lagi untuk Abang, dan dia memilih lepas dari Abang."
"Apa Abang menyesal pisah dengan Mbak Aya?"
"Kenapa kamu menanyakan masa lalu Abang?" tanya Rion.
"Manda hanya ingin tahu, apakah yang diucapkan oleh Mbak Aya dan Echa itu benar? Dan ternyata benar adanya."
Rion hanya tertawa sumbang. "Abang tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu. Tapi, Abang mencoba untuk memperbaiki semuanya di masa sekarang dan masa depan. Menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak-anak kita," ucapnya sangat tulus dengan tangan yang sudah menggenggam tangan Amanda.
Di lain rumah, Ayanda sedang meletakkan kepalanya di bahu sang suami. Gio sedang fokus dengan laptopnya dan Ayanda sedang sibuk dengan ponselnya.
"Mom." Panggilan dari Gio membuat Ayanda melihat ke arah suaminya.
"Apa Daddy boleh bertanya sesuatu?" tanyanya sambil meletakkan laptopnya di atas nakas.
"Tanya apa Dad?"
"Apa ketika Mommy hamil Echa, Mommy tidak merasakan ngidam?" Pertanyaan Gio membuat wajah Ayanda sendu.
"Jika Mommy tidak mau menjawab, tidak apa-apa," ucap Gio dan dia membawa Ayanda masuk ke dalam pelukannya.
"Kehamilan Echa adalah kehamilan yang sangat menyulitkan untuk Mommy," lirihnya.
Gio mendengarkan Ayanda dengan tangan yang memeluk erat tubuh istrinya.
"Mual, muntah, tidak masuk makanan sama sekalk, morning sickness semuanya Mommy rasakan. Ingin ini ingin itu tapi, Mommy mencoba untuk menahannya. Karena kondisi Mommy lemah dan tidak sanggup untuk berjalan."
"Masa kehamilan trimester awal Mommy lalui dengan susah payah. Apalagi, Mas Rion yang tidak pernah bertanya tentang kondisi Mommy dan juga Echa membuat Mommy ingin berteriak. Tapi, lagi-lagi Mommy tahan. Mommy tidak ingin kandungan Mommy kenapa-kenapa."
Hati Gio seperti disayat sembilu, perih rasanya mendengarkan cerita kehamilannya sewaktu mengandung Echa.
"Hingga ketika Mommy memeriksakan kandungan, ternyata kandungan Mommy lemah dan salah satu janin yang ada diperut Mommy tidak bisa diselamatkan."
"Jadi ... Echa kembar?" Ayanda mengangguk.
"Semenjak itu, Mommy semakin protektif terhadap kandungan Mommy. Dan apa Daddy tahu, bagaimana rasanya ketika kita butuh penyemangat tapi, orang yang kita harapkan menjadi penyemangat malah acuh kepada kita?"
Air mata Ayanda pun menetes. "Setiap kali rasa sedih, pilu itu muncul. Ketika melihat suami-suami lain selalu siaga dan menemani istrinya memeriksakan kandungan, Mommy hana bisa mengelus perut Mommy. Menahan sesak di dada. Kapan Mommy bisa seperti itu? Kapan Mas Rion bersikap lembut kepada Mommy?"
"Mom, sesulit itukah Mommy mengandung Echa?" tanya Gio yang sudah menatap Ayanda dengan nanar.
"Sangat sulit, dari awal kehamilan hingga proses melahirkan Mommy hanya berdua dengan Echa. Menahan sakit, merelakan seluruh nyawa Mommy untuk lahirnya Echa ke bumi ini Mommy sendiri. Semuanya sendiri."
"Terlalu sakit Dad jika harus diingat. Inilah alasannya kenapa Mommy ingin selalu menjaga Echa karena Echa adalah penyemangat Mommy untuk melanjutkan hidup yang penuh kesedihan dan kepiluan ini. Echa lah yang menjadi alasan Mommy selalu ceria meskipun sangat banyak beban yang Mommy pikul seorang diri."
Gio menangkup wajah Ayanda menatapnya sangat dalam. "Daddy janji, akan berusaha membuat Mommy dan Echa bahagia. Kalian berdua adalah perempuan yang sangat Daddy cintai," ungkapnya.
Pedih dan sakit yang dulu Ayanda rasakan ketika membina rumah tangga bersama Rion, kini digantikan dengan kebahagiaan yang tiada kira. Bersuamikan Gio adalah hal yang sangat membahagiakan untuk Ayanda. Hari-harinya dipenuhi kasih sayang yang tulus dan juga harta yang berlimpah. Hal yang utama adalah cinta yang Gio berikan untuk Ayanda sangatlah besar. Tidak ada alasan bagi Gio untuk tidak membahagiakan istrinya dan juga ketiga anaknya.
****
Happy reading ...