Bang Duda

Bang Duda
50. Mencair



Setelah kejadian malam itu, sikap Amanda seolah dingin kepada Rion. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya. Biasanya Amanda banyak bicara dan tanpa diminta selalu mengantarkan Rion yang hendak pergi ke kantor hingga depan pintu. Namun, sekarang hampa yang Rion rasakan.


Seminggu sudah sifat Amanda berubah. Rion merasa bersalah sekarang.


Apa aku sudah keterlaluan? batinnya.


Dering ponsel terdengar, namun Rion abaikan. Dia masih bergelut dengan pikiran dan hatinya sendiri.


"Apa dia sudah makan? Sarapan pun tadi hanya sedikit," gumamnya.


Rion langsung menghubungi orang rumah untuk menanyakan keadaan Amanda. Mbak Ina hanya bilang jika Amanda belum keluar kamar sampai saat ini.


Rion jadi gusar, hati kecilnya mulai nyaman dengan perlakuan Amanda. Meskipun ucapannya seolah dia tidak peduli dengan kehadiran istrinya di sampingnya.


"Gak usah bohongin perasaan lu sama Amanda. Gua tau lu udah mulai tertarik kan sama dia," ucap Arya yang sudah ada di ruangan Rion.


"Berisik!" teriak Rion. Dia berlalu meninggalkan Arya. Baru saja memegang gagang pintu, langkahnya terhenti.


"Ada kiriman makan siang gak buat gua?" tanya Rion pada Arya. Hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Arya.


Rion melajukan mobilnya menuju kediamannya. Sudah tertata makan siang di meja makan namun tidak ada orang di sana.


"Mbak, Amanda udah makan?" tanya Rion.


"Belum Pak. Ibu dari tadi belum turun," jawab Mbak Ina.


Dengan ragu Rion melangkahkan kakinya menuju kamar atas. Berulang kali dia mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Hingga dia memberanikan diri untuk langsung membuka pintu.


Dilihatnya Amanda berada di bawah selimut. Rion mengira Amanda sedang tertidur. Rion pun mungurungkan niatnya untuk menghampiri Amanda. Takut mengganggu istirahat istrinya.


"Mamih, maafkan Manda. Manda janji gak akan jadi wanita nakal lagi."


Langkah Rion terhenti mwndengat gumaman istrinya, dan dia memberanikan diri menghampiri Amanda yang sedang bermimpi. Dilihatnya keringat di dahi istrinya dan juga wajah Amanda yang pucat dan suhu tubuhnya sangat tinggi.


Dengan sigap Rion membawa tubuh istrinya menuju rumah sakit. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Amanda.


Dengan hati-hati Rion meletakkan tubuh istrinya di kursi penumpang di samping kemudi. Ketika Rion memasangkan seat belt wajah Rion dan Amanda sangat dekat. Terasa desiran hebat di hati Rion. Hingga mata Amanda terbuka dengan pelan. Dia tersenyum ke arah suaminya.


"Kita mau kemana Bang?" tanya Amanda dengan suara lemahnya.


"Kita ke rumah sakit, ya," ucap lembut Rion.


Di tengah perjalanan, tubuh Amanda mulai menggigil. Rion sudah mematikan AC mobilnya namun Amanda tetap saja kedinginan. Rion hanya bisa menggenggam tangan istrinya dengan sesekali meniupnya untuk memberikan kehangatan.


Amanda sudah ditangani oleh dokter. Rion hanya bisa menunggu di luar. Pikirannya campur aduk, dia takut jika terjadi apa-apa dengan istrinya. Tak lama, dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan mengatakan jika Amanda harus dirawat. Dengan cepat Rion menyetujuinya.


Di ruang rawat hanya ada Amanda dan juga Rion. Hanya kecanggungan yang tercipta.


"Kamu kalo sakit bilang ke aku. Aku kan suamimu," ujar Rion.


Amanda tak berani melihat Rion, dia memalingkan wajahnya ke arah kiri.


"Kalo suami kamu lagi ngomong tuh denger dan lihat matanya," bentak Rion.


Dengan perasaan bersalah Amanda memalingkan wajahnya menghadap Rion. Nektra mereka bertemu, hanya ada kehangatan yang tersirat dari tatapan mereka masing-masing.


"Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu," ucap Rion dengan tulus.


"Maaf." Rion langsung memeluk tubuh istrinya dan membuat debat jantung Amanda tak beraturan. Rion yang merasakannya pun hanya tersenyum.


"Aku yang harusnya minta maaf, karena gak bisa jagain kamu," balasnya. Seulas senyum tersungging dari bibir Amanda.


Rion terus saja menatap ponselnya dengan serius membuat Amanda tak enak hati.


"Abang, kalo masih banyak kerjaan kembali aja ke kantor. Aku gak apa-apa sendiri," ucap Amanda.


Rion langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Kamu istriku yang sedang sakit, jadi aku harus menjagamu. Biarkan urusan kantor Arya yang meng-handle."


Hari ini kecanggungan suami-istri itu mulai memudar. Pelan-pelan suasana mencair dan hanya ada kehangatan diantara mereka berdua seperti sepasang sejoli yang dimabuk cinta.


***


Jangan marah-marah dan bilang malas baca dulu karena ceritanya masih on going ...


Harap bersabar ya Sayang